
Kikan terdiam duduk di dalam taxi online, dia memandang pemandangan gedung bertingkat dengan gemerlap lampu yang berwarna-warni menghias malam ini. Kikan kadang bingung dengan apa yang sedang dia alami. Mengapa semua kejadian datang silih berganti menerpaku. Apa ini sebuah teguran dari Tuhan karena aku terlalu bangga dengan yang aku punyai selama ini. Maafin Kikan, ayah ibu ... mungkin ini yang terbaik untuk semua. Ayah dan ibu tidak akan malu dan menutupi keadaan Kikan lagi di depan banyak orang karena Kikan telah pergi dulu. Tiba-tiba mobil sudah berhenti di rumah dengan pagar putih.
"Sudah sampai Mbak !", ucap sopir taxi tersebut.
Kikan bergegas turun dan membayar ongkos taxinya. Kikan berjalan perlahan sambil menyeret tas bawaannya. Dia memencet bel dua kali lalu tak lama pintu pagar terbuka.
"Kikan ... Sayang ....", pekik mami Tiwi begitu pagar dibuka.
"Kamu kenapa Sayang ?", tanya mami Tiwi melihat keadaan Kikan dan tas bawaannya.
"Ayo masuk Sayang ....", ajak mami Tiwi.
Kikan berjalan perlahan, kini tas bawaannya sudah dibawakan mami. Di ruang tamu tampak papi Farid dan Galuh yang menyambutnya dengan senyum manis.
"Kamu sudah makan Sayang ?", tanya mami Tiwi. Kikan menggeleng.
"Wah ... kebetulan kita akan makan. Ayo ..." ajak mami Tiwi sambil melangkah ke meja makan diikuti Galuh dan papi Farid.
Kikan duduk di kursi makan samping mami Tiwi. Ada bermacam lauk di meja membuat Kikan menahan air liurnya.
"Kamu mau yang mana ?", tanya Mami lagi.
"Eh, Kikan boleh minta rendangnya Mi ?", ucap Kikan akhirnya.
__ADS_1
"Boleh Sayang .... kamu juga suka rendang ya ?. Ini juga makanan kesukaan Ranu", ucap mami membuat semua terdiam.
"Maafin Mami ya ... Mami masih sering ingat Ranu". Kikan mengangguk sambil memulai makannya. Sama Mi, aku juga masih selalu ingat mas Ranu. Dia tidak pernah lepas dari ingatanku, pikir Kikan dalam hati.
"Kamu tidur di kamar Ranu gak keberatan kan ? atau mau pindah ke kamar tamu saja ?", tanya mami begitu selesai makan.
"Gak pa-pa Mi, Kikan tidur di kamar Mas Ranu saja", jawab Kikan.
"Ya udah, ayo Mami antar". Kikan menurut dan segera mengikuti mami Tiwi menuju lantai 2 ke kamar Ranu.
Perlahan mami Tiwi membuka kamar Ranu yang identik dengan warna biru. Ya Ranu dan Kikan sama-sama penyuka warna biru. Mami Tiwi masuk diikuti Kikan di belakangnya.
"Kamu tidur disini ya, Mami selalu membersihkan kamar Ranu jadi jangan kuatir tidak akan berdebu di sini ". Kikan tersenyum mendengarnya.
"Jadi Ayah dan Ibumu tidak tahu kalo kamu pergi diam-diam ?". Kikan mengangguk.
"Lalu apa rencanamu Sayang ?".
"Kikan tetap ingin melahirkan dan membesarkan anak ini Mi ", ucap Kikan.
"Tapi mungkin Kikan akan membutuhkan bantuan Mami ".
"Tentu saja Sayang, Mami akan membantumu. Apa yang harus mami lakukan ?".
__ADS_1
"Dulu sebelum meninggal Mas Ranu pernah membawa Kikan ke sebuah rumah kayu di luar kota. Mas Ranu bilang itu adalah kado pernikahan kami, kami akan tinggal disana nantinya setelah menikah. Sekarang setelah Kikan tidak jadi menikah dengan Mas Ranu, apa boleh Kikan tinggal disana hanya sampai Kikan melahirkan saja ? Nanti setelah melahirkan Kikan akan mencari pekerjaan sehingga bisa menghidupi anak Kikan dan mungkin mencari tempat tinggal untuk kami".
