
Sehari menjelang akad nikah Mutia dan Reni, teman teman dekat Agung yang juga teman teman Haris semuanya hadir, lengkap lengkip kali ini, semua sama terkesan dengan berita yang di sampaikan Agung kalau dua putrinya akan menikah sekaligus di hari yang sama, semua teman teman dekat Agung ramai ramai datang di waktu yang hampir bersamaan.
Yang pertama muncul adalah Lufti dan Widya, tapi langkah mereka sama dengan Firman dan Rasti. Ada juga Raihan dan Naufal yang datang tanpa istri, Taufiq dari Bandar Lampung juga muncul. Tidak hanya itu, bahkan Hilman dengan istri bulenya terbang dari Singapura hanya untuk menghadiri hajatan Agung, kedatangan semua hanya berjarak detik dari yang satu ke yang lainnya.
Yang penuh gembira tidak hanya Agung dan Haris saja, Risda bahkan tampak sangat riang, ia berhamburan menyambut semuanya, bahkan Risda lupa kalau masih pakai baju tidur dan tanpa jilbab. Risda menyalami dan memeluk semuanya, Risda memang dekat dengan semua teman dekat ayahnya.
Dulu saat mereka aktif melakukan reuni, Natalia selalu ikut dan membawa Risda, tentu tak ada yang keberatan dengan keberadaan Natalia walau mereka tidak satu angkatan, tapi hubungannya dengan Haris membuat semua bahkan bertanya tanya jika Natalia datang terlambat, apalagi tidak datang.
Hanya saat mereka reuni di Singapura Natalia tak bisa ikut karena ada halangan yang tak bisa Natalia elakkan. Tapi nama Risda ada dalam daftar list rombongan Lufti, tanpa ibunya, Natalia tetap ikut terbang ke Singapura bersama Lufti dan Widya.
Risda begitu riuh, semua juga sama riuhnya menyambut pelukan Risda, Tiffany istri Hilman menciumi Risda entah sudah berapa kali, yang paling lama tak jumpa Risda memang istri bule Hilman ini, terakhir mereka ketemu waktu Risda masih SMA, tentu sudah sangat lama.
Tapi menjadi sedikit berubah saat berhadapan dengan Rasti, begitu Rasti memeluk Risda dan Risda membenamkan wajahnya di dada Rasti, senyum keduanya langsung pupus, Rasti tak mampu menghambat air matanya yang turun deras, sedang Risda sudah sesunggukan dalam pelukan Rasti.
Firman yang melihat ini langsung memalingkan wajahnya, ia tahu apa dan siapa Risda bagi Rasti, Firman juga paham bagaimana posisi Rasti bagi Risda, sudah hampir tiga tahun keduanya tak bertemu, terakhir saat akad nikah Risda dan Asrul, tentu membuat keduanya sama sama tak akan mampu menahan haru.
Risda begitu penting bagi Rasti, sejak Risda SD hingga SMP, Rasti lah yang selalu hadir di sekolah untuk mengambil raport Risda, karena Natalia saat itu juga wali kelas yang punya kewajiban membagikan raport siswanya. Rasti tak mau Risda merasa sendirian, sehingga Rasti akan meninggalkan apapun kesibukannya untuk menemani dan mendampingi Risda.
Rasti melahirkan putri pertamanya Niswah saat Risda duduk di kelas IV SD, itulah satu satunya kesempatan yang harus Rasti lewatkan, saat itu peran Rasti diambil alih oleh Widya, itupun karena kebetulan Widya wali kelas XII, sehingga pembagian raport tak ada lagi.
Minimal sekali sebulan Firman dan Rasti datang ke tempat Natalia, sekaligus tentunya ke rumah adiknya Widya yang bertetangga dengan Natalia, atau kadang sebaliknya, Lufti, Widya, Natalia dan Risda yang datang ke tempat Firman, itu terus berlangsung hingga Risda selesai SMA.
Saat Risda masuk kampus, Firman dan Rasti memutuskan pindah ke Indramayu. Walau sebenarnya masih bisa di tempuh dalam waktu tak sampai empat jam, tapi ada banyak hal yang membuat mereka menjadi jarang ketemu, tingkat kesibukan yang makin meningkat dan banyak alasan lainnya.
