
Hampir sebulan lebih liburan semester dilalui Kikan. Ia habiskan sisa liburannya sesudah liburan di gunung kemarin dengan mengerjakan skripsi. Ya, tahun ini Kikan memasuki semester 8, semua mata kuliah sudah di ambil dan mendapat nilai memuaskan hanya skripsi saja yang belum. Kikan berencana hanya mengambil mata kuliah skripsi, ia yakin akan menyelesaikan skripsinya selama setengah semester. Ia ingin cepat lulus, wisuda dan menikah.
Pagi ini, Kikan berencana ke kampus untuk mengajukan proposal skripsinya. Mulai Senin ini proses perkuliahan sudah aktif kembali.
"Pagi Bu !", sapa Kikan begitu melihat ibunya sedang asyik di dapur.
"Ayah mana Bu ?", tanya Kikan.
"Jam segini, ayahmu sudah berangkat toh Nduk. Lah kamu kok tumben jam segini belum berangkat, gak kesiangan ?", tanya ibu heran.
"Kikan kan sudah gak ada kuliah di kelas, tinggal skripsi aja. Ini aja nanti janjian ama dosen jam 10 buat nyerahin proposal skripsi. Doain lancar ya Bu, biar cepet selesai kuliah nya".
"Duh ... udah ngebet kawin ya ", goda ibu.
"Ih ... Ibu apaan sih kok jadi ketularan Bobby". Ibu hanya tersenyum.
"Loh Bu, dapet mangga muda darimana ?", tanya Kikan tiba-tiba begitu melihat beberapa mangga muda di atas meja dapur.
"Tadi, ada beberapa yang jatuh jadi ibu ambilin. Ini rencana mau ibu pepes sama ikan tongkol, kamu suka kan pepes ikan ?". Kikan mengangguk.
"Tapi jangan dibuat pepes semua ya Bu, Kikan minta satu ya", ucap Kikan sambil mengambil buah mangga kemudian mengupasnya.
Kikan segera mengambil kecap pedas botolan dan mencocol mangga muda itu dengan sambal kecap.
"Hiii... apa gak kecut toh, kamu kok enak gitu makannya", ucap ibu sambil menahan ngilu.
"Enak gini kok, asem darimana. Sini Bu, coba deh". Ibu mendekat lalu menggigit mangga muda yang disodorkan Kikan. Namun, belum habis dikunyah ibu sudah memuntahkannya.
"Kikan, ini kecut banget loh. Hati-hati nanti perutmu sakit", ucap ibu sambil menegak air putih untuk menghilangkan rasa kecut.
"Ya ... ibu payah enak gini kok dibilang kecut".
__ADS_1
"Aduh Kikan kamu kok kayak orang ngidam saja. Pagi-pagi sudah makan kecut-kecut gini. Sudah, nanti perutmu sakit loh. Itu sarapan roti bakar aja", ucap ibu sambil menarik sepiring mangga muda yang sudah dipotong-potong Kikan.
"Ya sudah kalo gitu, Kikan berangkat dulu", ucap Kikan sambil manyun.
"Eh ... Kikan kamu ke kampus naik apa ? dijemput Ranu ?", tanya ibu lagi.
"Gak Bu, Kikan dijemput Winda. Tuh dia udah ngebel-ngebel".
"Yo wes, hati-hati". Kikan mengangguk, segera setelah pamit ke ibu, Kikan berangkat.
"Pagi-pagi kok sudah manyun, Kan ?", sapa Winda begitu Kikan masuk ke mobilnya.
"Tau tuh Ibu, masak aku makan mangga muda pagi-pagi dilarang katanya bikin sakit perutlah, kayak orang ngidam lah. Padahal aku suka loh", gerutu Kikan yang langsung disambut tawa Winda.
"Eh, Win berapa umur kehamilan mu ?", tanya Kikan kini.
"Udah 7 bulan sih, kurang 2 bulan lairan doain lancar ya ?". Kikan mengangguk.
"Udah USG belum ? cowok atau cewek ?".
"Waktu ketahuan hamil apa yang kamu rasain pertama kali ?".
"Pertama kali aku tahunya karena telat datang bulan, biasanya datang bulanku tanggal 3 kok sampai tanggal 14 belum datang akhirnya aku testpack ternyata positif. Selain itu aku juga sering mual, muntah pusing kadang juga sensi banget sampai suami kena marah terus. Udah gitu aku suka makan yang aneh-aneh, yang biasanya aku gak suka jadi suka. Nafsu makan juga bertambah banget makanya tubuhku jadi bengkak semua. Namun semua itu aku rasakan di tiga bulan pertama setelah itu biasa aja. Tumben kamu kok tanya-tanya, ada apa nih ?".
