
Jika Natalia tak ada, Haris mungkin bisa aja menangis, apa tidak. Hari yang kemudian mengantarnya menjadi seorang sarjana tak ada yang datang menemani, gula ayahnya kambuh, Bibi Mila tak bisa, Paman Jamil ngga’ tahu. Haris lupa alamat Paman Jamil yang tinggal di Sibolga. Hingga hanya Natalia yang menjadi teman Haris saat bahagia itu. Tapi Natalia sudah cukup bagi Haris hari itu. Haris terus bersama Natalia untuk merayakan kegembiraan itu.
“ Ayah Abang ngga’ datang ya ?”.
“ Ngga’ bisa, gulanya kambuh “.
“ Oo.. kena gula ya “.
Setelah itu Natalia yang super gembira mampu membawa Haris tertawa amat gembira, wajar dong, waktu seperti itu ditemani pacar yang cantik, apa tidak bahagia lagi, sangat bahagia malah.
Setelah semua ada ditangan Haris, Ijazah, Akta dan lainnya, Haris memilih menemui Amang Tuanya Waris Saruksuk yang rumahnya ada di Tebet Barat Dalam II, cukup jauh memang, tapi Haris ingin menemuinya, dan sepertinya Malam adalah waktu yang paling tepat.
“ Assalamu alaikum… “.
“ Waalaikum salam.. “.
Langsung ada yang jawab, dan tak lama pintu terbuka, ada Rina, anak Amang Tua Haris yang paling tua.
“ Bang Haris, masuk Bang “.
Haris membelai kepala Rina dan mencium ubun ubunnya. Rina memeluk pinggang Haris dan menggandeng tangan Haris dan melangkah masuk, Rina merasa punya abang setelah kenal Haris, dirumah itu mereka kakak beradik ada 4 orang, semuanya perempuan, Rina yang tertua, kemudian Devi, Dewi, dan Winda.
Haris yakin Amang Tuanya ini nikah diusia yang tidak muda, usia Amang Tuanya udah lima puluhan, tapi anaknya yang tua baru duduk dikelas I SMP, amat beda dengan Inang Tuanya[1] yang memang masih muda, katanya usia mereka memang terpaut jauh juga.
“ Eh Ris.. dalam aja Ris. Amang Tuamu makan tuh, makan aja “.
__ADS_1
Haris menyalam dan mencium tangan Inang Tuanya dan langsung menuju ruang tengah, Amang Tua Haris tersenyum, tanpa malu malu Haris ambil piring dan makan. Untuk kesekian kalinya Haris merasa betapa indahnya jadi orang Batak, di rumah Amang Tuanya ini Haris tak punya rasa segan, apapun yang ia inginkan akan ia ambil sendiri, karena Haris adalah anak dirumah itu, seisi rumah itu juga punya rasa sayang pada Haris, Haris tak bakal segan memarahi anak anak Amang Tuanya. Dan mereka semua pasti takut jika Haris marah, apalagi Inang Tuanya menjadikan Haris sebagai tempat pengaduan, Inang Tuanya akan menelphon Haris jika anak anaknya buat masalah, hingga saat Amang Tuanya sakit, maka Harislah yang mengurus penerimaan Raport adik adiknya, itulah indahnya jadi orang Batak, dan Haris bangga dilahirkan jadi orang Batak. Dan Haris tetap menggunakan itu semua sebagai bagian hidupnya yang panjang dan bagi Haris begitu terasa indah dan hampir punya kesan yang lumayan sempurna.
“ Udah Tamat kan Ris “.
“ Udah Amang Tua “.
“ Kemana ? Pulang Kampung ?”.
Haris menggeleng. “ Haris mau disini terus Amang Tua, Amang Tua carikan Haris tempat mengajar lah ya Amang Tua “.
“ Kamu jurusan Bahasa Inggris kan ?”.
“ Iya Amang Tua “.
“ Bagus lah. Disekolah Amang Tua lagi kosong, besok kamu kesana, biar Senin langsung masuk “.
Setidaknya Haris udah punya pekerjaan. Dengan begitu Haris bisa tetap bertahan di Ibu Kota ini, yah.. sambil menunggu Natalia selesai kuliahnya. Haris memang sudah mantap, Haris sudah punya tujuan khusus untuk tetap tinggal dan tidak pulang kampung, dan tujuan yang paling besar adalah menikah dengan Natalia. Harapan yang tak ingin Haris lepaskan.
“ Lamarannya gimana Amang Tua ?”.
“ Biasa aja. Seperti lamaran biasa aja “.
“ Semua dilampirkan Amang Tua “.
“ Ya.. iyalah “.
__ADS_1
Amang Tua Haris tersenyum mendapati semangat Haris. Ia memang pengen punya guru guru muda yang energik, disekolahnya sudah terlalu banyak guru guru yang tua, pikirannya terus itu ke itu saja. Pihak Yayasan juga udah berharap bisa menerima guru guru muda yang pastinya punya pikiran dan daya pandang yang lebih brilian yang diharapkan Yayasan menjadi generasi penerus di sekolah yang sudah lumayan tua itu.
Haris beranjak kedepan dan langsung menulis lamarannya, Haris ambil semua yang ia perlukan dari lemari kerja Amang Tuanya, rumah ini sudah bagai rumah sendiri bagi Haris, orang tua itu memang sudah bagai Wawak Kandungnya sendiri, tak ada jarak.
“ Amang Tua yang bawa atau Haris Amang Tua ?”.
“ Apanya ?”.
“ Lamaran in ?”.
“ Kamu aja yang bawa besok “.
Haris anggukkan kepala. “ Kalau gitu Haris pulang dulu Amang Tua, Inang Tua, besok Haris langsung kesana “.
Kedua orang tua itu sama anggukkan kepala. Haris menyalami keduanya dan mencium tangannya dan pulang. Kedua Orang Tua itu antar sampai pintu dengan senyum yang lebar.
“ Akhirnya aku punya anak lelaki juga “.
Pak Saruksuk memandangi istrinya. “ Anak Laki yang sopan, baik, dan pintar. Jarang anak kaya’ begitu “.
Wanita yang sebenarnya baru berusia 35 tahun itu tersenyum simpul. Wanita Batak ini amat bahagia sejak kedekatan keluarganya dengan Haris, ia terus posisikan Haris bagai anak pertamanya, dan Haris juga melakoni peran itu dengan begitu sempurna. Tentu membuat kedua orang tua ini amat bangga dan bahagia sekali, keluarga itu terasa punya kata sempurna.
Jika selama ini mereka selalu bermasalah dalam adat karena tak punya anak laki-laki, sebab anak laki laki dalam adat Batak begitu berharga sekali, yang bisa menjadi pelaksana adat dalam sebuah keluarga adalah anak laki laki, kalau anak perempuan akan sepenuhnya beralih menjadi bagian keluarga suaminya jika menikah, jadi dalam adat yang menjadi tumpuan adalah anak laki laki. Jika selama ini orang tua itu harus turun tangan sendiri sekarang tidak lagi, Haris yang menjadi penerusnya, apalagi Haris begitu paham tentang adat.
[1] Inang Tua = Istri Amang Tua/Ibu Tua/Kakak Ipar Ayah
__ADS_1
.... BERSAMBUNG ....