
Sudah hampir lima bulan Kikan menempati rumah kayunya dan sampai saat itu juga ia belum memberitahukan keberadaannya. Ia hanya ingin terus sendiri merasakan kehidupan barunya. Kikan kini terpaksa cuti kuliah, itu semua ia lakukan lewat online. Pengerjaan skripsinya pun sedang berhenti sesaat, meskipun ia yakin ia bisa merampungkan semuanya tapi sekali lagi ia ingin berkonsentrasi dengan kehidupan barunya ini.
Kikan kini mulai asyik menjahit kembali, ide-idenya kembali muncul saat ia merasakan kesendirian. Ia menjahit sesuai dengan mood dan imajinasinya. Kadang ia mood untuk menjahit baju bayi, baju anak-anak, baju dewasa bahkan baju pengantin. Semua dia kerjakan berdasarkan mood dan ia pasarkan lewat online. Semua hasil jualan Kikan disimpan untuk tabungannya. Ia yakin mami Tiwi akan membantu seratus persen persalinannya nanti tapi ia tidak mau terus menerus menggantungkan hidupnya ke keluarga Ranu, ia ingin mandiri itu saja yang ia inginkan.
Sore ini, Kikan sedang sibuk menjahit baju bayi hasil desain terbarunya. Dengan cekatan ia putar mesin jahitnya, jemarinya yang lincah terus menerus bergerak di sela-sela jarum dan benang. Ia menjahit dengan senyum mengembang di bibirnya, dunianya seakan kembali setiap dia menjahit baju desainnya. Ia merasa hidup kembali setiap memegang mesin jahitnya. Sedang asyik Kikan menjahit, tiba-tiba sesosok tubuh mendekati Kikan dan membelainya dengan lembut. Kikan tersentak dan menghentikan jahitannya, dengan cepat dia menoleh.
"Ibu ......", pekik Kikan tertahan. Wanita yang ternyata ibu Kikan itu lalu tersenyum dan memeluk Kikan.
"Ibu ...... Ibu ..... ", ucap Kikan tergagap. Ibu hanya mengangguk sambil memeluk Kikan.
"Ibu kangen Kikan.... Ibu senang kamu sehat-sehat, Nduk ", ucap ibu sambil terisak. Kikan hanya membalas pelukan ibunya sambil terisak juga. Nampak di pinggir pintu berdiri mami Tiwi dengan rasa haru menatap pertemuan ibu dan anak itu.
"Maafkan Kikan, Bu .... Kikan sudah membuat Ibu kecewa, Kikan sudah membuat Ibu sedih. Maafin Kikan, Bu ....", ucap Kikan akhirnya setelah berhenti terisak.
"Gak, Nduk .... Ibu yang salah, seharusnya Ibu yang selalu berada di sampingmu tidak membiarkanmu menghadapi semua ini sendiri", kembali ibu terisak sambil membelai rambut Kikan.
"Kikan .... Mami yang memberitahu Ibumu tentang keberadaanmu 3 bulan yang lalu. Tapi Mami melarang Ibumu bertemu dahulu sampai akhirnya sekarang. Maafin Mami ya, Mami gak tega melihat ibumu sedih setiap hari", terang mami Tiwi sambil berjalan mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Iya Kikan, sebenarnya Ibu sudah mendesak Mami Tiwi untuk segera memberi tahu dimana tempatmu tapi karena mami Tiwi sudah berjanji padamu terpaksa Ibu juga harus menurutinya juga", jawab ibu juga.
"Terima kasih Mami .... dan Ibu .... maafin Kikan sekali lagi, ini semua Kikan lakukan karena Kikan ingin bangkit dan menjalani hidup dengan normal lagi Bu ".
"Iya Kikan, Ibu tahu semua sudah dijelaskan oleh Mami Tiwi. Ibu bersyukur kamu mempunyai Mami Tiwi yang sayangnya sama seperti orang tua sendiri". Kikan tersenyum lalu memeluk ibu dan mami Tiwi.
"Oh ya, Ayah mana Bu ?", tanya Kikan.
"Ayah tidak ikut, beliau ada tugas keluar kota tapi beliau sudah tahu juga tentang keadaanmu. Ayah titip salam ke kamu, besok atau lusa kemungkinan akan menyusul kemari", jawab ibu.
"Oh, syukurlah Bu. Kikan senang mendengarnya, lalu bagaimana dengan Pakde dan keluarga besar Ibu ?", tanya Kikan lagi.
