Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Khabar Bagus Dari Pak Buang


__ADS_3

Risda masih terlihat linglung mendengar semua cerita tentang Meilani saat Meilani dan kawan kawannya sudah selesai kebaktian, ini menandakan waktunya dewasa memulai kebaktian beberapa saat lagi, Risda dan Tamia sama berdiri dan melangkah menuju gereja.


Risda hanya memasang senyum dan mengelus kepala Meilani dan anak lainnya saat mengatakan akan pulang lebih dulu, Tamia juga memberikan pesan agar Meilani langsung pulang, tidak main main lagi, apalagi mandi mandi.


Risda tampak tekun mengikuti semua prosesi yang ada, dari awal hingga akhir, saat seperti ini Risda pasti langsung teringat ibunya, biasanya mereka akan berangkat sama sama menggunakan mobil peninggalan neneknya.


Ibu Risda selalu mendandaninya dengan sangat cantik, itu sejak dari kecil hingga sudah kuliah, itu terus dilakukan ibunya dengan sebaik yang ia bisa, dalam hal ini Risda selalu hanya bersikap menerima, tak pernah protes apapun, termasuk pakaian yang dipilihkan ibunya.


Ini yang membuat Risda terkadang menjadi sedikit melo, selalu ada rindu yang meresap dan menyusup jauh ke relung hatinya yang paling dalam, Risda juga yakin jika ibunya akan mengalami hal yang sama, tapi menurut Risda


itu akan menjadi kekuatan baru untuknya, dan ini tidak akan seterusnya, pada waktunya akan kembali.


Selesai kebaktian, Risda memilih kembali duduk di bangku panjang yang tadi pagi ia duduki, Risda memilih disini saja menyelesaikan bacaannya, nanti kalau langsung pulang, mungkin buku ini bisa tidak terbaca lagi karena adanya kesibukan lain.


“Bu Guru …”.


Risda menoleh dan langsung tersenyum lebar. “Pak Buang… apa kabar Pak, sehat saja kan ?”.


Pak Buang lempar senyum lebar. “Sehat aja Bu Guru”.


“Duduk Pak”.


Pak Buang dan tiga temannya duduk disamping Risda lumayan jauh, Risda hanya nanya nanya begitu saja dan Pak Buang menjawab ala kadarnya juga. Dari sikapnya tampak sekali Pak Buang sama dengan sikap yang ditunjukkan seluruh warga, sangat menaruh hormat kepada Risda.


Tiba tiba Risda teringat dengan Asrul, Risda langsung menutup buku yang ditangannya dan merubah cara duduknya dengan lebih menghadap pada Pak Buang.


“Bapak ada rencana ke Kecamatan Pak ?”.


Pak Buang anggukkan kepala. “Nanti agak siang berangkat Bu Guru”.


“Setiap minggu Pak ?”.


Pak Buang angguk kepala lagi. “Tidak minggu aja Bu Guru, Kamis juga”


“Maksudnya Pak Buang ke kecamatan tiap Kamis dan Minggu”.


Pak Buang angguk kepala lagi. “Iya Bu Guru, tiap Kamis dan Minggu”.


“Kamis dan minggu”. Risda seperti mengulangi.

__ADS_1


Pak Buang angguk kepala lagi. “Iya Bu Guru”.


Risda anggukkan kepala. Kenapa selama ini mereka tak berpikir dan bahkan tidak mengingat Pak Buang yang membawa mereka dulu dari ibukota kecamatan ke desa ini, dan tentu saja tidak mungkin warga desa tidak pernah menuju kesana, pasti ada pekanan atau semacamnya.


“Tapi Bu Guru, kalau Kamis berangkatnya Pagi, kalau minggu siang”.


Risda kembali anggukkan kepala. “Pulangnya Pak ?”.


“Sore Bu Guru”.


“Kamis juga ?”.


“Iya Bu Guru”.


Risda mangut mangut. “Kenapa kesana Pak ?”.


“Ambil bahan bahan pokok Bu Guru”.


“Bisa numpang Pak ?”.


Pak Buang tertawa kecil. “Kenapa tidak Bu Guru, bisa”.


