Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Belum Ada Yang Terlupa


__ADS_3

Mila berjalan menuju pintu dan membukanya, begitu pintu terbuka, mata Mila langsung terbeliak, bibirnya langsung bergetar, ia mengenal wajah yang tersenyum lebar padanya, itu keponakannya Haris, keponakan yang sudah puluhan tahun tak dilihatnya, ini membuat Mila lebih dulu melongo.


Tapi hanya sebentar, Mila langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Haris yang tentu saja langsung menyambutnya dengan hangat, air mata keduanya sudah tak terbendung lagi, Mila sudah menangis sejadi jadinya. Keributan yang ditimbulkan suara tangisan Mila mengundang Jamil dan istrinya keluar, sama dengan Mila, Jamil juga langsung terpaku.


Jamil terpaku bukan hanya karena melihat wajah yang sedang dipeluk adik bungsunya, tapi juga senyum lebar Natalia, Jamil tentu masih ingat wajah itu, jantung Jamil langsung bergemuruh, matanya juga nanar saat melihat wanita berhijab yang bak pinang dibelah dua dengan Natalia.


"Paman Jamil ..".


"Natalia, itu kamu kan Nak ?. Kamu Natalia kan ?". Jamil bahkan mengulang tanya karena masih begitu terkejut mendapat kunjungan keponakannya.


Natalia anggukkan kepala. “Iya Paman, ini Natalia”.


Jamil tak kuat menahan diri, Jamil langsung menarik Natalia dalam pelukannya, senyum Natalia seketika langsung pupus, yang ada kini isak tangis, Natalia tak mampu menahan harunya, deru nafas Natalia juga berubah, sedikit sesak. Sekuat tenaga Natalia memeluk pamannya, ini Paman Jamil, adik kandung ayahnya.


Risda dan Asrul saling pandang dan sama sama angkat bahu, baik Asrul maupun Risda tentu tak mengerti setuasi ini secara penuh, Risda hanya tahu kalau mereka akan mengunjungi adik almarhum kakeknya, melihat pemandangan ayah dan ibunya, Risda yakin itu adalah adik kakeknya, berarti kakek dan neneknya juga.


Risda mengamit lengan Asrul. “Itu Kakek sama Nenek kali ya Bang ?”.


Asrul melirik heran, sudah melihat begitu, masih nanya. “Kenapa nggak nanya saja Dek, kenalan dulu”.


Risda merengut. “Abang apaan sih ?”.


“Supaya jelas”.


Asrul menggeleng, kadang kadang Risda itu memang lucu, sudah melihat bagaimana semuanya begitu terharu saat ketemu, masih juga nanya. Kan bisa langsung menebak, Asrul saja sudah yakin kalau itu memang adik kakek istrinya, ini Risda malah masih nanya, pertanyaan yang aneh menurut Asrul, tapi mau bilang apa, kadang Risda memang begitu, mau apa lagi.


Semuanya sekarang masuk rumah, Asrul kembali mendesah melihat isi rumah yang sama sekali tak sesuai, Asrul resah kenapa hal seperti ini bisa berlangsung bagi keluarganya, Asrul menjadi sedih, kini punya janji untuk melakukan upaya, harus ada tindakan untuk membuatnya lebih baik, ini terlampau parah menurut Asrul.


Mata Mila dan Jamil kini mengarah pada Risda dan Asrul, dari wajah keduanya yakin kalau ini putrinya Natalia, yang laki laki keduanya juga yakin kalau itu suaminya, karena terlihat begitu, tampak sangat mesra.


Melihat hal ini, Haris langsung tanggap, Haris langsung mengenalkan Risda dan Asrul, kemudian Haris juga memberikan penjelasan soal Risda dengan selengkap lengkapnya, Haris menceritakan semua ikhwal tentang Risda secara utuh dan menyeluruh tanpa menutupi apapun.


“Jadi ini ?”. Jamil mengurut keningnya.


Haris buang nafas berat. “Iya Paman, seminggu bersama ternyata membawa Risda pada kami”.


Jamil menghusap muka, istri Jamil Lena juga melakukan hal yang sama, Mila bahkan menganga, Mila pernah melihat photo Natalia, tapi baru kali ini ia melihatnya secara langsung, kini bahkan ada dua, yang satu sudah lumayan tua, yang satunya lagi masih sangat muda.


Mila ikut melepas nafas dengan kuat. “Takdirnya sudah begitu Ris, itu sudah jalan yang Tuhan berikan ke kita, penyesalan mungkin perlu, tapi tidak untuk menyesali, yang lalu jadi pelajaran, kita harus memandang ke depan”.


