Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Bertemu Ibu Natalia


__ADS_3

Hari hari Haris harus berubah total, selama ini pakai pakaian yang sesukanya aja kini tidak lagi bisa, sebagai seorang guru Haris harus menjaga image yang baik dihadapan muridnya yang sangat kritis, Haris harus memposisikan diri sebagai contoh yang patut digugu dan ditiru. Yang tidak berubah adalah jadwal Haris yang terus masuk kampus, bukan untuk belajar tentunya, tapi menemui kekasih hatinya Natalia.


“ Abang dari sekolah ?”.


Haris anggukkan kepala. “ Lapar nih, makan dulu yok “.


“ Kemana Bang ?”.


“ Ayolah. Nanti dipikirkan “.


Natalia tak menjawab, ia langsung gandeng tangan Haris dan melangkah menuju kantin yang jaraknya ngga’ begitu jauh dari depan ruangan Natalia. Memang sangat lapar, Haris langsung makan dan tak banyak bicara.


“ Habis ini kemana Li ? masih ada kuliah ?”.


Natalia menggeleng. “ Udah habis Bang “.


“ Kita kemana ?”.


Natalia bagai berpikir. “ Kerumah aja Bang “.


“ Boleh “.


Haris tersenyum dan langsung anggukkan kepala. Haris merasa perlu juga mengenal orang tua Natalia. Cinta mereka tentunya harus diketahui oleh orang tua Natalia, Haris juga merasa itu sangat penting.


“ Sekarang ?”.


“ Boleh “.


Natalia dan Haris langsung beranjak dari kantin setelah membayar apa yang dimakannya, Haris panggil taksi dan merekapun menuju kerumah Natalia, sepanjang jalan tak ada suara yang terdengar dari keduanya, sepertinya masing masing punya ketegangan khusus.


Ini kali pertama Haris menginjakkan kaki dirumah Natalia, Mama Natalia yang buka pintu tersenyum dan menyuruh keduanya masuk. Tapi Haris cukup heran, Natalia bilang Mamanya orang Batak, tapi melihat wanita setengah tua itu, rasanya tak ada aroma Batak diwajah itu. Haris masuk dan duduk didepan Mama Natalia, dan Natalia langsung kedapur nyiapin minuman, dirumah itu hanya ada Natalia dan mamanya, tak ada seorangpun pembantu.


“ Namanya siapa ?”. Tanya Mama Natalia mengawali pembicaraan.


“ Haris Bu “.


“ Haris, lengkapnya ?”.


“ Haris Arianda “.


Mama Natalia agak terkejut dengar Arianda, ada kenangan khusus bagi Mama Natalia dengan nama Arianda, tapi hanya sebentar. Mama Natalia kembali tersenyum saat Natalia sampai dan meletakkan minuman didepan Haris dan Mamanya.


“ Tinggal disini ?”.

__ADS_1


“ Kost Bu “.


“ O.. orang tuanya dimana ?”.


“ Bandar Lampung “.


Pikiran Mama Natalia yang tadi begitu kuat mengisi otaknya serta merta langsung pupus begitu saja setelah dengar nama Bandar Lampung. Kenangannya sama sekali tidak ada di Ibu Kota Propinsi itu, Mama Natalia tak banyak tahu tentang Kota itu, tak pernah sama sekali singgah di Kota itu, Mama Natalia hanya pernah sekali aja lewat disana, itupun puluhan tahun yang lalu, waktu pertama datang kesini.


“ Tapi Abang Haris orang Batak lho Ma “. Celutuk Natalia.


Mama Natalia memandang Haris kembali. “ Batak ?”.


Haris anggukkan kepala. “ Saya punya Marga Bu “.


“ Marga apa ?”.


“ Pulungan “.


Mama Natalia yang tadi sedikit berubah mukanya kini tak lagi punya perubahan, marga itu membuat dadanya yang tadi tergetar kini tenang, wajahnya malah berubah sumringah, Mama Natalia jelas sekali tak pernah punya hubungan istimewa dengan marga itu.


“ Ada rencana pulang kampung ?”.


Haris menggeleng. “ Ngga’ kaya’nya Bu, disini aja. Lagian udah kerja Bu “.


Haris tersenyum. “ Sesuai Jurusan Bu, Jadi Guru “.


Mama Natalia tersenyum. “ Namanya juga sekolah guru, ya Tamat jadi guru dong, masa jadi arsitek “.


Haris tersenyum aja. “ Memang begitu Bu “.


“ Jadi tetap disini ya, lagian udah kerja ngapain dikampung “.


