
Acara lamaran itu sudah selesai, menyisakan kelelahan yang amat sangat bagi Adrian.
"Ma ... aku pulang dulu ya ?", ucap Adrian begitu sampai di rumah.
"Kamu tidak menginap disini ?", tanya mama.
"Gak Ma ..., aku capek. Lagipula masih ada pekerjaan yang belum aku kerjakan ", jawab Adrian.
"Hei ... bukannya kamu mau menikah, kenapa kamu tidak ambil cuti saja Adrian. Lagipula kamu kan bosnya ", ucap mama lagi.
"Inikan masih kurang satu minggu, Ma. Nanti saja aku ambil cuti kalau sudah hari H. Sudah, aku pulang dulu, Ma ", ucap Adrian pamit sambil pergi berlalu dari rumahnya.
"Ada apa ya dengan Adrian ? mengapa dia menjadi muram seperti itu ? padahal seminggu lagi ia akan menikah, harusnya ia bahagia kan. Apa kamu tahu penyebabnya Feril ?", tanya mama ke Feril yang kebetulan tadi juga ikut ke acara lamaran Adrian.
"Apa Tante tidak menanyakan ke Adrian sendiri ?", kata Feril malah balik bertanya.
"Entahlah ... Ril, sejak Tante sakit dan Adrian menyetujui pernikahannya dengan Tania dia tidak pernah banyak bicara. Ia selalu menurut disuruh Tante apa saja, mulai pesan baju pernikahannya, foto prewedding. Ia selalu menurut dan tetap ceria melakukannya tapi seminggu ini Adrian berubah. Ia tetap menuruti Tante tapi wajahnya tidak ceria sama sekali. Kalau Tante lihat, ia seperti mayat hidup saja. Tante jadi takut, ada apa dengan Adrian ", terang Bu Tika, mama Adrian. Feril hanya tersenyum mendengarnya.
"Kok kamu malah senyum aja sih, Tante butuh jawaban ini ". Feril kembali tersenyum.
"Tante ... maaf, Feril lancang. Apa menurut Tante, anak yang berbakti itu anak yang mau menuruti semua kehendak orang tua meskipun hal itu tidak sesuai dengan yang diinginkan anak Tante ?", tanya Feril membuat yang ada di ruangan itu tercengang termasuk papa, Tanti, Julian dan Irene.
"Maksudmu, Ril ? Tante gak ngerti ", kata Bu Tika bingung.
__ADS_1
"Adrian sudah bilang berulang kali ke Tante kalau ia menolak perjodohan ini karena ia sudah mempunyai pilihan. Tapi ternyata Tante tetap memaksanya dan saya juga tidak tahu apa yang menyebabkan Adrian akhirnya memutuskan bersedia menikahi Tania. Dan Tante tahu, beberapa hari lalu Adrian diputuskan oleh kekasihnya. Ia memilih mengalah agar Adrian tidak dicap sebagai anak durhaka. Makanya Adrian sangat terpukul, Te. Ya, wajar saja kalau ia seperti mayat hidup sekarang karena jiwa yang mengisi raganya sudah pergi ", terang Feril. Memang kemarin selepas Adrian berpisah dengan Kikan di bukit bintang, Adrian menelpon Feril dan meminta untuk menemaninya. Sehingga Feril tahu betul apa yang terjadi dengan Adrian.
Semua yang hadir di ruangan itu terkejut mendengar penjelasan Feril. Irene hanya tertunduk, ia berharap penjelasan suaminya itu dapat merubah pandangan Tante Tika.
Tante Tika tampak menghela nafas berulang kali.
"Kamu benar, Ril. Mungkin yang harus disalahkan atas semua ini adalah Tante. Tapi ... sejujurnya Tante sudah mencoba membatalkan pertunangan Adrian dan Tania. Tapi pihak Tania menolak dan malahan mengancam Tante akan melapor ke pihak berwajib dan sebagainya. Oleh sebab itu, Tante terkena serangan jantung yang kedua ", ucap Bu Tika kini membuat papa dan Julian terkejut.
"Ma ... kenapa Mama gak ngomong ?", tanya papa menimpali.