Mila mengelus pundak Risda, membelai wajah Risda, memang senyumnya mengembang sempurna, tapi ada titik bening yang tak henti mengalir dari sudut matanya, Mila tak menyangka jika jalan hidup dua keponakan kandungnya akan sebegitu terjalnya, tapi apapun itu, ia tetap bahagia, masih diberikan kesempatan untuk membelai cucunya.


“Nenek ..”.


Risda memeluk lengan Mila dengan erat sambil menyandarkan keningnya ke bahu Mila, ini membuat Mila kembali terisak, ia terus membelai kepala Risda dengan perlahan, sesekali ia juga mendaratkan ciumannya ke kepala Risda, Mila benar benar tak mampu menahan gemuruh yang menguasai dadanya.


“Kau bahkan baru nenek kenal setelah menikah”. Mila masih terisak.


Risda juga sudah berurai air mata. “Maafkan Risda Nek”.


Mila kembali mencium pipi Risda. “Kau tak salah, cucuku tidak pernah salah”.


Risda senyum diantara tangisnya, gantian Risda yang memeluk dan mencium pipi keriput neneknya. Risda yang merasa begitu bahagia, baru tahu ternyata ia punya nenek, juga masih punya kakek, yang selama ini terbayang saja tidak pernah di benak Risda, yang ia tahu hanya ayah dan ibunya saja.

__ADS_1


“Begitulah kehidupan keluarga Kakek Risda. Jika disebut anak, maka kami hanya punya ayah dan ibumu, anak dalam keluarga kami kakak beradik hanya Haris dan Natalia, sedang yang lain tak ada”.


Risda memandang kakeknya Jamil cukup lama. “Maksud Kakek ?”.


Mila kembali membelai kepala Risda. “Nenek selama ini hanya pernah melihat photo ibumu yang dikirim ayahmu dulu, waktu itu nenek masih gadis, tinggal di Bandar Lampung dengan kakek kandungmu. Nenek menikah disana, tapi usia pernikahan nenek tak lama, hanya sampai tujuh tahun, suami nenek meninggal”.


Mila kini kembali menangis, setelah Ayah Haris Pram meninggal dunia, tak lama Syaiful tempat mereka tinggal juga meninggal, tak ada yang bisa dipertahankan lagi, Mila kembali pulang ke Sibolga sini, dan akhirnya tinggal di Mela, walau sudah di luar Sibolga, tapi masih sangat dekat.


Mila hidup sendiri, karena pernikahannya tak memberikannya keturunan hingga harus berpisah oleh maut, setelah itu Mila tak pernah menikah lagi hingga hari ini, Mila hidup dalam kesendirian, bekerja menjual kue yang di titip ke warung tetangga, dari awal disini hingga sekarang tetap begitu.


Mila selalu berkunjung kemari, karena sejak pagi Jamil menarik beca hingga sore, Lena tentu merasa sepi, Mila juga sama, inilah yang membuat Mila hampir tiap hari ada disini, sore baru pulang, bahkan sering menginap kalau malas pulang.


Begitu juga dengan Jamil, tak ada anak dalam keluarga ini, mereka memang sempat bergembira dengan lahirnya putra mereka yang diberi nama Firman. Tapi gembira itu tak lama, Firman pergi saat masih belum genap setahun, setelah itu Lena tak pernah hamil lagi, hingga mereka hanya berdua saja.


“Kami kakak beradik ada tiga, Bang Pram, Bang Jamil dan Saya. Tapi kalau bicara anak, kami hanya punya Haris dan Natalia, ternyata mereka mengalami hal yang seperti ini, ada kamu Ris. Artinya, kami sekeluarga kakak beradik hanya punya satu cucu, hanya kamu Ris, tak ada yang lain”.


Tak ada satu orangpun yang tidak menitikkan air mata, Asrul juga sudah berkali kali menghusap tetes bening yang meronta dari sudut matanya, Asrul tak menyangka cerita keluarga istrinya demikian pahitnya, tak ada yang dapat disalahkan memang, tapi apapun itu, menurut Asrul perlu ada upaya untuk membuat hari tua mereka lebih bahagia, Risda bisa menjadi kartu As nya.


Malam sudah mulai muncul, adzan magrib juga terdengar jelas, Jamil, Haris dan Asrul langsung berdiri dan beranjak menuju masjid, meninggalkan empat wanita yang masih tampak enggan meninggalkan tempat duduk masing masing, Lena kini malah mendekat, duduk lebih merapat.


“Kamu di Jakarta Lia ?”.


Natalia menatap bibinya. “Iya Bi, saya masih di rumah mendiang ibu”.


“Haris sering datang ?”.


Natalia menggeleng. “Cukup jarang juga Bi”.


