
Adrian memacu mobilnya dengan kencang, dia meliuk-liuk di jalanan. Ada kemarahan dan kekesalan yang ingin ia tuangkan. Untung saja malam sudah larut sehingga lalu lintas di jalanan tidak seberapa ramai dan memudahkan ia meliukkan mobilnya. Mobil Adrian akhirnya berhenti di bukit tertinggi di kota ini. Tempat dia mengajak Kikan melihat bintang dulu. Dia duduk terdiam di belakang kemudinya. Pikirannya berkecamuk mengingat kejadian tadi siang, pertemuan dengan Tante Diana dan putrinya Tania lalu ucapan mama yang ingin menjodohkan dia dengan Tania. Gak, aku gak mau dan aku tidak akan membiarkan ini terjadi, gumam Adrian sambil memukul setir mobilnya. Mama sudah keterlaluan kalau sampai mengatur hidupku lagi. Aku sudah capek menuruti kemauan orang tuaku. Apa ini karmaku karena kenakalanku di masa muda, pikirnya lagi.
Adrian meraih ponselnya, ada foto Kikan di layar utamanya. Aku tidak ingin menyakiti dia dan kehilangan dia lagi, aku sudah berjanji akan selalu bersamanya, aku harus menepati janjiku. Ya, itu harus, pikir Adrian lagi. Ia lama terdiam dan termenung sambil masih memandangi foto Kikan di ponselnya. Akhirnya Adrian menghabiskan sisa malamnya di bukit bintang itu, sampai pagi mulai menjelang ia baru kembali pulang ke apartemennya.
**********
"Pak, ada tamu yang mencari Bapak ", ucap Sari sopan membuka ruangan saat Adrian sedang sibuk di depan laptopnya.
"Siapa ?", tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Aku Adrian ", sebuah suara sudah menerobos masuk ke ruangan Adrian.
Adrian mendongak melihat seorang gadis berambut pendek dengan pakaian super mini dan dandanan yang juga sedikit menor sudah berdiri di depan Adrian.
"Keluarlah, Sari !", ucap Adrian ke sekertarisnya. Sari mengangguk dan bergegas menutup pintu ruangan Adrian.
"Boleh aku duduk ?", ucap gadis itu sambil duduk di sofa sebelum Adrian menyilakannya.
"Ngapain kamu kesini ?", tanya Adrian kesal.
"Aku hanya penasaran dengan kantor calon suamiku. Nantinya kan aku akan sering kemari, jadi wajar dong aku harus mengenal karyawanmu", ucapnya santai.
"Jangan mimpi kamu, siapa yang mau menikah denganmu ?", ucap Adrian kesal. Gadis itu hanya tersenyum.
"Kamu galak juga ya ?. Maaf, aku datang kesini dengan dandanan seperti ini. Tadi aku barusan syuting langsung mampir ke sini, jadi belum sempat ganti. Tante Tika tadi menelponku dan menyuruhku ke kantormu ", jelasnya.
"Apa sih alasanmu mau menerima perjodohan ini ?", tanya Adrian ingin tahu. Gadis itu tersenyum.
"Sejujurnya aku tidak mau, tapi begitu aku melihatmu aku langsung jatuh cinta padamu dan aku rasa tidak ada ruginya aku menerima perjodohan ini", ucapnya jujur. Adrian menghela nafas panjang.
"Apa kamu mau membatalkannya kalau aku memberimu uang ?", tanya Adrian kesal.
"Untuk apa ? uangku sudah banyak kok. Aku lebih memilih kamu daripada mendapat uang banyak", jawabnya sambil tersenyum lagi.
__ADS_1
"Mungkin sekarang kamu tidak menyukaiku tapi aku janji aku akan membuatmu mencintaiku dan bertekuk lutut padaku ", ucapnya lagi. Adrian hanya tersenyum mengejek ucapannya.
"Sudah, pergilah aku tak punya waktu untukmu, kerjaanku banyak ", usir Adrian.
"Aku akan menunggu disini ", katanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi menemui klien. Silakan kamu menunggu disini ", ucap Adrian sambil berkemas membawa laptopnya dan berjalan keluar ruangan.
"Loh ... kok aku malah ditinggal sih. Aku kesini kan ingin ketemu kamu ...., Adrian", seru Tania memanggil Adrian.
Adrian terus berlalu meninggalkan kantornya, ia kini sudah berada di mobil.
"Sayang .... kamu lagi dimana ?", sapa Adrian di telepon.
