
"Raka kemana Bu ? Kikan lihat di kamarnya kok sudah gak ada ?", tanya Kikan pagi ini.
"Raka sudah bangun dari tadi sekarang jalan-jalan dengan ayahmu. Ini kan hari Minggu, di alun-alun pasti ramai makanya dari tadi malam Raka sudah merengek minta kesana", terang ibu.
"Oh, begitu. Tadi malam Kikan pulang larut Bu, jadi gak tahu kalau Raka minta ke alun-alun. Banyak pesanan yang harus cepat diselesaikan, akhir-akhir ini", kata Kikan.
"Iya, Ibu tahu kok. Kamu mau kemana pagi ini sudah rapi, bukankah ini hari Minggu. Kamu mau ke ruko juga ?", tanya ibu.
"Gak Bu, Kikan mau hunting beberapa kain. Kemarin ada yang belum dapat".
"Oh gitu, Ibu pikir kamu mau ke ruko".
"Ting tong", bunyi bel rumah.
"Siapa pagi-pagi sudah bertamu ? tidak mungkin ayahmu dan Raka yang memencetnya bukan ?", kata ibu.
"Biar Kikan saja yang bukakan pintu, Ibu lanjut saja memasaknya", ucap Kikan sambil bergegas bangkit dan menuju ruang tamu.
Kikan segera membuka pintu tapi yang tampak hanya segulung kain brokat berukuran besar yang kemarin dicarinya sudah berdiri di sandarkan ke samping pintu.
"Benar itukan kain yang kamu cari ?", tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Kikan dari samping. Kikan menoleh tampak sosok Adrian dengan kaos, training dan jaket putih sedang berdiri di sampingnya sedang tersenyum. Rambut belah tengahnya kini sedang tertutup oleh topi warna biru dongker. Mengapa dia selalu kelihatan keren sih, pikir Kikan.
"Jadi ini kan yang kamu cari kemarin ?", ucap Adrian sambil mengangkat gulungan besar kain itu dan membawanya ke dalam rumah.
"Darimana kamu mendapatkannya ?", tanya Kikan kini. Adrian tersenyum sambil membetulkan letak topinya.
"Apa sih yang gak bisa aku dapatkan, aku bisa mendapatkan apa saja yang kamu inginkan", ucap Adrian sombong sedang Kikan hanya tersenyum masam melihat gayanya.
"Boleh duduk gak ?", tanya Adrian lagi sambil langsung duduk di kursi ruang tamu. Kikan kembali tersenyum masam dan langsung duduk di kursi sebelahnya.
"Ngapain kamu kesini ?", tanya Kikan.
"Loh, katamu, kamu minta tolong untuk dicarikan kain itu terus kalau sudah aku harus antar kemana selain ke rumah mu. Aku tidak tahu butikmu kan ?", jawab Adrian. Kikan hanya mengangguk.
"Terima kasih ya", ucap Kikan lagi. Adrian hanya mengangguk lalu membuka topi biru dongkernya dan kemudian meletakkan di meja. Untuk beberapa saat Kikan tertegun melihat Adrian, seakan ia kembali ke masa SMA dulu. Adrian tidak berubah, dia masih sama seperti yang dulu.
"Eh, kamu mau minum apa ?", tanya Kikan.
"Apa saja deh ", jawab Adrian sambil tersenyum.
"Sebentar ya", ucap Kikan segera masuk ke dalam. Tuhan, mengapa jantungku terus berdegup kencang, apa yang terjadi padaku, gerutu Kikan dalam hati. Kikan mencoba menarik nafas dan mengaturnya.
__ADS_1
"Ada siapa, Nduk ?", tanya ibu tiba-tiba sudah di samping Kikan.
"Eh ... teman Bu, dia mengantarkan kain pesanan Kikan", jawab Kikan asal sambil masih terus mengatur gemuruh di hatinya.
"Kamu kenapa ? tidak enak badan ?", tanya ibu lagi.
"Eh ... enggak kok, Bu. Kikan keluar dulu ya, Bu", ucap Kikan sambil membawa minuman keluar. Ibu keheranan melihat tingkah Kikan. Ada apa dengannya seperti orang gugup saja ? Siapa teman yang dimaksud Kikan itu ya ?, pikir ibu.
"Silakan diminum ", ucap Kikan sambil menyuguhkan minuman dan beberapa kue ke atas meja. Adrian mengangguk lalu meminumnya.
"Kamu gak ada acara kan ?", tanya Adrian.
"Eh .... sebenarnya tadi aku mau keluar hunting kain tapi ternyata sudah kamu bawakan jadi ..."
"Jadi kamu free ya hari ini ?", potong Adrian.
"Aku harus segera menyelesaikan pesanan pelanggan jadi aku sibuk juga hari ini".
"Duh ...., super sibuk nih ceritanya atau mencoba menghindar dariku ?", ucap Adrian kini sambil menatap tajam Kikan. Kikan terdiam, dia merasa risih ditatap seperti itu.
"Kamu memang masih sama ya, gak berubah", ucap Kikan kesal sambil membuang mukanya dari Adrian. Adrian hanya tersenyum dan terus menatap Kikan yang sedang tersipu.
