Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Kejutan Farhan


__ADS_3

Saat Haris dan kawan masa kecilnya larut dalam perbincangan, Risda kini sudah sangat resah menunggu sampainya Faridha dari Medan, sudah berulang kali Risda telephon, tapi jawabnya masih di jalan, tentu membuat Risda bertambah resah, karena menurutnya sudah terlalu lama.


Faridha sebenarnya tak bisa sampai cepat sesuai jadwal yang seharusnya karena ada yang longsor di jalan Sibolga Tarutung, tepatnya di Kecamatan Sitahuis, sudah masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah.


Jika sesuai jadwal yang seharusnya, Faridha mestinya sudah sampai di Sibolga paling lama pukul 07.00 WIB, tapi longsong itu menahan laju angkutan, bahkan baru bisa menembus hambatan lonsor saat jam sudah hampir pukul 08.00 WIB. Tentu membuat Risda agak cemas.


Asrul sendiri sudah asyik berbincang dengan sepupunya Usman, semua menjadi mudah karena Usman pemilik toko bahan bangunan, dengan begitu mereka langsung menghitung apa yang bisa dilakukan, Jamil, Lena dan Mila hanya menonton dan mendengar saja, ada rasa terkejut juga, rumah mereka akan dibangun baru oleh Asrul, satu hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


“Jadi Bang Rul, ini dulu yang kita bagusi. Sementara Kakek sama Nenek di Mela dulu, rumah ini selesai, baru Kakek sama Nenek kemari, baru kemudian kita bangun lagi rumah Nenek yang di Mela. Bagaimana Bang ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Kaulah yang atur Man, berapa nanti kasih tahu Abang”.


Usman anggukkan kepala. “Siap Bang. Kapan mulai ini ?”.


“Kapan saja bisa itu Man”.


“Okey Bang. Tapi tunggu adek abang lahiran dulu lah Bang ya”.


Asrul anggukkan kepala dan acungkan jempolnya. “Bagaimana baiknya saja Man”.


Usman ikut tersenyum, bersama Asrul keduanya kembali melihat lebih jauh, tapi memang tampaknya, perhitungan yang pertama sudah cukup sesuai, atau mungkin nanti baru akan terlihat yang lainnya saat sudah melakukan pembongkaran, Usman memiliki kenyakinan yang demikian karena memang sudah biasa terjadi hal yang demikian pada bangunan milik pribadi.


Tentu berbeda dengan pembangunan yang bukan milik pribadi, kalau yang begitu sejak awal memang sudah memfinalisasi konsep. Targetnya hanya menyelesaikan konsep yang sudah ada, kecil kemungkinan ada penambahan yang datang tiba tiba, hal itu malah dianggap pelanggaran, tapi kalau yang milik pribadi, rencana bisa berubah ubah kapan saja.


“Aku pulang dulu ya Bang, mau bawa adek abang ke bidan dulu, Insha Allah nanti aku kemari lagi Bang, tapi mungkin agak sorelah Bang”.


Asrul anggukkan kepala. “Okey Man, aman”.


Usman langsung melangkah pergi, begitu Usman menghilang, Jamil, Mila dan Lena mendekati Asrul yang masih memandangi setiap sudut rumah, Asrul sudah menemukan polanya, juga cukup sepakat dengan apa yang disarankan Usman, menurut Asrul, rancangan Usman sangat bagus.


Jamil, Lena dan Mila tampak begitu penasaran melihat apa yang dilakukan Asrul dan Usman, ketiganya merasa kalau Asrul terlampau jauh kalau ingin merombak total, itu akan banyak makan biaya. Risda bersama Natalia juga ikut mendekat, mereka juga belum tahu persis rencana Asrul, sehingga ikut penasaran.


“Rul, maksudnya apa Rul ?”.


Asrul tersenyum. “Kita mau bangun rumah kakek sama nenek”.


Jamil menjadi mengerutkan keningnya, Lena dan Mila juga sama. “Membangun ?”.


Asrul senyum lebar. “Jadi gini Kek, Nek. Rumah ini kita renovasi total, di bongkar habis. Baru kita bangun, bentuk dan rancangannya nanti urusan Usman, bahan dan tukang juga urusan Usman. Saat dibangun, Kakek sama Nenek tinggal di Mela dulu”.


“Bongkar habis gitu Rul ?”.


Asrul kembali tersenyum. “Iya Kek, bongkar habis, lebih bagus begitu, lebih mudah menghitung dan menyelesaikannya”.


“Semuanya Rul ?”. Mila yang bertanya.