"Jadi itu penyebab serangan jantung Mama yang kedua ?", tanya Julian kini. Mama hanya mengangguk.
"Mama sangat senang waktu Adrian mau datang ke pesta ulang tahun Mama saat itu. Adrian juga tampak bahagia saat itu. Sehari sebelumnya, Mama juga melihat Adrian dengan seorang gadis dan anak kecil. Mereka berdua kelihatan mesra dan tersenyum penuh bahagia. Itulah yang membuat Mama berubah pikiran dan ingin membatalkan pertunangannya tapi ... pihak keluarga Tania malah seperti itu ", ucap Bu Tika.
"Namanya Kikan, Om, Tante ", sahut Irene.
"Kamu mengenalnya Irene ?", tanya papa. Irene mengangguk.
"Saya yang mempertemukan mereka kembali setelah lama tidak berjumpa. Kikan seorang desainer baju, ia mempunyai butik di dekat alun-alun kota. Ia yang merancang baju pernikahan saya dan juga yang merancang baju pernikahan Adrian dan Tania ", ucap Irene.
"Ya ... Tuhan ", ucap Bu Tika sambil menutup mulutnya.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis itu harus merancang baju pernikahan kekasihnya sendiri dengan orang lain. Aku benar-benar berdosa, hiks hiks hiks ", ucap Bu Tika kini sambil mulai terisak. Semua terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kini kita harus bagaimana, Ma ?", tanya Julian akhirnya memecah kesunyian.
"Undangan sudah tersebar, semua prosesi sudah berjalan bila kita membatalkannya keluarga kita yang akan menanggung malu. Tapi, Adrian akan memperoleh kebahagiaannya lagi. Apa Mama dan Papa rela bila keluarga kita menanggung malu karena ini semua ?", kata Julian lagi.
"Apa tidak ada cara lain, Julian ?", tanya Mama.
"Mungkin kalau pihak Tania duluan yang membatalkannya, itu lebih baik. Tapi, Julian pikir itu tidak mungkin. Tania sangat menginginkan perjodohan ini. Dia sangat terpesona dengan Adrian dan sepertinya tidak ingin melepaskannya", ucap Julian yang dibenarkan dengan anggukan dari setiap yang hadir.
"Mungkin lebih baik kita membiarkan semua berjalan seperti adanya selanjutnya kita serahkan saja kepada Tuhan. Kita hanya berdoa semoga Adrian mendapatkan yang terbaik untuknya ", ucap papa akhirnya.
"Ma ... sekarang mulailah kamu berdoa untuk kebahagiaan Adrian. Jangan siksa lagi Adrian untuk selalu menuruti keinginanmu. Dia sudah mengorbankan segalanya untuk membuat kamu bahagia, sekarang giliranmu yang berkorban untuknya ", ucap papa lagi. Mama hanya mengangguk.
"Baiklah Tante, Om, kami permisi pulang dulu sudah malam ", pamit Feril.
"Iya, terima kasih Feril, Irene kamu sudah mengingatkan Tante. Tante berharap suatu saat bisa bertemu dengan Kikan. Apa kamu mau mengantar Tante bertemu dengan Kikan, Irene ?".
"Tentu, Tante. Tapi, saya rasa Tante sudah bertemu dengannya di hari pernikahan saya. Saat itu Kikan berfoto dengan Adrian dan Tante melihatnya ", jawab Irene.
"Benarkah Irene ?. Wah, ternyata aku tak pernah perhatian dengan Adrian sampai hal seperti itu aku tidak tahu. Aku benar-benar Ibu yang payah".
"Jangan begitu, Tante. Mungkin karena Adrian yang tertutup dan tidak mau bercerita dengan Tante. Jangan menyalakan diri sendiri, Tante ", hibur Irene. Tante Tika hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Irene.
"Baik, kami pulang, jika membutuhkan bantuan, kami siap kok !", ucap Feril berpamitan kembali.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Ril !", sahut Julian. Feril mengangguk dan bergegas bangkit meninggalkan rumah Adrian bersama Irene. Setidaknya hari ini ia sedikit lega karena bisa menceritakan semua keluh kesah dan kesedihan yang dialami Adrian, sahabatnya.