"Aku masih di rumah, belum berangkat. Ada apa ?", tanya Kikan.
"Bersiap-siaplah, aku jemput ya ?".
"Kita mau kemana ?", tanya Kikan begitu di dalam mobil Adrian yang menjemputnya.
"Aku lagi bosan di kantor, temani aku ke pantai ya ?", ucap Adrian. Kikan tersenyum dan mengangguk.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menepi di sebuah pantai. Kikan melepas sepatunya dan segera berlari ke pasir di tepi pantai. Adrian hanya tersenyum melihatnya.
"Ayo ! katamu bosan di kantor ", ucap Kikan setengah berteriak. Adrian tersenyum, dilepas jas, dasi dan sepatunya lalu berlari menyusul Kikan.
Hari masih pagi, suasana pantai juga masih sepi. Kikan dan Adrian puas berlarian sepanjang pantai.
"Kamu kenapa ?", tanya Kikan saat mereka berdua berjalan bergandengan menyusuri pantai. Adrian terkejut dengan pertanyaan Kikan.
"Kamu kelihatan bingung dan ada yang kamu pikirkan dari tadi. Kamu ada masalah ?", kata Kikan lagi. Adrian menggeleng.
"Gak, aku hanya lelah ", ucap Adrian sedikit menarik nafas.
__ADS_1
"Kamu tidak seperti Adrian yang kukenal. Bicaralah kalau kamu punya masalah, setidaknya dengan bercerita sedikit meringankanmu ", ucap Kikan lagi. Adrian menghentikan langkahnya, Kikan ikut berhenti.
"Aku tidak apa-apa kok, aku hanya capek. Aku hanya ingin bersama kamu saja", kata Adrian sambil menatap mata Kikan. Kikan tersenyum, ia suka menatap mata Adrian yang selalu penuh binar cinta. Tapi mata itu sekarang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Lalu tiba-tiba Kikan menyentuh dahi Adrian. Adrian bingung dengan tingkah Kikan.
"Kenapa ?", tanya Adrian.
"Aku hanya mengecek suhu tubuhmu, aku takut kamu sakit tidak biasanya kamu seperti ini", jawab Kikan polos. Adrian langsung terkekeh mendengarnya.
"Kok tertawa sih, aku tuh kuatir sama kamu. Sejak kamu pulang dari bisnis trip, kamu sering mengeluh kelelahan, capek. Apa kamu gak perlu periksa ke dokter atau kalau perlu aku antar ?", tanya Kikan lagi. Adrian kembali tersenyum, kemudian meraih tangan Kikan dan mengecupnya.
"Aku gak pa-pa, Sayang. Terima kasih ya atas perhatiannya. Mungkin aku sedikit stress aja dengan pekerjaan yang menumpuk terus ", kata Adrian bohong.
"Kamu gak usah kuatir ya, aku baik-baik saja kok. Nanti kalau senggang aku akan periksa ke dokter, kamu mau kan mengantarku ?", kata Adrian lagi. Kikan mengangguk cepat.
"Adrian .... , sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu ".
"Hemmm ... tanya apa itu ?".
"Sebenarnya apa yang terjadi waktu kamu mengantar Raka ke sekolahnya dulu ?".
"Kok ... tiba-tiba tanya yang sudah lewat sih ?".
"Habisnya tiap aku antar Raka ke sekolah, gurunya selalu titip salam untukmu ", ucap Kikan kini dengan cemberut.
"Jadi ceritanya kamu cemburu nih ?", kata Adrian sambil tersenyum. Kikan menoleh cepat ke Adrian dan masih dengan cemberut. Adrian gemas melihat tingkah Kikan. Adrian lalu mencangkup wajah Kikan, merengkuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman di sana. Kikan hanya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Adrian yang sudah menjadi candu baginya.
Adrian menyudahi sentuhannya dan melihat Kikan yang masih memejamkan mata. Adrian sedikit menjentik hidung mancung Kikan. Kikan membuka matanya dan melihat Adrian yang sudah tersenyum menatapnya.
"Kita nikah yuk ?", ucap Adrian lagi.
"Sekarang ?", tanya Kikan lagi. Adrian mengangguk. Kikan tersenyum mendengarnya.
"Ngaco ah .... ", ucap Kikan lagi sambil tersenyum. Adrian hanya tersenyum lalu menarik Kikan kembali dalam pelukannya, erat sekali seakan tidak mau melepaskannya.
__ADS_1