Tanpa diminta, Natalia kemudian menceritakan awal mula Haris pulang ke Jakarta, Mila dan Lena terus menerus mendelik, menutup mulut dan mengelus dada, keduanya sama sama terkejut mengetahui kisah keponakan dan cucunya yang sama sekali diluar dugaan mereka.


“Ibumu wanita yang kuat Lia, Bibi sangat tahu itu”.


Natalia anggukkan kepala. “Sangat kuat Bi, Ibu wanita yang sangat kuat”.


Lena terus menggeleng. “Jadi, seandainya Risda tidak ikut program pengabdian guru itu, mungkin hingga kiamat tak akan kenal ayahnya”.


Natalia anggukkan kepala. “Bisa jadi Bi, bisa jadi”.


Mila dan Lena kembali menggeleng. Entah apa semua ini, tapi memang inilah yang sudah terjadi, jodoh yang aneh membawa semuanya menjadi aneh. Kekeras kepalaan Haris membuat yang aneh bertambah semakin aneh. Mila dan Lena tak sanggup berpikir, keduanya merasa terlalu tua untuk mampu memahaminya dengan baik.


Tapi ada senyum renyah di bibir keduanya mengetahui cucu mereka Risda menikah dengan keluarga yang sangat baik dan hidupnya lumayan, ada rasa bahagia di hati Lena dan Mila, setidaknya saat ini mereka yakin dan bisa memastikan cucunya hidup dalam kebahagiaan yang cukup, tidak hanya dari ayahnya, tapi juga dari keluarga mertuanya, itu tentu sangat membahagiakan keduanya.


Usai isya baru para lelaki pulang, Haris, Asrul dan Jamil berjalan bersama, jarak rumah ke masjid cukup jauh juga, sehingga ketiganya memiliki kesempatan yang banyak untuk berbincang satu sama lainnya.


“Tapi Ayah hebat juga dong Yah”.


Haris tertawa kecil. “Hebat apanya ?”.


Asrul ikut tertawa. “Ayah masih ingat semuanya setelah 42 tahun, hebatkan ?”.


Haris menggeleng. “Karena memang belum banyak yang berubah Rul”.


Haris bercerita, dulu setiap sore jalan ini menjadi lapangan bola, yang main bahkan bisa lebih dari satu kelompok, Haris selalu menjadi penonton nomor satu, bahkan sering menjadi penonton pertama dan satu satunya. Sesekali, Haris juga menjadi anak bola, kalau bolanya jauh, Haris yang berlari mengambilnya.

__ADS_1


“Kakekmu ini juga pemain tetap Rul, nggak pernah absen dia”.


Jamil jadi tertawa. “Sampai sekarang masih sering juga itu Ris. Tapi nggak tiap hari seperti dulu, karena lalu lintas disini semakin ramai sekarang, jadi ganggu”.


Ketiganya sama tertawa. Haris kemudian banyak menceritakan pengalaman kecilnya selama disini dulu, memang usia enam tahun Haris sudah meninggalkan kampung ini, tapi ingatannya masih belum hilang sama sekali, bayangan tanah kelahirannya ini setitik pun tak ada yang hilang dari ingatan Haris.


“Itu rumah cat biru yang disebelah rumah kakek Jamil, itu dulu rumah kontrakan kakekmu Rul, ayah lahir disana, dulu masih bidan yang datang kerumah, beda dengan sekarang yang melahirkan di klinik”.


“Yang persis di sebelah rumah kakek itu ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, rumah itu. Bahkan struktur rumahnya belum ganti, yang berubah hanya cat dan tumbuhannya saja, dulu jambu itu masih sebesar batang lidi, sekarang sudah menjulang tinggi”.


Asrul tertawa kecil dan terus tersenyum. Asrul tetap saja salut dengan ayah mertuanya yang masih begitu hafal dengan daerah yang sudah 42 tahun ia tinggal pergi, itu menurut Asrul satu ingatan yang luar biasa, Asrul saja sudah banyak lupa kejadian yang berlangsung 15 atau 20 tahun yang lalu. Menurut Asrul ingatan ayah mertuanya itu patut di acungi jempol.


Ternyata Jamil juga punya pikiran yang sama, ia terus anggukkan kepala, senang dan salut juga mengetahui kuatnya ingatan keponakannya. Menurut Jamil, itu karena Haris memang pintar, Jamil jadi teringat, waktu kecil Haris memang anak yang manis, pintar, tidak cengeng dan cukup mandiri.


“Kau tahu nggak Ris siapa Walikota sekarang ?”.


Haris melirik Jamil sesaat. “Walikota kota ini Paman, siapa memang ?”.


