Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Ulah Raka


__ADS_3

Minggu pagi ini, Raka sudah bangun pagi dan sudah berdandan rapi. Ibu dan ayah yang terkejut melihat kelakuan Raka hanya sibuk bertatapan saja.


"Nek ...., cekarang jam belapa ?", tanya Raka.


"Jam delapan, memangnya kenapa ?", tanya ibu keheranan.


"Jam cepuluh macih lama ya, Nek ?", tanya Raka lagi.


"Memangnya jam sepuluh mau kemana ?", tanya ayah kini.


"Laka mau pelgi Kek. Hali ini, Om Kelen mau ajak Laka dan Mama jalan-jalan. Kemalin, Om Kelen cudah telepon Mama kok", jawab Raka.


"Om keren itu bukannya Adrian ya, Yah ?", tanya ibu ke ayah.


"Iya, terus siapa lagi, Bu".


"Gitu Kikan aku tanyain kok gak ada apa-apa, cuma teman. Aku tahu kalau Kikan itu juga suka dengan Adrian. Sikapnya dengan Adrian beda dengan Hendy waktu itu".


"Iya, Nek. Mama juga malah waktu Laka minta Om Kelen untuk jadi papanya Laka. Padahal Laka suka sama Om Kelen", ucap Raka lagi.


"Hah ...! memang Raka ngomongnya gimana ke Om Keren ?", tanya ibu lagi.


"Gini Nek, Om mau gak jadi papanya Laka ?".


"Terus, Om Keren jawab apa ?".


"Om Kelen bilang, mau banget tapi Mamanya Laka mau gak, gitu Nek", terang Raka yang disambut tawa ayah dan ibu.


"Kok diketawain sih, Laka kan cuka kalau Om Kelen jadi papanya Laka. Om Kelen, ganteng, baik lagi kayak Laka", terang Raka lagi.


"Iya, maaf ya, Sayang. Makanya Raka harus bisa bujuk Mama biar mau kalau Om keren jadi papanya Raka ", ucap ibu.


"Iya, Nek. Laka akan bujuk Mama nanti", ucap Raka lagi sambil bersungguh-sungguh. Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Dua jam kemudian benar saja Kikan sudah siap berdandan. Penampilannya hari ini beda dengan biasanya dan itu membuat Ibu ingin menggodanya.


"Kamu mau kemana, Nduk kok sudah rapi ?", tanya ibu menggoda Kikan yang sedang duduk menunggu di ruang tamu.


"Eh, Kikan ada janji, Bu. Nanti Raka ikut juga kok", jawab Kikan.


"Janji dengan Adrian ya ?", kata Ibu menggoda. Kikan menoleh kaget.


"Ibu kok tahu pasti Raka yang cerita ya ?", tanya Kikan.


"Iya, tadi Ibu tanya kenapa dia sudah rapi sejak pagi, dia bilang mau pergi dengan Om Keren. Om keren siapa lagi kalau bukan Adrian".


"Iya Bu, Kikan ada janji dengan Adrian. Ibu jangan punya pikiran yang aneh-aneh ya ?".


"Kikan, Ibu paham. Kamu sudah dewasa kok." Kikan hanya mengangguk. Tak berapa lama sebuah mobil sudah berhenti di depan rumah Kikan. Kikan melihat dari jendela, tampak Adrian hendak turun dari mobilnya.


"Raka, ayo kita berangkat !", ucap Kikan memanggil Raka.


"Adrian gak disuruh masuk dulu, Nduk ?", ucap ibu.


"Kita gak pamit ke Ibu dulu ?", tanya Adrian kebingungan.


"Nanti saja pulangnya mampir ", ucap Kikan ketus sambil memasang sabuk pengamannya. Raka yang duduk di belakang pun ikut kebingungan melihat sikap mamanya.


"Oke, Raka sudah siap pergi ?", tanya Adrian kini ke Raka yang duduk di belakang.


"Cudah Om".


"Baiklah, kita berangkat ", ucap Adrian dengan tingkah konyolnya membuat Kikan tertawa. Kadang Kikan tidak habis pikir, orang seperti Adrian bisa menjadi CEO sebuah perusahaan ternama.


Di perjalanan, Kikan banyak diamnya hanya Raka dan Adrian yang sibuk berceloteh. Mereka benar-benar menikmati liburan ini. Setelah tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah mall.


