Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Wisuda Ranu


__ADS_3

Kikan berulang kali melirik arloji di tangannya. Sudah pukul 7.30, setengah jam lagi wisuda bakalan di mulai, tapi kenapa taksi ini jalannya seperti merambat saja. Kikan menyesali kecerobohannya lupa memasang alarm hingga bangun kesiangan. Gara-gara asyik menjahit persiapan baju untuk pagelarannya besok sabtu, Kikan lupa memasang alarm dan ketiduran sesudah menjahit.


 


"Pak, masih lama gak?" tanya Kikan ke sopir taksi.


"Bentar, Mbak dikit lagi. Saya yakin mbaknya gak akan terlambat kok," jawab si sopir taksi. Kikan hanya menghela napas.


Kenapa juga tadi dia tidak meminta tolong Bobby, sepupunya untuk mengantar pasti Kikan sudah sampai di kampus. Dia tak mau melihat Ranu kecewa karena keterlambatannya ini. Apalagi nanti ada Mami Tiwi dan Papi Farid, orang tua Ranu yang sudah dikenal akrab Kikan. Apa kata mereka kalau aku sampai datang terlambat atau bahkan datang sesudah acara selesai dimulai. Bakalan batal aku jadi mantu mereka. Akh, ingin rasanya Kikan berteriak menyesali semua kecerobohannya.

__ADS_1


"Mbak, mbak sudah sampai mbak," kata sopir mengagetkan Kikan.


"Hah, sudah sampai? Beneran, Pak sudah sampai?" kata Kikan balik nanya. Pak sopir hanya mengangguk sambil menunjuk ke gedung yang di depannya.


Dengan sigap Kikan langsung keluar, membayar taksi dan segera berhambur masuk ke dalam aula gedung sambil menunjukkan undangannya. Kikan bisa bernafas lega, saat ia sudah memasuki gedung dan berjalan perlahan mencoba mencari nomor kursinya. Tak berapa lama tampak Mami Tiwi melambaikan tangan ke arah Kikan. Kikan tersenyum dan berjalan menghampiri kemudian duduk di sebelah Mami Tiwi.


"Maafkan Kikan, Mi. Tadi malam Kikan sibuk menyiapkan untuk pagelaran, jadi bangun kesiangan", kata Kikan.


"Gimana sih mami ini wong ini hari istimewa kok mau tampil asal-asalan, ya gak, Kak?" seloroh Galuh, adik Ranu yang duduk di samping Papi Farid. Mereka berempat hanya tersenyum.

__ADS_1


Tak berapa lama, acara wisuda pun dimulai. Dimulai dari kedatangan rektor dan para dekan kemudian diteruskan dengan menyanyikan hymne universitas, sambutan rektor dan kemudian acara inti. Semua acara berjalan dengan khidmat, Kikan tersenyum bangga saat nama Ranu disebutkan dan kemudian dengan tenang maju ke depan. Airmata haru tidak terasa menetes di pipi Kikan, Mami Tiwi, Papi Farid dan Galuh juga nampak begitu. Ranu anak pertama mereka yang sangat dibanggakan dan kini sudah mampu mewujudkan salah satu cita-citanya.


"Selamat ya ,Sayang. Akhirnya sekarang sudah jadi sarjana arsitek," ucap Kikan begitu acara selesai dan Ranu sudah berkumpul dengan mereka. Ranu tersenyum, lalu mengecup kening Kikan.


"Kamu cantik banget hari ini, makasih ya sudah mau datang," balas Ranu sambil merangkul bahu Kikan.


"Sudah, mesra-mesraannya dilanjut nanti saja di rumah. Aku sudah lapar banget nih, Mas," seloroh Galuh tiba-tiba di sebelah mereka.


"Iya, ayo Kikan mampir ke rumah dulu mami sudah nyiapin syukuran kecil-kecilan buat Ranu. Biar nanti sore kamu pulangnya diantar Ranu, ya?" kata Mami Tiwi. Kikan menoleh ke Ranu kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Kalo gitu, yuk kita pulang," ajak Papi Farid.


Akhirnya mereka berlima jalan beriringan menuju parkiran untuk lanjut pulang ke rumah. Kikan gak pernah sedikitpun melepas gelendotan di lengan Ranu. Dia bahagia sekali hari ini.


__ADS_2