Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Kasih Sayang Dan Perhatian Asrul


__ADS_3

Asrul keluar saat mendengar suara Pak Buang. Asrul mendekati Pak Buang yang masih bercerita dengan kepala sekolah yang juga pemilik rumah tempat tinggal Risda, Asrul tak paham, karena mereka bicara dengan bahasa daerah.


Selesai ngobrol, Pak Buang dekati Asrul. "Apa yang bisa saya bantu Pak Guru ?".


Asrul menghela nafas. "Bagaimana cara menghubungi Pak Nas".


Buang senyum tipis. "Bisa Pak Guru, saya bisa".


Asrul sumringah. "Caranya Pak ?".


Buang senyum lagi. "Sebentar lagi saya mau ke kota Pak, dari sana biasanya bisa menghubungi Pak Nas. Biasanya begitu".


Asrul menghapus wajahnya. "Minta tolong hubungi Pak Nas kalau gitu Pak".


"Saya cerita soal Bu Guru ?".


Asrul mengangguk. "Katakan ke Pak Nas, kepalanya Bu Guru sakit kalau di gerakkan".


Buang anggukkan kepala dan langsung pergi meninggalkan Asrul. Sama dengan Buang, Asrul juga kembali masuk kamar Risda, kembali menjaga Risda dengan penuh rasa khawatir, masih membelai kepala Risda, dan mengipasi Risda bila tampak menggeliat.


Tapi, Asrul juga punya kekuatan terbatas, mata Asrul tak sekuat keinginannya untuk membuat Risda tetap nyaman. Asrul duduk di lantai, dan menyandarkan kepalanya ke dipan Risda, mungkin letih, Asrul akhinya tertidur.


Risda terbangun saat merasa ada yang sedikit menimpa tangan kanannya, Risda melirik kebawah dan terkejut, melihat Asrul tertidur di tepi dipannya. Risda yakin jika Asrul terus menjaganya sepanjang hari.


Risda menjadi begitu tersentuh, ia menarik pelan tangannya, masih terus berusaha melihat wajah Asrul yang kebetulan memang menghadap ke arahnya, Risda malah menjadi kasihan, pertanyaannya sekarang, apakah Asrul sudah makan ?.


Risda ingin menggerakkan kepalanya, tapi memang masih sangat sakit, sehingga Risda hanya bisa kembali merebahkan kepala, jemari Risda kemudian menyentuh rambut Asrul, spontan jemari itu bermain di rambut Asrul, membelai pelan.


Sebenarnya, tak lama setelah Risda membelainya, Asrul sudah terbangun, tapi entah mengapa, Asrul memilih masih pura pura tidur, belaian Risda di kepalanya begitu indah bagi Asrul, sehingga ia ingin keadaan itu berlama lama.


Tapi ternyata tidak, gerakan itu berhenti tak sampai lima menit kemudian, tapi jemari Risda masih bertengger di kepala Asrul. Menunggu hingga lima menit juga, tetap tak ada gerakan lagi, perlahan Asrul mengangkat tangan Risda dari kepalanya dan kembali duduk tegak.


Asrul tersenyum tipis, ternyata Risda sudah tertidur kembali. Cukup lama Asrul memandangi wajah Risda yang pulas. Demi Tuhan, wajah itu terlampau teduh untuk tidak di pandangi lama lama, melihatnya terus menerus membuat Asrul makin punya kesan, Asrul benar benar menginginkannya, Asrul benar benar jatuh cinta.

__ADS_1


Tak lama, perut Asrul mulai berontak, untungnya di kamar ini ada beberapa jenis roti, buah buahan yang di bawa Pak Buang belum tersentuh sama sekali, sehingga Asrul tanpa pikir panjang langsung menikmatinya cukup banyak.


Perut Asrul bisa di ajak kompromi juga. Padahal, praktis sepanjang hari ini tidak ada sebutir nasipun yang masuk ke perut Asrul. Masalahnya, Asrul tak sanggup pergi meninggalkan Risda, sedang disini tak ada nasi yang berani Asrul makan, batinnya masih menolak karena adanya perbedaan.


“Selamat Pagi Cantik …”.


Risda hanya senyum tipis mendengar kata kata Asrul. “Apa sih Rul”.


“Sudah, makan dulu”.


Asrul lebih dulu meletakkan nasi di meja, kemudian menambah bantal di kepala Risda agar lebih tinggi, Risda hanya bisa pasrah, memang untuk mengangkat kepala saja Risda masih susah, ini saja saat Asrul menyentuh kepalanya untuk memasukkan tambahan bantal di bawahnya masih terasa ngilu.


Asrul duduk di tepi dipan penuh dengan senyuman, mulai menyuapi Risda dengan sangat hati hati, Risda tak bisa apa, memang itulah yang membuatnya bisa makan, jika tak ada Asrul, Risda malah tak tahu bagaimana caranya makan.


