Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Apa Yang Dibanggakan Dengan Titipan


__ADS_3

Faridha mengeluarkan ponselnya yang terdengar ada notifikasi, ternyata pesan WA dari Risda, Faridha langsung membuka dan tampak tersenyum sedikit, Faridha juga sambil geleng kepala, ia terkesan dan merasa lucu dengan isi pesan Risda yang mengatakan kalau ia gadis paling cantik di Sumatera Utara, ada saja, batin Faridha.


Saniah yang memang duduk disamping Faridha ikut senyum, karena juga ikut membaca pesan Risda di ponsel Faridha, agak terkejut juga, tapi juga senang, suka kalau ternyata Risda dan Faridha sudah cukup dekat satu sama lainnya, melihat bahasa pesan itu, Saniah yakin dugaannya pasti sangat benar.


“Sering komunikasi dengan Risda Boru ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Iya Nanguda, bahkan lebih sering ngobrol dengan Kak Risda ketimbang Bang Farhan”. Faridha jadi tertawa kecil.


“Risda memang teman ngobrol yang enak”.


“Nanguda sering ngobrol dengan Kak Risda juga ?”.


Saniah anggukkan kepala, Saniah juga sangat menyukai Risda, sejak pertama kali mereka ketemu, Saniah sudah menemukan hal yang istimewa dalam diri Risda, yang paling Saniah suka adalah tutur katanya yang begitu lembut, kemudian upaya kerasnya untuk belajar agama, apalagi Saniah termasuk orang yang sering mendapat pertanyaan Risda.


“Nanguda kagum dengan Risda, dia sangat serius belajar agama. Dia tidak tanggung dalam semua hal, kalau sudah mengatakan ya, maka ia menunjukkan keseriusannya, Nanguda suka itu”. Jelas Saniah panjang lebar.


Tapi Faridha agak mengerutkan keningnya. “Belajar agama Nanguda ?”.


Saniah anggukkan kepala. “Iya, belajar agama. Banyak hal yang selalu Risda tayakan, Nanguda suka semangatnya, keseriusannya belajar, anak muda memang harus begitu, penuh semangat”.


Faridha masih mengerutkan keningnya, masih bingung mengapa Risda belajar agama lagi, untuk apa ?. Saniah seperti menangkap kalau Faridha mungkin belum mengetahui banyak soal Risda, bahkan Faridha tampak bingung kenapa Risda malah belajar agama dengan serius saat ini.


“Oh, Boru nggak tahu ya ?”.


Faridha makin tambah bertanya tanya. “Apanya Nanguda ?”.


Saniah senyum lagi, kembali mengelus bahu Faridha dengan lembut. “Nggak tahu kalau Risda itu Muallaf ?”.


Faridha benar benar terkejut, ia sama sekali tak tahu itu. Yang Faridha lihat, Risda itu pakaiannya muslimah sekali, bahkan Faridha merasa kalau Risda itu orang yang paham agama melebihi dirinya, sehingga Faridha cukup terkejut saat tahu kalau ternyata Risda yang ia kagumi itu seorang yang sedang berjuang memperdalam ajaran agama.


Faridha senyum sedikit. “Cara Kak Risda berpakaian bagus Nanguda”.


Saniah tertawa kecil. “Iya juga memang, andai boru ketemu dia sebulan sebelum ini, boru akan melihatnya berbeda, sangat beda malah”.


“Kenapa Nanguda ?”.


“Keputusan Risda pakai hijab itu baru berumur dua minggu, sekitar itulah”.


Faridha menggeleng dan tertawa kecil, sama sekali tak menyangka begitu, selama ini Faridha merasa kalau Risda sudah begitu cara pakaiannya sejak masih SMP mungkin, karena melihat Ariana juga begitu, yang lain juga boleh dikatakan sama saja, karena semua memiliki penampilan yang hampir sama. Yang paling modis dan sedikit beda itu cuma Reni, lebih suka pakai celana, katanya lebih rileks.


Perbincangan dengan Saniah masih terus berlanjut, Faridha sekarang benar benar menyimak semua nasehat yang disampaikan Saniah, dan pada akhirnya Faridha dengan tegas mengatakan berjanji akan memberikan yang terbaik untuk semuanya, akan dengan sepenuh hati menjadi yang terbaik untuk Farhan.


“Aku Mencintaimu, apa itu Cinta ?, Nanguda kurang tahu Boru, Udamu tak pernah mengatakan itu pada Nanguda, dan rasanya Nanguda juga nggak pernah bilang begitu ke Udamu. Nanguda hanya tahu satu hal, mencari bahagia dan semaksimal mungkin membuat Udamu bahagia, itu saja”.


