
Pemotretan prewedding tersebut memakan waktu hampir dua jam dan selama itu Kikan menghabiskan waktunya sambil berjalan-jalan di sekitar lokasi hutan pinus. Ia percaya sepenuhnya kepada Adrian dan memilih menghindar darinya saat bersama Tania. Ia tak ingin hatinya terus terluka.
Kikan kembali ke lokasi tepat saat mereka sudah berkemas. Sepertinya mereka sudah selesai. Kikan mengamati sekitar, Adrian sudah tidak tampak mungkin dia sudah kembali ke kantornya. Begitu juga dengan Tania, dia juga sudah tidak tampak.
"Mbak ... tadi Mbak Tania pesan bajunya dipinjam dulu jadi akan saya bawa ke studio ya ", ucap gadis bernama Siska. Kikan mengangguk.
"Oh ya, kita belum kenalan tadi. Saya Siska ", ulangnya lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Kikan ", jawab Kikan sambil membalas uluran tangannya.
"Baju ini desain Mbak Kikan sendiri ?", tanya Siska lagi. Kikan mengangguk lagi.
"Bagus banget, pasti harganya mahal. Mbak Tania dan calon suaminya kan orang terkenal pasti mereka menginginkan yang terbaik ", gumam Siska.
"Tidak juga, saya bisa membuatkan berdasarkan budget yang ada. Mungkin kamu berminat bisa hubungi saya nanti ", kata Kikan lagi. Gadis bernama Siska itu tampak tersenyum kemudian membantu Kikan merapikan baju-baju sebelum dikemas dan dimasukkan mobil.
"Haduh .... baru kali ini aku melakukan pemotretan prewedding tapi tidak ada chemistry di antara calon pengantin itu ", keluh si fotografer sambil duduk di sebelah Kikan.
"Masak sih, Mas ", celetuk Siska.
"Coba aja kamu lihat sendiri hasilnya, apalagi cowoknya gak mau mengulang pengambilan foto lagi. Terpaksa besok kita lakukan pemotretan sendiri - sendiri lalu aku edit saja deh. Oh ya, Mbak, terima kasih ya sudah membantu kami ", ucap si fotografer itu kini ke Kikan. Kikan mengangguk sambil tersenyum.
"Kita belum kenalan, saya Edo ", ucap si fotografer sambil mengulurkan tangan.
"Kikan ", ucap Kikan membalas tangannya.
"Mbak, ada hubungan apa dengan calon pengantinnya ?", tanya Edo.
__ADS_1
"Panggil Kikan saja, saya hanya membantu mendesain baju pernikahan mereka ", jawab Kikan.
"Wah ... berarti kamu desainer ya ?. Sudah kenal lama dengan Tania dan calon suaminya ?". Kikan menggeleng cepat.
"Memangnya kenapa ?", tanya Kikan heran.
"Saya sudah sering tahu tentang Tania. Dia kan artis pendatang baru yang lagi naik daun. Dia juga dikabarkan sedang dekat dengan seorang produser tapi mengapa sekarang tiba-tiba akan menikah dengan orang lain. Ya, meskipun calon suaminya yang sekarang bukan orang sembarangan juga sih. Dia CEO perusahaan terkemuka di kota ini kan. Tania sungguh beruntung mendapatkannya. Tapi sepertinya calon suaminya kok tidak suka padanya ya ?", jelas Edo.
"Huss ... Mas Edo kok jadi ngegosip sih ?", seloroh Siska.
"Eh iya ..., maaf, maaf. Tapi memang bener ini pengalaman pertamaku mengambil foto prewed yang tidak ada chemistry-nya. Ah ... sudahlah, ayo kita pulang ", ucap Edo sambil bangkit.
"Kikan .. kamu juga bareng kan ?", tanya Edo lagi.
"Iya, tapi sepertinya aku akan mampir ke suatu tempat dulu. Kalian duluan saja ", ucap Kikan.
"Baiklah, kami pulang dulu ", pamit Edo dan yang lain. Kikan mengangguk.
Kikan memilih duduk di outdoor yang menyajikan pemandangan hutan pinus terbentang yang sempat ditelusurinya tadi. Steak terdeloin pesanannya sudah datang bersama segelas orange juice kesukaannya. Kikan makan dalam diam, ia benar-benar menikmati ketenangan di cafe ini. Apalagi cafe ini terbilang sangat sepi di jam makan siang. Mungkin karena lokasinya yang masuk ke dalam hutan pinus jadi belum banyak orang yang mengetahuinya.
Suapan terakhir sudah masuk ke mulutnya. Tandas sudah makan siangnya hari ini. Kikan mengecek ponselnya, mungkin Amel atau Rika menghubunginya tapi sepertinya disini susah sinyal. Kikan menghela nafas panjang, mungkin aku disarankan untuk refreshing sejenak dari kesibukanku selama ini.
"Kamu masih disini ... ?", sebuah suara membuyarkan lamunan Kikan. Kikan menoleh dan melihat Adrian sudah berdiri dibelakangnya.
