
Tania berjalan mondar-mandir gelisah di kamarnya. Sekarang apa yang harus kulakukan ?. Aku tidak ingin Adrian tahu tentang kehamilanku ini dan menyebabkan ia membatalkan pernikahan. Tapi, lambat laun ia pasti tahu dengan semakin besarnya perutku. Ia akan curiga dan pasti marah, ujung-ujungnya dia pasti akan menceraikanku, dan aku tidak mau itu terjadi. Apa sebaiknya aku gugurkan saja janin di perutku ini, mumpung masih ada waktu recovery satu minggu sebelum aku menikah ?. Tapi aku sudah tidak bisa keluar dari rumah lagipula aku sudah berjanji kepada Kemal untuk mempertahankan janin ini. Aduh ... aku bingung, batin Tania.
Akhirnya kini ia duduk manis di kasurnya lalu mencoba menscroll ponselnya mencoba mencari sesuatu. Tania sedikit berteriak kegirangan saat menemukan sesuatu yang dicari. Ada senyum tersungging di bibirnya.
"Mungkin ini pilihan yang terbaik, maafkan aku, Kemal. Aku sungguh tak mau kehilangan Adrian ", ucap Tania sambil menyentuh layar ponselnya untuk menyetujui pemesanan obat penggugur kandungan lewat online.
**********
Pagi ini sudah gerimis padahal sudah memasuki musim kemarau. Kikan terdiam di kamarnya, memandang gerimis pagi yang membasahi rumput kering di halaman. Kikan kembali teringat kenangannya saat hujan di camping ground, saat ia mengungkapkan perasaannya kepada Adrian. Betapa indah saat itu, senyum Adrian dengan lesung pipinya dan matanya yang penuh binar cinta selalu teringat di benakku. Aku rindu kamu ...., Adrian. Ternyata ini sangat sulit dari yang aku bayangkan. Aku tidak sekuat harapanku, dan aku masih serapuh dahulu.
Tanpa terasa airmata sudah mengalir di sudut mata Kikan. Ternyata ini lebih sakit daripada aku kehilangan Mas Ranu dulu. Aku tak tahu apa akan sembuh sakit ini ?. Aku benar-benar merindukanmu dan aku tak mampu menghapus semua ini dengan mudah, batin Kikan dalam diam.
"Ma ...., Mama kok nangis ", suara Raka tiba-tiba sudah berada di kamarnya. Kikan menoleh, mencoba menghapus airmatanya kemudian tersenyum ke Raka.
"Enggak kok, Sayang. Mama gak nangis, tadi Mama matanya sakit habis pakai eyeliner ", jawab Kikan bohong.
"Kata Bu Gulu Laka, gak boleh bohong Ma. Jadi kalau Mama nangis bilang saja ", ucap Raka membuat Kikan malu. Kikan kembali tersenyum lalu jongkok mendekati Raka yang sedang memperhatikannya.
"Iya deh, Mama ngaku. Mama habis nangis, tadi Mama keingetan kucing peliharaan Mama yang mati waktu hujan begini. Jadi tiap hujan, Mama jadi keingetan ", ucap Kikan sedikit mengarang.
Raka hanya terdiam menatap mamanya.
"Mama bukan menangis kalna Om Kelen kan ?", tanya Raka kini mengagetkan Kikan.
"Kok Raka ngomong begitu ?".
"Laka lihat di TV kalau olang dewasa beltengkal pasti menangis dan sepeltinya mama sedang beltengkal dengan Om Kelen ya ?", ucapnya polos.
__ADS_1
"Enggak, Sayang ... Mama gak bertengkar kok ".
"Telus kenapa Om Kelen gak pelnah kesini lagi ?".
"Om Adrian sedang sibuk, nanti kalau sudah selesai sibuknya pasti kesini kok ", jawab Kikan meyakinkan.
"Benel ya Ma ?". Kikan mengangguk mengiyakan meskipun ia bingung juga harus berkata jujur ke Raka suatu saat. Biar saja, untuk sementara waktu ini seperti itu.
"Nduk ... kamu jadi menginap di rumah kayu seminggu ini ?", tanya ibu menyeruak masuk.
"Iya Bu .... , Kikan ingin istirahat di sana sebentar. Raka Kikan ajak ya Bu ?", jawab Kikan.
"Iya ... terserah kamu, lalu bagaimana dengan butikmu ?".
"Amel dan Rika sudah saya titipi pesan kok Bu. Kalau urusan mendesain kan bisa dilakukan juga di rumah kayu ", ucap Kikan lagi.
"Iya Nek, Laka selalu mendoakan Mama kok ", jawab Raka polos.
"Terima kasih ya, Sayang. Sekarang kamu sudah siap kan ?. Ayo kita berangkat, kamu sudah lama kan tidak ke rumah kayu ?", ucap Kikan.
