
Meeta melihat jam, sudah pukul 09.30 WIB. Ia baru saja mendapat telephon dari Ketua Rombongan yang menyatakan Tim Faridha masuk final, pegelaran Final akan berlangsung pukul 14.00 WIB, tapi sebentar lagi ada tekhnical meeting untuk final yang harus diikuti oleh semua peserta, artinya harus diantar sekarang. Sialnya, sesaat lagi, ada kunjungan dokter dari Singapura, dengan berita yang mendadak.
Otomatis Meeta tak mungkin keluar rumah sakit, ia juga membutuhkan Mutia dan Reni, ini observasi penting, seharusnya jangan sampai di lewatkan Mutia dan Reni, meminta Asrul nggak mungkin juga, lagi ujian tengah semester, tak mungkin pula meminta suaminya.
Farhan juga terlampau jauh bolak balik kemari, lagi pula ia pasti sibuk karena terlihat sebagai Panitia, maka pilihan satu satunya adalah Risda. Meeta langsung lega saat berhasil menghubungi menantunya itu dan ternyata bisa menjemput dan mengantar Faridha ke lokasi debat, tepatnya di SMA Farhan bersekolah.
Tak sampai satu jam resepsionis tersenyum, menyapa dan menundukkan kepala saat melihat Risda masuk, Risda juga tampak senyum merekah, sempat juga berbasa basi dengan resepsionis sebelum menuju lif, ini yang membuat semua pegawai rumah sakit sangat menyukai Risda.
“Bu Risda memang sangat ramah ya”.
Ros melirik ke Santi dan tersenyum. “Itu yang membuat dia tambah cantik”.
“Tapi Bu Risda belum hamil juga ya”.
Ros geleng kepala. “Iya memang. Padahal kita pengen sekali lihat anaknya, kalau perempuan pasti cantik, bagaimana tidak, ibunya cantik, ayahnya tampan”.
Semuanya tampak tertawa, Santi malah membayangkannya lebih jauh, semua orang di rumah sakit ini jika masih gadis, bahkan ibu ibu juga bisa jadi sama, semuanya pasti suka pada Asrul, anak tertua dari pemilik rumah sakit ini, bukan hanya sebatas tampan saja, Asrul juga ramah, ceria, suka bercanda.
Dan yang paling penting sebenarnya, semua anak anak pemilik rumah sakit ini selalu bisa menghormati orang lain, bahkan termasuk Ariana yang masih SMP. Anak yang selalu ceria, sejak masih kecil, saat masih belum bersekolah, Ariana sering dibawa kemari, dan dipastikan akan menjadi rebutan banyak orang.
“Hei, lihat itu ..”.
“Apa ?”.
“Itu …”.
Semua mata mengarah ke yang di tunjuk Santi. Semuanya langsung tersenyum, menyambut dan membalas senyum Risda dan Faridha yang berjalan bersama, Risda dan Faridha sama sama permisi dan berlalu pergi keluar rumah sakit, lagi lagi para resepsionis saling senyum dan geleng kepala.
“Dua duanya memang sangat cantik, nggak bisa milih yang mana”. Jelas Ros.
Santi tertawa kecil. “Iya memang, pangling kita kalau diminta milih. Soalnya dua duanya mempesona, sesuai umurnya mungkin ya”.
“Kira kira calonnya Farhan itu umurnya berapa ya ?”. tanya Ros.
Santi menggeleng. “Farhan sekarang 18 tahun, mungkin begitu juga, atau malah 17 kali ya, masih imut banget soalnya”.
Semuanya kembali sama tertawa, tapi tak lama. Kemudian semua kembali serius dengan aktivitas masing masing, menerima dan menjelaskan apa yang diinginkan mereka yang mendatangi rumah sakit.
Faridha cukup kaget, ternyata Risda cukup potensial menjadi pembalap, kecepatan mobil yang dikendalikan Risda lebih dua kali lipat lebih cepat di banding Calon Ibu Mertuanya, ini membuat Faridha tampak sedikit khawatir, untung Risda cepat paham dan sedikit demi sedikit memperlambat jalannya mobil.
“Nggak mau cepat cepat ya Dek ?”.
Faridha senyum kecut. “Kakak sudah seperti pembalap”.
Risda jadi tertawa lebar. “Pembalap apanya ?, masih kalah jauh dari Bang Asrul, Papa apalagi”.
“Bang Farhan ?”.
Risda tertawa kecil. “Kalau calon suamimu itu agak lain Dek, santai habis itu”.
