Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Bagaimana Bisa Menolaknya


__ADS_3

Faridha benar benar canggung, tak tahu harus bersikap apa, semua keluarga Farhan membuat Faridha tak bisa banyak bicara, sikap dan keramahan mereka membuat Faridha serasa bagai di alam yang berbeda, Faridha paham sekarang, kalau Farhan anak orang yang super kaya.


Faridha makin terkejut saat tahu kalau ibunya Farhan seorang dokter, kakaknya Mutia juga dokter, kakaknya yang satu lagi Reni, juga calon dokter, Faridha malah yakin kalau nanti Farhan juga akan kuliah kedokteran, bagaimana ia bisa ada dalam keluarga super begini.


Faridha ciut karena ia hanya anak piatu yang ayahnya hanya pekerja pabrik biasa, untuk biaya sekolah saja selama ini Faridha lebih banyak tanggung sendiri, dengan berjualan online dan mengajar privat beberapa tetangganya, rumah keluarga Faridha mungkin hanya dua kali luas kamar mandi rumah ini.


“Ibunya marga apa Dha ?”.


Faridha senyum tipis. “Ibu Nasution Bou, tapi Ibu sudah nggak ada”.


Meeta langsung memeluk bahu Faridha dan mencium keningnya. “Oh, sabar ya Dha, umur manusia memang tak bisa di takar, Tuhan mungkin melihatnya dari sisi yang lain, orang yang baik selalu saja pergi lebih dulu, itu tandanya ibumu baik, tak usah bersedih gitu, tapi kan Bou masih ada”.


Entah kenapa, ada yang menyusup tajam ke relung hati Faridha, ungkapan Meeta malah membuat Faridha terharu, bahkan mata Faridha tanpa mampu ia cegah langsung berkaca kaca, Meeta kembali memeluk bahu Faridha, sekali lagi mencium puncak kepala Faridha, ini tentu membuat Faridha makin terharu.


“Ayah bagaimana ?, sehat, kegiatannya apa ?”.


Faridha agak tertegun, inilah yang pertanyaan yang paling Faridha takutkan, Faridha terlalu sering melihat orang kaya yang terlampau mudah merendahkan orang yang tak punya, sehingga Faridha selalu menganggap semua orang kaya sama, memiliki nilai kesombongan yang bakal sama.


“Kenapa diam Dha ?”.


Faridha menggeleng. “Ayah hanya karyawan pabrik biasa Bou”.


Meeta malah tertawa kecil. “Kok pakai hanya ?”.


Faridha sedikit terdiam, masih tetap tertunduk. “Kami keluarga yang sangat miskin, beda jauh dengan Bou”.


Meeta kembali mengeratkan pelukannya. “Itu hanya dunia Dha, begitu kita harus pergi dari dunia ini, status itu sama sekali tak berlaku, takkan ada semua itu, bukan sesuatu yang malah membuat jarak”.


Faridha sedikit melirik, rasa tak percaya dokter paruh baya pemilik rumah sakit ini bisa bicara semudah itu, tapi Faridha tetap merasa jika ia sama sekali tak selevel dengan keluarga Farhan, mereka bagi Faridha berada jauh, berkali lipat lebih tinggi darinya, bagai bumi dan langit.


“Ayah pakai android ?”.


Faridha anggukkan kepala, walau kurang tahu untuk apa pertanyaan itu. “Pake Bou”.


“Nomornya berapa ?”.


Faridha akhirnya menyebutkan nomor ponsel ayahnya, Faridha masih tampak bingung saat Meeta melakukan video call, tapi tidak diangkat, Meeta mencoba lagi, baru pada panggilan ketiga, ayah Faridha, Husain, angkat panggilan yang masuk.


Husain agak heran, karena begitu panggilan video tersambung, wajah pertama yang ia lihat sama sekali tak dikenalnya, tapi kemudian makin terkejut saat melihat wajah putri tertuanya muncul dilayar ponselnya.


“Assalamu Alaikum Ito[1]…”.


“Wa Alaikum salam ..”.


“Saya boru Lubisnya Ito, ini Faridha sedang dirumah saya”. Meeta sudah menggunakan Bahasa Mandailing.


Ayah Faridha Husein agak terkejut. “Oh, iya Ito, Ito tinggal di Jakarta ?”.


Farhan, Mutia dan Reni hanya saling pandang, karena obrolan mama mereka dengan ayah Faridha sama sekali tak mereka mengerti, karena memang Asrul dan adik adiknya tak ada satupun yang paham Bahasa Mandailing, sehingga hanya bingung bingung saja, Faridha tentu mengerti, sehingga ia menyambut omongan sesekali.


“Ito, kita Bahasa Indonesia sajalah ya, beremu sudah bingung bingung ini”.


Ayah Faridha ikut tertawa. “Jadi Kak, nggak apa apa”.


