
Kikan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya. Senyum manis tergambar indah di wajahnya. Ia merasa bersyukur sekali hidup di keluarga yang begitu mencintainya, apalagi sekarang ada Ranu yang selalu ada di sampingnya. Akh, semoga Tuhan selalu memberiku keindahan ini, pikir Kikan.
Kikan masih menikmati empuk kasur tidurnya sambil membayangkan keindahan apa saja yang akan dia alami. Sebentar lagi Mas Ranu wisuda, otomatis habis wisuda dia bakalan sibuk cari kerja. Tapi apa sih susahnya bagi dia untuk nyari kerja, dia lulus dengan nilai memuaskan, hasil karyanya selama ini juga gak mengecewakan. Apalagi bisnis keluarga Mas Ranu banyak yang bergerak di bidang properti pasti mudah banget mendapatkan pekerjaan untuk sarjana arsitek seperti Ranu. Nanti klo sudah dapat kerjaan mas Ranu bakal ngelamar aku gak ya ???
Akh ... pekik kegirangan Kikan yang masih sibuk dengan pikirannya. Tapi, gimana kalo ternyata Mas Ranu kepincut rekan kerjanya terus aku ditinggalin. Akh, gak mungkin itu bukan banget sifat mas Ranu. Tapi jaman sekarang banyak cewek yang lebih agresif daripada cowok, gimana kalo mas Ranu bener-bener tergoda dan ninggalin aku ???.
Akh, gak mungkin gak mungkin, Kikan kembali menggeleng gelengkan kepalanya. Tapi kalo bener kejadian gimana ??? Berarti aku harus cepat lulus kuliah dong, katanya cowok lebih suka cewek yang mandiri dan tidak manja seperti aku. Mungkin kalo aku udah wisuda terus kerja mas Ranu gak bakalan sempat tergoda wanita lain. Apalagi kalo mas Ranu segera nikahin aku.
Akh ... senangnya kini senyum kembali mengembang di wajah Kikan. Aku pake baju apa ya kalo nikah ??? Wah, harus benar- benar istimewa nih apalagi kalo nikah kan cuman sekali seumur hidup. Kikan segera bangkit kemudian berjalan ke meja belajarnya, mengeluarkan buku sketsa dan pensil.
__ADS_1
Kikan mulai sibuk menggoreskan ide-ide untuk baju pernikahannya nanti. Sambil senyum-senyum sendiri dia terus menggoreskan pensil di buku sketsa tersebut. Dia ingin baju pernikahannya itu benar-benar spesial dan menjadi paling indah yang pernah dia pakai. Kikan ingin baju pernikahannya nanti berwarna putih meskipun sesungguhnya ia pencinta warna biru. Tapi ia ingin warna putih sebagai lambang kesakralan dan kesucian sebuah ikatan pernikahan. Dia juga tak lupa membuat sketsa untuk baju pengantin laki-laki. Lalu untuk kesekian kalinya Kikan tersenyum sendiri memandangi hasil goresan sketsanya.
Tut Tut Tut , lamunan Kikan buyar begitu terdengar suara hpnya berbunyi.
"Hallo," sapa Kikan.
[Selamat malam Mbak, saya dari toko aksesoris Lalita. Sepatu dan kalung yang mbak pesan sudah ready. Saya antar atau mbak ambil sendiri,ya?] jawab suara di seberang.
[Oh iya mbak, gak pa-pa toko kami tutup sampai jam 9 malam]
__ADS_1
"Ok kalo begitu sepulang kuliah saya ambil, terima kasih ya, mbak."
[Iya, sama-sama kami tunggu besok. Selamat malam]
"Malam".
Kikan menutup telpon sambil menghela nafas. Untung ada telepon yang mengingatkan aku kalau ada hal yang lebih penting harus aku selesaikan.
Ya, dua minggu lagi Kikan dan teman-temannya jurusan desainer akan mengadakan pagelaran busana. Kikan memang mahasiswi jurusan desainer semester 6, di semester-semester ini dia mulai sibuk sering mengadakan pagelaran busana. Memang kecintaan Kikan mendesain baju sudah keliatan sejak SMP, oleh sebab itu begitu lulus SMA pilihan Kikan tidak lain adalah menjadi desainer baju. Untung saja, ayah dan ibu tak pernah menentang keinginan Kikan. Asal Kikan senang dan bahagia, ayah dan ibu Kikan pasti menyetujuinya.
__ADS_1
"Hoam." Kikan menguap lebar menghentikan proses menggambar pola pada brokat yang baru dibelinya. Kikan lupa kalo harus menambahkan detail di baju rancangannya.
Dia melirik jarum jam di dinding, sudah pukul 11 pantas saja matanya gak bisa kompromi. Kikan beranjak ke kasurnya dan menghempaskan dirinya di sana kemudian tak berapa lama, suara dengkur halus terdengar dari mulutnya.