
Intan terpaku menatap wajahnya di cermin yang berada di kamarnya. Kebaya putih dengan bawahan jarik ditambah riasan wajah full make up dengan hiasan singer di atas kepala khas pengantin Sunda. Dia lama terdiam mematung menatap bayangan dirinya di dalam cermin.
Apa begini akhirnya nasibku ? menjadi istri kelima seorang juragan kaya yang usianya terpaut hampir 30 tahun denganku ?. Apa tidak ada hal lain yang bisa membatalkan semua ini ?. Intan ingin menangis namun percuma saja itu semua tidak merubah keadaan. Ambu dan abah nya sudah ikhlas menyetujui perjanjian mereka. Andai saja saat itu Intan mengetahui tentang perjanjian ini pasti dia tidak akan meneruskan kuliahnya di kota. Dia lebih baik menjadi buruh tani di desa daripada harus menyandang gelar sarjana namun masa depannya berakhir menjadi istri kelima seorang juragan kaya. Intan tak sanggup menahan air matanya, satu persatu berjatuhan mengalir di pipinya.
"Sabar Neng, ini salah satu cobaan hidup buat Neng. Neng harus ikhlas ya ", kata Ambu yang sudah berada di samping Intan.
"Maafkan Ambu dan Abah, ini semua kami lakukan supaya Neng dapat hidup lebih baik dari kami ", lanjutnya. Intan hanya diam dan masih menangis.
"Sudah, jangan menangis terus, sebentar lagi Juragan Zainal datang, dia pasti tidak suka kalau melihat kamu menangis seperti ini".
"Biar saja tidak suka, Intan malah senang kalau dia membatalkan pernikahan ini", jawab Intan.
"Ish... ish ula ngomong begitu. Kalau dia membatalkan bagaimana nasib Ambu dan Abah. Hutang kami banyak, Neng kami tidak sanggup membayarnya. Mohon bantu Ambu dan Abah ya, Neng sekali ini saja", pinta Ambu.
"Seharusnya Ambu berterus-terang dari awal kalau begini akhirnya jika Intan kuliah, seharusnya Ambu mencegah Intan waktu itu. Kalau tahu seperti ini, Intan lebih baik jadi buruh tani seperti Ambu daripada harus menikah dengan orang itu", isak Intan.
"Jangan ngomong gitu, Neng. Jangan membuat Ambu dan Abah merasa bersalah lagi. Maafkan kami yang tak bisa membahagiakan kamu. Hanya ini satu-satunya cara supaya kamu bisa hidup tercukupi dan bahagia".
"Ambu ... bukan harta dan kekayaan yang bisa membuat orang bahagia. Ambu salah ". Ambu hanya terdiam dan kini mulai ikut menangis sambil berlutut di kaki Intan.
"Maafin Ambu .... Neng, maafin Ambu...", ucap Ambu. Kini Intan yang terdiam segera berjongkok dan menarik Ambu supaya berdiri dari posisi berlutut di kakinya.
"Sudahlah Ambu ... jangan seperti ini ", ucap Intan sambil mencoba membuat Ambu berdiri.
"Ada apa ini ?", tanya Abah yang tiba-tiba menerobos masuk.
"Ambu ... kenapa berlutut disitu ?", tanya Abah lagi.
"Ambu merasa bersalah, Bah sudah menjodohkan Intan dengan Juragan Zainal. Ambu mohon maaf ke Intan, Bah", ucap Ambu masih dengan menangis.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi, ayo cepat berdiri dan rapikan dirimu Juragan Zainal sudah datang. Dan kamu, Intan usap air matamu. Abah akan menyuruh Ningsih memperbaikinya". Intan hanya terdiam mendengar ucapan Abah, dia sudah pasrah dengan keadaan ini.
"Sudah Neng, jangan menangis lagi ya ? sudah bolak balik Ningsih perbaiki ini riasannya nanti jadi jelek kalau ditambal terus. Berdoa saja semoga ini yang terbaik buat Neng". Intan hanya diam saja.
"Sudah siap Neng ?, ayo kita keluar !", perintah Abah yang kembali masuk ke kamar Intan. Intan hanya diam lalu perlahan dia keluar di dampingi Abah dan Ambu.
Ruang tamu Intan sudah dihias sedemikian rupa, di tengah sudah tersedia meja beserta mik. Di depan meja sudah banyak orang duduk mengelilingi. Ada penghulu, ada dua orang saksi dari masing-masing pihak keluar lalu di sebelah Intan sudah duduk seorang laki-laki berusia lebih separuh abad dengan dandanan pengantin sedang tersenyum menyeringai menatap Intan.
Di belakang laki-laki itu duduk berjajar empat orang wanita yang dari wajahnya sudah jelas terlihat itu adalah deretan istri-istri juragan Zainal dari yang paling tua sampai yang nomor empat. Semua menyimpan senyum entah tanda senang atau tanda cemburu. Intan hanya diam tak bergeming membalas tatapan mata empat orang wanita itu.
