Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Rahasia Intan


__ADS_3

"Wah ... cerah sekali pagi ini !", sahut Bobby sambil meregangkan tubuhnya, lalu berjalan menghampiri para gadis yang sedang asyik bikin kopi dan teh.


"Kamu mau teh atau kopi Bob ?", tanya Intan.


"Kopi aja, tapi yang manis ya kayak kamu ", jawab Bobby sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Pagi-pagi udah ngegombal, huh .... ", ledek Kikan.


"Huh, emang kamu aja yang boleh pacaran. Aku kan juga pengen, ya gak ?", ucap Bobby kini sambil menyikut lengan Intan. Intan hanya tersenyum.


"Udah akh, aku mau cuci muka dulu trs gosok gigi mandinya nanti aja masih dingin. Brr ...", cerocos Bobby.


"Eh iya, Ranu kemana Kan ? pagi-pagi kok sudah ngilang dari tenda ?", tanyanya lagi.


"Dia udah lari pagi tuh sama Iwan dan Sonny gak kayak kamu yang molor mulu", jawab Kikan sambil cueknya. Bobby hanya nyengir kemudian melanjutkan jalannya ke toilet umum.


"Eh, kita sarapan roti bakar aja pagi ini, kebetulan kemarin aku bawa roti banyak lengkap dengan selai, mentega dan meses", kata Kikan yang langsung disetujui Intan dan yang lainnya.


"Aku ambil bentar ya", ucap Kikan segera berlari ke tendanya.


Kikan bergegas membongkar stock makanannya, untung aja kemarin ibu membelikannya roti, selai dan perlengkapannya. Tau aja kalo ini bener-bener berharga di alam gini.


"Pagi sayang ....", sapa Ranu mengagetkan Kikan yang sedang sibuk membongkar stock makanannya.


"Lagi ngapain ?", tanya Ranu lagi.


"Ini Mas, aku mau bikin sarapan untung aja kemarin ibu bawain aku roti dan perlengkapannya, ternyata berharga banget ya di tempat kayak gini".


"Wah ... betul mantap tuh buat sarapan. Eh ya, aku tadi sama anak-anak habis survey lokasi loh ternyata di dekat sini ada air terjun bagus banget. Airnya bening dan bersih, pemandangan selama di perjalanan juga keren kamu pasti suka", tutur Ranu.


"Akh... kenapa aku gak diajak sih ?", rengek Kikan.


"Kita rencana mau kesana habis sarapan, deket kok jalan kaki cuma 20 menit tapi gak bakal bosen deh ngeliat pemandangannya".


"Wah, beneran .... oke deh kalo gitu aku cepet-cepet bikin sarapan dulu deh. Aku balik ke Intan dulu ya mas". Ranu hanya mengangguk sambil tersenyum senang melihat binar kegirangan di mata Kikan.

__ADS_1


Kikan segera memberi tahukan rencana Ranu dan teman-temannya setelah sarapan ke Intan, Suci dan Ratih. Langsung saja ketiga gadis itu bersorak kegirangan dan dengan sigap segera menyiapkan sarapan. Mereka benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan keindahan alam ini.


Setelah sarapan segera mereka berangkat ke air terjun, namun sebelumnya mereka mengamankan barang-barang penting mereka ke dalam mobil dan menguncinya. Meskipun camping ground ini aman namun mereka juga harus berjaga-jaga untuk setiap kemungkinan.


Mereka berjalan beriringan, Sonny di depan sebagai penunjuk jalan kemudian disusul Bobby dan Intan, Suci dan Ratih, Iwan lalu paling belakang ada Ranu dan Kikan. Ranu dan Kikan memilih jalan paling belakang karena ingin menikmati pemandangan sepanjang jalan ini dengan puas. Kikan terus berdecak kagum melihat hamparan rumput ilalang yang kadang diselingi pohon-pohon Cemara di kanan kiri. Belum lagi kalo beruntung tidak tertutup pohon Kikan bisa melihat gunung yang dengan gagah berdiri. Kikan terus menghirup dan menikmati segarnya udara gunung ini. Ia seperti anak ayam yang dilepas ke alam bebas, begitu kegirangan berlarian kesana kemari dan kalo menemukan angle yang bagus, dia berhenti untuk berselfi ria.


"Udah penuh tuh memorinya, dari tadi jepret-jepret terus", goda Ranu. Kikan tersenyum bahagia.


"Habis bagus banget mas, view-nya aku suka banget ". Ranu hanya tertawa mendengarnya.


"Masih jauh gak mas ?", tanya Kikan begitu menyadari mereka tertinggal jauh dari rombongan.


"Deket kok, tuh udah denger gemericik airnya kan". Kikan mengangguk.


"Yuk, cepetan mungkin mereka sudah sampai", ajak Ranu sambil menggandeng tangan Kikan bergegas.


Bener aja gak sampai 20 langkah, air terjun itu udah terlihat. Gak terlalu tinggi sih, tapi semburan airnya dahsyat banget, udah gitu dingin. Bobby, Sonny dan Iwan sudah melepas pakaian tinggal celana pendek aja yang melekat. Mereka bertiga sudah asyik nyebur ke bawah air terjun menikmati beningnya air.


