Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Pak Nas Tampan Yang Dermawan


__ADS_3

Acara sudah usai, para orang tua murid juga sudah banyak yang pulang dengan membawa anak masing masing. Ini acara yang kesekian kalinya di adakan di lapangan terbuka, tampaknya warga suka dengan kegiatan semacam ini.


Akan tetapi, ini acara kali pertama lomba dengan tema betul betul budaya daerah, selama ini kegiatan selalu bertema nasional, untuk kali ini, Pak Nas yang mewakili perusahaan sponsor menyarankan kegiatan yang lebih tradisonal.


“Pak Nas itu baik ya, dermawan, tampan lagi”. Risda bergumam.


Asrul langsung menoleh. “Apaan ?”.


Risda mendelik. “Emang tadi nggak dengar ?”.


Asrul menggeleng. “Nggak. Apaan ?”.


“Cuma mau bilang, Pak Nas itu tampan. Itu saja”.


Asrul memonyongkan mulutnya. “Tampan apaan ?”.


Risda menatap Asrul lekat, ada hal aneh yang menurut Risda tiba tiba mencuat dalam diri Asrul, sejak kemarin, Asrul tampaknya selalu mencari cara agar Risda tak begitu dekat dengan Pak Nas, entah kenapa.


“Ngapain bilang bilang Pak Nas tampan segala”.


Risda kembali mendelik. “Emang iya kan ?”.


“Iya kan .. Iya kan .. Iya kan apaan ?”.


Risda tertawa cekikikan. “Emang Pak Nas tampan kan ?”.


Asrul melotot dan geleng kepala. “Udah tua dia”.


Risda masih terus tertawa. “Tapi masih tetap, Pak Nas memang tampan, juga dermawan”.


Asrul angkat bahu. “Suka suka lo Ris”.


Risda tertawa sangat puas melihat Asrul yang kesal, lagi pula ngapain juga Asrul pake cemburu dibanding ke orang tua seperti Pak Nas, rambutnya saja sudah banyak yang putih, lagi pula Risda memandangnya seperti orang tua, tak lebih.


“Rul .. Rul…”. Risda mencolek bahu Asrul.


Asrul menoleh. “Apa lagi ?”.


Risda tertawa lagi. “Sebenarnya lu kenapa sih Rul, ngapain juga masang muka sewot gitu, heran saya”.


“Terserah”. Asrul masih manyun.


Risda mencolek lagi. “Lu jatuh cinta ama gua ya Rul ?”. Risda setengah berbisik.


Asrul mendelik. “Apa ?. Serius lu ?”.


Risda gantian mendelik. “Apaan ?”.


“Serius, elo jatuh cinta ama gua ?”.


“Apaan ?”.


Asrul tampak sumringah.”Jadi beneran nih, lu jatuh cinta ama gua ?”.


Risda langsung mencubit pipi Asrul sekuat tenaga. “Sialan lu, malah mutar balik fakta”.


Asrul meringis menghusap pipinya, untung yang dicubit banyak, coba kalau nyubitnya hanya sedikit, bisa merah darah pipi Asrul jadinya. Tapi Asrul tampak senyum, sepertinya strateginya berhasil.


Asrul membiarkan saja Risda melangkah pergi, Asrul tertawa dalam hati, Asrul tahu pertanyaan Risda, tapi Asrul sengaja membalikkannya. Asrul berhasil, kalau Risda seperti itu, langsung pergi, itu tandanya kesalnya sudah tingkat tinggi.


Sejujurnya, hampir setahun tinggal di desa terpencil ini, Asrul menemukan banyak hal baru dalam diri Risda, tidak hanya sebatas cerdas, pintar, bertanggung jawab, tapi Risda seorang wanita yang mandiri, paket komplit untuk dijadikan istri, akan sangat jarang bisa di temui.

__ADS_1


Tapi Asrul mana berani mengutarannya ke Risda, bisa kena sate dianya, sehingga Asrul lebih memilih memendam rasa, lagi pula saat ini Asrul masih punya hubungan spesial dengan Wiwik, walau sejak ditempatkan di daerah pedalaman ini, komunikasi mereka putus total.


Bahkan sudah tiga kali Asrul ke kecamatan, Asrul hanya bertemu mitra Wiwik, sedangkan Wiwiknya sama sekali tidak muncul, Wiwik tetap tak pernah ikut jalan ke kecamatan walau dia tahu Asrul pasti ada disana.