Asrul anggukkan kepala. “Iya Nek, semuanya. Nanti selesai rumah ini, baru kakek sama nenek balik lagi kemari, baru gantian nanti, rumah Nenek yang di Mela yang kita dibangun, itu juga bongkar habis, Usman tahu kok posisinya”.


Jamil, Lena dan Mila sama sama melongo. Natalia tampak sumringah, Risda apalagi, keduanya tentu tahu bagaimana kekuatan keuangan Asrul, membangun rumah ini bukan hal yang sulit bagi Asrul, assetnya tak akan bergeser banyak kalau hanya untuk membangun rumah ini, tapi Jamil, Lena dan Mila belum pahami itu.

__ADS_1


“Rul, maksudnya, kamu yang …”.


Asrul tertawa. “Iya Kek. Kakek tenang saja, semuanya nanti Asrul yang siapkan, Kakek nggak perlu mikir apapun”.


“Semuanya ?”. Jamil masih bingung.


Asrul kembali anggukkan kepala. “Iya Kek, semuanya. Atau … Kakek sama Nenek, Nek Mila juga, kita tinggal di Jakarta saja kenapa ?”.


“Iya .. iya, kita tinggal disana saja Kek, iya kan Nek ?”. Risda langsung menyela.


Semua sama senyum, Jamil menggeleng. “Kakek senang disini”.


Asrul kembali mengembangkan senyumannya. “Kalau gitu, rumah ini kita bagusi dulu, Kakek tenang saja, semua akan menjadi urusan Asrul, okey Kek ?”.


Jamil tak berkutik, ia tak tahu mau mengatakan apa, tentu saja senang jika rumah tinggalnya ini diperbaiki, ini rumah peninggalan orang tua mereka, peninggalan kakek nenek Haris dan Natalia, mereka hanya mampu menempatinya, sama sekali belum punya kemampuan memperbaikinya, sehingga sangat gembira saat Asrul mengatakan akan memperbaiki semuanya, itu juga termasuk impian Jamil selama ini, tapi ia tak punya kekuatan dan kemampuan untuk itu..


Semuanya hanya angguk angguk kepala mendengar penjelasan Asrul, bahkan tanpa sadar, mereka sudah berdiri disana mendengar semua penjelasan Asrul sudah hampir satu setengah jam, tapi tampaknya tak ada satu orangpun yang merasa letih, semua masih betah mendengar apa saja yang disampaikan Asrul.


Risda yang tampak paling sumringah, bahkan menyampaikan beberapa usul, Asrul hanya tertawa saja, karena semua usul yang disampaikan Risda lebih baik kalau dikatakan lucu ketimbang brilian, tapi Asrul lebih memilih tersenyum sambil sesekali acungkan jempol, kalau di jelaskan itu kurang, yang datang nanti malah manyun.


Asrul enjoy saja dan membuat sikap seakan akan menerima usulan Risda, padahal Asrul tahu, semua konsep ada di tangan Usman, mereka hanya mendengar, dan yang disini nanti juga Usman, Asrul dan Risda sudah tak disini lagi saat pembangunan itu di mulai, jadi semuanya akan terserah Usman, Asrul terima saja.


Asrul juga tidak memberikan limit dana pada Usman, semuanya terserah ke Usman juga, terserah nantinya mau menyedot dana berapa, Asrul siap siap saja, bahkan Asrul yakin, Haris saja sudah cukup untuk membiayai ini, tapi untuk kali ini tidak, Asrul tidak akan melibatkan Haris, semuanya akan menjadi tanggungan Asrul sepenuhnya, Haris tak perlu turun tangan.


“Kakak …”.


Semua mata jadi beralih ke pagar, Risda bahkan setengah berlari dan langsung memeluk Faridha, mencium dan kembali memeluknya erat, ternyata keduanya memang memendam banyak rindu, sehingga seperti tak terkendali saat ketemu. Natalia dan Asrul sama sama mengembangkan senyum dan geleng kepala.


Natalia tersenyum lebar. “Itu tunangannya Farhan, adiknya Asrul Bi, namanya Faridha, tinggalnya di Medan, dia kesini diminta Risda”.


Jamil, Mila dan Lena sama anggukkan kepala dan juga sama sama tersenyum, keheranan mereka di awal tadi terhadap gegap gempitanya Risda menyambut Faridha terjawab sudah, ini pertemuan menantu dengan calon menantu yang sudah lama tak bertemu.


Risda dan Faridha terus saja dengan pelukan dan obrolan kecilnya, sama sekali tak peduli dengan yang lain yang sama sama menatap kearah mereka, Risda memang sudah sejak pagi tadi begitu resah karena Faridha tak kunjung sampai juga, sehingga Risda begitu tak terkendali saat melihat Faridha muncul.