"Ayo Ran !", ajak Bobby sambil memanggil Ranu yang baru datang. Ranu segera mengangguk, melepas kaos dan celana panjangnya menyisakan celana pendek lalu ikut bergabung dengan para cowok.


"Mereka lucu sekali kayak anak kecil", seru Kikan.


"Ya gitu cowok kalo ngumpul pasti kekanakan mereka akan muncul", jawab Intan.


"Ci ... ayo nyemplung yuk, aku pengen banget mandi di kali", sahut Ratih.


"Aku gak bawa daleman lagi Tih, ntar gimana", jawab Suci.


"Gampang, aku pinjamin. yuk !".


"Kikan, Intan ayo ikutan nyemplung", ajak Suci.


"Gak, kami disini aja", ucap Intan.


"Ya udah kalo gitu, aku nitip hp ya". Intan mengangguk dan menerima hp Suci dan Ratih.

__ADS_1


Segera dua gadis itu menjeburkan diri mereka ke dalam air yang disambut tawa Intan dan Kikan karena melihat ekspresi kedinginan mereka.


"Kamu dan Ranu cocok banget ya Kan. Aku suka banget ngeliat kalian berdua. Bener-bener serasi deh", ucap Intan. Kikan hanya tersenyum.


"Kamu dan Bobby juga serasi kok kadang aku heran kok bisa kamu suka sama Bobby". Kini Intan yang tertawa mendengar ucapan Kikan.


"Kamu gak dipelet Bobby kan ?". Intan kembali tersenyum lalu menggeleng.


"Aku suka Bobby karena setiap bersama dia aku selalu ketawa, melupakan sejenak kesedihan ku". Intan terdiam tidak meneruskan bicaranya, Kikan hanya tersenyum lalu mengusap tangan Intan lembut.


"Kalau kamu keberatan gak usah cerita gpp kok Ntan ", ucap Kikan. Intan mengangguk.


"Sebenarnya aku iri melihat kamu dan Ranu. Kalian bisa mewujudkan impian kalian untuk bersama di suatu saat nanti. Sedang aku, mungkin hanya masa kuliah ini yang membuat bahagia. Begitu aku kembali ke kampung halamanku, aku akan sedih lagi. Aku mencintai Bobby tapi aku tidak bisa bersanding dengannya suatu saat nanti". Intan terdiam membuat Kikan penasaran.


"Aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku, Kan", tutur Intan akhirnya.


"Kedua orang tuaku bukan orang kaya seperti orang tua kalian. Aku hanya dari keluarga yang pas-pasan yang berharap ingin mengubah nasib. Oleh sebab itu aku memilih kuliah di luar kota untuk mengejar mimpiku tapi aku harus membayar mahal untuk mengejar impianku itu. Orang tuaku terpaksa berhutang kepada saudagar kaya raya di desaku untuk membayar semua biaya kuliah dan hidupku tanpa aku ketahui. Sebagai bayarannya, sekembali aku lulus kuliah dan kembali ke desa aku harus menikah dengannya menjadi istrinya yang ke sekian".


"Astaga Intan, kenapa kamu gak pernah cerita. Aku pikir selama ini kamu membatasi pergaulan mu karena kamu sombong tapi ternyata kamu punya masalah sebesar itu". Intan mengangguk.


"Apa Bobby mengetahui hal ini ?". Intan menggeleng.


"Kenapa kamu tidak cerita ? siapa tahu dia mau membantumu. Aku yakin dia tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku kenal betul Bobby". Intan menggeleng lagi.


"Aku tidak ingin Bobby kenapa-kenapa. Aku sengaja mengiyakan perjodohan itu asal mereka tidak mengganggu kehidupan perkuliahanku. Oleh sebab itu, kadang aku malas sekali kalo harus lulus cepat dan wisuda. Aku gak mau waktu itu cepat datang menghampiriku. Kalo bisa, aku ingin kuliah terus, aku ingin bersama Bobby terus", ucap Intan kini dengan sedikit bergetar menahan tangis yang hampir meluap.


Kikan hanya diam, mengelus punggung Intan yang duduk di sebelahnya. Kikan tidak pernah tau kalo beban Intan seberat itu. Dibalik sikap angkuhnya dan diamnya ternyata dia punya segudang masalah.


"Ntan, yuk kita balik. Aku sudah kedinginan nih, biarin kalo yang lain belum mau balik kita duluan", ajak Bobby yang sudah berdiri di samping Intan dengan wajah pucat dan bibir biru karena kedinginan.


"Aku duluan ya !", pamit Intan. Kikan hanya mengangguk dan tersenyum. Kira-kira apa yang dilakukan Bobby kalo dia tahu masalah Intan ya, pikir Kikan.


"Sayang, yuk kita balik", ucap Ranu menghampiri Kikan yang asyik melamun.


Kikan hanya mengangguk kemudian bangkit. Disusul Suci, Ratih, Iwan dan Sonny yang sudah basah kuyup kedinginan. Kikan hanya tersenyum melihat tingkah mereka ternyata banyak yang baru aku ketahui dari teman-teman ku ini, pikir Kikan.

__ADS_1


__ADS_2