Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Di mall


__ADS_3

Minggu pagi ini, Kikan masih bergumul dengan selimut di kasurnya. Ia malas sekali beraktivitas, ia hanya ingin bermalas-malasan di kasurnya.


"Ma ... Mama belum bangun ?", terdengar suara Raka dari luar kamarnya. Bocah kecil itu akhir-akhir ini jarang disentuhnya, mungkin karena kesibukan dan suasana hatinya yang tidak menentu akhir-akhir ini.


"Masuklah Sayang, Mama sudah bangun, pintunya gak dikunci kok !", jawab Kikan. Langsung tak berapa lama muncul bocah tampan dari balik pintu dengan dua giginya yang ompong sudah tersenyum meringis ke arah Kikan.


"Mama gak kelja hali ini ?", tanyanya dengan cadel di huruf r.


"Enggak ... , memangnya kenapa ?".


"Jalan-jalan yok Ma, Laka pengen maen di temson. Kita ajak Om Kelen juga Ma ?", pintanya. Kikan terdiam sejenak. Kalau untuk jalan-jalan ke luar dan main di Timezone mungkin bisa tapi mengajak Adrian ikut bersama rasanya sulit saat ini


"Sepertinya kalau mengajak Om Adrian gak bisa deh kayaknya. Om Adrian sedang repot belakangan ini. Kita pergi berdua saja ya ?".


"Hemm ... Om Kelen kok lepot telus Ma. Om Kelen tetap jadi papanya Laka kan ?", tanya Raka. Kikan hanya diam bingung mau menjawab apa.


"Om Adrian banyak kerjaan Raka. nanti kalau sudah gak repot pasti bisa main dengan Raka lagi. Sudah, kita pergi berdua saja ya ?", bujuk Kikan.


"Oke deh Ma, kalau gitu Laka ciap-ciap dulu ya !", ucapnya kini dengan tersenyum. Kikan hanya mengangguk dan bangkit dari tidurnya bergegas ke kamar mandi untuk bersiap pergi dengan Raka.


Akhirnya setelah beberapa saat bersiap, Kikan dan Raka sudah sampai di mall. Suasana mall belum terlalu ramai, mungkin karena masih pagi dan baru buka jadi belum banyak pengunjung yang berlalu lalang.


"Raka mau kemana dulu nih ?", tanya Kikan begitu sudah di dalam mall.


"Langsung ke temson aja Ma. Mumpung macih cepi, bial Laka puas mainnya ", ucapnya kegirangan.


"Oke deh, kita meluncur ke sana ", kata Kikan sambil sedikit berlari memegang tangan Raka. Raka tersenyum kegirangan. Memang sudah lama sekali Kikan tidak menghabiskan waktu bersama jagoan kecilnya itu.


Mereka akhirnya asyik bermain di Timezone sampai lupa waktu. Kikan seakan menghilangkan semua kesedihannya dengan menghabiskan waktu bermain bersama Raka kali ini.


"Ma ... , Laka haus !", ucap Raka mendekati Kikan.


"Kalau gitu, kita istirahat dulu yuk sekalian beli minum dan camilan di sana ", ucap Kikan sambil menunjuk gerai yang menjual minuman dan camilan. Raka mengangguk cepat kemudian menggandeng tangan Kikan.


"Raka duduk sini dulu ya, Mama pesan dulu !", ucap Kikan setelah menyuruh Raka duduk di bangku yang disediakan.

__ADS_1


"Mbak, milktea satu, milo satu sama kentang dan jamur crispy masing-masing satu ya ", ucap Kikan sambil memesan. Kikan menunggu cukup lama hingga akhirnya semua pesanannya siap.


"Nih .... , Sayang. Silakan dimakan !", ucap Kikan sambil menyodorkan makanan dan minuman ke Raka.


"Makaci Ma ...", ucap Raka manis.


Kikan tersenyum senang, putranya satu ini memang selalu bersikap manis padanya. Kadang sedikit mengingatkannya kepada Mas Ranu dan juga .... Adrian. Akh ... kenapa harus nama Adrian yang muncul sih. Padahal aku ingin belajar untuk sedikit melupakan yang kemudian mengikhlaskannya, meskipun dia bersikeras tak mau melepaskan aku. Kikan menghela nafas panjang mencoba menghalau berbagai pikiran anehnya. Ia ingin hari ini sedikit melupakan Adrian dan hanya Raka saja, cukup Raka yang mengisi hariku. Ya ... seharusnya hanya berdua dengan Raka saja, mungkin hidupku akan tenang kembali seperti dulu.


"Mama kok diem saja, Mama melamun ya ?", seru Raka mengagetkan Kikan.


"Maaf, Sayang .... tadi Mama baru ingat kalau ada yang harus dibeli. Habis ini kita mampir ke toko buku ya ?", ucap Kikan mencoba mengalihkan perhatian Raka. Raka mengangguk sambil terus menghabiskan minuman dan camilannya.


Kikan dan Raka masuk ke toko buku langganannya. Kikan sangat suka membaca dan ia menularkan hobby-nya itu ke putranya Raka. Seperti sekarang, Kikan sedang asyik memilih novel terbitan terbaru. Sedangkan Raka sudah asyik sendiri dengan buku cerita bergambar dan sejenisnya.


"Raka ... jangan kemana-mana ya ? tetap disitu saja. Mama mau mencari buku di sebelah sini ", ucap Kikan sebelum meninggalkan Raka.


"Iya Ma ... ", sahut Raka sambil mengacungkan jempolnya. Ia menyesal dulu sempat terpisah dari mamanya, untung saja ada Om Adrian waktu itu.


