
Senja sudah menjelang, suara jangkrik dan para serangga lainnya mulai bermunculan mendendangkan lagu alam.
Kikan tersenyum menikmati keindahan alam yang beranjak gelap. Baru kali ini, dia menikmati keindahan alam di malam hari. Sejak jaman SMP sampai kuliah ayah dan ibunya tidak pernah mengijinkan Kikan untuk ikut acara sekolah yang mengharuskan menginap di alam. Ya, meskipun pernah sekali waktu SMA itupun karena wajib harus ikut, ayah dan ibu terpaksa mengijinkannya. Alasan mereka melarang Kikan macem-macem, takut sakitlah, takut binatang buas, cuaca yang ekstrim. Kadang mereka terlalu over protective menjaga Kikan. Untung saja sikap over protective kedua orang tuanya itu berkurang ketika mereka kenal Ranu. Mungkin Ranu pintar menyakinkan kedua orang tua Kikan sehingga lebih memudahkan ruang gerak Kikan sekarang.
"Kamu mau mie rebus Kan ?", tanya Intan ketika Kikan berjalan mendekati api unggun.
"Kamu bikin mie rebus ?". Intan mengangguk.
"Iya, kita makan malam pake mie rebus ya dan telur rebus", tambah Intan.
"Kita masak yang simple aja kayak masakan anak kost", ucap Intan lagi di sambut tawa Kikan.
"Aku bantu motong cabenya ya. Mie rebus tanpa cabe rasanya hambar",kata Kikan kini disambut tawa Ratih dan Suci juga yang asyik menanak nasi.
"Eh, kita dua hari kan nginap disini ?", tanya Suci.
"Iya Ci, memang kenapa ?", tanya Intan.
"Gpp sih, cuman aku lupa gak bawa baju daleman lagi. Kemarin aku tergesa-gesa waktu packing jadi ketinggalan deh".
"Ya ampun Ci ..... Terus kamu gak ganti dong", kata Ratih menimpali.
"Terpaksa deh ....", sahut Suci cuek.
"Akh .... Suci jorok banget", ucap Intan kemudian ditimpali tawa yang lainnya.
"Eh, udah Mateng belum ?. Udah lapar nih", tanya Sonny tiba-tiba mendekati para cewek yang sedang memasak.
"Sabar bos, bentar lagi. Siapin tempatnya aja, jadi kalo udah Mateng langsung sikat .", jawab Suci.
"Ntan, punya Abang banyakin cabenya ya ", pinta Bobby ke Intan.
"Dih ... Abang, Abang dari Hongkong", ejek Kikan. Bobby hanya nyengir kuda ke arah Kikan.
"Udah, jangan berantem ayo bantuin bawa ke sana makanan yang udah matang", ucap Intan melerai Bobby dan Kikan.
Akhirnya makan malam pun tiba, dibawah alas tikar diterangi lampu templok yang remang-remang dan api unggun mereka mulai makan bersama. Ada nasi, mie rebus, telur rebus, kornet dan juga buah pisang. Mereka berdelapan makan dengan lahapnya. Memang kalo sudah di alam, makan apa saja pun nikmat ya.
"Eh, malam ini bulan purnama loh jangan pada tidur dulu ya, kita nyanyi-nyanyi dulu kebetulan aku bawa gitar", sahut Iwan.
"Wah, iya bener Wan, mantap tuh. Cepetan ambil gitarnya aku mau nyumbang nyanyi buat adekku tercinta, Intan", sahut Bobby bersemangat yang disambut gemuruh suara yang lainnya.
Iwan segera berlari ke tenda dan kembali membawa gitar.
__ADS_1
"Kamu mau nyanyi apa Bob ? aku yang iringin ", ucap Iwan kini mulai bersiap memainkan gitarnya.
"Apa ya ? kamu mau lagu apa dek ?", tanya Bobby ke Intan.
"Terserah kamu saja", jawab Intan.
"Oke deh, segera Bobby membisikkan sesuatu ke telinga Iwan". Kemudian yang terdengar lantunan musik lagunya Anji - Dia.
"Di suatu hari ... tanpa sengaja kita bertemu ...", nyanyi Bobby semuapun tersenyum mendengarnya tapi lama-kelamaan suraranya jadi gak karuan dan gak enak di dengar.
"Oh ..... Tuhan kucinta dia .....", suara Bobby makin gak karuan membuat semua temannya menutup telinga hanya Intan saja yang terlihat masih menikmati.
"Udah Bob, sakit telingaku", pinta Iwan yang kemudian menghentikan iringan gitarnya.
"Ya .... gimana sih kalian kan aku belum selesai nyanyi-nya".
"Kamu gak liat ya, kita sudah kesakitan megang telinga nih. Aku takut nanti malah raja hutan yang datang karena mendengar suara paraumu itu", kata Sonny sedikit kesal.