“ Ya ngga’lah Ma, tetap disini aja, lagian kan masih nunggu Lia “. Natalia langsung memeluk mamanya dari samping, Mama Natalia hanya senyum.


Mama Natalia memandangi Haris dengan seksama, walau ada yang lain dihatinya Mama Natalia berusaha terus menepisnya. Mama Natalia udah puluhan kali mendengar hal ikhwal pemuda ini dari putrinya sendiri walau


baru kali ini ia melihatnya secara langsung.


Mama Natalia tak banyak bicara, apa yang dikatakan anaknya selama ini rasanya benar juga, selain tampan, pemuda ini juga tampak sangat ramah, cara bicaranya, cara bersikapnya, dan semua gerak geriknya menunjukkan rasa hormat yang tinggi, Mama Natalia merasa tak cukup alasan untuk tidak merestui hubungan putrinya dengan pemuda ini, sebagai seorang guru Mama Natalia merasa Haris pasti bisa membimbing Natalia.


“ Minum Ris. Ibu tinggal dulu ya.. “.


“ Makasih Bu.. “.

__ADS_1


Haris ambil gelasnya dan menghirup minumannya perlahan. Hanya ada senyum yang mengambang dikeduanya. Yang pasti rasa bahagia yang ada dalam hati Haris begitu besarnya, Haris tak menyangka Mama Natalia begitu baik menerimanya, berarti selama ini Natalia aja yang berlebihan menceritakan hal Mamanya, buktinya apa yang dikatakan Natalia tak ada yang benar sama sekali.


“ Papa kamu Li.. “.


Haris tak lanjutkan kata katanya saat menemukan raut muka Natalia begitu berubah mendengar pertanyaannya walau belum selesai.


“ Papa udah ngga’ ada bang “.


“ Maksudnya.. udah meninggal atau.. “.


Natalia geleng kepala. “ Mereka pisah sejak lama “.


“ Maaf kalo gitu “.


“ Ngga’ apa apa Bang “.


Haris tak lanjutkan lagi pertanyaannya, Haris menemukan ketidak senangan Natalia mendengar pertanyaan yang Haris ajukan. Haris juga menemukan kesedihan di rona wajah Natalia yang langsung terasa tampak begitu tegang mendengar pertanyaan Haris. Walau tak tahu apa yang terjadi, Haris memilih mengalihkan cerita lain, apapun itu Haris merasa belum begitu krusial untuk diketahui dengan jelas, Haris yakin waktu yang akan menjawab nanti dengan sendirinya. Natalia juga cepat merubah aroma wajahnya, dan kembali hanya ada tawa kecil diantara keduanya, hingga Mama Natalia kembali bergabung.


“ Orang Tua masih hidup Ris ?”.


Haris anggukkan kepala. “ Ayah masih Bu, Mama udah pergi “.


“ Udah lama ?”.


“ Mama meninggal waktu Haris masih SMA “.


Ada banyak senyum yang terus mengambang. Bayangan wajah ayahnya merasuk dalam kepala Haris. Haris merasa ayahnya pasti akan senang dan bahagia sekali mengetahui semua ini, Haris dapat memastikan kalau ayahnya akan sangat gembira kalau tahu bakal punya mantu yang cantik dan baik, diplus lagi calon besan yang ramah dan enak diajak bicara.


“ Mamanya Batak juga ?”.


Haris geleng kepala. “ Mama Haris Melayu Bu “.


“ Melayu ? darimana asalnya ?”.


“ Mama dari Langkat “.


Mama Natalia senyum aja dan anggukkan kepala, sesekali Mama Natalia melirik anaknya yang lebih banyak diam. Ada rasa iba yang muncul perlahan dihatinya, Natalia tak pernah tahu bagaimana ayahnya.


“ Punya saudara Ris ?”.


Haris geleng kepala. “ Anak tunggal Bu “.


Mama Natalia kembali tersenyum simpul. Mama Natalia juga merasa heran sendiri kenapa ia begitu cepat akrab dengan Haris yang mengaku sebagai calon mantunya, Mama Natalia serasa tak bosan bicara dengan Haris, apalagi Haris begitu paham tentang budaya Batak, cerita tentang itu amat dirindukan Mama Natalia, puluhan tahun ia tak pernah dengar tentang hal itu, hingga ia amat senang bisa berbagi cerita dengan Haris, cerita yang berhubungan dengan nenek moyangnya, Bangsa Batak.

__ADS_1


.... BERSAMBUNG ....


__ADS_2