Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Tak Perlu Ada Cinta


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian.


Usai menjenguk Mutia yang baru melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Fauzul Mirza Mahdan Nasution di rumah sakit, Asrul memilih menuju rumah yang ia bangun, rumah yang banyak memberikan kenangan manis bersama Risda, karena separuh waktu mereka banyak di habiskan di tempat ini.


Asrul turun dari mobil masih sambil menggendong Aulia Risda yang kini sudah sangat aktif, sudah mulai merangkak dan sudah mengenal orang orang yang ada di sekelilingnya, akan langsung berontak saat melihat kakek atau neneknya, sekalipun ia sedang bersama Asrul ayahnya.


Sang nenek maupun kakek akan langsung mengejar, menggelitik, membuat Aulia Risda terkekeh, Meeta atau Agung pasti akan mengambil alih Aulia ke gendongan mereka, bahkan sekarang, Meeta selalu ingin cepat pulang untuk bertemu dengan cucunya Aulia Risda.


Tapi, ini kali pertama Aulia Risda berkunjung ke rumah ini, rumah yang dibangun ayahnya untuk persiapan hari tua, hari ini Asrul membawa kedua anaknya, tidak hanya membawa Dahrul saja, tapi Aulia ikut untuk kali pertama.


Awalnya Ariana ingin ikut juga, Ariana sedang berada di rumah untuk menyelesaikan tesisnya yang sempat tertunda. Tapi kemudian Ariana urung ikut karena ada kiriman bahan dari Tomy untuk membantu Ariana menyelesaikan tesis miliknyayang sudah masuk Bab IV dan V itu.


Asrul menatap sekeliling, rumah ini cukup untuk dibuat fungsi yang lain, Asrul sudah memikirkan beberapa hal untuk rumah ini, niat yang pertama saat ini sudah tak relevan lagi, sudah keluar dari alur cerita yang disusun semula.


Ya, Asrul membangun rumah ini dengan harapan ia bersama Risda akan menua bersama disini, menunggu anak anak pulang, tempat untuk bermain bersama cucu, sebuah harapan panjang yang kini tak bernilai sama sekali, semuanya kini hanya tinggal harapan saja, satu harapan yang sama sekali tak akan pernah kesampaian, semuanya tak mungkin lagi, Risda sudah pergi.


Kalau Dahrul sudah berulang kali kesini, bersama ayah dan ibunya, berdua dengan ibunya juga sering, bahkan juga dengan Om Mahdan, suami Bibi nya Mutia, kalau Iskandar suka kemari tujuannya mengambil ikan, sama dengan Mahdan, Iskandar yang juga sangat suka ikan air tawar, tak pernah absen singgah kemari jika tiba dari Surabaya, Mahdan dan Iskandar bahkan lebih memilih ikan air tawar ketimbang ikan laut.


Mutia mendukung itu, karena ia tahu suaminya punya sejarah kolesterol, konsumsi ikan laut bisa memicu, sedangkan ikan air tawar dalam posisi lumayan aman, sehingga Mutia setuju dengan selera Mahdan, bahkan Mutia sekarang jadi ikut ikutan doyan ikan air tawar.


Asrul langsung menuju halaman belakang, duduk menghadap kolam. Apa yang dikatakan Risda 10 tahun lalu terbayang dikepala Asrul, Risda mengatakan kolam ini terlalu kecil jika ikan ikannya besar, itu sepenuhnya benar. Jika dibanding ke manusia, ikan yang ada dikolam sekarang itu sudah cicitnya ikan yang pertama.


Ikan ikan itu sudah besar besar, bahkan sudah terlihat tak leluasa berenang, Bik Sumi yang menjaga rumah ini sudah berulang kali menangkap dan menggorengnya, tapi ikannya memang banyak, tetap saja kekurangan tempat. Mahdan, Iskandar, bahkan Lufti juga sering mengambilnya, tapi itu tadi, ikannya memang banyak.


Termasuk Reni juga, kalau Reni datang dari Surabaya, ia akan memaksa Iskandar dan Asrul ke rumah ini, target Reni memang ikan itu, Iskandar bersama Dahrul akan melakukan banyak hal di kolam, mereka bisa masuk kolam, bergurau dengan Dahrul sambil membersihkan lumut lumut yang terlalu tebal dan ditutup dengan menangkap beberapa ikan untuk di bawa pulang.


Mata Asrul mengitari taman yang masih semodel sejak awal, tak ada perubahan yang tampak signifikan, kecuali beberapa tangkai bunga yang terlihat memanjang, biasanya Risda akan langsung memotongnya, tapi sekarang hanya suami Bik Sumi yang memeliharanya, tentu sama sekali tak setelaten Risda.


“Dahrul mau bawa ikannya ke kolam rumah sakit nenek, boleh Yah ?”.


Asrul tertawa kecil. “Kolam yang mana ?”.


“Yang di Lobby”.