"Masak sih ? tapi Intan kelihatan menikmati tuh", sergah Bobby.
"Lah iyalah, Intan pacar mu walau suara gak enak juga tetep didengerin. Udah ganti kamu aja Wan, yang nyanyi", sahut Suci.
Bobby hanya manyun lalu beranjak duduk dekat Intan. Intan hanya tersenyum sambil mengelus tangan Bobby.
Lagu kembali terdengar kini dari suara Iwan yang merdu, semua pun menikmati. Setelah Iwan selesai menyanyi, tiba-tiba Ranu bangkit dan meminjam gitar Iwan.
"Silakan bro". Ranu langsung duduk di sebelah Iwan menghadap Kikan yang takjub menatapnya.
"Beneran kamu bisa Ran ?", tanya Bobby. Ranu hanya mengangguk lalu mulai mejentikan jemarinya di senar gitar.
"Dengarkanlah wanita pujaanku .. malam ini akan kusampaikan hasrat suci kepadamu dewiku dengarkanlah kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu tuk yang pertama dan terakhir.....", nyanyi Ranu dengan suara merdunya membuat Kikan terpukau dan terus terpana menatap Ranu.
Baru kali ini Kikan melihat Ranu menyanyi sambil bermain gitar. Sementara yang lain jadi ikutan terbawa suasana.
"Akh.... bagus banget suaranya, nah ini namanya nyanyi. Selamat, kamu lolos ke babak berikutnya", ucap Sonny sambil bertepuk tangan begitu Ranu selesai bernyanyi.
"Apaan sih ... biasa itu biasa", ucap Bobby gak mau kalah.
"Huh... dasar Bobby", ejek yang lain.
"Kok gitu sih ngeliatnya ?", tanya Ranu begitu selesai nyanyi dan duduk di samping Kikan yang masih terpana.
"Aku baru tahu suaramu semerdu itu mas", puji Kikan.
__ADS_1
"Udah, jangan ngegombal".
"Idih siapa yang gombal, emang bener kok bagus". Ranu hanya tersenyum.
"Eh, kita jalan-jalan bentar yuk, mumpung udara gak terlalu dingin dan ada bulan purnama lagi", bisik Ranu di telinga Kikan. Kikan langsung mengangguk dan beranjak bangkit.
"Mau kemana kalian ?", cegah Bobby.
"Jalan-jalan bentar, mumpung bagus langitnya", jawab Kikan.
"Awas ya kalau macam-macam!", ancam Bobby yang langsung dibalas cibiran bibir Kikan.
"Dasar Kikan, awas ya !".
"Udah biarin aja Bob, dia kan sudah gede bisa jaga diri kok", cegah Intan ketika Bobby mau menyusulnya.
Kikan dan Ranu berjalan beriringan di sekitar perkemahan sambil bergandengan tangan.
"Kita duduk di tanah lapang itu yuk, kayaknya di sini bagus bintangnya", ajak Kikan. Ranu hanya mengangguk.
Mereka langsung duduk di tanah lapang yang sedikit membukit membuat tanah tersebut lebih tinggi dari sekitarnya.
"Jarang banget lihat langit seindah ini", ucap Kikan sambil merebahkan tubuhnya di tanah.
"Tuh Mas, banyak banget bintangnya", tunjuk Kikan. Ranu hanya tersenyum lalu ikutan rebahan di tanah namun tidak memandang langit melainkan memandang Kikan.
"Coba Mas, hitung ada berapa bintangnya ? terus mana yang paling terang ?", ucap Kikan lagi sambil sibuk mengamati langit.
"Ngapain memandang yang jauh, yang dekat dan di depan mataku aja lebih indah dan lebih terang", jawab Ranu. Kikan tersenyum lalu memandang Ranu yang dari tadi berbaring menyamping memandang dirinya.
"Lagi ngerayu ya ?".
"Kalo iya, kenapa ?", tanya Ranu lagi yang kini disambut tawa Kikan.
Tiba-tiba tubuh Ranu semakin mendekat hingga jarak wajahnya dan Kikan hanya 1 cm. Mereka saling merasakan nafas mereka masing-masing yang tersengal.
"Boleh aku .....", pinta Ranu yang kemudian dijawab Kikan dengan memejamkan matanya.
Ranu kemudian memeluk pinggang Kikan mendekatkan tubuhnya dan dengan perlahan mencium bibir Kikan dengan lembut berulang-ulang sampai Kikan kehabisan nafas.
Kikan menahan dada Ranu saat Ranu akan mulai menciumnya lagi. Ranupun mengerti dan melepaskan dekapannya.
"Maafkan aku ....", ucap Ranu kemudian bangkit.
__ADS_1
Kikan hanya diam kemudian bangkit dan merapikan rambutnya.
"Kita kembali ke tenda ya?", ucap Ranu sambil menggandeng tangan Kikan. Kikan mengangguk.