
Dua Minggu sebelum pernikahan Haris, Jamil sudah berada di Terminal Bus Pulo Gadung, Jamil cukup paham dengan kondisi Jakarta, sebab dulu Jamil sekolah di Pesantren Ashshiddiqiyah II pimpinan Kh. Iskandar SQ. Jadi Jamil tak begitu pusing dengan keramaian Jakarta. Walau tidak paham betul tapi Jamil tahu. Tak mau banyak turun naik, Jamil langsung naik taksi, tujuannya tentu Daksinapati Barat III tempat kost keponakannya Haris.
Jamil lega saat taxi udah sampai dipintu pagar kost Haris. Haris tampak gembira dan langsung memeluk Pamannya Jamil begitu sampai didepan pintu, begitu Jamil masuk, disambut Natalia, Jamil betul betul terkesima melihat wajah itu, wajah itu bagai udah lama benar dikenalnya, wajah yang ada didepan Jamil serasa bagai Wajah yang tiap hari membentur matanya, dada Jamil malah jadi berdebar debar, Jamil berusa membuang muka, mengalihkan pandangannya, tapi ekor mata Jamil serasa tak mau lepas dari wajah itu, serasa ingin terus memandangnya, wajah yang benar benar mirip dengan abangnya, ayah Haris.
“ Yang di photo itu Ris ?”.
Haris mengangguk, Natalia terkejut, photo. Natalia cukup terkejut dengar pertanyaan itu, itu artinya Paman Jamil sudah pernah lihat wajah Natalia walau dalam photo. Berarti Haris sudah mengirim photonya ke Bandar Lampung, ngapaian ?, pikir Natalia. Tapi Natalia justru senang, itu berarti calon mertuanya sudah pernah lihat wajahnya walau Cuma dalam photo. Sebagai sebuah alternatif mengenalkan diri tentu cukup efektif sekali.
“Cantik “.
Natalia jadi tersipu mendengar kata-kata itu. Paman Jamil ngakuin kalau kita cantik apa bukan sebuah kebahagiaan namanya. Paman calon suami akui kalau kita cantik tentu punya arti tersendiri, boleh menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Tapi pandangan Jamil yang terus tertuju padanya akhirnya membuat Natalia jadi jengah dan bermuara pada kesal dan menimbulkan pikiran negatif. Terang aja Natalia tak begitu suka dipandangi seperti itu, tapi Natalia tak bisa bilang apa, karena itu Paman Haris, yang tentunya Pamannya Juga.
“ Tinggal dimana ?”.
“ Daan Mogot “.
“ Nomor berapa ?”.
“ 108 “.
Natalia hanya menjawab singkat singkat saja. Natalia serasa bagai terusik dengan pandangan Paman Jamil yang terus lekat padanya. Natalia langsung beranjak kedapur mendengar panggilan Haris. Haris gantian beranjak keruang depan begitu Natalia sampai. Natalia ambil gelas dan buat teh manis, Natalia merasa dadanya sedikit bergetar, entah apa, teringat terus dengan pandangan tajam Paman Jamil, Natalia merasa ada sesuatu yang disimpan Paman Jamil, pandangan itu mengandung banyak pertanyaan. Natalia merasa ada yang lain di hati Paman Jamil, bukan masalah nafsu atau yang negatif, Natalia lebih menangkap hal lain, tapi pikiran Natalia justru mengarah pada kemungkinan perbedaan keyakinan agama mereka, mungkin karena itu.
Natalia meletakkan minuman didepan Jamil. “ Paman dari Bandar Lampung ya Bang ?”.
Jamil menggeleng. Haris pindah duduk disamping Pamannya Jamil yang langsung menepuk paha Haris perlahan lahan dengan senyum yang lebar mengambang.
“ Ini Paman Jamil, tinggal di Sibolga bukan Bandar Lampung “.
“ Sibolga ?”.
“ Lia tau Sibolga ?”.
Natalia mengangguk. “ Tau, Mama kan orang Tapanuli Tengah “.
__ADS_1
“ O.. iya, Mahyadi Panggabean “.
Mereka sama tertawa, tapi didalam hati Jamil ada yang lain yang membuatnya banyak menyimpan pertanyaan yang besar dihatinya, apalagi setelah tahu mamanya berasal dari Tapanuli Tengah.
“ Teringatnya, Mama kamu, Tap. Teng dimana ?”.
“ Iya Paman “.
“ Tap. Teng, Tapanuli Tengah, dimana ?”.
“ Oo.. katanya sih nama kampungnya Tukka, Paman tahu ?”.
Jamil tersentak. Ireth kakak iparnya, mama Haris berasal dari sana. Tapi Jamil tak mau berspekulasi banyak. Orang Tukka bukan sedikit, orang yang tinggal di Tukka itu bukan lima rumah tangga, banyak, Tukka itu sebuah kecamatan dengan banyak desa dan dusun.
“ Tukka dimana ?”.
Natalia menggeleng. “ Emang Tukka berapa Paman ?”.
“ Satu sih, Cuma Tukka itukan Kecamatan, pasti dong ada Desanya, apa Pasar Tukka, Hutanabolon, atau apa “.
“ Mama Ngga’ pernah cerita ?”.
“ Cerita sih, Cuma Ya.. Tukka itu tadi “.
“ Ngga’ pernah pulang kampung memangnya ?”.
Natalia menggeleng. Jamil diam sejenak, ia meraih gelas yang ada dimeja dan meminumnya perlahan. Pikiran Jamil tetap saja tak tenang. Ada perasaan lain yang terus muncul, dan perasaan itu makin kuat saat berada
didepan Natalia.
“ Boleh tahu nama Mamanya ?”.
“ Magdalia “.
__ADS_1
“ Magdalia ? punya marga Mamanya ?”.
“ Punya Paman, Sitompul “.
“ Magdalia Sitompul “. Jamil mengulang.
“ Paman kenal “.
Paman Jamil menggeleng, ia tak kenal nama itu, sedikit terkejut juga mendengar marga itu. Sebab mama Haris juga bermarga itu. Tapi kan marga bisa aja sama, dan memang orang Tukka itu didominasi marga Sitompul dan Tambunan, konon katanya marga Sitompul yang menjadi raja disana.
“ Paman Kenal ?”.
Jamil menggeleng perlahan. “ Ngga’. Paman ngga’ kenal“.
Natalia hanya diam saja. Sudah banyak orang dari Sumatera yang ia jumpai, belum pernah ada yang mengenal mamanya, tak ada satu orang pun.
“ Lia orang Batak ?”.
Natalia menggeleng. “ Ngga’. Lia orang Jawa “.
“ Ayah Lia orang Jawa ?”.
Natalia tak menjawab. Ada rona tak suka diwajahnya mendengar pertanyaan Jamil. Apa perlunya nanya ayah, pikir Natalia.
“ Kenapa Lia ?”.
“ Mama ngga’ pernah cerita soal ayah, dan Lia juga ngga’ suka cerita soal itu. Cuma Mama bilang ayah Lia orang Jawa “.
Jamil sedikit heran. “ Kok bisa begitu “.
“ Cerita yang lain aja deh Paman, ngga’ usah itu “.
“ Kok ?, Emangnya..”.
__ADS_1
Haris yang dari tadi diam memeluk bahu Pamannya. “ Lia tak kenal ayahnya Paman, hingga ia tak suka cerita soal itu “.
.... BERSAMBUNG ....