
"Pak ..., peserta meeting sudah hadir menunggu Bapak di ruangan", ucap Sari, sekertaris Adrian dari intercom.
"Iya ...., sebentar lagi aku kesana", jawab Adrian di intercom. Adrian sibuk memainkan penanya, lalu membuka dompetnya. Ia keluarkan sebuah foto yang tampak lusuh dari sana. Ia pandangi foto lusuh itu lalu tersenyum sendiri.
"Akhirnya kita bertemu juga dan kamu tetap tak berubah. Kamu masih Kikan ku yang dulu", gumam Adrian sambil mengusap foto lusuh itu yang tak lain dan tak bukan foto Kikan saat SMA.
"Apa kamu masih menyimpan rasa yang dulu ? karena aku masih terus menyimpannya untukmu", gumamnya lagi sambil masih terus memandangi foto Kikan.
"Tok tok tok ", bunyi pintu diketuk. Adrian segera tersentak kaget dan bergegas menyimpan foto itu kembali ke dompetnya.
"Maaf, Pak, meeting segera di mulai. Semua sedang menunggu Bapak", ucap Sari sambil melongokkan kepalanya ke ruangan Adrian.
"Baik, aku kesana", ucap Adrian segera bangkit dan bergegas berjalan ke ruang meeting sedang Sari mengikutinya di belakang.
Usia Adrian memang masih muda, namun ia sudah menjabat CEO sebuah perusahaan ternama di kota ini. Meskipun perusahaan ini milik keluarga Adrian, namun Adrian benar-benar menunjukkan kinerja dan kemampuannya sehingga papanya seratus persen mempercayakan pengambilan keputusan di tangan Adrian. Mungkin masa muda Adrian yang sangat nakal dulu membuatnya berubah hingga menjadi pribadi yang mandiri dan berdedikasi tinggi.
"Eh, Pak Adrian itu sudah menikah belum sih ?", bisik seorang karyawan saat Adrian selesai memimpin meeting.
"Kelihatannya sih belum, pacar juga belum punya sepertinya", jawab karyawan lainnya.
"Andai saja Pak Adrian buka lowongan untuk jadi istri atau pacarnya pasti aku daftar duluan".
"Huh ... bukan kamu saja yang mau, aku juga dong", seru yang lain.
Adrian selalu jadi bahan pembicaraan karyawannya, karena sikapnya, wajah tampannya dan kepemimpinannya. Semua kagum dan menyukai Adrian.
"Ian ... kamu sedang apa sekarang ?", sebuah suara di telepon yang sengaja di loud speaker oleh Adrian.
"Aku habis meeting, Ma. Ada apa ?", tanya Adrian menjawab telepon mamanya.
"Kamu sore ini sibuk gak, Mama minta tolong antar ke mall sebentar ya, Sayang ?", pinta mamanya.
"Ya ampun, Ma. Mau ke mall saja harus Adrian yang antar, Papa atau Julian kan bisa, aku sedang repot Ma, banyak kerjaan", ucap Adrian.
__ADS_1
"Ya sudah ... ya sudah kalau gak mau, Mama tidak memaksa. Kapan lagi Mama bisa manja dengan anak Mama kalau gak sekarang. Nanti kalau kamu sudah menikah pasti kamu gak akan mau memanjakan Mama. Ya sudah, Mama pergi sendiri saja", ucap mama Adrian lagi.
"Ya ampun ... Mama kok kayak anak kecil saja sih. Iya, iya nanti Adrian antar, nanti kalau sudah selesai Adrian telepon ", ucap Adrian mengalah akhirnya.
"Nah gitu dong, tapi jangan malam-malam ya ?", ucap Mama Adrian lagi lalu mengakhiri telepon.
Adrian mendengus kesal, selalu saja begitu cara mamanya bermanja. Padahal ada Julian, kakaknya dan juga papa. Tapi mungkin Mama sedikit sungkan meminta tolong ke Julian karena Julian sudah menikah. Sedangkan papanya, sejak perusahaan diserahkan ke Adrian papanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kembali ke hobby-nya dulu yaitu, memancing dan bermain golf. Mungkin kalau dia sudah menikah pasti mamanya tidak akan menggangu nya lagi. Tapi menikah dengan siapa, pacar saja tidak punya.
"Sari ... hari ini jadwal saya apa saja selain meeting tadi ?", tanya Adrian di intercom.
"Sudah selesai, Pak. Tidak ada janji atau meeting", jawab Sari.
"Ya sudah, kalau gitu aku keluar sebentar. Aku lapar, aku ingin makan di luar ya. Tolong handle kalau ada yang cari aku", ucap Adrian lagi.
