Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Di Kantor


__ADS_3

Hari ini Kikan sudah bersiap sejak pagi, ia tidak mau Adrian harus menunggunya lama.


"Kamu mau pergi, Nduk ?", tanya ibu begitu melihat Kikan sudah rapi.


"Iya Bu", jawab Kikan sambil membantu menyiapkan sarapan pagi.


"Dengan Adrian ?", tanya ibu lagi. Kikan menoleh cepat sambil terbelalak kaget.


"Ibu kok tahu sih ?", ucap Kikan malu-malu. Ibu hanya tersenyum melihat Kikan.


"Tentu saja, Nduk. Ibu kan juga pernah muda. Melihat kamu seperti melihat orang yang sedang jatuh cinta, senyum terus. Dan Ibu tahu, itu pasti karena Adrian ". Kikan hanya tersenyum mendengarnya.


"Mama mau pelgi sama Om Kelen lagi ?. Laka ikut dong, Ma ?", tiba-tiba Raka sudah berdiri di samping Kikan.


"Raka ...., Raka kan hari ini sekolah. Nanti saja kalau libur pergi sama Om Adrian ya ?", ucap ibu.


"Benel ya ma ?", tanya Raka. Kikan hanya mengangguk.


"Hole .... Om Kelen jadi papa Laka deh ..", pekik Raka sambil tersenyum. Kikan hanya tersenyum melihat tingkah Raka.


"Ayo ... Raka, kita sarapan dulu. Nanti Raka di antar Kakek ya ?", ucap ayah kini. Raka mengangguk dan segera duduk untuk sarapan. Selesai sarapan, Raka segera berangkat sekolah diantar Kakek. Tak lama setelah Raka berangkat, sebuah sepeda motor besar warna merah berhenti di depan rumah Kikan. Kikan melihat dari balik tirai jendela. Itu motor Adrian, hari ini dia mengajakku naik motor, pantas saja dia memintaku tidak memakai dress, pikir Kikan. Dengan bergegas Kikan membuka pintu untuk Adrian. Adrian tampak beda kali ini, dia memakai celana jeans, t-shirt putih, jaket kulit, sepatu kets dan kacamata hitam. Gayanya seperti anak SMA saja tidak seperti seorang eksekutif muda. Kikan tersenyum geli melihat gaya Adrian, antara kagum dan lucu.


"Wah ... kamu sudah siap ya ? kenapa kok senyum-senyum sih ?", sapa Adrian begitu melihat Kikan.


"Kamu kayak anak SMA saja, beda banget ...", kata Kikan. Adrian hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu sudah sarapan ?", tanya Kikan lagi. Adrian mengangguk mengiyakan.


"Katamu jemput jam 9, ini masih jam 8 kamu sudah datang. Untung saja aku sudah siap", ucap Kikan lagi.


"Iya, maaf. Tadi pagi sekertaris ku menelepon katanya ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani jadi kita mampir ke kantorku dulu ya. Sebenarnya aku udah bilang cuti hari ini tapi ini urgent jadi terpaksa mampir bentar. Kamu gak keberatan kan ?". Kikan menggeleng.


"Ya sudah, ayo kita berangkat !". Kikan mengangguk lalu beranjak ke belakang untuk pamit ke ibunya. Setelah berpamitan mereka segera berangkat. Adrian mulai menstater motornya, Kikan bersiap memakai helm kemudian naik di boncengan. Adrian mulai melajukan motornya menuju kantornya. Untung saja mereka naik motor, jadi mereka tidak terjebak macet di jam kerja ini. Setelah hampir empat puluh lima menit, akhirnya mereka sampai juga di sebuah gedung bertingkat tertinggi di kota ini. Adrian segera memarkir motornya dan segera turun.


"Ayo !", ajaknya sambil menggandeng tangan Kikan.


"Pagi, Pak !", ucap satpam penjaga di ruang lobby. Adrian hanya tersenyum membalas satpam tersebut. Beberapa resepsionis terlihat terkejut melihat Adrian saat itu. Mungkin mereka kaget melihat penampilan bosnya yang sporty beda dengan biasanya. Adrian segera berjalan menuju lift sambil tersenyum kepada beberapa karyawan yang menyapanya. Kikan tampak risih karena semua mata karyawan itu menatapnya, apalagi Adrian tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Saat masuk lift, beberapa karyawan tampak menyilakan Adrian terlebih dahulu untuk menggunakan lift.