Raka masih asyik mencari buku kesukaannya, saat seorang ibu menabraknya.


"Laka baik-baik caja kok, Oma. Apa Oma ada yang teluka ?", katanya balik bertanya. Ibu itu tersenyum dan menyentuh pipi Raka lembut.


"Enggak ... , Sayang. Oma baik-baik saja kok. Kamu manis sekali. Kesini dengan siapa, Sayang ?", tanya ibu itu kini ikut duduk berjongkok di sebelah Raka.


"Dengan Mama, Oma ", jawab Raka. Ibu itu tampak melihat sekeliling mencoba mencari yang dimaksud Raka.


"Itu Mama Laka !", ucap Raka sambil menunjuk sosok Kikan yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Ibu itu tersenyum ketika sudah melihat yang dimaksud Raka tadi.


"Ya sudah, kalau begitu kamu gak boleh pergi dari sini ya !", ucap ibu itu lagi sambil mengelus rambut Raka.


"Ayo Tante ... , mungkin Adrian sudah menunggu di luar !", ucap seorang gadis yang sudah berdiri di samping ibu itu.


"Tumben dia cepat datangnya. Ya sudah, ayo kita keluar Tania !", ucap ibu itu yang tak lain mama Adrian, Bu Tika sambil segera berlalu pergi.


"Raka kamu sudah berhasil menemukan buku yang akan kau beli ?", tanya Kikan sambil menghampiri Raka.

__ADS_1


"Cudah Ma, Laka beli agak banyak gak pa-pa ya Ma ?", tanya Raka sedikit cemas sambil membawa beberapa buku di tangannya. Kikan tersenyum melihatnya.


"Gak pa-pa, Sayang ... ayo bawa sini biar Mama bayar dulu ". Raka menurut dan segera memberikan tumpukan buku di tangannya ke Kikan.


"Raka mau makan dimana ?", tanya Kikan begitu sudah selesai membayar dan keluar dari toko buku.


"Laka mau makan ayam goleng Ma ", jawabnya sambil tersenyum.


"Emang gak bosen ya, ayam goreng terus ?", ucap Kikan. Raka hanya manyun mendengarnya.


"Iya ... iya ... Kita makan ayam goreng. Jangan cemberut dong !", ucap Kikan sedikit tertawa menggoda Raka yang tadi cemberut.


Akhirnya Kikan dan Raka berjalan menuju resto ayam goreng yang kebetulan berhadapan dengan resto masakan jepang. Kikan dan Raka memilih duduk di dekat jendela, mereka suka melihat orang yang berlalu lalang di mall ini. Seperti saat ini, tanpa sengaja pandangan Kikan terpaku pada sosok yang dikenalnya. Ia tampak tampan hari ini, wajahnya terlihat segar dan ceria. Seorang gadis tampak bergelayut manja di lengannya tak jauh di samping mereka berjalan juga seorang wanita separuh baya yang tampak masih cantik sibuk menebarkan senyumnya.


Kikan kenal sosok tampan itu, ya dia Adrian dan Tania. Untuk apa aku harus bertemu mereka di hari liburku ini, pikir Kikan. Kini ketiga orang tersebut sedang berdiri terpaku membaca menu yang sengaja dipasang di depan resto Jepang itu. Akhirnya mereka bertiga memutuskan masuk dan memilih duduk di depan jendela berseberangan dengan tempat Kikan. Kikan menoleh ke sekitar di dalam restonya, ia berharap ada tempat kosong dan pindah kesana. Namun, sepertinya tidak ada. Ini waktunya jam makan siang dan banyak tempat makan yang sedang penuh saat ini.


"Mama kenapa ?", tanya Raka seakan membaca kegelisahan Kikan. Kikan menoleh dan menatap Raka.


"Mama gak cuka makan dicini ya ? Kita pindah tempat saja Ma ?", ucapnya.


"Enggak kok, Sayang ... Mama gak pa-pa. Mama cuma kelaparan saja. Lama banget pesanan kita kok belum datang ", ucap Kikan bohong. Raka tertawa.


"Mama kayak anak kecil ... hehehe ... ", ucap Raka sambil masih tertawa. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.


Kikan kembali melirik ke seberang sana, kini ia melihat Tania menyuapi Adrian makanan dan mengelap sudut bibirnya yang belepotan. Ya ... Tuhan sungguh aku gak ingin melihat semua ini. Apa aku sanggup bertahan terus ?, batin Kikan.


"Ma ... bukankah itu sepelti Om Kelen ya ?", ucap Raka tiba-tiba sambil melihat ke seberang. Kikan terdiam.


"Kata Mama, Om Kelen cibuk tapi kok sekalang pelgi dengan olang lain..Mama bohong ya ?",tanya Raka lagi.


"Enggak ... , Sayang. Mama rasa itu bukan Om Adrian, mereka hanya mirip saja. Kalau dia Om Adrian, dia pasti menghampiri kita kemari ", bohong Kikan.


"Benel Ma ? Mama gak bohong kan ?". Kikan menggeleng.


"Ayo ... kita makan dulu terus kita pulang ya ?", ucap Kikan dijawab anggukkan Raka.

__ADS_1


Di seberang sana, Adrian sudah melihat Kikan dan Raka sejak awal masuk tadi. Ia ingin pindah ke seberang dan bergabung dengan mereka tapi ... lagi-lagi Adrian harus bertekuk lutut bila sudah ada mamanya. Mungkin terlalu sering aku mengucapkan maaf padamu, Kikan, tapi aku tak bisa menghindarinya, batin Adrian sambil menatap ibu dan anak yang sedang asyik menyantap makanan mereka dengan gembira.


__ADS_2