"Gak pa-pa, aku kan bentar lagi nikah aku juga pengen cepet punya anak makanya gimana tanda-tandanya hamil kan belom tahu". Winda hanya mengangguk.
"Kalau kamu pingin lebih tahu tentang hubungan suami-istri yang enjoy, nanti aku kasih tau deh. Tapi ngasih taunya nanti aja klo udah nikah, kalau sekarang percuma kamu gak bisa mraktekinnya".
"Ikh, kamu apaan sih ...Eh, nanti kamu janjian ketemu Bu Nungki jam berapa ?".
"Jam 10an juga sama kayak kamu jadi kita barengan aja. Ini masih jam 9, masih ada waktu nunggu 1 jam. Kita ke kantin dulu yuk!", ajak Winda begitu mereka sampe kampus.
__ADS_1
"Ayuk !, aku laper banget belum sarapan", ucap Kikan langsung ngeloyor pergi mendahului Winda untuk pesan makanan.
"Kamu pesan siomay kan kayak biasanya, udah aku pesenin", ucap Kikan begitu duduk disamping Winda. Tak berapa lama, pesanan mereka datang.
"Kamu pesan siomay juga, Kan ?", tanya Winda begitu ada dua piring siomay yang diantar ke meja mereka.
"Iya, aku jadi pingin siomay juga", ucap Kikan langsung menyantap siomaynya. Belum selesai Kikan makan siomaynya, tiba-tiba semangkok bakso lengkap dengan dua gorengan pangsit sudah mendarat di meja mereka.
"Ini pesanan siapa ?", tanya Winda.
"Akulah ...", ucap Kikan masih dengan mulut penuh siomay.
"Kamu serius ? kamu gak kenyang ?" ,tanya Winda heran.
"Kan aku udah bilang aku laper banget hari ini".
Winda hanya geleng-geleng melihat tingkah Kikan. Tumben nih anak makan banyak banget biasanya malah cuman makan sekali sehari, gumam Winda. Selesai makan mereka langsung menemui Bu Nungki. Mereka berdua senang, karena Bu Nungki antusias dengan proposal skripsi mereka berdua.
Paling lama seminggu mereka akan dihubungi Bu Nungki lagi.
"Kamu jadi ku antar ke kantor Ranu nih ?", tanya Winda begitu mereka sudah masuk ke mobil.
"Iya Win, kamu gak keberatan kan ?. Ini hampir jam makan siang kan, Mas Ranu pasti ada waktu senggang. Aku pingin ngobrol sama dia".
"Oke deh, siap tuan putri". Winda langsung melajukan mobilnya ke kantor Ranu.
Kantor Ranu hanya 30 menit dari kampus Kikan. Kikan senang banget mau ketemu Ranu, dia sudah lama gak ketemu Ranu. Sebelum turun, Kikan merapikan rambutnya, mengoles lipgloss di bibirnya dan menambahkan sedikit bedak di pipinya.
"Udah cantik ", seru Winda yang dari tadi mengamati Kikan yang berdandan.
"Eh, tunggu dulu, itu Mas Ranumu kan ? terus yang disebelah nya siapa ?", tanya Winda mengagetkan Kikan.
__ADS_1
Kikan segera melihat ke arah yang ditunjuk Winda tampak mas Ranu-nya sedang asyik mengobrol dengan seorang wanita cantik. Dia tampak modis dan feminim dengan setelan kerja itu. Kikan menyesali dirinya yang tampil sedikit tomboy kali ini, entahlah akhir-akhir ini dia malas sekali berdandan.
Akhirnya Kikan memberanikan diri turun dari mobil dan menyuruh Winda segera berlalu. Kikan hanya diam terpaku mengamati Ranu dan wanita itu tanpa berani mendekat. Sampai akhirnya sorot mata Ranu menatap bayangan Kikan dari kejauhan. Ranu segera menyudahi obrolan mereka kemudian berjalan menuju Kikan, sedang wanita itu segera masuk ke mobil yang di parkir di sebelahnya dan menyapa Ranu saat melintas di depan Ranu. Siapa wanita itu yang membuat Ranu tersenyum ramah ?, pikir Kikan.