Asrul dan Natalia sebenarnya juga ikut resah mengapa Faridha lama sampai, tapi hanya sebatas resah saja, karena keduanya paham kalau jalanan yang dilalui Faridha memang rawan bencana alam, khususnya jalan Sibolga Tarutung, Asrul sudah pernah lewat sana saat mau ke Medan atau dari Medan mau ke sini, sehingga tenang saja mendengar ada kendala di jalan yang dialami Faridha.


“Sama saya ada yang rindu nggak ?”.


Risda dan Asrul sama melirik, keduanya tentu jadi terkejut, ada Farhan. Risda dan Asrul kompak langsung sama sama menggeleng. Ternyata saat Faridha setengah berlari tadi, Farhan masih bersama sopir angkutan membongkar bagasi, tas mereka terhimpit tas penumpang lain, butuh waktu mengambilnya.


Risda sedikit tersenyum kecut. “Dari semalam kayaknya kakak nggak di kasih tahu kalau Farhan ikut”.


Farhan tertawa saja. “Kejutan..”.


Risda menggeleng. “Kalau kakak tahu ada Farhan. Ngapain kakak sampai secemas tadi, sebel”. Risda malah merengut.


Farhan tersenyum, maju menyalam, mencubit dulu kedua pipi kakak iparnya yang tampak masam, baru kemudian beralih memeluk Natalia, ibu Risda ini tampak senyum sangat lebar, senang melihat Farhan yang tiba tiba muncul di depannya.


“Ini Farhan Bi, Paman. Ini adiknya Asrul”.

__ADS_1


Natalia langsung mengenalkan Farhan pada Jamil, Lena dan Mila, ketiganya langsung mengembangkan senyum, kemudian ketiganya juga mendapat pelukan dari Farhan, semuanya tampak bahagia, Faridha juga ikut maju dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Farhan.


Kini Risda dan Faridha sudah larut dalam perbincangan, Farhan hanya geleng kepala, sudah ketemu Risda, Faridha bahkan tak gubris Farhan sedikitpun. Pilihannya hanya satu yang terbaik, bergabung bersama Jamil dan Asrul yang juga berbincang di teras rumah, tidak mungkin juga bergabung dengan Natalia, Lena dan Mila, apalagi ke Risda dan Faridha, jadi pendengar budiman jadinya.


Walau pada ujungnya, Farhan tetap saja menjadi pendengar budiman atas obrolan Jamil dan Asrul. Sehingga Farhan memilih mengitari rumah dengan pandangannya, satu hal yang juga ada di kepala Farhan, sudah selayaknya rumah ini diperbaiki, tapi mendengar obrolan Jamil dan Asrul, Farhan senang, obrolan mereka ternyata rencana membangun utuh rumah ini.


Melihat Usman melangkah masuk ke halaman, Farhan langsung berdiri dan mengejar Usman dengan senyuman, Usman juga langsung tampak sumringah, menerima jabat tangan Farhan yang juga mencium tangannya. Usman langsung memeluk Farhan erat, ia juga tentu sudah cukup rindu ke Farhan.


“Kapan nyampenya Dek ?”.


“Pagi ini Bang. Dha, sini ..”.


Faridha berdiri, mendatangi Farhan dan Usman. Faridha langsung menyalami Usman, tak perlu di jelaskan, Usman sudah tahu ceritanya, Usman sudah bisa menebak ini siapa. Cuma, baru hari ini lihat orangnya, Usman sumringah, sekali melihat, Usman langsung suka melihat Faridha, sekarang sepakat dengan Bounya, calon Farhan memang cantik.


“Kakak mana Bang ?”.


“Itu”. Usman menunjuk ke belakang.


Farhan langsung mengejar istri Usman Nadia yang datang dengan bungkusan, Nadia agak terlambat karena ambil bahan makanan yang berada di bagasi mobil, ada bahan makanan yang di tadi mereka beli sebelum kemari. Nadia juga langsung senyum lebar dan bahkan berhenti melangkah saat Farhan mendatanginya.


Saat Usman mengambil alih bungkusan yang ada ditangan Nadia, Farhan memeluk dan mengelus perut Nadia yang memang sudah sangat besar. Farhan tampak begitu senang melihat Nadia yang sebentar lagi akan jadi ibu.


“Wah, bentar lagi, Farhan punya ponakan dong Kak”.


Nadia tertawa. “Sudah masuk bulannya nih Dek, Farhan datang juga ?”.