"Ya ampun .... Kikan kamu jangan berkata begitu. Itu memang harta peninggalan Ranu satu-satunya. Sekarang Ranu telah tiada dan anak yang kau kandung adalah anaknya. Ia berhak untuk rumah itu seutuhnya. Kamu boleh menempati rumah itu sampai kapanpun. Itu sudah menjadi milik kalian Sayang. Mami setuju dengan rencanamu, tapi bagaimana kalau ibumu mencari kesini apa yang harus Mami katakan ?".
"Ibu dan Ayah mungkin akan kesini tapi tidak sekarang Mi. Kikan minta besok subuh antar Kikan ke rumah kayu itu ya Mi ?". Mami Tiwi mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah ... kalo begitu sekarang istirahatlah. Ini hari yang berat untukmu", ucap mami Tiwi sambil segera meninggalkan Kikan sendiri di kamar Ranu.
Kikan duduk di atas ranjang Ranu menikmati setiap jengkal sudut kamar ini. Ia melihat foto wisuda Ranu yang terpajang di dinding sambil tersenyum. Ia juga melihat foto dirinya yang sedang tersenyum dipajang di atas meja belajar Ranu. Mungkin setiap kamu belajar selalu memandangku ya mas ?, pikir Kikan sambil mengulum senyum.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah lemari pakaian yang masih tertata rapi baju-baju Ranu. Ia masih bisa mencium harum parfum Ranu yang melekat di setiap baju itu. Kikan membelai baju-baju yang tergantung rapi itu seakan-akan membelai lengan Ranu. Aku kangen kamu mas ..... bisiknya perlahan sambil sesekali mengelus perutnya.
Lalu pandangan Kikan beralih ke lemari bagian bawah. Ada sebuah kotak berwarna hitam tertutup rapat tersimpan rapi di bawah tumpukan baju-baju. Kotak apa ini ? mengapa tersimpan rapi disini ?.
Perlahan Kikan mengambil kotak itu lalu membukanya. Betapa terkejutnya Kikan melihat isi kotak itu. Ada banyak foto dirinya dan Ranu dibentuk menjadi sebuah kolase. Kikan juga menemukan sebuah buku diary milik Ranu. Tapi Kikan hanya menemukan beberapa tulisan tanggal-tanggal penting hubungan mereka berdua. Seperti tanggal pertama bertemu, tanggal jadian, tanggal apel pertama sampai .... yang terakhir ditulis adalah tanggal rencana pernikahan mereka.
Kikan hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perlahan air mata menetes dan mulai mengalir di pipinya. Ternyata aku adalah kenangan terindah bagimu mas .... ternyata kamu sangat perhatian dengan hal sekecil apapun. Kikan menangis tersedu, ia tidak mampu menahan kesedihannya setiap teringat saat-saat bersama Ranu.
Setelah beberapa saat akhirnya Kikan memasukkan semuanya kembali ke dalam kotak meletakkan kotak itu di bagian bawah lemari lagi.
Kini ia beranjak naik ke ranjang, hari ini ia sangat lelah, begitu banyak peristiwa yang membutuhkan emosional berlebih hari ini. Maafkan aku ayah ibu, aku ingin tenang sekarang, aku hanya ingin fokus membesarkan buah hatiku ini, aku tidak ingin ada hal lain yang membuatku depresi lagi.
Aku ingin menjalani kehidupan normalku lagi tapi aku butuh waktu untuk melaluinya, semoga saja ayah dan ibu akan memahaminya. Kikan mencoba memejamkan mata, walau pikirannya sibuk berkelana kesana kemari.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa memejamkan mata. Dengkuran halus yang teratur keluar dari mulutnya. Di wajahnya terpampang senyum bahagia, sepertinya dia sedang bermimpi indah. Ya ... malam itu Kikan sedang bermimpi dipeluk Ranu, kekasihnya.