Rasti kembali memeluk Risda setelah menyeka air mata Risda dengan kedua jempolnya, Rasti
memaksakan senyum manisnya, Risda hanya menggeleng dan kembali memeluk Rasti erat, Rasti terus menerus mengelus punggung Risda, sekuat tenaga Rasti menahan air matanya agar tidak turun lagi.
Rasti menarik Risda menjauh, Risda memilih membawa Rasti ke kamar mereka, disana keduanya langsung terlibat oborolan panjang, Rasti sangat senang dan terlihat begitu bahagia setelah mengetahui Risda dalam keadaan berbadan dua. Satu hal yang tentu saja akan melahirkan banyak kebahagiaan baru kedepannya.
Jadilah rumah kediaman Agung seperti arena reuni, semuanya nyaris tak terkendali, setiap waktu ada keributan, perdebatan, walau pada akhirnya di tutup dengan tawa yang lumayan panjang. Teras rumah Agung menjadi venue reuni, karena ruang tengah sedang di permak untuk kebutuhan acara akad nikah besok.
Gelak tawa terus siling berganti, Meeta, Tiffani, Natalia, Widya dan Istri Taufiq Muliani sudah sejak tadi menekan perut mereka yang menegang menahan tawa, suasana tambah lucu kalau Tiffani yang komentar, memang Tiffani menggunakan Bahasa Indonesia, tapi dengan logat barat yang sangat kental, ini malah yang paling membuat Widya dan Muliani makin tak kuat menahan tawanya.
Semua hanya melirik saja saat Rasti, Risda dan Niswah keluar, naik mobil dan menghilang. Firman hanya angkat bahu, ia tahu siapa Rasti, si tukang belanja, apalagi ada Risda, Niswah juga tak akan pernah bosan merayu ibunya untuk sekedar beli makan kecil, itu sudah pandangan keseharian Firman, ia tak heran dengan itu.
"Main pergi aja nih si Kakak". Sungut Widya. "Padahal kan ..".
"Mau ikut". Sambung Lufti cepat.
Semuanya sama tertawa, Firman juga paham tentunya siapa adiknya, Widya adalah adik satu satunya, tentu Firman tahu kalau sekarang Widya sangat kecewa tidak di ajak oleh kakak iparnya. Tapi Meeta punya cara, ia menghubungi menantunya, tahu arah mereka kemana, semua perempuan, termasuk Tiffani, sama sama setengah berlari menuju mobil Meeta dan menghilang menyusul Rasti.
Kini yang laki laki sama sama geleng kepala, sama sama tepuk jidat dan sama sama tertawa. Semua sama menggeleng, para wanita ini terbang begitu saja, tak ada satu orangpun yang ingat anaknya, mending tadi Rasti bawa Risda dan Niswah, sedang yang lain ngilang begitu saja, untung anak anaknya juga sedang asyik ngobrol dengan Farhan dan Tomy yang laki laki, sedang yang perempuan bersama Ariana.
"Kita memang sudah sama sama tua ya". Raihan mendesah.
Naufal langsung menepuk paha Raihan. "Pak Wagub gimana sih, ya tua dong, masa kita muda terus, lihat Senior Manager ini, rambutnya sudah hampir tak ada hitamnya, sudah masak semua, tinggal petik".
Semua kembali sama sama tertawa. Haris mengelus jenggotnya. "Ini jenggot juga sudah ubanan Fal, cuma Agung yang kayaknya masih minim putihnya".
Agung tertawa juga. "Gua mah beda ama elu semua. Yang gua pikiran cuma gua ama anak istri doang. Elu pada, mikirnya banyak, ada yang mikiran kebonnya, mikiran pelabuhan, mikiran uang orang, ini lagi". Tunjuk Raihan dan Naufal. "Puyeng mikiran rakyatnya, kalau gua kayak elu pada, bisa botak gua".