Setelah obrolan berganti bahasa, barulah Farhan, Mutia dan Reni sama sama ikut tertawa kalau ada yang lucu, cerita semakin seru, karena ternyata Ayah Faridha mengenal salahsatu adik Meeta yang tinggal di Medan, sehingga suasananya semakin akrab terdengar, Meeta sudah main panggil nama sekarang.

__ADS_1


“Husain. Sama Kakak lah putrimu ini ya”.


“Maksud Kakak ?”.


Meeta tertawa. “Maksud Kakak, nanti tamat SMA, kau antarlah kemari, sekalin kau jalan jalan kemari, nanti Faridha tinggal sama kakak, jadi menantu kakak”.


Husain tertawa. “Kakak ada ada saja, mau kakak rupanya besanan samaku”.


“Hus, jangan gitu pikiranmu Sain, aku kakakmu”.


Husain kembali tertawa. “Iya Kak. Kalau aku kak terserah Faridha saja, apapun mau kakak, setujunya aku itu kak”.


“Nah, itulah bilang. Okey ya Sain, janji kita ya”.


“Iya Kak”.


“Okeylah Sain, kita sepakat ya, Faridha dan Farhan sudah kita anggap tunangan ya Sain, okey ?".


Husain tampak senyum, tapi gelengan kepala masih ada. "Kakak lah itu, aku siap siap saja Kak, asal jangan kecewa saja kakak nanti".


"Hus, nggak ada ngomong gitu, pokoknya Faridha itu sudah kakak anggap tunangannya Farhan, aku kakakmu Sain, bukan orang lain".


Husain angguk kepala. "Siap Kak, Siap".


"Nah, gitu, itu baru betul. Sudah dulu ya Sain, udah mau maghrib ini”.


“Iya Kak”.


Telephon mati, saat yang bersamaan, Agung, Asrul, Risda dan Ariana muncul, semua mata yang baru datang heran kenapa semuanya berkumpul di ruang depan, tapi tak lama semua balik paham, ada tamu ternyata.


Risda tersenyum manis pada Faridha, entah kenapa, Risda begitu yakin kalau gadis ini adalah wanita yang tadi di tolong Farhan, walau hanya mendengar lewat telephon yang tak sengaja terangkat, Risda begitu yakin kalau itu Faridha orangnya.


“Ini Faridha Yah, calon mantu kita”.


Agung tersenyum lebar. “Farhan sudah punya calon ?, sip”. Agung mengacungkan jempolnya.


“Cantik kan Yah ?”.


Agung kembali mengacungkan jempolnya. “Setuju”.


Faridha benar benar bingung, dan makin bingung saat Agung tersenyum lebar dan angkat bahu mendengar semua cerita istrinya tentang Faridha, tak tahu mau bicara apa, Faridha akhirnya hanya bisa diam seribu bahasa, serasa tak mengerti ternyata ada keluarga kaya yang model begini.


“Kalau ayah boleh usul, nanti saat Faridha datang, mereka menikah saja, kan nggak ada yang salah kalau kuliah sudah menikah, iya nggak Far ?”.


Farhan nyengir. “Ayah bisa saja”.


Semua langsung bersorak Huu .. termasuk Ariana. Anak SMP ini bahkan naik ke pangkuan Farhan dan mencubit kedua pipi abangnya. Semuanya menjadi tertawa, tapi Faridha masih belum mengerti apa yang terjadi, masih serasa bingung dengan apa yang dilihatnya, semuanya tampak sangat membingungkan bagi Faridha.


“Iya Dha, Faridha mau menjadi menantu ayah kan ?”.


Faridha menunduk, jantungnya sama sekali tidak normal lagi, Faridha meremas remas jemarinya sendiri, kini menimbang mau bilang apa, apalagi semua mata sekarang tertuju padanya, ayahnya saja tadi sudah mengatakan dengan gamblang jika siap dengan keputusan apa saja.


Mata Faridha melirik Farhan sebentar, Faridha tahu kalau laki laki itu orang baik, keluarganya juga semuanya malah sangat baik, mereka juga tahu Faridha berasal dari keluarga yang bagaimana, tapi sepertinya itu tak berpengaruh apa apa, sehingga Faridha sampai pada titik ujung, bagaimana bisa menolaknya, ini yang kemudian mambuat Faridha menganggukkan kepala.


“Ye … Bang Farhan nggak jomblo lagi”. Ariana malah setengah menjerit saat melihat anggukan kepala Faridha, semuanya jadi ikut tertawa.

__ADS_1


Kini Farhan yang jadi korban, semua tangan saudaranya hinggap ke kepala dan mengucek ucek rambutnya, Asrul, Mutia, Reni dan bahkan Risda ikut tertawa riang dan mengucek rambut Farhan yang hanya tertunduk, tapi terang, hatinya kini berbunga bunga, sangat bahagia.


Faridha masih tertunduk, ia belum juga bisa mengerti kenapa ada keluarga super kaya model begini, dari yang tua sampai yang masih SMP seakan tak ada yang peduli dengan masalah ekonomi, tak satupun yang melihat seseorang dari kaca mata keadaan, Faridha bagai melambung, kembali seperti awal tadi, serasa bagai berada di alam lain.