Faridha jadi tertawa kecil. “Nanguda ada saja”.


Saniah jadi ikut tertawa. “Apa Farhan sudah, berapa kali sudah bilang I Love You ?”.


Faridha menggeleng, masih tertawa kecil, bahkan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, takut ketawanya terlanjur keluar. Mana bisa Faridha menghitungnya, setiap ngobrol, Farhan selalu mengakhiri pembicaraan dengan kalimat itu, sudah berapa kali ngobrol ?, mana pula Faridha menghitungnya.


“Faridha balik lah ya Nanguda, sudah mau sore ini”.


Saniah melirik jam di tangannya. “Iya juga, panggil Taufiq, biar boru diantar”.


Faridha berdiri, baru satu langkah Faridha langsung berhenti, ternyata Taufiq sudah nongol, di tangannya juga ada kunci mobil. Faridha kembali mendekat ke Saniah, pertama menyalami dan mencium tangannya, tapi kemudian Faridha memeluk Saniah erat, Saniah tentu membalasnya dengan erat juga.

__ADS_1


“Terima kasih Nanguda, Terima Kasih”. Faridha malah menangis.


“Hei .. kau boruku, jangan membuat Nanguda jadi sedih”.


Faridha akhirnya tersenyum, kembali mengeratkan pelukannya. “Terima kasih Nanguda, Terima Kasih”.


Saniah menggeleng, sepertinya Faridha sudah mengucapkan terima kasih terlalu banyak, padahal Saniah memang benar benar sudah jatuh hati, ia sudah sangat suka dengan Faridha, bahkan sekarang sudah menganggap Faridha sebagai putri sendiri, sehingga ungkapan terima kasih itu sama sekali tidak perlu.


Saniah mengantar Faridha hingga ke teras rumah, Faridha melambaikan tangan saat mobil yang dikendalikan Taufiq berjalan perlahan dan meninggalkan rumah besar keluarga Taufiq, ini sudah jam pulang kerja, otomatis mereka menghadapi banyak titik macet, perjalanan akan menjadi lambat.


“Saat dengar kamu jadi tunangannya Bang Farhan aku terkejut Dha. Tapi jujur, aku senang, aku suka, bahagia juga”.


Faridha mengembangkan senyum dan melirik Taufiq. “Kenapa Fiq ?”.


Taufiq tertawa kecil. “Hei .. aku temanmu Dha, kita sudah berteman sejak SMP, aku mengenalmu dengan baik, aku melihatmu yang terus mendampingi Bulan di Danau Toba, bahkan hingga membeli baju, dari situ, aku semakin tahu sifatmu kawan, aku senang dong”. Cecar Taufiq.


“Walau aku anak orang miskin ?”.


Memang sedang lampu merah, Taufiq menatap Faridha tajam, Faridha juga sedang menatap Taufiq, sehingga pandangan mereka bertemu, Faridha langsung memalingkan pandangan saat melihat Taufiq menggeleng panjang, Faridha tak tahu apa yang membuat Taufiq begitu, lagi pula Faridha tak kuat juga menantang mata Taufiq yang tajam mengarah padanya.


“Jangan pernah merendahkan diri kawan, itu bukan pilihan”.


Faridha menghela nafas panjang. “Tapi kenyataannya memang begitu kan Fiq ?”.


Taufiq kembali menggeleng panjang. “Apa yang dibanggakan dengan titipan. Sama sekali tak ada Dha. Jika Allah mau, wusss .. satu detik, semuanya akan hilang”.


Faridha menjadi terdiam, sesekali ia juga melirik ke arah Taufiq yang tampak konsentrasi mengendarai mobilnya. Faridha sangat terkejut mendapat jawaban simple dari Taufiq, tapi jawaban yang mampu menjawab semuanya. Benar, semua itu memang titipan, tapi tidak semua punya kesempatan mendapat titipan itu.


“Kau tahu Dha, aku sering malas melihat sikap kawan kawan yang berlebihan, mereka membuat seakan akan aku orang yang harus di hormati, aku sering muak dengan itu Dha, aku tahu itu semua hanya tipuan, kalau itu memang benar dari hati, kenapa kepada yang lain mereka tidak melakukannya”.


Faridha kembali hanya menggeleng, Faridha selama ini bahkan tak tahu Taufiq anak siapa, Faridha hanya melihat Taufiq sebagai seorang teman, memang waktu jalan jalan acara perpisahan ke Danau Toba waktu tamat SMP dulu, Faridha yang terus mendampingi Bulan kemana saja saat Taufiq asyik dengan teman laki laki yang lain.