Naufal sudah cekikikan. "Tapi iya Bro, serius. Gua tuh enjoy saat barengan ama elu semua, semua lepas, gua ngerasa nggak ada beban. Di kantor, di rumah, semua sama Bro, dari tamu ke tamu, rapat ke rapat, emang puyeng sih".
Raihan angguk kepala. "Itu gua setuju, puyeng memang, sedang gua yang cuma wakil sudah tak punya jam rehat, konon Naufal yang langsung yang nomor satu, emang nggak bisa gerak kita".
Agung angkat bahu. "Kita memang sudah tua, itu faktanya, dari kita semua sudah rata rata punya cucu, gua sama Haris juga tinggal nunggu nih, tahun depan kita bakal punya cucu juga. Anak anak kita sudah besar semua, anak gua paling kecil tuh Ariana, sekarang sudah mau SMA".
Haris sangat terkejut, karena ia memang belum dengar kalau putrinya hamil, Haris senyum dan meredam kuat debaran jantungnya, hati Haris jadi begitu berbunga bunga, kini malah kesal, mengapa tidak diberi tahu sebelumnya, sehingga Haris tak bawa hadiah untuk sang putri tercinta.
__ADS_1
Hilman mencolek Haris. "Nah, bakal punya cucu ente. Kalau aku masih lama lah, anakku yang paling besar baru selesai kuliah langsung S2, dianya cita citanya panjang, katanya nggak mau nikah sebelum selesai S3. Bayangin saja, mau berapa tahun lagi itu".
"Adek adeknya ?. Anak elu kan nggak cuma Gyan Man". Sambut Taufiq.
"Adek adeknya ada yang lebih parah malah, Giovanni malah bilang ke ibunya malas nikah, mau sendiri aja ampe tua, kalau mau anak, katanya tinggal adopsi, apa nggak puyeng aku nya".
"Lu sih,ngapaian coba kawin ama bule, jadi orang barat kan anak lu".
Hilmanmenggeleng. "Namanya jodoh mau gimana, aku juga nggak nyangka Pya mau waktu aku ajak nikah, eh mau dia, ya udah, sambar langsung".
"Dulu nikah dimana Lu Man ?". Firman yang nanya.
"Aku dan Tiffani itu nikahnya di Masjid Janverpaa, itu masjid tertua di Finlandia,dibangun oleh muslim tatar".
Kening Raihanberkerut panjang. "Tiffani Muslim sebelumnya Man ?".
Hilmantertawa. "Kau pikir apa memang Han ?".
Raihanmenggeleng. "Gua pikir istri lu itu lu bawa muallaf gitu".
Hilmanmenggeleng. "Itu mungkin karena kau nggak tahu nama lengkapnya Han,Tiffani itu lengkapnya Aisyah Kepya Tiffani. Dia itu keturunan dari Muslim Tatar. Kalau dari sejarahnya, itu mereka dulu tentara Rusia yang ditempatkan diFinlandia, saat Finlandia merdeka, mereka enggan pulang, berbaur disana,termasuk keluarga kakek istri, begitu Han".
Raihan danyang lain sama anggukkan kepala. Berarti selama ini mereka memang salah tebak,semua menyangka kalau istri Hilman baru mengenal Islam setelah menikah denganHiman, ternyata dugaan itu salah, pantas saja Hilman memanggil istrinya dengan sebuat Pya, ternyata itu dari nama tengah istrinya, Kepya.
"Taunggak nama mertua ku Han, keren".
"Emang siapa namanya Man ?".
Hilman tertawa kecil. "Nama ayah mertuaku itu Rushem Zinnurov, Ibu Mertua namanya Fatima Stantrukova".
"Rusia gitu ya Man ?".
“Berarti pirang juga dong istri lu Man ?”.
Hilman menatap Naufal sesaat, menggeleng. “Pirang sih iya, tapi nggak pirang pirang amat lah, nggak se pirang Paula dianya”.
Semua jadi menatap Hilman. “Paula ?”.
Naufal mencolek Hilman. “Lu masih ingat juga ama Paula”. Naufal jadi terkekeh. “Belum lupa lu ya”.
Hilman ikut terkekeh. “Itu pengalaman bagus bro, aku sulit lupa”.