Asrul menggeleng. “Itu kecil Rul, ikannya harus kecil juga, ini ikan gede semua, mana muat disana”.


Dahrul tampak berpikir, anggukkan kepala. “Iya juga ya, tapi kata Bibi Tia, yang besar juga nggak apa apa Yah”.

__ADS_1


Asrul malah tertawa kecil. “Mau digoreng Bibi Tia iya”.


Dahrul ikut tertawa. Jadi terbayang waktu ia membawa ikan ke rumah sakit, melepasnya di kolam Lobby, tapi seminggu kemudian saat Dahrul datang lagi, ikannya sudah tak ada, saat Dahrul bertanya, jawabannya cukup mengejutkan Dahrul, sudah di goreng dokter Mutia.


Dahrul masih senyum tipis. Kembali menatap kolam. “Tapi bentar Yah. Dahrul lihat lihat dulu, mana tahu ada”.


Asrul hanya menggeleng, ia membiarkan saja Dahrul mengambil tangguk penangkap ikan, malah sudah sediakan ember penampungnya. Asrul hanya menonton saja, mendudukkan Aulia Risda di pangkuannya. Anak kecil ini malah mengoceh entah apa, mungkin memanggil abangnya, karena Aulia seperti melonjak saat Dahrul melambaikan tangannya.


Asrul mengecup ubun ubun Aulia, ada rasa perih yang menyusup sekarang, ada persamaan dan perbedaan antara Risda dengan putri yang tak pernah dilihatnya ini. Risda tumbuh hingga dewasa tanpa seorang ayah, sedang Aulia akan tumbuh hingga dewasa hanya dengan seorang ayah.


Risda masih lebih beruntung tampaknya, karena saat dewasa, ia bisa ketemu dengan ayahnya, tapi Aulia tak akan pernah bisa bertemu ibunya. Asrul kembali mengecup ubun ubun Aulia, air mata Asrul sudah turun, Asrul sudah berulang kali berjanji untuk tidak menangis lagi, tapi ia tak mampu, air mata itu terus turun tanpa mampu Asrul hentikan.


Kini Asrul juga membawa kedua anaknya untuk tidur bersamanya di ranjang yang dulu ia tempati bersama Risda, upaya untuk mengurangi perih di hatinya, tapi tetap saja tak bisa, bayangan Risda tetap saja ada saat Asrul baru membuka pintu kamar, apalagi membuka lemari dan melihat ornamen yang ada disana.


Tapi untuk merubah apalagi membongkarnya Asrul tak sanggup, sama sekali tak bisa, batinnya menolak itu mentah mentah, sehingga kondisi kamar masih sama persis dengan kondisi saat Risda masih ada. Untuk pindah kamar Asrul yang jadi serba salah, bahkan tak bisa memejamkan mata.


Asrul mengakui dan memahami kekhawatiran ayah dan ibunya ketika Asrul berubah menjadi sedikit pendiam, Asrul juga merasakan itu, terkadang ia bisa terlibat dalam pembicaraan, tapi Asrul selalu kehilangan selera untuk berbincang, sehingga Asrul memilih diam dan bahkan malah menjauh.


Asrul kini mempunyai kebiasaan baru, membaca. Koleksi buku bisa Asrul dapat dengan mudah tentunya, di kampus tempatnya mengajar akses mendapatkan buku bacaan samudah membalik telapak tangan, ditambah lagi buku buku kiriman Tomy, baik yang cetak maupun yang berbentuk PDF yang dikirim lewat pesan WA.


Tomy yang sekarang bekerja di Kementerian Agama bahkan menjadi mitra bincang Asrul yang paling sering, walau sudah bekerja, tapi keluarga Asrul tetap meminta Tomy tinggal bersama mereka, dan tampaknya itu akan berlanjut panjang, semua orang sudah melihat gelagat kedekatan Tomy dengan Ariana.


Asrul mengembangkan senyum saat Dahrul mendekat, ternyata Dahrul mengalah, memang ada ikan yang lumayan kecil di kolam sebelah, tapi walau Dahrul sudah berupaya maksimal, ia sama sekali tak mendapatkannya, jalan satu satunya adalah menguras, tapi Dahrul balik berpikir, masa untuk menangkap dua tiga ekor ikan kecil, harus mengganggu kenyamanan ikan yang lainnya.


“Gimana ?”.


Dahrul menggeleng. “Ikannya pandai berenang, nggak dapet”.


Asrul jadi tertawa. “Emang ada ikan yang nggak pandai renang ?”.


Dahrul senyum keki. “Emang ada Yah ?”. Malah balik nanya.


“Ada kali ya”.


Dahrul makin mendekat. “Ikan apa Yah ?”.


Asrul mengucek kepala Dahrul. “Ikan Asin”.

__ADS_1


“Ye .. Ayah. Kalau itu mah Dahrul juga tahu”.