“Ayo, kita makan dulu. Ayo Dha”.


Faridha anggukkan kepala. “Iya Bou”.


Meeta kembali memeluk bahu Faridha. “Sudah ayo, kamu sudah menjadi bagian dari rumah ini, jangan ada sungkan”.


Semuanya beranjak ke ruang makan, Ariana masih terus bergelayut manja di tangan Farhan, dengan begitu Farhan tak bisa dekat dekat dengan Faridha sesuai dengan keinginannya, akhirnya Farhan hanya bisa berhadapan dengan Faridha yang duduk diapit ibu dan kakak iparnya.


Faridha memperhatikan sekeliling, tak ada orang lain, Mutia dan Reni yang sibuk angkat sana, angkat sini. Ini yang kembali membuat Faridha agak bertanya, masa di rumah sebesar ini tak ada pembantu, padahal di depan saja ada satpamnya, tapi Faridha hanya bisa diam dan ikut makan.


“Nanti kuliahnya ambi kedokteran saja Dha, gimana ?”.


Faridha menatap Mutia sesaat. “Apa Faridha bisa Kak ?”.


Mutia hanya senyum dan mengangguk, Reni ikut angguk kepala. “Kenapa nggak bisa Dha, kalau nanti tak bisa lewat jalur undangan, main di mandiri saja, nggak bisa juga, sudah, ke swasta saja, masalahnya apa ?”.


Faridha menggeleng, mengatakannya memang mudah, tapi bagi Faridha semuanya masih serasa mimpi, sudah sejak SMP dulu Faridha ingin menjadi dokter, utamanya ingin menjadi spesialis paru, rasa sakit akibat ditinggal ibu yang mengidap paru hingga kini masih membekas di hati Faridha.


Faridha ingin menjadi dokter paru, setidaknya dapat memastikan cukuplah ia yang kehilangan ibu karena penyakit itu, dengan menjadi dokter paru, paling tidak Faridha bisa mengurangi orang yang terhempas di tinggal ibu.


Tapi, saat waktu terus berjalan, Faridha mulai sadar kalau harapannya untuk itu hanya sebuah ilusi, akan sangat tidak mungkin, apalagi setelah ia, masih ada tiga adiknya yang harus diperjuangkan, sehingga Faridha pada akhirnya mengambil kesimpulan akan membantu ayahnya selesai SMA nanti.


“Sudah makannya Dha ?”.


Faridha angguk kepala. “Sudah Bou”.


Usai semuanya makan, Faridha ikut berdiri, sama sama dengan Risda, Mutia dan Reni angkat piring kotor dari atas meja, mencuci bersama sama, menyusun kembali dalam lemari piring, buang sampah dan lain sebagainya hingga dapur menjadi bersih kembali seperti sedia kala.


Ternyata Farhan dari tadi sudah mengintip, begitu melihat semuanya selesai, Farhan bergegas menghampiri, menarik tangan Faridha menjauh. Risda, Mutia dan Reni hanya geleng kepala, Faridha juga tak bisa menghindar, sehingga ikut saja tarikan tangan Farhan menuju halaman belakang.


“Faridha”. Farhan memegang kedua tangan Faridha. “Abang nggak menyangka kalau ceritanya secepat ini. Tapi jujur, sejak pertama melihatmu, Abang memang sudah ingin dekat denganmu Dha, ini serius”.


Faridha mencoba menarik tangannya, tapi Farhan memegangnya lebih kuat, sehingga Faridha tak bisa melepaskan pegangan Farhan, mau tak mau Faridha akhirnya membiarkan saja punggung tangannya kini dielus Farhan, walau akibat dari elusan itu Faridha jadi agak merinding.


“Faridha yakin sama Abang kan ?”.


Faridha mendesah, sesaat ia memandangi Farhan, tapi kembali tunduk. “Abang yakin ?, Faridha anak orang yang nggak punya Bang”.


Farhan tertawa kecil dan menggeleng, mata Farhan masih begitu lekat ke wajah Faridha, yang membuat Faridha tak berani mengangkat wajahnya, Faridha tak mampu menantang mata Farhan yang terus memandanginya dari dekat.


“Lantas masalahnya apa Dha, sama sekali tak ada masalah. Okey ?”.


Faridha masih menggeleng. “Apa Abang yakin ?”.


Farhan menggeleng lagi. “Dha, kita menjalin hubungan mengandalkan hati, bukan materi, kita membina hubungan dengan cinta, bukan harta”.


Faridha tak bisa menjawab lagi, semua pertanyaannya sudah terjawab. Yang ada kini Cuma gamang saja, bagaimana ini semuanya datang dengan begitu mudahnya, semua serasa bagai skenario saja, bagai sudah diatur sebelumnya, padahal itu sama sekali berjalan tanpa sutradara.


…. Bersambung …


[1] Panggilan untuk adik/ saudara yang berlawanan jenis

__ADS_1


__ADS_2