Soal Pak Nas, mana mungkin Asrul pake acara cemburu segala, Asrul paham Pak Nas memandang Risda seperti putrinya, sama dengan bagaimana ia memperlakukan Asrul seperti anaknya.


Lagi pula, Asrul sudah mulai tahu posisi Pak Nas bagi Risda, tapi Asrul memang tak berniat mencoba menanyakannya, karena baru sebatas perkiraan saja, saat Asrul komunikasi dengan ayahnya waktu di kecamatan minggu lalu, ada info soal itu.


Walau tak pasti Ayah Asrul merasa kenal dengan Pak Nas, dan Ayah Asrul mengaku jika Pak Nas memiliki hubungan kuat dengan Risda, masalahnya ayah Asrul tak sempat cerita bagaimana hubungannya, telephon terputus.


Sudah lama Asrul ingin menanyakannya, tapi selalu lupa saat bersua Pak Nas. Tapi, kali ini tampaknya Asrul punya kesempatan, Asrul memang sengaja membuat Risda kesal agar menjauh, bila perlu, pulang sekalian, sehingga Asrul bisa mendekati Pak Nas.


“Pak Nas “.


Haris angkat kepala. “Eh, Asrul, duduk. Risda mana ?”.


Asrul duduk dan geleng kepala. “Kurang tahu Pak Nas, mungkin sudah balik”.


“Sudah balik ?, kok nggak sama ?”.


Asrul senyum saja. “Beda Pak”.


“Beda ?”.


Asrul mengangguk. “Kita tinggal di kampung yang beda Pak. Kalau dari sini, arahnya berlawanan malah”.


Kemudian Asrul menceritakan kenapa ia harus memilih tinggal di tempat yang sekarang, bukan bersama Risda di kampung sebelah. Haris angguk angguk kepala, rasanya alasan Asrul sangat tepat dan diterima akal sehat.


“Sebenarnya saya mau bertanya banyak hal Pak Nas, itupun kalau Bapak punya waktu”. Asrul tampak ragu ragu.


Haris tersenyum simpul. “Semua waktu ada disini. Silahkan”.


Asrul tersenyum panjang jadinya. “Terima Kasih kalau begitu Pak Nas”.


“Apa yang ingin Asrul tanyakan sebenarnya”. Haris tampak serius.


Asrul tersenyum lagi. “Pak Nas pernah dengan nama Agung Putra ?”.


Haris langsung merobah cara duduknya dan menatap Asrul lekat. “Agung Putra Andika ?”.


Asrul sampai tepuk tangan sekali. “Yes, itu dia”.


Haris anggukkan kepala. “Kenapa Agung ?”.


“Saya anaknya”.


Haris sampai melongo, lama Haris menatap Asrul lekat, seperti percaya tidak percaya, Haris mendengar nama Agung di desa pedalaman ini. Tapi kemudian Haris tertawa lebar, pindah duduk ke samping Asrul dan memeluk bahu Asrul sambil menggoyang goyang tubuh Asrul.


“Betul betul .. kau mirip nenekmu”.


“Pak Nas tahu ?”.


Haris angkat bahu, tak ada keraguan dalam hal itu. “Ya, kau memang mirip dengan nenekmu”.


Asrul tersenyum lebar dan bertambah yakin jika memang ini Haris yang di kenal ayahnya, Haris bahkan tahu jika Asrul mirip neneknya, jelas tidak salah lagi, Haris yang dikenalnya dengan sebutan Pak Nas benar benar mengenal ayahnya, ini berarti dugaan ayahnya benar.


“Agung ayahmu itu, satu kampus dengan Bapak, tapi kami beda jurusan. Cuma karena sama satu organisasi, kami sering ketemu, bahkan kami pernah bersaing jadi presiden mahasiwa, sama sama jadi kandidat”.


Asrul makin angguk angguk kepala. Semuanya semakin jelas, dugaan ayahnya sama sekali tak salah, tepat semuanya, cerita Pak Nas hari ini, sama dengan cerita ayahnya di telephon minggu lalu, tak ada yang berbeda, kini dada Asrul jadi berdebar, terutama soal Risda.


“Kau anak pertama Rul ?”.

__ADS_1


Asrul anggukkan kepala. “Iya Pak, saya anak paling besar”.