Farhan mencubit pipi Nadia pelan. “Si Kakak, sudah ada di depannya, nanya lagi”.


Nadia kembali tertawa, ia juga memang, sudah di depan mata, masih juga nanya. Nadia hanya tertawa kecil, Nadia jadi merasa lucu sendiri dengan kelakuannya yang melontarkan pertanyaan yang nggak mutu.


Berikutnya Nadia langsung dikerumuni oleh Asrul, Risda dan Natalia. Ketiganya sama sama mengelus perut Nadia dengan penuh tawa, Nadia memang tersenyum, tapi air matanya sudah turun, Nadia selalu begitu, ia selalu terharu jika bertemu atau berkomunikasi dengan keluarga suaminya, sikap mereka yang terbuka dan selalu menunjukkan kasih sayang membuat Nadia selalu terbuai.


Orang orang dengan rasa sayang dan perhatian yang sangat tinggi, yang tanpa ragu menunjukkan cinta, kebersamaan dan ketulusan. Tak ada sandiwara dalam keluarga ini, semuanya begitu nyata, perhatian dan kasih sayang itu meluncur begitu saja, spontan dan apa adanya, itulah yang membuat Nadia selalu jatuh haru.


Padahal Nadia baru kali ini bertemu langsung dengan Risda maupun Natalia, tapi memang Nadia sudah cukup mengenal keduanya, terutama Risda. Mereka sering berkomunikasi lewat video call, jika Asrul menghubungi pamannya, mertua Nadia, perbincangan akan sangat lama.


Nadia selalu senang melihat kekompakan keluarga suaminya, satu hal yang ia tidak dapatkan dalam keluarga besarnya yang cenderung saling membanggakan kemampuan masing masing dari berbagai bidang, padahal dari banyak sisi, kehidupan Nadia termasuk yang terbaik dalam keluarganya, sehingga Nadia sering kesal melihat saudaranya yang lain mengklaim hidupnya lebih sempurna.


Beda di keluarga suaminya, semuanya selalu menunjukkan hal yang membuat Nadia terharu dan suka sekali. Tak ada keluarga Usman yang hidup di bawah standar, semua memiliki kelebihan dalam banyak hal, termasuk ekonomi yang kesemuanya hidup dengan standar tinggi.


Semua keluarga Usman memiliki pekerjaan yang menjanjikan, keluarga yang paling sederhana di keluarga Usman, masih lebih baik dari keluarga terhebat di keluarga besar Nadia, tapi tak ada satupun yang mengaku lebih disini, seperti yang Nadia temukan di keluarga besarnya.


Nadia saat ini memang sangat gembira, apalagi hari ini ia bisa bertemu langsung dengan Risda, sosok yang selama ini sangat ingin Nadia jumpai, sosok yang sangat Nadia kagumi, tempat Nadia mencurahkan banyak hal, termasuk hal hal yang bersifat pribadi, selama ini Risda dengan senang hati selalu memberikan Nadia banyak solusi yang brilian.


Sehingga saat tadi Usman mengatakan ada Asrul dan Risda di kota ini, Nadia langsung bangkit dari tempat tidurnya, bahkan memaksa Usman untuk kembali datang kemari, tujuan Nadia tentunya adalah untuk menemui keduanya, menemui Asrul dan khususnya Risda. Nadia ingin melihatnya langsung dan tentu saja berbincang dengan orang yang ia kagumi itu.


Ternyata disini Nadia juga ketemu Farhan, membuat Nadia makin sumringah, lihatlah bagaimana Farhan padanya, padahal mereka terakhir ketemu saat hari pernikahannya dengan Usman, itu terjadi lebih tiga tahun yang lalu, saat itu Farhan bahkan masih SMP.


Sedang dengan Asrul Nadia terakhir ketemu saat masih belum berstatus istri Usman, itu kejadiaanya sudah lebih empat tahun yang lalu, karena pada hari pernikahan mereka, Asrul tak datang, ia sedang berada di pedalaman Kalimantan, masih ikut program mengajar di sana, bahkan Asrul baru tahu Usman menikah setelah kembali dari sana.

__ADS_1


Sebaliknya, Nadia tidak bisa hadir pada acara pernikahan Asrul karena saat itu baru saja berduka, nenek Nadia meninggal dunia dua hari sebelum acara berlangsung, sehingga yang berangkat ke Jakarta hanya ayah dan ibu mertuanya saja bersama dengan si bungsu Feby yang tak mungkin di tinggal, yang lain tidak ikut, termasuk Deasy yang saat itu masih SD.


…. Bersambung …


__ADS_2