"Baik, Pak", ucap Sari. Adrian segera bangkit, meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar ruangan.
Belum jam makan siang, tapi perutnya sudah keroncongan minta diisi mungkin gara-gara tadi pagi Adrian tidak sarapan jadi jam segini sudah kelaparan.
"Mau pesan apa, Pak ?", tanya pelayan itu sopan.
"Seperti biasanya, Mas. Soto Betawi campur plus nasi 1 dan teh tawar hangat ", jawab Adrian. Pelayan itu mencatat kemudian meninggalkan Adrian. Tidak beberapa lama, pelayan itu datang membawa pesanan Adrian. Adrian makan dengan lahapnya. Setelah makan, Adrian bergegas akan kembali ke kantor karena nanti sore juga dia harus ke mall lagi mengantar mamanya. Namun, langkah Adrian terhenti saat melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang memilih beberapa bahan kain. Adrian mengamati nya dari jauh sambil tersenyum. Mungkin nanti saja aku kembali ke kantor lagipula aku tidak ada janji hari ini, pikir Adrian.
"Mbak ...., motif brokat yang kayak gini ada gak ?", tanya Kikan ke pelayan toko.
"Sebentar Mbak, saya lihat dulu. Kira-kira butuh berapa meter ?", tanya pelayan toko itu.
"Aku cuman butuh 1,5 meter sih, Mbak", jawab Kikan.
"Maaf Mbak, kosong yang motif itu. Motif lain yang ada, kayak gini Mbak ", kata pelayan sambil menunjukkan motif lain. Kikan menggeleng.
"Ya sudah Mbak, saya coba cari di tempat lain dulu", ucap Kikan sambil berlalu meninggalkan toko itu. Adrian yang mengamati dari jauh segera bergegas melangkah mendekat tanpa sepengetahuan Kikan.
"Halo ... Cantik, kok sendirian sekarang ", sapa Adrian mengagetkan Kikan. Kikan segera terkejut melihat Adrian yang sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu hantu ya ? kok tiba-tiba muncul sih ?", ucap Kikan sebal mencoba menghilangkan rasa kagetnya.
"Kalau aku hantu, cocoknya hantu apa ya ?", kata Adrian kini.
"Hantu tuyul aja, sukanya keluyuran tuh ", jawab Kikan kesal.
"Gak mau ah, kalau tuyul kan gundul padahal aku gak gundul. Rambutku bagus gini kok", kata Adrian sambil menjejeri Kikan yang mulai melangkah.
"Ngapain kamu ikutin aku ?", bentak Kikan.
"Idih ...., gr amat. Siapa juga yang ngikutin kamu. Aku tadi kesini karena laper kok tuh aku habis makan disitu pas mau pulang terus kelihatan kamu jadi aku sapa deh". Kikan hanya diam mendengar jawaban Adrian, ada sedikit rasa malu merasukinya.
"Eh ya, mumpung di mall dan ketemu kamu, kita nonton yuk ?", ajak Adrian tiba-tiba.
"Hah ? nonton ? sama kamu ? ogah, aku gak mau. Aku sedang sibuk", jawab Kikan mencoba mempercepat langkahnya.
"Kamu kenapa sih kok selalu menghindar kalau ketemu aku ?", tanya Adrian.
"Kamu tanya aku ? tanya tuh ke diri kamu sendiri", jawab Kikan ketus. Adrian hanya diam dan terus berjalan menjejeri Kikan.
"Kamu gak ada kerjaan hari ini ?", tanya Kikan. Adrian dengan cepat menggeleng.
"Kalau gitu, gimana kalau kamu bantuin aku ?", ucap Kikan akhirnya. Mata Adrian tampak berbinar bahagia, akhirnya Kikan mau berbaikan dengannya.
"Apa yang bisa aku bantu, Cantik ?", tanya Adrian.
"Tolong bantu aku cariin kain motif ini, aku mau pulang, capek, sudah dari tadi muter gak ketemu", ucap Kikan sambil memberikan contoh kain ke tangan Adrian.
"Tunggu ... terus kamu mau kemana Kikan ?", tanya Adrian bingung melihat Kikan yang mulai menjauh. Kikan terus melangkah sambil melambaikan tangan ke Adrian.
"Kurang ajar, dikerjain gue", gumam Adrian. Lalu ia mengeluarkan ponselnya.
"Sari ... habis ini kamu ke ruangan saya, saya ada tugas buat kamu", ucap Adrian di telepon meminta bantuan sekertarisnya. Kita lihat saja Kikan siapa yang akan takluk, pikir Adrian sambil tersenyum puas.
__ADS_1