
Haris memilih pulang, Haris memilih jalan kaki aja. Entah kenapa Haris pengen jalan sebentar kegerbang lain lewat Ahmad Yani By Pass, Haris melangkah perlahan hingga sampai didepan rumah, dengar suara adzan, Haris belokkan langkahnya menuju masjid, Haris batal membuka pintu pagar rumahnya, pagar itu kembali Haris tutup dan melangkah menuju masjid dan Sholat Ashar berjamaah.
Begitu selesai sholat Haris langsung keluar hendak menuju pulang, saat duduk diteras hendak masang sepatu, mata Haris terbentur pada Papan Nama Laki paruh baya yang ada disampingnya, juga sedang masang sepatu, jelas terbaca oleh Haris W. Saruksuk. Melihat ini Haris langsung ulurkan tangan.
“ Horas Amang Tua[1]”
Laki paruh baya itu menerima jabat tangan Haris. “Horas Amang “.
“ Pulungan do Au Amang Tua[2]“.
Orang tua ini tertegun, tangan kanannya langsung memeluk bahu Haris dan mencium ubun ubun Haris. Terasa benar ada haru dalam dada orang tua itu. Senyumnya terus mengambang. Hingga mereka sama berdiri dan melangkah meninggalkan masjid, menuju Kedai Kopi yang ada di seberang Masjid.
“ Sudah sulit menemukan Pemuda seperti kamu, siapa yang ajari kamu tentang hal tarombo[3]”.
“ Ayah Amang Tua “.
“ Ayah kamu, baguslah. Seorang ayah memang mestinya begitu, memberikan ilmu tutur sapa itu pada anak-anaknya “.
“ Alhamdulillah Amang Tua, ayah beri tahu semua waktu Haris masih duduk di kelas II SMP, pertama Haris juga ngga’ tahu apa gunanya, tapi disini baru Haris tahu ternyata itu besar maknanya “.
“ Itu banyak artinya Amang. Ibu kamu boru apa ?”.
“ Boru Jawa Amang Tua “.
Ada senyum yang banyak disana. Hampir setengah jam baru mereka berpisah, Haris punya orang tua baru, itulah indahnya jadi orang Batak, hubungan marga menjadi hubungan darah yang begitu lengket, orang tua itu bernama Waris Saruksuk, seorang kepala sekolah SMP Swasta, setidaknya Haris saat ini punya ketenangan baru, jika ia selesai kuliah, Haris tinggal lapor pada Amang Tuanya ini, pasti Amang Tuanya itu akan mencarikannya tempat mengajar, kalau tak bisa disekolah yang dipimpin Amang Tuanya itu, sekuat tenaga orang tua itu pasti akan mencarikan yang lain, sebab Haris adalah Anaknya.
__ADS_1
“ Jangan lupa datang kerumah Amang Tua ya “.
Haris anggukkan kepala. “ Pasti Amang Tua “.
Orang tua itu melangkah duluan, masuk mobilnya dan meluncur perlahan, baru kemudian Haris melanjutkan langkahnya menuju rumah. Haris tetap ingat akan pesan ayahnya, kepada Marga Pasaribu, Saruksuk, Sipahutar, Harahap, Haris panggil Amang Tua, kalau Manik manggil Amang Uda[4]. Dan setiap orang yang ketemu dengan Haris, baik tua ataupun muda selalu saja menyambut dengan baik panggilan Haris, itulah Indahnya jadi Orang Batak, terserah itu agamanya apa, bagi Orang Batak marga adalah hal yang paling utama, agama tak jadi masalah, agama dibahas pada episode terakhir dan tidak menjadi sebuah gangguan dalam mengembangkan persaudaraan satu sama lainnya.
Haris bangga dengan semua itu, Haris bangga menjadi orang Batak, Haris tak pernah malu mengakui bahwa dia Orang Batak, justru karena itulah, karena marga itulah Haris punya banyak kemudahan, seperti tadi, jika bertemua dengan orang orang yang harus dituakannya, mereka langsung menyayanginya.
