Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Firasat


__ADS_3

Pukul 12, mobil Kikan sudah terparkir di bandara. Sebenarnya sudah setengah jam yang lalu mereka tiba disana tapi mereka masih betah di dalam mobil.


"Kamu tidak keluar ?", tanya Kikan yang dari tadi melihat Adrian hanya bersandar di kursi kemudinya. Adrian menoleh ke Kikan dan menatapnya lama.


"Kamu kenapa sih kok aneh gini ? sedang gak enak badan ? sakit ?", tanya Kikan lagi. Adrian hanya menggeleng dan tersenyum sambil menatap Kikan.


"Aku hanya ingin menatapmu saja, habis ini kan bakalan lama gak ketemu ", ucap Adrian akhirnya.


"Stop ! jangan bicara seperti itu ", ucap Kikan sambil meletakkan jari telunjuknya ke bibir Adrian.


Adrian hanya terdiam dan sedikit bingung dengan sikap Kikan.


"Jangan bicara yang aneh-aneh ya ? Aku gak mau dapat firasat aneh lagi ", ucap Kikan sambil menatap Adrian tajam. Adrian hanya mengangguk sambil tersenyum geli melihat sikap Kikan.


"Kamu beneran gak ingin turun ?", tanya Kikan lagi. Adrian masih diam di kursinya seakan tidak mendengar ucapan Kikan.


Ada apa dengan Adrian ? mengapa sikapnya aneh begini ?. Terakhir aku mendapat firasat aneh adalah saat aku kehilangan mas Ranu. Ah, tidak-tidak, aku tidak mau kehilangan lagi. Tolong Tuhan, jaga dia, jaga Adrian, pikir Kikan.


"Kamu sedang ada masalah ?", tanya Kikan kini sambil membelai rambut Adrian yang jatuh di keningnya. Adrian menoleh dan menatap mata Kikan intens seakan ada yang ingin dikatakan tapi bingung untuk memulainya.


"Gak ada kok ", ucap Adrian sambil menghela nafas berat. Pandangannya kini sudah teralihkan.


"Kamu bisa kok curhat ke aku, biasanya aku kan juga curhat ke kamu kalau ada masalah ", ucap Kikan lagi. Ia masih intens memandang Adrian yang sudah menghindar lebih dulu.


"Aku baik-baik saja kok, Sayang. Kamu gak usah khawatir ya ?", ucap Adrian sambil mengelus puncak kepala Kikan. Kikan hanya mengangguk. Baiklah, mungkin dia hanya berat untuk berpisah denganku bukan karena ada masalah, batin Kikan.


"Bagaimana kalau kita nikah sekarang ?", ucap Adrian tiba-tiba membuat Kikan terkejut.


"Hah .... !", ucap Kikan antara bingung dan kaget.


"Iya, kita tinggal datang cari penghulu terus baca ijab kabul, sah deh. Untuk urusan surat menyurat bisa menyusul kan ?", ucap Adrian lagi.

__ADS_1


Kikan hanya tertegun masih kaget dengan ucapan Adrian.


"Kamu habis salah minum obat ya ?", tanya Kikan.


"Kamu pikir aku bercanda ?. Aku serius, Sayang ", kata Adrian menyakinkan.


"Aku tuh males kalau harus bisnis trip terus dan pisah sama kamu lama. Coba kalau kita udah nikah kan enak. Yuk, kita cari penghulu dulu ", ucap Adrian sambil mulai memasang sabuk pengamannya.


"Adrian kamu jangan ngaco deh. Kamu pikir nikah main-main gitu. Aku gak mau, gak bakalan mau ", ucap Kikan marah. Adrian terdiam.


"Kamu gak mau menikah denganku ?", tanyanya lirih kini. Kikan menoleh menatap Adrian yang terlihat sedih. Ada apa denganmu, Adrian ?, pikir Kikan.


"Aku maunya nikah secara resmi dihadapan orang tua, secara agama dan negara bersama kamu tapi bukan sekarang ", jawab Kikan. Terlihat Adrian mendengus kesal.


"Huh .... aku kesal sekali kenapa harus ada bisnis trip sih ", ucap Adrian kesal sambil memukul kemudinya. Kikan terkekeh melihat tingkah Adrian.


"Aku penasaran gimana ekspresi bawahanmu kalau melihat bosnya seperti ini ", ucap Kikan masih dengan tawanya. Adrian hanya diam sambil meniup rambutnya yang mulai berjatuhan menutupi sebagian matanya.


"Yuk, kita turun ... sudah satu jam lebih kita disini. Kamu gak mau ketinggalan pesawat kan ?", ucap Kikan lagi. Adrian hanya diam menghela nafas lagi, merapikan rambutnya memakai kacamata lalu beranjak bangkit keluar dari mobil diikuti Kikan.