“Gua sudah minta Patrik jemput perawat di desa sebelah, tapi dari tadi malam belum datang juga, kagak tahu kenapa”. Keluh Asrul.


Risda hanya bisa senyum. “Mungkin ada halangan kali Rul”.


Asrul geleng kepala. “Nggak tahu juga Ris, Patrik nya juga nggak muncul muncul orangnya”.


“Apa gua separah itu Rul ?”.


Asrul menggeleng. “Kagak gitu gitu amat lah Ris, istirahat sajalah banyak banyak, itu akan buat lu cepat pulih, yakin saja sama gua”.


Risda tertawa kecil, ia tahu kalau Asrul hanya mencoba menyenangkan hatinya, Risda sadar kalau apa yang menimpanya bukan hal kecil, bahkan Risda sampai tak sadarkan diri cukup lama akibat tertimpa dahan itu, itu bukan masalah kecil, Risda cukup yakin akan hal ini.


“Ayo habiskan makanannya Ris, biar cepat sembuh, ayo”.


Risda kembali menerima suapan dari Asrul, Risda siap menghabiskan semua makanan di dalam piring yang ada di tangan Asrul, perlakuan Asrul saat ini malah membuat Risda tampak semangat untuk menghabiskan makanannya.


“Udah kenyang Rul”.


Asrul menggeleng. “Ah, cuma tiga sendok lagi ini ayo”.

__ADS_1


“Udah Rul, sudah cukup, sudah kenyang gua”.


“Tiga kali lagi, okey ?, ayo .. ayo”.


Risda akhirnya ikut, ia kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan Asrul hingga makanan yang di piring benar benar habis. Risda juga hany bisa sekuat tenaga menahan sakit di kepalanya saat Asrul kembali agak mengangkat tengkuknya agar Risda bisa minum dengan baik.


“Terima Kasih Rul”.


“Untuk apa ?”.


“Kamu sudah begitu baik padaku Rul”. Air mata Risda malah turun.


Asrul hanya geleng kepala, senyum Asrul cukup mengembang sempurna. Risda kembali hanya diam saat jemari Asrul mampir di sudut matanya, menghapus air mata Risda yang turun cukup deras.


“Gua sayang lu Ris, gua nggak terima lu begini, jangan sedih sedih ah, gua kagak sanggup lihatnya”.


Risda mengeluh. “Lu apaan sih Rul. Ngomong apa lu ?”.


Asrul kembali menggeleng. “Gua ngomong apa memang, itu faktanya”.


Risda mengalihkan pandangan, tak kuat juga menantang mata Asrul. “Sudah ah”.


Asrul tertawa kecil, sialnya Asrul malah kembali mengelus kepala Risda perlahan, dan Risda tak punya kekuatan untuk berontak, Risda memilih diam, bahkan memejamkan matanya, elusan lembut Asrul di kepalanya malah membuat mata Risda meredup dan akhirnya benar benar tertidur.


Untuk yang kesekian kalinya Asrul memandangi wajah Risda lama lama, memang tak dapat di pungkiri, wajah itu memang sangat luar biasa meneduhkan. Asrul semakin sadar dengan hatinya saat ini, seutuhnya milik Risda.


Hal ini tentunya didukung dengan apa yang dilihat Asrul bulan lalu di kota kecamatan, dimana dengan mata kepala sendiri Asrul melihat Wiwik yang diketahui orang selama ini adalah pacarnya malah berpelukan mesra dengan yang lain.


Asrul kenal laki laki itu sama dengan mereka, sama sama sarjana yang mengambil tugas pengabdian di pedalaman, tapi laki laki itu berasal dari alumni kampus lain, bukan dari kampus mereka, sejak itu Asrul sudah mengambil keputusan valid, akan melupakan Wiwik selamanya.


Asrul menghusap mukanya, entah apa yang kini ada di hati Risda soal dirinya Asrul juga nggak tahu. Walau sebenarnya hati Asrul juga punya nilai ragu, utamanya soal keyakinan mereka yang memang berbeda.


Asrul yakin, sekalipun Risda punya perasaan yang sama dengannya, peluang lahirnya masalah tetap sangat terbuka. Tapi jujur, Asrul saat ini memang tak bisa membohongi hatinya, sama sekali tak bisa mendustai perasasannya.

__ADS_1


Asrul memang sedang jatuh cinta, cinta yang sangat dalam. Apapun itu, Asrul akan mencoba untuk memperjuangkannya. Yang penting berikan keyakinan dulu, soal bagaimana ke belakangnya, itu masalah nanti, bathin Asrul sambil masih terus memandangi wajah Risda yang masih pulas.


… Bersambung …


__ADS_2