OO oo OO
Pagi datang begitu cepat. Haris beranjak menuju kampus, hari ini adalah hari pemilihan Presiden Kampus, yah.. seperti pemilulah, kesibukan tampak jelas dalam kampus pada saat Haris masuk gerbang, kasak kusuk tentang perkiraan siapa yang bakal memenangkan pertarungan terdengar dibanyak sudut.
“ Ris… “.
Haris menoleh, ada Agung. “ Gung.. apa Khabar sahabatku ?”.
“ Sehat aja Gung “.
Agung membawa Haris menuju kantin kampus, Haris menunduk setengah mati, apa tidak, tepat dibawah pohon menuju koridor Sastra Indonesia ada Natalia dan Widya sedang duduk sambil minum teh botol, Haris meletakkan jari telunjuknya seakan membelah bibir, untung Widya cepat tanggap, Widya langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tak jadi bicara, Natalia tak lihat Haris yang mempercepat langkah bersama Agung, masuk kantin.
“ Kans kamu besar Ris “.
Haris tertawa. “ Kans kamu juga besar Gung “.
“ Yang aku dengar begitu Ris. Buletin Kampus kemarin adakan riset, dan hasilnya sangat mengejutkan, kamu dapat 80% dukungan “.
__ADS_1
Haris geleng kepala. “ Yang benar aja “.
“ Masa kamu ngga’ lihat hasil polingnya Ris “.
“ Aku ngga’ lihat “.
“ Kamu 80%, Raihan 8%, Rasti 2,6%, aku Cuma kebagian 1%”.
“ Siapapun yang menang kan sama aja. Kita semua Saudara, lagian Haris memang pantas. Dan selama ini anak Sastra Indonesia kan belum pernah, kalau ngga’ Biologi, pasti Olahraga, sekali ini Sastra Indonesia dulu, ya ngga’ “.
Haris harus menunduk nunduk menerima kusukan tangan Raihan, Agung juga senyumnya lebar. Raihan melepas urutannya dan duduk disamping Haris setelah memesan minuman.
“ Yang penting perjuangan kita kan sama “.
Haris, Agung, dan Raihan sama tertawa, mereka tidak tahu, agak sudut diruang kantin ada Pak Hadi, Pembantu Rektor III, Pak Hadi cukup bangga melihat ketiganya bisa duduk dan bercanda bersama disaat mereka akan dipilih menjadi pimpinan Mahasiswa Kampus yang besar itu. Artinya, mereka menjalani persaingan dengan fair, jauh dari ketakutan para dekan dan dosen yang khawatir terjadi hal yang sama terjadi di kampus lain, dimana perebutan Presiden Mahasiswa menjadi pertarungan yang kurang fair, bahkan menimbulkan perpecahan, bahkan ada yang sampai tawuran yang pada akhirnya merusak fasilitas kampus.
Bersama ketiganya menuju TPS, ketiganya memilih menuju TPS Pendidikan Guru Olahraga, TPS calon satunya lagi dan satu satunya Wanita, Rasti. Terasa begitu lucu, udah persis seperti pemilihan Presiden benaran, begitu ketiganya masuk, Rasti datang menyambut, berempat mereka saling rangkul bahu, ribuan Mahasiswa yang ada disana menyambut dengan yel yel dan tepuk tangan yang riuh rendah, bahkan ada yang tampak terharu. Dan yang paling haru tentu Rektornya yang kebetulan melihat kejadian itu.
Penjelasan :
[1] Amang Tua : Ayah Tua (Tutur Batak, satu marga pada marga marga tertentu)
[2] Artinya : Aku Marga Pulungan Bapak Tua
[3] Tarombo = Tutur Sapa/Panggilan Hormat
__ADS_1
[4] Amang Uda = Bapak/Paman/Adik Ayah