Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kembali ke 22 Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Haris melangkah keluar rumah, duduk di kursi yang ada di teras, kembali merenungi nasibnya yang tak pernah terbayang olehnya, Haris benar benar merasa hidupnya terlampau sulit untuk di mengerti, seluruh bagian tubuhnya terasa sakit, walau yang paling sakit adalah dadanya.


“Bang Haris …”.


Haris angkat kepala. “Widya … Lufti”.


Haris berdiri dan memeluk erat Lufti setelah berjabat tangan dengan Widya, kemudian mereka duduk lagi, Widya terlebih dahulu mencoba mengintip ke dalam rumah baru duduk di samping Haris.


Widya dan Lufti yang sekarang tetangga Natalia, pulang dari sekolah tadi saling anggukkan kepala melihat ada laki laki duduk di teras rumah Natalia, tapi setelah mereka memperhatikan dan yakin jika yang mereka lihat adalah Haris, keduanya tak jadi masuk rumah, malah mendatangi Haris.


“Kapan datang Bang ?”.


Haris sedikit senyum. “Tadi pagi Wid”.


“Tadi pagi ?”.


Haris mengangguk. “Sampai sekitar jam 9 tadi”.


Widya dan Lufti kembali saling pandang, ada hal yang tentunya membuat mereka heran dan penuh pertanyaan, menghilangnya Hasris tidak saja menimbulkan duka bagi keluarganya saja, tapi juga untuk teman temannya.


Haris kemudian menatap Lufti. “Jadi Wid, Kamu menikahnya dengan Preman Rawamangun ini”. Kata Haris mencoba mencairkan suasana.


Lufti langsung meninju pelan bahu Haris. “Sialan Lu”.


Lufti tak bisa bicara banyak, Haris selalu saja sejak dulu bicara asal saja kalau dengan sesama mereka. Kegiatan dan ulah mereka yang memang sering tampak gila kini kembali masuk ke kepala Lufti, tapi apapun itu, senakal nakanya mereka dulu, mereka belum pernah masuk ke ranah keterlaluan.


“Udah tobat memang ?”.


“Kenapa memang ?”.


Haris tertawa kecil. “Kasihan Firman”.


“Emang Kenapa ?”. Sengit Lufti.


Haris angkat bahu. “Gimana tak kasihan coba, punya adik ipar brengsek kayak lu”.


“Sialan Lu”. Rutuk Lufti pasrah.


Widya bahkan ikut tertawa cukup keras melihat dua orang sahabat lama yang tampaknya belum berubah sama sekali, masih ngomong asal keluar, tak ada rem sama sekali, bahkan dengan abangnya Firman, Lufti juga sama jika bersua.

__ADS_1


Walau sebenarnya Widya tahu persis yang dikatakan Haris nggak ada benarnya juga, suaminya Lufti sama sekali nggak brengsek, Cuma kalo reseh iya, setali tiga uang, sebelas duabelas dengan Haris yang hobby mengganggunya dulu, bahkan hingga kini belum banyak perubahan.


Haris kembali menatap Widya lama. “Kok mau sama Lufti Wid ?, gimana ceritanya ini ?”.


Lufti sudah manyun, sedang Widya malah geleng kepala. “Sudah nggak ingat Bang, lupa bagaimana ceritanya”. Elak Widya.


Haris mendehem. “Kamu nggak di pelet kan ?”.


Widya geleng kepala. “Kalau itu kurang tahu Bang”.


Haris memasang ekspresi wajah serius. “Kok aku jadi curiga ya”.


“Brengsek Lu Ris. Jangan ngada ngada Lu ya ..”. Lufti bahkan hampir teriak.


Widya hanya tertawa kecil, geleng kepala dan tepuk jidat. Haris malah pasang muka tak berdosa, sedang Lufti sudah mulai menunjukkan wajah kesalnya walau tetap masih tertawa. Ini seperti keadaan dulu, keadaan 22 tahun lalu, saat mereka masih di bangku kuliah.


“Kok ingat pulang Bang ?”.


Haris membuang nafas sangat berat, pertanyaan Widya tentu saja biasa, tapi imbasnya sangat luar biasa. Dada Haris langsung terasa panas mendengar pertanyaan itu, ada rasa menyesal yang berkepanjangan yang juga dihadirkan pertanyaan itu.


Haris mendesah panjang. “Abang ketemu Risda di Kalimantan”.