"Kamu tidak check in dulu ?", tanya Kikan lagi.


"Nanti saja .... ", jawab Adrian cuek. Ia kini duduk bersandar di bahu Kikan sambil tangannya sibuk memainkan jemari Kikan.


"Jangan lupa janjimu padaku ya ?", ucap Adrian sambil masih sibuk memainkan jemari Kikan. Kikan sedikit bingung, mungkin yang dimaksud Adrian janji waktu di apartemen tadi.


"Iya, aku tidak lupa kok ", ucap Kikan tersenyum.


"Kemarilah ... aku ingin memelukmu sekali lagi ", ucap Adrian sambil menarik Kikan ke dalam pelukannya.


"Jangan bosan menungguku .... kali ini banyak yang harus kukerjakan ", bisik Adrian. Kikan mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya Adrian berdiri dan berjalan menuju pintu keberangkatan. Namun belum sampai sana, tiba-tiba Adrian berhenti.


"Ada apa ? ada yang ketinggalan di mobil ?", tanya Kikan bingung. Adrian menggeleng, tersenyum lalu memeluk Kikan erat dan mencium lembut bibirnya. Adrian melakukannya dengan lembut dan lama seakan tak mau melepaskan Kikan.


"Hmmmppp ... Adrian aku malu, banyak orang yang melihat kita ", ucap Kikan lirih setelah lepas dari pautan bibir Adrian. Adrian hanya tersenyum dan melirik sekilas orang yang memperhatikan mereka.


"Biar saja, bilang saja kamu istriku, beres kan ", ucapnya cuek sambil mencium bibir Kikan lagi.


"Hmmmppp ... sudah, nanti kamu terlambat naik pesawat ", ucap Kikan sambil mendorong tubuh Adrian. Adrian kembali tersenyum.


"Iya .... iya ..., aku berangkat. Hati-hati ya pulangnya !", ucap Adrian sambil mengecup puncak kepala Kikan. Kikan mengangguk lalu berdiri menatap Adrian yang berjalan menjauh darinya. Mengapa terasa berat aku mengantar kepergiannya kali ini ?. Ada apa ya ? semoga tidak terjadi apa-apa dengan Adrian, batin Kikan.


Kikan sudah meninggalkan pelataran parkir bandara. Kali ini ia akan mampir ke butiknya sebentar ada beberapa hal yang harus dikerjakan disana. Kikan masih konsen dengan lalu lintas yang sedikit padat siang ini tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kikan melirik, ada nama customer langganannya.


"Halo selamat siang Bu ", sapa Kikan setelah terlebih dulu memasang loud speakernya.


"Siang, Mbak Kikan. Apakah sedang sibuk ?", sapa suara di seberang.


"Oh, tidak Bu. Saya sedang di jalan ini. Ada yang bisa saya bantu ?", kata Kikan.


"Begini Mbak Kikan, saya mau minta tolong untuk merancang baju pernikahan putri saya. Saya ingin kali ini benar-benar istimewa karena ini terakhir saya mantu. Apalagi calon besan saya itu orang terpandang dan terkenal di kota ini. Saya tidak mau yang biasa-biasa saja, saya mau yang istimewa. Mbak Kikan bisa kan ?".


"Oh, tentu saja Bu. Kalau boleh tahu pernikahannya diadakan kapan ya Bu ?"


"Sekitar tiga bulan dari sekarang, Mbak Kikan bisa kan ?. Oh ya, anak saya juga ingin memakai gaun-gaun rancangan Mbak Kikan untuk foto prewednya nanti. Dia suka dengan baju rancangan Mbak Kikan ".


"Alhamdulillah Bu, kalau suka. Kalau begitu kapan anak Ibu bisa datang ke tempat saya ?".


"Nanti saya tanyakan dulu ya, Mbak. Maklum anak saya dan calon suaminya itu sama-sama sibuk. Sekarang saja calon suaminya sedang perjalanan keluar negeri mengurusi bisnisnya. Jadi biar mereka yang menentukan waktunya, nanti tinggal saya telpon Mbak Kikan lagi. Mbak Kikan gak keberatan kan ?".


"Oh ... tidak kok Bu. Nanti kabari saja saya kalau mau ke butik ".

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Mbak, nanti saya hubungi lagi ".


"Iya Bu, terima kasih ". Kikan mengakhiri telponnya dengan ceria. Ia senang pelanggannya selalu puas dengan hasil karyanya sehingga membuat mereka untuk memesan lagi. Mungkin sketsaku yang baru aku buat semalam bisa aku tunjukkan, gumamnya sambil tersenyum.


__ADS_2