“Aku bahkan suka kamu Dha. Tapi aku sadar kita satu marga. Sehingga kita lebih pantas sebagai saudara. Alhamdulillah itu jadi nyata, kau kakakku sekarang, akan jadi istri abang sepupuku”.


Faridha tertawa kecil. “Kau ada ada saja Fiq”.


“Tapi itu serius”. Taufiq menatap Faridha sebentar. “Aku serius soal itu. Dan kini aku benar benar bahagia, kau benar benar akan menjadi saudaraku”.


Faridha kembali tertawa kecil. “Entahlah Fiq”.


Taufiq ikut tertawa. “Lha, kata Bang Farhan, kalian akan menikah saat kita tamat SMA, berarti nggak sampai setahun setengah lagi dong Dha, iya kan ?”.


Faridha geleng kepala. “Memang sudah ngobrol dengan Bang Farhan kau Fiq ?”.


Taufiq tertawa kecil sambil menggeleng. “Ini, coba lihat”.


Faridha menerima ponsel Taufiq, mata Faridha langsung terbeliak, ini photo photo waktu lomba debat, Faridha jadi bingung sendiri, ternyata Farhan sudah komunikasi dengan Taufiq saat mereka lomba debat, tapi Farhan tak pernah cerita soal itu, bahkan Faridha tak tahu kapan photo photo itu diambil, kecuali yang terakhir, saat berada didalam mobil hendak menuju bandara.


“Aku yang mendorong Bang Farhan mendekatimu Dha. Aku yang menjamin ke Bang Farhan kalau kamu teman terbaikku. Aku hebat kan ?”. Taufiq malah tertawa lebar, bahkan sudah cekikikan.


Faridha jadi merengut, satu tinjunya mendarat juga di bahu Taufiq. Ini membuat Taufiq makin memuaskan tawanya, Faridha yang jadi malu, apalagi ada photo saat Faridha memeluk Farhan, itu photo waktu mereka dinyatakan sebagai juara. Faridha jadi jengah, apalagi Taufiq terus mengumbar tawa.


“Usai kalian bincang setelah hampir terjadinya tragedi itu, Bang Farhan langsung telephon, karena melihat nama sekolah di seragammu, Bang Farhan tahu kalau aku juga di sekolah yang sama, makanya langsung nanya dia”.


Faridha menggeleng. “Kau bilang apa ke Bang Farhan ?”.

__ADS_1


Taufiq angkat bahu. “Apa yang kubilang ?, ya, aku bilang bagaimana kau di mataku, itu saja. Bang Farhan tanya lagi, ku jawab lagi, gitu”.


Faridha melirik Taufiq kembali. “Bang Farhan tanya apa ?”.


Taufiq kembali terkekeh. “Rahasia antar laki laki. Perempuan nggak boleh tahu itu”.


Faridha jadi senyum kecut. Tapi masih terus menggeleng, pantas Farhan begitu yakin dengan semua tindakannya, ternyata ini biang keroknya, sepupunya Farhan, teman baiknya, Taufiq. Faridha jadi kembali menggeleng, tapi entah kenapa, justru yang lahir di hati Faridha sekarang adalah rasa senang, ini yang membuat senyum Faridha terus menerus mengembang.


“Senang lah kau sekarang ?”.


Taufiq kembali tertawa. “Senang dong, targetku berhasil”.


Faridha jadi geleng kepala. “Kenapa kau seyakin itu Fiq ?”.


Taufiq mendesah. “Dha, kan tadi sudah ku katakan, kau itu temanku Dha, teman yang sudah lama, aku mengenal baik dirimu Dha, atau kau ada rencana berubah sikap setelah jadian sama Bang Farhan ?”.


Faridha agak mendelik. “Berubah apanya ?”.


Taufiq menggeleng. “Jangan pernah berubah Dha, tetaplah menjadi gadis manis yang rendah hati, penolong, perhatian dan bicara dengan mengandalkan kesopanan, tidak gampang marah dan suka mengingatkan kekhilafan


teman, okey ?”.


Faridha menggeleng. “Masa aku sebaik itu Fiq ?, nambah nambahin saja kau”.


Taufiq tertawa cukup keras. “Itulah dirimu Dha, teman terbaikku, saudaraku. Tetaplah seperti itu, bahagia bersama sepupuku”.