"Baik, sudah kumpul semua, mari segera kita mulai saja ya ?", ucap penghulu membuka pembicaraan.
"Disini wali nikah intan adalah Abah sendiri atau diwakilkan ke saya ?", tanya pak penghulu.
"Diwakilkan saja", jawab Abah.
"Baiklah ....". Pak penghulu pun memulai prosesi acara dari Abah dulu yang mewalikan ke penghulu kemudian kini giliran penghulu akan menikah kan Intan dan juragan Zainal. Penghulu sudah menjabat tangan juragan Zainal tanda akad nikah akan dimulai.
"Saya terima nikahnya Intan Sukmawati dengan .....".
"Bobby !", pekik Intan.
"Waduh, Nal kamu nikah lagi toh. Kok ya gak ngundang aku", seru suara lebih berat berjalan di belakang Bobby yang tak lain ayah Bobby.
"Pak Sastro ....", seru juragan Zainal terkejut begitu mengenali ayah Bobby. Intan hanya menatap bingung ada apa antara juragan Zainal dan ayah Bobby.
"Kamu itu ..., apa masih kurang punya empat istri ?. Apa masih mau nambah lagi ?", tanya ayah Bobby yang disambut senyum juragan Zainal.
"Sudah, jangan diteruskan pernikahan ini. Stop disini saja !", ucap ayah Bobby yang mengagetkan semua orang yang berkumpul disana termasuk Abah dan juragan Zainal.
"Tapi .... ini cara mereka untuk membayar hutangnya Pak", sergah juragan Zainal.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain ?. Kau tahu siapa yang akan kau nikahi itu ?", tanya ayah Bobby.
"Dia itu calon mantu ku yang kamu curi dari anakku. Apa ini balas jasamu setelah semua yang aku lakukan padamu dulu ", lanjut ayah Bobby yang membuat juragan Zainal terkejut.
"Ta... tapi ... apa benar itu Pak ?".
"Tanya saja sendiri ke anakku, kamu juga kan yang mengajak Intan pulang paksa di depan anakku?", kata ayah Bobby lagi yang semakin membuat nyali juragan Zainal menciut.
"Iya, Pak Sastro ... saya minta maaf, saya tidak tahu kalau Neng Intan, calon mantu Bapak", ucapnya kini sambil memohon maaf.
"Baiklah ..., kalau begitu batal ya pernikahan mu ini ?".
"Iya Pak, saya batalkan. Tapi ... hutang mereka ....".
"Berapa hutangnya ? coba kamu rinci. Akan saya bantu bayar tapi tanpa bunga ya ?. Masak kamu belum kapok juga bermain riba".
"Baik, baik Pak. Nanti saya akan menyuruh orang mengirim rinciannya".
"Ya sudah, sekarang pulanglah. Berbahagialah dengan empat istrimu itu, jangan tambah istri lagi. Cepat, bawa rombonganmu pulang !", perintah ayah Bobby.
"Baik, baik Pak. Ayo, ayo cepat kita pulang !", ucap juragan Zainal sambil mengajak keempat istri dan rombongannya pulang.
"Kalau begitu, saya permisi pulang juga", ucap pak penghulu.
"Tunggu ... Pak, jangan pulang dulu. Tolong nikahkan anak saya ini dan Intan. Untuk surat-surat menyusul saja. Kami sudah membawa semua yang diperlukan untuk acara lamaran dan nikahan", ucap ayah Bobby membuat Intan terkejut.
"Betul, Ntan. Aku kesini bukan hanya untuk menggagalkan pernikahan tadi tapi juga untuk melamar dan menikah denganmu. Kamu bersedia kan ?", tanya Bobby yang disambut anggukan Intan. Intan langsung memeluk Bobby dan menangis di pelukannya. Ia bersyukur, bisa menikah dengan orang yang dicintainya.
"Ngomong-ngomong ada hubungan apa Ayah dan juragan Zainal ?", tanya Intan kini.
"Dulu Ayah pernah menolong juragan Zainal saat tersandung kasus ilegal logging. Waktu itu Ayah masih bertugas di kepolisian dan mempunyai wewenang. Untunglah aku menuruti nasehat Kikan untuk bercerita tentang masalah kita ke Ayah. Kalau tidak, tentu kamu kini tidak bersamaku lagi", terang Bobby disambut senyum Intan.
__ADS_1
"Sudah dulu ceritanya, Bob kamu segera bersiap untuk akad nikah dulu. Cepat sana !", perintah ayah Bobby. Bobby segera bangkit dan bergegas mempersiapkan diri.
Tak lama dia sudah muncul dengan pakaian lebih rapi dan kemudian duduk bersanding Intan. Lalu setelah semua siap, acara akad nikah Bobby dan Intan pun dimulai. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan. Senyum bahagia memancar di wajah Intan dan Bobby termasuk Ambu dan Abah. Sudah tidak ada kecemasan lagi yang harus mereka takuti.