"Bukannya kamu sudah kembali tadi ?", kata Kikan balik bertanya.
"Tidak, aku mencarimu tadi ... ", ucap Adrian kini dia sudah memeluk Kikan dari belakang. Kikan terdiam, ia tahu mungkin Adrian lelah harus berpura-pura terus.
__ADS_1
"Kamu sudah makan ?", tanya Kikan lagi. Adrian hanya diam dan makin menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Kikan. Untung saja, Kikan memilih kursi yang tinggi untuk ia duduki sehingga Adrian tidak capek memeluknya.
"Aku ingin seperti ini saja ... ", ucapnya. Kikan kembali terdiam dan membiarkan Adrian semakin membenamkan kepalanya.
"Jangan lelah menungguku ya, Sayang .... ", bisik Adrian setelah sekian lama terdiam. Kikan hanya tersenyum menjawabnya.
"Kamu tidak kembali ke kantor ?", tanya Kikan setelah Adrian melepaskan pelukannya dan sudah duduk di samping Kikan. Adrian menggeleng. Ada binar lelah dan kecapekan di matanya.
"Kok kusut mukanya ?", ucap Kikan melucu sambil menyentuh wajah Adrian. Adrian hanya tersenyum lalu meraih tangan Kikan dan mengecupnya.
"Terima kasih ... kamu hari ini membuatku kagum. Maafkan aku kalau sempat membuatmu menangis tadi ", ucap Adrian. Kikan menggeleng cepat.
"Aku percaya padamu, aku yakin kamu akan menemukan jalan keluar permasalahan kita. Dan aku rasa aku sudah mulai terbiasa menghadapi ini semua, aku akan berjuang dan terus kuat kalau kamu juga terus memperjuangkan cinta kita ", tutur Kikan. Adrian hanya tersenyum memandang Kikan takjub.
"Hari ini kamu cantik sekali, apa kamu memang sengaja berdandan untukku. Aku pikir tadi aku akan berfoto prewed denganmu bukan dengan Tania ", ucap Adrian. Ia sudah kembali seperti Adrian biasanya. Kikan tersenyum lagi, ia jadi ingat obrolan dengan Edo si fotografer tadi.
"Kenapa senyum ?".
"Gak pa-pa, tadi kayaknya ada yang mengalami kesulitan waktu pengambilan foto prewed ya ?".
"Ya ... jelaslah. Aku kan gak mau disuruh peluk-peluk Tania apalagi disuruh menciumnya, males banget. Tapi si fotografer itu terus menyuruh aku, lebih dekat - lebih dekat, Mas. Huh, emang foto prewed harus gitu ya ?. Setahuku kan ada juga yang biasa-biasa aja. Pasti itu akal-akalan Tania aja ", gerutu Adrian. Kikan hanya tertawa mendengar cerita Adrian. Adrian memang punya banyak rupa, itulah yang membuat Kikan sangat berat hati bila kehilangan dia.
"Lain kalau foto prewednya sama kamu tanpa disuruh pun aku bakalan meluk dan cium kamu ", ucap Adrian kini sambil langsung mempraktekkannya, memeluk dan mencium pipi Kikan.
"Adrian ... aku malu, ini tempat umum. Kalau ada yang lihat gimana, kamu kan sudah tunangan dan mau menikah dengan Tania ", protes Kikan.
"Ah ... bodo amat, aku malah senang kalau dia mergoki aku sedang ciuman dengan kamu. Sini ...!", ucap Adrian sambil menarik pinggang Kikan untuk mendekat ke arahnya dan kemudian mencium lembut bibirnya.
__ADS_1
"Aku cinta kamu ... ", ucap Adrian sambil tersenyum memandang Kikan dan kemudian mendaratkan lagi ciuman di bibir Kikan berulang-ulang. Kikan tersenyum bahagia, ia tak peduli apa yang akan terjadi besok atau lusa yang penting kini orang yang dicintainya sedang berada bersamanya.
Kebahagiaan dan banyak cinta diantara Kikan dan Adrian begitu terlihat jelas membuat siapa saja yang melihat pasti tahu kalau mereka sedang dimabuk cinta. Seperti yang dilihat Tania saat ini. Tadi dia sengaja kembali ke lokasi pemotretan karena ada barangnya yang tertinggal. Tapi ketika dicari tidak ada, mungkin sudah dibawa Edo dan teman-temannya. Saat Tania akan kembali pulang, dia melihat mobil Adrian di parkiran. Tania segera mencari Adrian dan terkejut saat ia melihat Adrian memeluk Kikan dari belakang begitu mesra. Dan sekarang .... Tania melihat Adrian mencium Kikan berulang-ulang. Hal yang tak pernah ia dapatkan selama bersama Adrian. Ada hubungan apa di antara mereka ?. Apa mereka sepasang kekasih yang dipisahkan karena perjodohan ini ?. Tidak, aku tidak boleh kalah, aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan Adrian dan aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya, gumam Tania. Ia lalu bergegas pergi meninggalkan dua insan yang sedang kasmaran itu.