"Sudah, stop jangan ngomong itu lagi", ucap Kikan memotong pembicaraan Adrian. Adrian hanya diam kemudian meraih tangan Kikan yang memberhentikan ucapannya. Kikan kaget melihat reaksi Adrian dan cepat-cepat menarik tangannya.
"Mungkin sebaiknya kamu pergi deh, nanti aku akan membayar kain yang kamu bawa tadi. Kamu tinggalkan saja nomer rekening mu", ucap Kikan gugup mencoba menutupi hatinya yang semakin sibuk bergemuruh.
"Aku tidak butuh kamu bayar kok tapi kalau kamu memaksa mungkin dengan makan malam bersama, jalan bareng dan nonton bioskop bisa membayar harga kain mu itu", ucap Adrian sambil tersenyum. Kikan hanya melotot mendengar ucapan Adrian. Adrian semakin senang melihat Kikan kesal.
"Kamu ..... ", kata Kikan kesal, dia seakan kehabisan kata-kata menghadapi Adrian.
"Baiklah, aku pamit dulu ya. Mungkin kamu harus berpikir untuk mempertimbangkan ucapanku tadi. Aku sabar menunggu kok", ucap Adrian lagi kini sambil mengedipkan sebelah matanya. Kikan semakin tersipu dengan sikap Adrian yang tidak berubah ini.
"Aku pulang ya, jangan mimpiin aku loh nanti nyesel", ucap Adrian lagi sambil tersenyum menggoda.
"Gak bakalan aku ngimpiin kamu", ucap Kikan ketus. Adrian tersenyum dan segera bangkit menuju pintu.
"Wah ... ada Om kelen datang ", ucap Raka begitu Adrian membuka pintu akan pulang. Raka dan ayah baru saja datang dari jalan-jalan paginya.
"Eh, Raka habis jalan-jalan ya ?", sapa Adrian ramah.
"Iya, Om kok mau pulang kan belum main cama Laka", ucap Raka lagi.
__ADS_1
"Iya, maaf ,Sayang, lain kali ya Om kesini lagi ", ucap Adrian ramah sambil mengusap rambut Raka. Raka hanya mengangguk.
"Selamat pagi, Om", sapa Adrian begitu melihat ayah Kikan. Ayah hanya tersenyum dan mengangguk kemudian bergegas masuk ke dalam.
"Aku pulang ya, aku tunggu pembayaran kainnya", ucap Adrian sambil tersenyum dan bergegas masuk ke mobilnya. Kikan hanya diam menatap kepergian Adrian.
"Siapa dia, Nduk ?", tanya ibu begitu Kikan masuk ke dalam.
"Siapa maksud Ibu ?", tanya Kikan bingung.
"Siapa yang dipanggil Raka, Om keren tadi ?", ucap ibu lagi.
"Oh itu, bukan siapa-siapa kok hanya teman", jawab Kikan.
"Teman kok gitu, tadi Ibu lihat dari dalam kamu tersipu-sipu terus di buatnya. Pas bikin minum juga kamu kelihatan gugup tidak seperti biasanya. Pasti Om keren itu orang yang spesial ya ?", kata ibu.
"Ah ... Ibu, dia cuma teman kok ", jawab Kikan gugup.
"Iya, tapi dia punya nama kan, siapa namanya ?", tanya Ibu.
"Namanya ....."
"Adrian Dinata, seorang CEO sebuah perusahaan ternama di kota ini", ucap ayah memotong ucapan Kikan. Kikan menoleh kaget ke arah ayah yang sedang duduk menyeruput kopi.
"Ayah kok tahu tentang Adrian?", tanya Kikan.
"Ayah kan juga seorang pengusaha, tentu ayah tahu tentang Adrian. Apalagi Adrian salah satu CEO termuda yang mempunyai kinerja bagus. Semua orang sedang hangat membicarakannya. Dia temanmu SMA kan ? yang pernah ditampar Ayah waktu itu ?", tanya ayah lagi.
"Ayah masih ingat ?", tanya Kikan.
"Tentu Ayah ingat, apalagi dengan sorot mata nakalnya dulu. Syukurlah sekarang dia sudah menjadi orang sukses", ucap ayah sambil meneruskan meminum kopinya.
"Ibu kok jadi sedikit ingat ya ?. Apa kamu pacaran dengan Adrian, Kikan ?", tanya ibu lagi.
"Ibu ..., apa-apaan sih. Kikan baru bertemu Adrian minggu lalu, itu pun tidak sengaja. Adrian adalah saudara sepupu suami Irene dan juga kerabat jauh mas Ranu. Kikan baru tahu minggu lalu juga. Mana mungkin Kikan pacaran dengan Adrian ketemu juga barusan ", terang Kikan.
"Enggak, maksud Ibu, Apa kamu dulu pacaran dengan Adrian waktu SMA ? kok melihat kalian berdua seperti dua orang yang sudah kenal lama dan bertemu kembali ".
"Enggak Bu, enggak kok", jawab Kikan cepat.
"Kalau iya juga gak pa-pa kok. Kalian sudah dewasa, apalagi Adrian anak yang baik", sahut ayah sambil masih terus menikmati kopinya. Kikan hanya diam, sibuk dengan pikiran dan perasaannya. Apa aku masih bisa mencintai seseorang lagi apalagi seseorang itu juga pernah singgah di hatiku meski sesaat, pikir Kikan.
__ADS_1