“Paula yang mana nih ?”. Agung pura pura bloon.
Firman mendelik. “Lupa lu ama Paula ?, yang bener lu ?”.
Agung pura pura mengingat, anggukkan kepala. “Bule Monas itu ya”.
Firman tepuk tangan sekali. “Nah, lu ingat. Nggak kebayang kalo lu lupa”.
Agung angguk angguk kepala. “Iya, iya, tuh bule yang di godain Haris kan ?”.
Naufal mendelik. “Apa lu bilang ?”.
Agung angkat bahu. “Lha, itu kan, Paula, bule yang ketemu di Monas, baru di godain sama Haris, yang itu kan ?, gua ingat kalo itu”.
Haris hanya menggeleng dan tertawa kecil. Naufal berdiri sambil kacak pinggang. “Pala lu ingat”. Nunjuk Agung sekarang. “Yang digoda Haris, mutarin fakta lu, di goda iya, tapi yang goda bukan Haris, tapi elu .. lu”. Naufal bahkan seperti berjingkrak di depan Agung.
Agung sudah menunduk menahan tawa, yang lain sudah ngakak tak karuan, yang paling lucu itu gayanya Naufal, wibawa dan kharismanya sebagai seorang Bupati sudah tak ada. Ini sudah seperti kondisi saat mereka masih kuliah dulu, kalau sudah ngumpul di kantin, pasti ada keributan, canda dan tawa mereka akan benar benar pecah.
__ADS_1
Rayhan sudah sampai batuk batuk, Agung memang enak saja nuding Haris, padahal pelaku utamanya waktu itu Agung sendiri, sekarang ngaku ingat tapi nuduh Haris yang punya kerjaan, tentu Naufal ngamuk, ini yang menjadikan obrolan mereka menjadi sedemikian lucu.
Asrul, Farhan dan anak anak muda yang lain sampai sampai ikut menoleh, tapi semuanya hanya geleng kepala, yang mereka lihat dan dengar hanya ayah ayah mereka yang ngakak habis tanpa tahu sedang membicarakan topik apa.
“Eh, Gung. Adikmu kok nggak kelihatan, nggak datang dia ?”.
Agung mengerutkan keningnya. “Adik ?, maksud lu adik mana ?”.
Kening Hilman berkerut dalam. “Adik lu, itu yang nikahnya sama dokter klinik kampus, itu, iya, dokter Selly”.
“Maksud lu adik angkat ?, Dimas maksud lu ?”. Lufti yang bicara.
Hilman acungkan jempol. “Iya, iya, itu yang ku maksud”.
Agung menggeleng. “Gua itu anak tunggal Man, adik kandung gua nggak punya”.
“Jadi ?”. Hilman masih bingung. “Dimas siapa ?”.
Agung kembali menggeleng. “Dia di bawa kakek Asrul kemari, di sekolahin, kayaknya nggak pernah tuh kakek Asrul bilang itu anak angkatnya, tapi Dimas ngaku iya, gua sih fine fine saja, terserah dia, nggak masalah”.
Haris yang sekarang cukup terkejut, yang ia tahu selama ini Dimas adalah adik bungsu Agung, anak ketiga dari ayah Agung, baru tahu kalau ternyata ceritanya tidak seperti itu, seingat Haris, Asrul juga dengan mudah mengatakan kalau Dimas adalah pamannya, seperti nggak canggung atau apa begitu.
“Awalnya gua nggak masalah sama sekali, tapi saat dia menikah, dia menipu kita, dia mengatakan keluarganya tidak bisa hadir karena ada halangan, gua telephon abang kandungnya, ternyata Dimas tak menyampaikan apapun ke keluarganya, gua marah dong, itu pertama kali kami adu mulut”. Jelas Agung.
“Lantas ?”. Hilman semakin penasaran.
“Persoalan parah saat kakek Asrul meninggal, Dimas mengklaim beberapa asset, gua nanya dasarnya apa, ternyata Dimas memang sudah pegang suratnya, gua adem saja, tapi kemudian ketahuan kalau dia dapat surat itu dengan jalan nyuri, ada CCTV di ruangan kakek Asrul yang menangkapnya”.