Faridha hanya menggeleng dan tak punya jawaban apapun. Selama ini, yang Faridha tahu adalah bagaimana mengambil keputusan, almarhumah ibunya selalu mengatakan kalau ada terjadi sesuatu, apapun itu, langkah pertama yang harus kita cari adalah apa salah kita sehingga itu terjadi.


Itulah prinsip hidup Faridha hingga kini, Faridha lebih memilih mencari delik salah dari dirinya dan mencoba mencari pembenaran sikap orang lain padanya. Walaupun itu terkadang membuat Faridha malah dipojokkan, tapi Faridha tak pernah merasa itu salah, Faridha hanya mencoba berdiri dengan prinsipnya, terserah apa kata orang.


Faridha sekarang jadi teringat waktu masih SMP, ia pernah dijebak oleh teman temannya hingga harus rela menerima hukuman, Taufiq berdiri dan meminta ikut menjadi terhukum, saat sama sama menghormat bendera di lapangan, Taufiq berbisik pada Faridha, Tuhan tahu apa yang mereka perbuat, kita tunggu apa yang terjadi berikutnya, sabarmu akan menuntunmu jauh lebih baik.


Faridha kembali melirik Taufiq. Benar, Taufiq adalah teman terbaiknya, teman yang selalu siap membelanya, walau Faridha tak tahu Taufiq anak siapa, tapi semua tahu kalau Taufiq anak orang kaya, satu satunya anak orang kaya yang tidak punya geng di sekolahnya.


Cerita kini mengembang ke kelurga besar kakek mereka, Ayah Taufiq kakak beradik ada lima orang, Ibu Farhan anak nomor dua dan menjadi anak perempuan satu satunya dalam keluarga itu, karena yang lain semuanya laki laki, tapi justru ia yang tinggalnya paling jauh dari saudaranya yang lain.


Anak pertama yang keluarga Farhan memanggilnya Tulang Besar tinggal di Kota Padangsidimpuan, yang nomor dua Ibu Farhan, yang ketiga mereka panggil Tulang Sibolga, karena tinggal di Sibolga, yang keempat ayah Taufiq dan yang kelima, mereka panggil Tulang Kecil, tinggal di rumah peninggalan kakek mereka.


Dari semua mereka, satu satunya yang sudah berhasil dan sudah bekerja tanpa campur tangan ayah dan ibu Farhan hanya istri Tulang Kecil, namanya Rodiah. PNS di Kantor Walikota Padangsidimpuan, ia sudah begitu sebelum menikah dengan Tulang Kecil, asli dari Rao, Pasaman Barat, Sumbar.


“Turun bentar dong Fiq, masuk dulu”. Kata Faridha saat mereka sudah sampai di depan rumah Faridha.


“Okey, sebentar”.


Taufiq ikut turun dan ikut melangkah menuju rumah Faridha, dipintu Husain sudah menyambut. Baru selangkah masuk, Faridha teringat janjinya dengan adiknya soal cerita rakyat, Faridha sedikit kecut. Tapi langsung lega saat melihat Irham sedang serius menyadur buku, itu sudah ada cerita rakyatnya.


Taufiq melangkah enteng saja, ini bukan kunjungan pertama Taufiq ke rumah ini, bahkan waktu SMP ia sudah berulang kali kemari, Husain juga sudah kenal betul dengan Taufiq, bahkan adik Faridha Irham dan Hasan juga sama, keduanya sudah mengenal Taufiq sejak lama.


“Ngapain Ham ?”.


Irham angkat kepala, tersenyum. “Bang Taufiq, lagi nyadur buku Bang”.


Irham ikut tersenyum lebar. “Lanjut”.


Irham hanya balas senyum dengan tipis saja dan meneruskan pekerjaannya, Taufiq akhirnya pilih berdiri dan permisi pulang, Husain yang antar Taufiq hingga ke pagar rumah, Faridha masih dikamar ganti baju, saat Faridha keluar, Taufiq sudah melaju meninggalkan halaman rumah Faridha.

__ADS_1


Sepanjang jalan Taufiq penuh dengan senyuman, ia senang sekali sekarang, senang sepupunya Farhan berhasil dengan cepat dekat dengan Faridha, wanita yang selama ini sangat dikaguminya, wanita yang selama ini sudah banyak mencuri pikirannya, Taufiq tak mungkin mendekati Faridha dalam hal untuk memiliki, ada rasa risih karena marga mereka yang sama, Taufiq anggap semua orang yang semarga dengannya adalah saudara, punya aliran darah yang sama.


…. Bersambung …


__ADS_2