Faridha jadi malu. “Ah, Kakak”.
Risda balik tertawa kecil. “Setahu kakak, Farhan belum pernah pacaran, makanya kakak kaget saat tahu Farhan pulang bawa perempuan, serius Dek”.
Faridha makin kikuk. “Masa sih Kak ?”.
Risda angguk kepala. “Memang gitu Dek, benaran begitu”.
Faridha hanya menggeleng, perlakuan keluarga Farhan saja sudah membuat Faridha bingung bercampur bahagia juga, tapi terang, masih seperti semalam, masih persis tadi pagi, Faridha sampai saat ini masih gamang, masih belum punya rasa percaya diri penuh dengan semua kondisi ini.
Akhirnya Faridha memilih mengungkapkan semua isi hatinya pada Risda, seluruhnya Faridha sampaikan, tak ada yang Faridha tutupi, hingga ke masalah pakaian dan terisinya rekening Faridha dalam angka yang sangat besar.
“Demi Allah, Faridha masih bingung Kak, masih seperti tak percaya kalau ini nyata, kenapa semudah itu kisahnya berubah. Faridha sangat takut, takut sekali, Faridha kurang yakin mampu mengimbangi semua ini, Demi Allah Kak, Faridha takut sekali”.
Risda tertawa kecil. "Kakak bisa memahami mengapa Mama dan Papa begitu".
__ADS_1
Faridha kembali hela nafas agak dalam. "Kenapa Kak ?".
Risda kembali tertawa kecil. "Adek tahu nggak ?, Farhan itu belum pernah bicara soal perempuan, jangankan bawa perempuan, bicarain perempuan saja nggak pernah setahu kakak. Nah, begitu Farhan bawa Adek, Mama dan Papa tentu semangat tinggi dan yakin jika ada sesuatu di hati Farhan untuk Adek".
Faridha masih menggeleng. "Tapi, apakah harus secepat ini Kak, apakah harus semudah ini, keluarga kakak kan belum kenal betul siapa Farida, ini yang membuat Faridha belum bisa memahami, nggak tahu mau bilang apa".
Risda hanya memandang Faridha sesaat, dalam hati Risda semakin senang, setidaknya saat ini ia tahu banyak tentang hati gadis yang duduk di sampingnya, Faridha adalah gadis yang tahu diri, tidak serta merta, dan bukan wanita yang materialistis, bahkan terkesan sederhana.
Ini tentu membuat Risda tersenyum sendiri, geleng kepala dan salut dengan pilihan Farhan. Dengan sikap yang demikian, Risda yakin, Farhan akan menemukan banyak kebahagiaan kelak, Risda semakin yakin, kalau keluarga mertuanya akan sangat bahagia dengan keberadaan Faridha.
“Kalau seandainya Kakak meminta Faridha percaya sama kakak, bagaimana Dek, Adek bisa percaya ke kakak ?”.
Faridha kembali menghela nafas berat. “Percaya Kak”.
Risda tertawa kecil lagi. “Pada Farhan ?”.
Faridha melirik Risda sebentar, pikiran Faridha memutar entah kemana mana, tampaknya Faridha terlalu bodoh kalau tak percaya pada Farhan, rasanya tak ada jalur manapun yang memungkinkan Faridha bisa tak mempercayai Farhan, semuanya tampak baik dan menyajikan kejujuran.
Faridha menggeleng. “Entahlah Kak. Faridha masih belum bisa”.
“Belum bisa percaya ke Farhan ?”.
Faridha menggeleng lagi. “Bukan begitu Kak. Tapi, Faridha nggak yakin bisa mengimbangi kepercayaan itu, Faridha bukan siapa siapa, Faridha itu …”.
“Stop”. Risda memotong. “Cinta dan perasaan apapun yang sama dengan itu seharusnya meninggikan rasa percaya diri. Sekarang kakak tanya, Faridha suka atau tidak pada Farhan ?”.
Faridha menggeleng dan senyum kecut. “Bukan begitu Kak”.
“Dek, jawab dulu pertanyaan kakak. Adek suka tidak sama Farhan ?”.
Faridha akhirnya mengangguk lemah. “Iya Kak, Faridha suka”.
Risda langsung tertawa. “Itu sudah cukup”.
Kening Faridha agak berkerut. “Maksud kakak ?”.
Faridha hanya bisa menggeleng, mumet dengan apa yang dikatakan Risda, sebenarnya masih ada ribuan kalimat yang ingin Faridha sampaikan, tapi Faridha kembali hanya menggelang, ia tahu jika Risda akan memiliki jawaban ampuh untuk semua resahnya.