"Sudahlah, kamu tak perlu memperdulikannya. Ibu sudah tidak ambil pusing lagi. Sejak kamu pergi Pakdemu sudah tidak mau ikut campur lagi urusan kita dan ibu juga melarangnya untuk ikut campur. Ibu capek kalau harus menghadapi keluarga besar, sekarang yang penting kamu sehat dan baik-baik saja". Kikan kembali tersenyum mendengar penjelasan ibunya.
"Delapan bulan Bu, jalan sembilan. Mungkin bulan depan tinggal tunggu harinya saja Bu".
"Kamu sudah mempersiapkan segalanya,Nduk ?". Kikan mengangguk.
"Kamu berencana akan melahirkan disini ?", tanya ibu lagi.
"Iya Bu, disini ada dokter kandungan yang praktek. Dia juga membuka klinik bersalin di rumahnya. Jaraknya pun tidak jauh dari sini hanya 2 km, Bu. Kikan selalu memeriksakan kandungan disana. Ibu jangan kuatir, Kikan sudah mempersiapkan segalanya".
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kamu melahirkan di rumah sakit dekat rumah kita, Nduk ?. Nanti setelah melahirkan kamu bisa pulang ke rumah. Apa kamu tidak kangen dengan rumah kita, Nduk ?", tanya ibu kini dengan nada kuatir. Kikan terdiam lalu ditatap ibunya, ia melihat sinar kekhawatiran di mata ibu.
"Ibu .... Ibu gak usah khawatir lagi, Kikan sudah mempersiapkan semuanya. Kikan tetap akan melahirkan di sini, di klinik dekat rumah. Kalau pulang ke rumah, Kikan pasti pulang kesana tapi tidak sekarang ".
"Lalu kapan, Nduk ?. Tolong, jangan hukum Ayah dan Ibu lagi untuk terus jauh darimu. Ibu dan Ayah tidak mau merasa gagal menjadi orang tua".
"Ibu..., Ibu dan Ayah tidak pernah gagal menjadi orang tua. Buktinya Kikan bisa melalui semua keadaan ini dengan baik-baik saja. Kikan sudah punya rencana Bu. Kikan akan pulang ke rumah setelah anak Kikan berusia satu tahun. Sebelum itu, Kikan akan disini sementara, meneruskan tugas Kikan sebagai mahasiswa. Ya ... Kikan akan merampungkan skripsi dulu, lalu Kikan juga akan mengembangkan usaha yang sudah dirintis Kikan ini. Tolong... Ibu beri waktu Kikan untuk itu. Selama menunggu waktu itu, Ibu boleh terus datang kesini bahkan menginap disini. Kikan harap Ibu mau bersabar ya ....", ucap Kikan menyakinkan sambil memegang kedua tangan ibunya. Mami Tiwi yang melihatnya hanya tersenyum bangga, Kikan sudah berubah, dia sudah bangkit lagi kini, pikirnya.
"Baiklah Kikan .... Ibu akan menunggu", ucap ibu akhirnya disambut senyum Kikan dan mami Tiwi.
"Makasih, Bu. Kikan yakin Ibu dan Mami Tiwi selalu akan menjadi pendorong nomer satu Kikan. Kikan tidak akan mengecewakan kalian semua. Terutama Ayah dan Ibu, Kikan janji akan membuat kalian bangga". Ibu hanya manggut-manggut mendengarnya sambil memeluk dan mencium kening Kikan.
"Non.... permisi, Bibi sudah menyiapkan makan siang di teras belakang rumah. Sayang kalau dingin nanti tidak enak", suara Bi Ijah membuyarkan kehangatan mereka bertiga.
"Oh, iya Bi, kami akan segera kesana. Ayo Bu, Mi kita makan siang. Jagoanku sudah nendang-nendang dari tadi minta diisi", ucap Kikan sambil mengajak ibu dan mami Tiwi ke teras belakang untuk makan siang.
"Jadi kamu sudah tahu jenis kelamin anakmu ?", tanya ibu sambil mengelus perut Kikan. Kikan tersenyum dan mengangguk.
"Sudah Bu, insya Allah laki-laki. Doakan sehat selalu ya Bu".
"Tentu Nduk, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu", ucap Ibu membuat Kikan kembali tersenyum.
__ADS_1
Siang itu mereka makan siang bersama di teras belakang, pinggir kolam sambil menikmati keindahan alami yang diberikan rumah ini. Senyum Ibu terus saja terkembang, ia senang kerinduannya selama ini telah tersalurkan. Begitu juga mami Tiwi yang sangat bangga melihat perkembangan Kikan dari hari ke hari semakin percaya diri dan bangkit dari kesedihannya. Ia seakan melupakan semua kesedihannya itu dan menjadikan semangat baru baginya.