Keduanya, baik Widya maupun Lufti tentu tahu siapa Risda, keduanya bahkan ikut mencatat sejarah Risda di kepala mereka, bagaimana Risda sejak dalam kandungan ibunya hingga menjadi sarjana, semua terekam baik di kepala keduanya.


Kini keduanya malah menerka nerka, Haris juga di pastikan sama, yang kenal Natalia secara otomatis akan dapat menyimpulkan siapa Risda, keduanya bak pinang dibelah dua, melihat Risda dapat seperti melihat Natalia


versi muda.


“Abang memang nggak tahu Risda ?”.


Haris menggeleng, tak ada pikiran apapun selama ini yang hinggap di kepala Haris, yang ia tahu hanya dirinya sendiri, kegiatannya dan kesibukannya dalam bekerja, tak ada sedikitpun isi kepalanya ke keluarga yang ia tinggalkan.


“Abang nggak tahu Wid, sama sekali nggak tahu. Abang terlampau terlelap dengan kehidupan Abang sendiri”. Haris tampak lusuh.


“Tak pernah mencoba mencari info tentang Lia ?”.


Haris menggeleng. “Sama sekali tidak Wid”.


Lufti betul betul kecewa mendengar jawaban Haris. “Parah Lu Bro, parah tingkat dewa”. Omel Lufti.

__ADS_1


Haris hanya senyum kecut mendengar omelan Lufti yang seratus persen benar tanpa dapat di sela. Haris tak bisa mengatakan apapun untuk menjawab emosi Lufti padanya.


“Saat melihat Risda pertama kali Abang seperti serasa bermimpi Wid, Abang benar benar nggak tenang, Abang takut nanya ke Risda, sehingga Abang memutuskan datang kesini”.


Widya dan Lufti saling pandang dan saling geleng kepala, Lufti benar benar kecewa dengan isi kepala Haris, Lufti sama sekali tidak menyangka, mantan presiden mahasiswa ini sampai sebegitu egoisnya.


Tapi Widya maupun Lufti paham apa yang dirasakan Haris saat ini. Ini kemudian yang membuat Widya dan Lufti bergantian membagi cerita kehidupan Natalia dan Risda selama 22 tahun belakangan ini, Haris yang mendengar hanya mampu menyandarkan kepala ke sandaran kursi.


“Natalia itu wanita yang kuat. Jika itu kena ke saya, entah saya bisa hadapi atau tidak, tak terbayangkan”.


“Aku mencintai kamu sepenuhnya. Nggak bakal ninggalin kamu, kecuali takdir yang kuasa”. Lufti malah menyampaikan rayuannya.


“Yang bilang bakal ninggalin siapa Bang ?”.


Lufti angkat bahu. “Itu tadi ?”.


“Kan seandainya”.


Lufti malah mencubit pipi Widya.”Nggak bakalan sayang”.


“Apaan sih ?”. Widya protes.


“I Love You Full. Sefull fulnya”.


Widya hanya geleng kepala, ulah suaminya yang ini selalu saja timbul tanpa ada rem sama sekali, tak kenal tempat dan tak kenal setuasi. Untungnya tak ada abangnya Firman, kalau ada, abangnya malah ikut ikutan, kakak iparnya bahkan pernah hampir pingsan menahan tawa akibat ulah keduanya.


Tapi, pada banyak kesempatan, ulah Lufti malah membuat Widya sangat bahagia, hampir tak pernah Widya mengalami marah dan kecewa, karena langsung mendapat hiburan dari sang suami tercinta, bahkan anak anaknya yang sudah mulai dewasa sering geleng kepala melihat tingkah ayahnya.


“Udah ngerayunya ?”. Sindir Haris.


“Belum”. Sambut Lufti cepat.


Widya kembali mengambil alih dan kembali membuka cerita soal Natalia dan Risda, sama seperti yang sudah disampaikan Natalia sebelumnya, Widya juga mengatakan kalau Risda belum sama sekali tahu kisah hidupnya, ia hanya tahu ayahnya pergi jauh.


Haris sama sekali tak punya kekuatan untuk menyahut cerita Lufti dan Widya, semangat berguraunya juga benar benar sirna tanpa bekas, Haris seperti kehilangan kamus, pikirannya malah mulai terasa beku.


Mata Haris memandang langit langit mencari ketenangan, disaat yang sama air matanya mengalir deras, Haris merasa bersalah sekarang, egonya ternyata berikan kehidupan yang menyedihkan bagi Natalia dan keluarganya.


… Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2