“Aih, jadi gimana dong ?”. Masih Hilman.
“Gua ajak ribut, dia nantang. Kalau Meeta nggak menangis minta gua berhenti, gua sudah di puncak emosi. Mungkin sadar dia, Selly yang datang mengembalikan semuanya, kemudian yang gua tahu, mereka ke Inggris. Kebetulan Dimas memang dapat beasiswa di sana, sampai sekarang mereka tinggal disana”. Jelas Agung.
Haris yang anggukannya paling banyak. “Dinda gimana Gung ?”.
Agung anggukkan kepala. “Kalau Dinda memang adik angkat gua Ris. Kalaupun kakeknya Asrul nggak pernah bilang kalau Dinda anak angkatnya, gua tetap anggap Dinda itu adik gua. Dia sayang anak anak gua, dia hormat ke istri gua, suami istri mereka sama, semua keputusan yang ingin mereka ambil, selalu ada kalimat, tanya dulu ke kakak Meeta”.
Haris masih mengerutkan keningnya. “Tapi Selly kan sepupu kamu Gung”.
Agung malah tertawa kecil. “Sepupu Dimas iya”.
“Maksudnya ?”.
Haris masih belum paham sepenuhnya, karena yang ia tahu selain Dimas adalah adiknya, yang menjadi istri Dimas, Selly, juga sepupuan dengan Agung. Selama ini itu yang Haris tahu.
“Dimas ngaku adik gua, Selly sepupunya Dimas, kan dianggap jadi sepupu gua juga, iya kan ?. Gua nggak masalah Ris. Anak anak juga panggil Dimas Paman dan panggil Selly Bibi, nggak masalah di gua, Dimas nya saja yang kebablasan, berani main klaim, kakek Asrul meninggal, dia takut miskin lagi”.
“Iya sih. Tapi kau nggak usah emosi gitu, nggak seram”. Hilman ngomong enak saja.
Agung jadi tertawa. “Sialan lu, orang serius”.
Semuanya menjadi kembali sama sama tertawa, cerita beranjak dari topik yang satu ke topik yang lain, sekarang membahas teman teman mereka yang kurang sukses, ada yang sampai kini masih guru honor, ada yang berhenti jadi guru dan memilih jualan di pasar dan lain sebagainya, sampai kepada upaya untuk melakukan bantuan.
Dalam hal ini, Agung dan Naufal berada di posisi teratas, Agung sudah mendirikan lima SPBU hanya untuk membuat temannya punya kehidupan yang lebih baik, Naufal juga banyak mengeluarkan bantuan modal, sehingga beberapa teman mereka beranjak membaik, dalam hal ini Naufal tidak pilih pilih teman, tidak hanya mereka yang dulu satu ruangan di kampus, yang sekedar kenal dan teman SMA juga sama sama mendapat perhatian Naufal.
Saat ada dua mobil yang masuk halaman, semua sama memandang kearah yang sama, dan semua sama sama mendelik, ada puluhan plastik dari yang kecil hingga yang besar ikut keluar, tak hanya itu, dua bagasi juga penuh dengan bungkusan, para lelaki geleng kepala dan berdecak, tak bisa membayangkan bagaimana menghabiskan semua itu, jangan jangan seisi satu toko diangkut semua.
Waktu cepat berlalu, usai shalat Isya di mushalla samping rumah Agung yang di imani Tomy semua lanjut makan malam dengan seribu kehebohan, yang heboh bukan cuma anak anaknya saja, tapi juga ayah dan ibunya sama saja hebohnya, Mutia dan Reni sudah tak tahu bagaimana cara menghentikan tawa mereka, Mutia sudah lemas memeluk Rista, Reni juga sudah terengah engah letih tertawa.
Tapi sepertinya kegiatan penuh tawa ini belum akan usai, para ayah ini masih punya banyak kamus untuk disampaikan, sesekali para ibu juga ikut menyahut, yang paling banyak berani memberikan sahutan adalah Widya, sedang yang lain memilih hanya menjadi pendengar biasa saja.
__ADS_1
…. Bersambung …