"Kamu kenapa melihatku seperti itu ?", tanya Adrian begitu mereka di dalam lift hanya berdua.


"Biar saja mereka melihat kita, apa perlu aku menciummu di depan mereka juga ? biar mereka tahu kalau kamu itu milikku", ucapnya lagi sambil tersenyum. Kikan langsung menggeleng cepat. Dasar, Adrian, pikirnya.


Mereka akhirnya tiba di lantai yang dituju, Adrian segera keluar dari lift sambil masih menggandeng tangan Kikan.


"Pagi, Pak !", sapa karyawan di depan ruangan itu. Adrian tersenyum lalu bergegas masuk. Karyawan itu terus melihat Adrian dan Kikan. Bukan hanya seorang tapi hampir seluruh karyawan di ruangan itu pandangannya tertuju ke Adrian dan Kikan. Banyak dari mereka yang lalu berkasak kusuk membicarakan soal bosnya.


"Jadi itu pacarnya Pak Adrian ? cantik banget ya ?", seru seorang karyawan.


"Ya ... patah hati deh aku, ternyata Pak Adrian sudah punya pacar ", seru yang lainnya.


"Pak Adrian hari ini beda banget, tambah ganteng kayak anak SMA. Beruntung banget ya pacarnya ", seru mereka saling bersahutan.

__ADS_1


Adrian lalu berhenti di meja Sari, sekertarisnya.


"Berkas yang mau saya tanda tangani tolong bawa masuk ya ?", ucapnya pada Sari.


"Baik, Pak !", ucap Sari sedikit kaget karena melihat penampilan Adrian yang berbeda dan lebih-lebih ada seorang gadis cantik di sebelah Adrian yang terus digandengnya dari tadi.


"Kamu tunggu sebentar ya, aku tidak akan lama kok ", ucap Adrian begitu masuk ke ruangannya sambil menyilakan Kikan duduk di sofa. Kikan mengangguk dan segera duduk di sofa.


"Pak, ini kontrak dengan Pak Wisnu kemarin ada yang terlewat belum ditandatangani. Ada juga beberapa berkas yang perlu tanda tangan Bapak, silakan di cek dulu !", ucap Sari sambil membawakan beberapa berkas ke meja Adrian.


"Baik, aku cek dulu. Nanti kalau sudah selesai kamu akan kupanggil ", ucap Adrian lagi. Sari mengangguk dan segera berlalu dari ruangan Adrian. Sari tersenyum dan memberi salam ke Kikan yang sedang duduk menunggu di sofa.


Kikan kembali mengamati Adrian yang tampak serius membaca beberapa berkas itu. Mengapa aku jadi sering berdebar setiap melihatnya ?. Apa aku sudah jatuh cinta lagi padanya ?. Ternyata dia mempunyai banyak rupa. Kadang konyol, lugu, sedih, lucu dan kini tampang serius yang sedang aku amati. Tapi, entah mengapa aku suka semua, gumam Kikan dalam hati.


"Kamu jangan memandangiku terus, nanti hilang konsentrasiku ", ucap Adrian tiba-tiba masih dengan menunduk membaca berkas-berkas itu. Kikan yang terkejut hanya tersenyum.


"Ih ... gr amat, siapa juga yang ngeliatin kamu ?", ucap Kikan sambil berusaha menutupi rasa malunya.


"Tentu saja aku tahu kamu dari tadi diam pasti sedang asyik memandangku kan ?", ucap Adrian lagi kini sambil melirik Kikan sekilas. Kikan tampak salah tingkah dibuatnya. Akhirnya dia putuskan untuk bermain ponsel sambil menunggu Adrian selesai. Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya Adrian selesai membaca dan menandatangani berkas-berkas penting itu. Dia segera memanggil Sari ke ruangannya.


"Sari ... hari ini sampai besok aku cuti, minta tolong kalau ada masalah kamu handle ya. Kalau urgent saja hubungi aku ", ucap Adrian ke Sari.


"Iya, baik Pak. Semoga liburannya menyenangkan", ucap Sari sopan.


"Ya, sudah. Aku pergi dulu ya. Ayo, sayang ... !", ucap Adrian berpamitan kini sambil mengajak Kikan berlalu. Sari hanya tersenyum dan memberi hormat lagi ke Kikan begitu juga sebaliknya dengan Kikan. Adrian kini tidak hanya menggandeng tangannya tapi juga memeluk pinggang Kikan berjalan melewati beberapa pandangan karyawannya yang menatap iri ke Kikan.

__ADS_1


__ADS_2