“Kau mungkin akan terkejut jika mengetahuinya Ris”.


Haris menjadi penasaran. “Memang siapa Paman ?”.


“Arif, Arifuddin Pohan, kamu biasa panggil dia Udin”.


“What ?”. Haris sampai berhenti melangkah. “Udin ?, dia Waliktota sekarang ?”.


Jamil tersenyum. “Iya Ris, dia yang jadi Walikota sekarang”.


Haris menggeleng dengan banyak senyuman. Ia tak menyangka teman bermainnya itu kita menjadi orang nomor satu di kota ini. Haris tentu masih sangat ingat dengan Udin, bahkan jika ketemu, Haris yakin akan sangat mudah mengenalinya, tapi Haris tentu tak tahu, apakah teman memancingnya itu masih ingat padanya.


“Paman pikir, kau tak salah mencoba menemuinya Ris. Paman pernah ketemu dengan dia, memang sebelum jadi walikota dia, waktu ketemu itu, dia menanyakan khabarmu Ris”.


Haris menggeleng kecil, mereka cukup dekat dulu, sangat dekat. Mancing sama sama, main layangan, main bola, dan banyak kegiatan lainnya, bahkan kalau berkelahi, Haris dan Udin selalu saling mendukung satu sama lainnya, waktu TK mereka duduk berdekatan, pergi dan pulang selalu sama.


Pertemanan itu memang tidaklah bisa dikatakan lama, karena Haris juga sudah meninggalkan kota kecil ini saat masih berusia enam tahun. Tapi, ingatan Haris pada Udin belum sama sekali hilang, termasuk pada dua teman lainnya yang juga sama dekatnya, Ryan dan Faisal.


Haris juga putus komunikasi secara total dengan teman temannya itu, Haris hanya senyum saja, tentu sama sekali tidak bisa memastikan, apakah Udin, Faisal atau Ryan masih ingat padanya.


Sampai rumah, kini semua menghadapi makan malam, kepala Asrul kembali dipenuhi rencana bagaimana membuat adik adik kakek istrinya ini tinggal di tempat yang lebih baik, Asrul kemudian terpikir untuk membawa mereka saja pulang ke Jakarta, jikapun tak ingin di rumah utama, mereka bisa tinggal di rumah yang satunya, rumah yang seharusnya di tinggali Asrul dan Risda.


Memperbaiki rumah ini juga salahsatu teori yang pantas di pikirkan, Asrul sudah komunikasi dengan sepupunya Usman yang tinggal di kota ini, besok pagi sepupunya akan datang kemari, karena pamannya sendiri sedang liburan, Usman tak ikut karena kandungan istrinya sudah sembilan bulan pekan ini.


Usai makan, tak ada banyak pembicaraan lagi, cerita hanya seputar masalah yang tidak lagi pribadi, hanya obrolan ngalor ngidul yang tak akan bisa menemukan ujung pangkalnya sampai kapanpun waktunya, Mila juga bermalam disini, tak ada yang mengijinkannya kembali pulang ke rumahnya di Mela.


Sekarang sudah banyak perubahan, perbincangan sudah mengandung unsur canda, bahkan Lena dan Mila sudah bisa cekikikan mendengar cerita Natalia maupun Risda yang memang sama sama memiliki potensi sebagai pemberi hiburan, khususnya Risda, ada banyak ceritanya yang membuat kedua neneknya terbahak.


Para lelaki sudah mulai tumbang satu demi satu, Jamil yang lebih dulu, kemudian Haris juga ikut merebahkan tubuh, terakhir Asrul juga sudah mulai meraih mimpi. Mila berdiri, mengambil kain dan menyelimuti satu persatu. Rumah ini kecil, kamarnya hanya satu, sehingga yang laki laki harus tidur di ruang depan.


Tak lama Natalia juga mulai diserang kantuk stadium tinggi, ia mengajak semuanya untuk tidur. Memang sudah waktunya, semuanya ikut ajakan Natalia dan tidur di ranjang yang sebenarnya sudah layak ganti, Mila terus mengelus Risda hingga tertidur, ia tahu kalau cucunya ini akan mengalami kesulitan, tempat tidur yang ini jauh dibawah standar biasa yang ditiduri Risda.


Tidak hanya Mila ternyata, Lena juga terus memperhatikan Risda, Lena yakin kalau cucunya ini sudah terbiasa tidur di tempat yang bagus, pasti akan merasa sulit dengan fasilitas yang ada di rumah ini. Tapi keduanya tampak lega, setelah melihat Risda tak butuh waktu lama untuk terlelap, keduanya tampak senang dan tenang, kemudian sama sama memejamkan mata.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2