Risda anggukkan kepala, artinya ia dan Asrul bisa punya kesempatan ke kecamatan untuk memprint proposal yang dibuat Asrul, tapi hari ini udah nggak mungkin karena Asrul juga belum tentu kapan datangnya, hari kamis juga nggak mungkin karena ada sekolah, itu artinya baru bisa dilaksanakan hari minggu yang akan datang.


“Pak Guru Asrul maksud Bu Guru”.


Risda anggukkan kepala. “Kami ada perlu ke kecamatan”.


“Boleh Bu Guru, nanti saya tunggu di dermaga”.


Risda geleng kepala. “Nggak sekarang Pak”.


“Kapan Bu Guru ?”.


“Kamis juga nggak mungkin karena ada sekolah. Berarti minggu depan aja ya Pak, bisa kan ?”.


Pak Buang senyum lebar. “Bisa Bu Guru, Bisa”.


Pak Buang tentu tak akan menolak permintaan Risda, dapat memberikan pertolongan saja sangat diinginkan Pak Buang dan banyak masyarakat disini, mereka punya keinginan yang besar untuk memberikan pertolongan.

__ADS_1


Tapi mereka tidak atau belum tahu apa yang bisa ditolong, sehingga momen seperti ini sangat membuat Pak Buang bahagia, karena bagi beliau dapat memberikan bantuan pada Guru Muda asal Ibukota itu adalah satu hal yang membahagiakan.


“Nanti ketemu dimana Pak ?”.


“Bu Guru ke dermaga saja, saya tunggu disana”.


“Okey Pak”.


Setelah itu tak ada lagi yang dibicarakan, Risda kembali asyik dengan bacaannya sedang Pak Buang sudah punya topik baru yang ia bahas dengan tiga orang temannya tadi kini plus dua warga yang baru datang dan duduk bersebelahan dengannya.


Risda tak begitu ingin buru buru pulang, tapi bukunya sudah habis, melihat panasnya cuaca Risda tampak tak ingin cepat cepat, tapi pada akhirnya Risda berdiri juga dan melangkah santai saja sambil memperhatikan bunga bunga yang tumbuh dipekarangan warga mana tahu ada yang bagus untuk ditanam ditaman sekolah.


Risda merasa tanaman yang tumbuh ditaman sekolah masih kurang koleksinya, masih membutuhkan tambahan agar tamannya lebih ramai dan lebih indah terlihat.


“Bu Guru …”.


“Siang Ibu Ibu”.


Hanya itu saja, dan kemudian melangkah terus meninggalkan ibu ibu yang menyapanya, Risda untuk hal ini sering juga merasa nyaman, semua warga tampak cukup menghormati mereka, paling tidak selalu menyapa jika kebetulan berjumpa dimana saja.


Risda terus melangkah dan tetap mencoba melihat lihat mana tahu ada yang menarik hatinya, tapi hingga sampai ke pintu gerbang rumah tempat tinggalnya, Risda tak menemukan satu bungapun yang sesuai dengan keinginan hatinya, semua tampak biasa biasa saja.


Belum sampai keteras Risda sudah mengeluarkan tawa kecil karena menemukan Asrul yang tertidur cukup pulas dengan mimpinya di kursi besar yang tersedia diteras rumah Bu Tantia.


Risda membiarkan saja Asrul tertidur, ia lebih dulu masuk dan mengganti pakaian yang lebih sederhana dan kembali kedepan, melihat Asrul yang yang masih tertidur Risda memilih menuju kedai yang tak jauh dari rumah membeli minuman botol, Risda yakin kalau Asrul pasti haus.


Risda sampai lagi dan meletakkan minuman botol dimeja bersamaan dengan Asrul yang terbangun dari tidur singkatnya. Asrul meluruskan cara duduknya dan membalas senyum Risda yang lebar kearahnya.


“Minum dulu”.


“Mantap”. Asrul langsung meraih minuman dan meneguknya dengan semangat, bahkan hingga habis separuhnya.


“Haus ya Rul.. “.


“Haus kali pun”.


Risda agak cekikikan melihat tingkah Asrul, melihat keringat Asrul yang belum sepenuhnya kering Risda yakin kalau Asrul juga belum lama sampai ke tempat tinggalnya.


“Olahraga itu Rul”.

__ADS_1


Asrul mendelik. ”Olahraga apaan. Siang bolong begini”. Rutuk Asrul.


.... Bersambung ....


__ADS_2