Asrul kembali tertawa kecil, Aulia sudah menarik narik tangan abangnya, Dahrul seperti paham dan mengambil Aulia dari pangkuan ayahnya, sambil menggendong Aulia, Dahrul mengajak adiknya keliling taman, Aulia tampak gembira, apalagi melihat kupu kupu yang terbang, ia mengoceh tak menentu.


Asrul memandangi keduanya yang terus berjalan menjauh. Jarak umur kedua anaknya memang jauh, mencapai sepuluh tahun, bahkan saat Risda hamil untuk kali kedua menjadi satu kejutan yang melibatkan semua anggota keluarga, semua sama sama terkejut karenanya.


Apalagi disaat yang hampir sama ada tiga wanita dalam keluarga yang sama sama mengandung, Farhan juga mengabarkan kalau Faridha sedang mengandung anak kedua mereka, sedang Mutia hamil kali pertama setelah hampir sepuluh tahun membina rumah tangga. Asrul sendiri tak lagi pernah berharap Dahrul punya adik, satu juga sudah cukup.


Tapi, ada kejutan yang awalnya sangat memberikan rasa gembira, tak hanya pada Asrul dan Risda saja, akan tetapi juga pada banyak orang yang mereka sayangi. Tak ada yang mengatakan tak aman, karena saat itu usia Risda juga masih usia biasa untuk wanita hamil anak kedua, Risda masih 34 tahun saat itu, masih dianggap fit.


Itulah mungkin satu penyesalan Asrul saat ini, saat Risda pingsan mendengar ibunya meninggal, semua menganggap kalau itu karena sayang dan sedihnya Risda atas kepergian ibunya, tapi ternyata tidak. Itu tidak semata mata karena rasa sedih, Risda pingsan juga karena detak jantungya meninggi, gejala jantungnya menguat.


Risda yang mudah letih setelah itu adalah kelanjutan dari perkembangan kesehatan jantungnya yang makin menurun, dan ternyata Risda hamil pula, sehingga fokus jadi kepada kehamilannya, sama sekali melupakan jantungnya, inilah yang membuat Risda tak kuat saat memaksakan diri melahirkan normal.


Asrul tersentak saat Dahrul sudah ada di sampingnya, Aulia sudah dalam posisi tertidur, Asrul mengambil alih Aulia ke dalam pangkuannya, Dahrul memilih duduk disamping ayahnya, sama sama memandang ke kolam. Satu pemandangan yang memang tak membosankan, melihat ikan yang tak mau diam, terus berenang kian kemari, tak ada satupun yang memilih berhenti.


Pandangan Asrul sesekali beralih ke Dahrul, Asrul tentu tak tahu apa yang menjadi isi pikiran Dahrul, yang Asrul lihat Dahrul awalnya cukup serius memandangi kolam, tapi beberapa saat kemudian, pandangan Dahrul tak lagi ke kolam, tapi tepat ke tanah, menunduk tampak memikirkan sesuatu.


“Dahrul mau janji sama Ayah”.


Dahrul menatap ayahnya. “Janji apa Yah ?”.


Asrul membelai kepala Dahrul, mendesah. “Ayah ingin kamu janji, janji akan menjadi dokter spesialis jantung, kita akan rubah rumah ini menjadi klinik spesialis jantung, kamulah dokternya”.


Dahrul anggukkan kepala, ia juga membelai kepala adiknya yang sedang berada di pangkuan ayahnya. “Adik juga, nanti harus jadi dokter, dokter spesalis jantung Aulia Risda”.


Asrul tersenyum, ia memeluk Dahrul dengan tangan kanannya, di tangan kirinya ada balita Aulia Risda. Asrul mengecup kepala Dahrul berulang kali, inilah impian Asrul sekarang, akan menjadikan dua anaknya menjadi dokter spesialis jantung, sebagai upaya untuk mengurangi jumlah orang yang menderita seperti mereka.


Kalau bisa, cukuplah mereka yang kehilangan ibu karena jantung, pada saatnya nanti, kedua anaknya dapat mengurangi jumlah orang yang menderita karena jantung mereka, itu tentu akan sangat membahagiakan Risda di alam sana, dia pasti akan banyak tersenyum melihat anak anaknya.


“Ayah tidak ingin menikah lagi ?”.


Kening Asrul berkerut mendengar pertanyaan Dahrul. “Apa sih Rul ?”.


Dahrul tersenyum. “Hanya bertanya, ayah juga masih muda kan ?, belum juga 40”.


Asrul menggeleng. “Ayah tak butuh”.

__ADS_1


Ya, memang tak butuh. Tak perlu ada cinta lagi, tak perlu ada wanita lagi. Cukuplah Risda yang pernah mengisi hatinya, itu sudah penuh, sangat penuh, tak akan ada yang muat lagi. Asrul tak ingin apapun saat ini kecuali membesarkan dua anaknya, mendampingi Dahrul dan adiknya, sampai pada waktunya nanti, ia juga akan berangkat menyusul Risda.


…. TAMAT …


__ADS_2