Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kejutan Ranu


__ADS_3

Kikan bergegas ke belakang panggung untuk membereskan barang-barang. Ia menyimpan semua gaun rancangannya dengan rapi, kemudian membersihkan meja tempat ia meletakkan berbagai aksesoris tadi.


Sedang asyik dia membersihkan tiba-tiba dia menjatuhkan sebuah anting. Kikan bergegas menunduk ke bawah meja dan mencari anting. Dia meraba-raba dan akhirnya ketemu, namun saat Kikan akan berdiri dia terkejut dengan sepasang sepatu yang sudah berdiri didepannya. Kikan segera melongokkan kepalanya ke atas.


"Mas Ranu !", pekik Kikan kaget begitu tahu yang sedang berdiri di hadapannya adalah Ranu lengkap dengan setelan jas dan sebuket bunga mawar di tangannya.


"Selamat ya Sayang, maaf aku datang terlambat", ucap Ranu sambil menyerahkan buket mawar itu dan mencium pipi Kikan.


"Mas Ranu jahat ! kenapa gak datang dari tadi. Tau gak, aku sedih banget Mas. Masak semua datang cuman mas Ranu aja yang gak datang. Mas Ranu bener-bener jahat", ucap Kikan sambil manyun. Ranu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.


"Kan sudah bilang, kalo seminggu ini sibuk banget. Tapi setelah Minggu ini, Mas janji tidak akan sesibuk ini lagi. Janji", ucap Ranu sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Kikan kembali sumringah dan kemudian memeluk Ranu dengan manja.


"Aku kangen Mas ....", ucap Kikan sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Ranu.


"Aku juga kok, Sayang", ucap Ranu balas memeluk sambil mencium pucuk kepala Kikan.


"Kamu sudah selesai beberesnya ? Kalau sudah, ayo kita pulang", ajak Ranu.


"Astaga mas, aku lupa kalau menyuruh Ayah dan Ibu menunggu di parkiran pasti mereka bingung kok aku lama belum keluar-keluar".


"Tadi aku sudah ketemu mereka, aku sudah bilang kalau nanti kamu aku antar pulang".


"Oh, syukur deh, ayo kita pulang". Ajak Kikan sambil menenteng barang bawaannya dibantu Ranu.

__ADS_1


"Kita makan dulu yuk, aku laper belum makan malam", ajak Ranu begitu masuk mobil. Kikan hanya mengangguk setuju.


Tak berapa lama mobil mereka berhenti di sebuah restoran yang kelihatan mewah.


"Tumben mas, makan di tempat beginian ?", tanya Kikan yang mengenal betul Ranu yang tidak suka restoran formal.


"Sekali-kali gak pa-pa kan. Apalagi hari ini kamu kan habis pagelaran, apa salahnya kita rayakan. Lagian gaunmu sudah cocok kok, sudah keliatan formal", ucap Ranu membuat Kikan tertawa.


"Selamat malam, bisa saya bantu ?", sapa pelayan di pintu masuk.


"Saya sudah reservasi atas nama Ranu", ucap Ranu yang kemudian diiyakan oleh si pelayan dan bergegas mengantar Ranu dan Kikan ke meja mereka.


"Apakah untuk menu pesanan sesuai dengan saat reservasi tadi pak ?", tanya pelayan kembali sesudah Kikan dan Ranu duduk.


"Iya mas", jawab Ranu.


Kikan yang keheranan dengan sikap Ranu hari ini segera bertanya,


"Kok tumben pake reservasi segala sih mas ?. Emang spesial banget ya hari ini."


"Tentu dong ", jawab Ranu sambil tersenyum geli.


"Aku minta maaf seminggu ini sibuk sampai tidak bisa menghubungi mu bahkan telat di acaramu tadi".

__ADS_1


"Gak pa-pa kok Mas, aku paham".


"Memang kamu gak pingin tahu aku sibuk apa seminggu ini ?".


"Sebenarnya aku pingin tahu Mas, tapi kalo Mas gak mau cerita juga gak pa-pa kok". Ranu tersenyum sambil mengusap rambut Kikan.


"Sebenarnya sebelum wisuda kemarin, aku sudah mencoba melamar kerja dan Alhamdulillah aku di terima. Aku masuk kerja mulai Senin kemarin, seminggu ini aku ditraining makanya aku pulang larut malam terus Kikan, mungkin tadi Mami bilang ke kamu ya?". Kikan mengangguk sambil terus mendengarkan cerita Ranu.


"Maafin aku ya ?".


"Kenapa harus minta maaf sih Mas, aku loh seneng kalau kamu sudah ketrima kerja apalagi itu hasil kamu nyari sendiri tanpa bantuan Mami Papi padahal kalau kamu mau tinggal minta mereka saja kamu sudah bisa masuk kerja. Aku bener-bener bangga Mas ".


"Syukur deh, kalo kamu mikirnya gitu. Oh ya, aku punya sesuatu buatmu, aku harap kamu suka ". Ranu segera mengeluarkan sekotak kecil berwarna merah dan kemudian menyerahkan ke Kikan. Kikan terkesiap dengan kotak kecil di atas meja tepat di hadapannya.


"Apa ini ?", tanya Kikan. Ranu tersenyum, lalu berdiri mengambil kotak kecil itu, membukanya kemudian berlutut di hadapan Kikan.


"Kikan Prameswari ...., maukah kamu menikah denganku ? menjadi ibu dari anak-anakku ?". Kikan terkejut mendengar perkataan dan tingkah Ranu yang berlutut di hadapannya. Kikan hanya terpukau sambil meneteskan air mata.


"Jawab dong sayang.....", pinta Ranu. Kikan langsung mengangguk.


"Ya, aku mau. Aku mau menikah denganmu dan menjadi ibu dari anak-anakmu ". Ranu tersenyum disambut tepuk tangan pengunjung restoran yang lainnya, untung saja malam itu tidak seramai biasanya.


Ranu langsung memasangkan cincin di jari tangan Kikan kemudian berdiri, memeluk dan mencium bibir Kikan dengan lembut.

__ADS_1


"I love you, Kikan", bisik Ranu di telinga Kikan sambil masih memeluknya.


"I love you too", jawab Kikan.


__ADS_2