"Iya Ma, Laka kangen Mang Ujang, pingin mancing ikan di danau ", sahut Raka sambil tertawa.
Kikan kembali tersenyum melihatnya. Putranya memang penghibur hatinya yang paling mujarab.
"Bu, Kikan dan Raka berangkat dulu ya. Pamitkan ke Ayah kalau mencari Kikan ", pamit Kikan.
"Iya, nanti Ibu sampaikan ke ayahmu kalau pulang kerja ".
__ADS_1
"Nek ..., Laka belangkat dulu !", pamit Raka juga. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah Raka yang ceria.
Mereka berdua bergegas masuk ke mobil lalu Kikan mulai melajukan mobilnya memecah pagi yang gerimis menuju rumah kayu. Ia ingin menenangkan hatinya di sana. Kikan sering melakukannya bila suasana hatinya sedang kacau, tempat itu seperti tempat recovery Kikan untuk semua kesedihannya.
Gerimis pagi ini sedikit membuat kemacetan di jalan. Seperti yang dialami Adrian kali ini, baru saja ia keluar dari apartemennya, ia sudah terjebak macet. Adrian menyesal tidak bangun lebih pagi tadi. Akhir-akhir ini memang dia sering terlambat bangun karena susah tidur malam harinya. Ia selalu mengingat Kikan dan membuatnya selalu membayangkan saat-saat bersama Kikan.
Seperti saat ini gerimis ini membawa ingatannya kembali ke camping ground saat Kikan menyatakan perasaannya di tengah hujan deras. Akh ... indahnya saat itu, wajah malu-malunya dan mata teduh yang selalu menenangkan itu kenapa terasa sulit aku lupakan. Andai .. aku bisa mengulang kembali ke saat itu, batin Adrian sambil tersenyum.
Kemacetan pagi ini benar-benar parah, mobil Adrian hampir tak bisa bergerak sedikitpun. Ia sedikit kesal lalu menoleh ke mobil sebelahnya yang baru saja masuk menyeruak di kemacetan. Adrian menatap sosok yang dibalik kemudi mobil sebelah. Ia merasa mengenalnya lalu tiba-tiba, pintu kaca mobil sebelahnya terbuka.
"Ma .... macet banget, ada Pak polisi, Ma .... ", teriak bocah yang membuka kaca mobil sebelah.
Adrian tersenyum melihatnya karena ia kenal bocah itu. Ya, dia Raka berarti dia sedang bersama Kikan sekarang. Adrian terus tersenyum sambil menatap mobil sebelah dari dalam mobilnya. Memang kaca mobil Adrian lebih gelap dari kaca mobil Kikan sehingga ia dengan leluasa dapat melihat keluar tanpa ada yang tahu.
"Ma .... ada Pak polisi Ma ... ayo Ma kesana Ma ", teriak Raka makin membuka lebar kaca jendelanya membuat Adrian semakin jelas melihat Kikan. Kikan tampak gugup melihat tingkah Raka.
"Raka , tutup jendelanya nanti basah kena air hujan !", ucap Kikan sambil melihat ke arah Raka yang otomatis juga terlihat jelas oleh Adrian.
Kamu gak berubah ... Sayang, masih tetap sama seperti saat terakhir aku melihatmu. Sepertinya aku harus berterima kasih dengan kemacetan ini yang bisa mempertemukanku denganmu lagi meskipun dibatasi dengan kaca mobil ini, gumam Adrian dalam hati.
"Raka ..., ayo masukkan kepalamu. Itu bahaya, Sayang !", ucap Kikan lagi sedikit panik saat melihat Raka mengeluarkan kepalanya mencoba menikmati air hujan. Adrian hanya terkekeh melihat tingkah Raka. Dia anak yang lucu walaupun kadang sedikit nakal.
"Iya Ma, maaf Ma ", ucap Raka. Kikan segera menutup kaca jendelanya dan menguncinya supaya Raka tidak bisa membukanya lagi.
Adrian hanya terdiam dan terus menempel mobil Kikan di tengah kemacetan. Ia begitu merindukan Kikan, ingin rasanya ia segera turun dan langsung memeluk Kikan saat itu juga. Tapi, ia sudah berjanji untuk saling melepaskan. Di ujung perempatan, mobil Kikan segera berbelok ke kanan sedang mobil Adrian harus terus lurus. Adrian menghela nafasnya, mencoba mengusir bayang Kikan yang kembali datang padanya.
Kikan tahu mobil yang terus menempel di sebelahnya saat macet tadi adalah mobil Adrian. Tapi mengapa dia tidak membuka kaca mobilnya ?. Apa dia sedang bersama Tania ?. Apa dia sudah berhasil melupakanku ?. Apa hanya aku yang masih terus sulit menghapus bayangnya ?. Akh ... aku harus cepat move on dan tidak terjebak terus dalam bayangannya meskipun masih terasa sulit dan sakit.
__ADS_1