“Pertama ketemu, sebetulnya Bapak sudah merasa kenal, wajahmu cukup mirip dengan nenekmu, kau aneh juga Rul, laki laki biasanya mirip kakeknya, tapi kau malah mirip nenekmu”. Haris tertawa cukup lebar.


Asrul juga tertawa. “Waktu kecil saya pernah di kira cewek Pak”.


Haris dan Asrul sama tertawa. Haris mengengal nenek Asrul, ibu temannya Agung karena menjadi bendahara komite di sekolah tempatnya mengajar dulu, adik bungsu Agung sekolah disana, bahkan Agung juga alumni SMP itu.


Nenek Asrul yang duluan menegur dan mengatakan kalau dia ibunya Agung, tentu sejak itu Haris semakin dekat dengan neneknya Asrul, bahkan akhirnya Haris sering bertandang kerumah Agung jika hari libur.


“Sekarang ayahmu tinggal dimana ?”.


“Persis di samping rumah nenek”.


Haris tampak mencoba mengingat. “Yang sempat ada lapangan volly itu ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Iya Pak. Ayah bangun rumah disitu”.


“Yang tinggal dirumah nenek ?”.


Asrul menggeleng. “Rumah nenek sudah dirobah jadi musholla”.


Haris tampak terkejut dan tampaknya senang, melihat senyumnya yang makin mengembang. “Sejak kapan ?”.


“Saya masih kecil waktu itu Pak. Tapi seingat saya, ayah sudah meminta Paman Dimas mengerjakannya 40 hari setelah nenek meninggal, itu memang permintaan nenek sebelum berpulang”.


“Pamanmu Dimas… Dimas”. Haris seperti berpikir. “Itu yang nomor 3 ya, yang beasiswa di Inggris itu kan ?”.


Asrul mengangguk. “Iya Pak, sekarang juga masih tinggal di sana dia”.


“Tinggal di Inggris dia ?”.


Asrul mengangguk. “Paman dosen disana. Tapi tiap tahun pulang juga, Bibi orang Jakarta, mungkin Pak Nas kenal juga”.


Kening Haris berkerut. “Oh ya … siapa ?”.


“Dokter Selly”.


Haris mengangguk. “Dokter Selly yang sepupuan sama ayahmu kan ?, yang kerja di klinik kampus”.


Asrul anggukkan kepala. “Betul Pak”.


Tawa Haris semakin lebar, tapi tiba tiba Haris agak terdiam. Ada rasa panik juga, apakah Asrul tahu tentang Risda ?, ini pertanyaan sekarang, tapi Haris sepertinya ragu untuk mempertanyakannya, ada rasa malu juga.


Tapi, apapun itu, Haris harus memastikan agar Asrul tidak malah bercerita pada Risda, karena Haris tak mau Risda mengetahuinya secepat itu, harus sesuai dengan harapan banyak temannya, Risda sebaiknya tahu saat sudah kembali ke Jakarta.


“Rul, apa .. ayahmu juga cerita, tentang Risda”. Haris bahkan bicara setengah berbisik, dan sangat ragu.


Asrul anggukkan kepala, ini membuat Haris jadi keringat dingin. Berulang kali Haris membuang nafas berat, berharap belum sejauh yang ia duga. Haris terus menatap wajah Asrul lekat, yang dipandangi terus memasang senyum lebar.


“Kau pernah cerita .. ke Risda ?”.


Asrul geleng kepala. “Saya baru pastikan cerita itu hari ini Pak Nas, sebelumnya saya juga tidak tahu, saya baru bicara dengan Ayah minggu lalu”.


Haris menghela nafas panjang. “Bapak masih belum mau bercerita apapun pada Risda, Bapak takut dia syok, sebaiknya dia tahu semuanya tentang Bapak dari ibunya, artinya, saat kalian nanti kembali ke Jakarta”.


Asrul anggukkan kepala. “Siap Pak Nas”.


Haris kembali hela nafas panjang. “Asrul mau berjanji untuk Bapak kan ?”.


Asrul kembali anggukkan kepala. “Siap Pak Nas, saya tidak akan mengatakan apapun pada Risda”.

__ADS_1


Haris tampak lega, Asrul yang menjadi merasa kasihan, terutama pada Risda, saat ayahnya cerita saja minggu kemarin, kepala Asrul malah mau pecah mendengarnya, ia tak menyangka Risda memiliki cerita hidup seperti itu, selama ini Asrul menyangka jika Risda anak yatim.


… Bersambung …


__ADS_2