"Raka, hari ini Om tantang kamu di Timezone ya ?", ucap Adrian begitu mereka memasuki mall itu.

__ADS_1


"Ciap, Om", jawab Raka. Lalu Raka dan Adrian berjalan bergandengan meninggalkan Kikan yang jalan di belakangnya. Raka begitu senang dan ceria namun tiba-tiba keceriaan Raka hilang saat dia disapa seseorang. Raka lalu menarik tangan Adrian dan membisikkan sesuatu di telinganya. Adrian tampak manggut-manggut kemudian mereka melakukan tos dan kembali bermain lagi. Kikan yang memperhatikan mereka dari jauh hanya geleng-geleng kepala saja.


"Ma ...., beliin minum dong, aku dan papa haus nih !", seru Raka memanggilnya. Kikan spontan kaget dengan ucapan Raka. Papa ?, siapa yang dipanggil Raka papa ? Adrian ?. Kikan segera berjalan mendekati Adrian yang dari tadi mendampingi Raka.


"Kamu menyuruh Raka memanggilmu Papa ?", bisik Kikan. Adrian hanya tersenyum mendengarnya seakan tidak memperdulikan Kikan. Kikan semakin kesal dibuatnya, akhirnya dia pergi meninggalkan mereka berdua kemudian kembali lagi sambil membawakan minuman untuk mereka berdua.


"Makacih, Ma. Ayo Pa, kita ganti main yang itu !", tunjuk Raka sambil menarik tangan Adrian. Adrian kembali tersenyum seakan mengejek Kikan yang dari tadi memandang kesal ke arahnya.


"Mamanya Raka ya ?", sapa seorang ibu muda yang tiba-tiba sudah di sebelah Kikan.


"Eh, iya, Mbak ", jawab Kikan sopan.


"Saya mamanya Theo, maafkan anak saya kalau selama ini sering mengganggu Raka. Theo sering mengolok Raka karena tidak punya Papa padahal sebenarnya Raka punya. Tadi Theo sudah saya tegur kok, jadi saya minta maaf", ucap ibu muda itu lagi.


"Oh iya, tidak apa-apa, namanya juga anak-anak, saya maklumi", jawab Kikan lagi.


"Sayang ...., ayo kita cari makan dulu. Raka sudah capek tuh", ucap Adrian tiba-tiba datang sambil merangkul pundak Kikan. Kikan berusaha sebisa mungkin menutupi rasa kagetnya di depan ibu muda itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu", ucap ibu muda itu. Kikan dan Adrian hanya mengangguk.


"Bau parfum mu masih sama seperti yang dulu ya ?", bisik Adrian di telinga Kikan.


"Kamu sengaja cari kesempatan ya ?. Cepat, turunin tanganmu ", ucap Kikan.


"Nanti kalau orang itu balik dan melihat kita bertengkar gimana ? kasihan Raka", ucap Adrian sambil berbisik makin dekat ke wajah Kikan. Kikan hanya diam tak berkutik dan akhirnya membiarkan tangan Adrian tetap di pundaknya. Raka yang melihat Adrian dan Kikan akrab semakin senang. Adrian benar-benar tak melepaskan sedetikpun Kikan. Ia benar-benar menikmati saat ini, ia benar-benar merindukan saat-saat bersama Kikan dulu. Mungkin Adrian harus berterima kasih ke Raka yang telah menciptakan kesempatan indah ini untuknya.


"Kamu tahu , Sayang. Aku benar-benar merindukan saat-saat ini", bisik Adrian lagi di telinga Kikan.


"Sampai kapan kamu akan memanfaatkan waktu seperti ini ?", bisik Kikan juga. Ia tidak ingin mama muda yang mengajaknya bicara tadi curiga karena dari tadi dia masih saja menatap ke arahnya.


"Kalau bisa sih selamanya", jawab Adrian sambil tersenyum lagi.


"Kamu jangan ngacau, Adrian. Cepat lepaskan aku !", ucap Kikan lirih.

__ADS_1


"Raka ...., ayo kita makan dulu, Nak. Kan sudah dari tadi mainnya", ucap Kikan memanggil Raka. Raka menoleh dan segera berlari ke arah Kikan dan Adrian.


"Ayo, Ma, Pa, kita makan. Laka sudah lapal ", ucap Raka sambil menggandeng tangan Kikan dan Adrian. Kikan sedikit bernafas lega karena akhirnya Adrian melepaskan rangkulannya.


__ADS_2