"Yang jelas, sudah ada kesepakatan bahwa Adek berstatus tunangannya Farhan. kedua keluarga sudah menerima itu, bahkan mungkin rencana pernikahannya juga sudah boleh dikatakan ada, apapun itu, apapun isi pikiran Adek saat ini, yang jelas, adek harus punya keberanian mengakui hubungan itu, kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun".
Faridha masih hela nafas panjang, tapi apa yang dikatakan Risda mulai masuk ke pikiran Faridha, ayahnya juga sudah terus terang dan didengarnya sendiri menerima tawaran ibunya Farhan, mau tidak mau, siap tidak siap, Faridha memang harus mengakui hubungan itu.
Sekarang Faridha mencoba menerima fakta, walau belum ada perjanjian yang bersifat tertulis, tapi nyatanya Faridha harus menyadari satu hal, ada keluarga yang seluruh penghuninya sudah menganggapnya sebagai calon menantu di rumah mereka, Faridha harus mampu memenuhi harapan itu.
Sudah sampai hotel, Risda juga ikut turun, mengambil bungkusan yang tadi dikatakan ibu mertuanya, menyerahkan pada Faridha yang langsung permisi menuju kamarnya, Faridha langsung mengganti pakaian menjadi pakaian sekolah, sesaat lagi ada tekhnical meeting untuk kegiatan final.
Faridha terkejut saat melihat Risda masih duduk dilobby, padahal Faridha yakin kalau Risda sudah pergi. Faridha hanya senyum saja saat Risda malah ikut menuju lokasi debat, Faridha senang saja, dan melangkah santai bersama Risda menuju sekolahan Farhan.
Faridha langsung permisi masuk, Risda hanya anggukkan kepala, teman teman Faridha langsung lega saat melihat Faridha muncul jauh sebelum acara tekhnical meeting dimulai, padahal awalnya mereka sudah cukup resah.
“Paribanmu sudah dua ratus tujuh puluh kali nanya Dha”.
Faridha geleng kepala. “Masa ?, dia kan tahu aku kemana”.
Parulian menggeleng. “Itu dia, Paribanmu datang lagi itu”.
Faridha menoleh, benar. Farhan sedang melangkah ke arahnya, eh, jantung Faridha malah berdegup saat mendapatkan senyuman Farhan, Faridha sebenarnya sangat jengah saat Farhan berdiri dibelakangnya, menyandarkan perut ke sandaran kursi yang di duduki Faridha, tangan Farhan malah mendarat di dua bahu Faridha.
“Sampai kemana tadi Adek sama Mama ?”.
Faridha hanya senyum. “Rumah sakit”.
Farhan mendelik. “Ngapain ke rumah sakit ?”.
“Nggak ada, habis dari pasar tadi, kesana”.
__ADS_1
Farhan anggukkan kepala, kemudian harus permisi, Farhan anggukkan kepala lagi ke semua rekan Faridha, beranjak pergi karena dari mikrofon terdengar suara memanggil nama Farhan dengan jelas, itu dari Panitia, mungkin ada yang harus di bereskan Farhan.
Pak Aswin Siregar agak mendelik. “Sebenarnya si Farhan itu siapa kamu Faridha ?”.
Faridha menatap Aswin, tapi tak lama. “Maksud Bapak ?”.
“Sebenarnya hubungan kamu apa ?”.
Faridha senyum kecut. “Hubungan apa maksudnya Pak ?”.
“Jangan berbelit belit gitu Faridha, sebenarnya kamu sama Farhan itu ada hubungan apa ?, kita hanya ingin memastikan”.
Faridha agak mendesah. “Tunangan”.
“What ?”.
“What ?”.
“What ?”.
Bukan Aswin, semua teman Faridha yang hampir melonjak terkejut, Aswin sebenarnya sudah sedikit tahu sejak kemarin, setelah di hubungi Ibu Farhan, Aswin langsung menelphon ayah Faridha, Husain mengakui kalau ibu Farhan adalah sepupunya, dan mereka punya rencana menjodohkan Faridha dengan Farhan.
Parulian sedikit mendekat. “Dha, jadi Farhan itu tunanganmu ?”.
Faridha tersenyum pasrah. “Begitulah keadaannya Li, walau awalnya aku juga rasa bingung begitu”.
“Kenapa ?”. Kejar Lita.
Faridha menggeleng. “Bang Farhan itu orang kaya Lit, ayahnya punya banyak SPBU, ibunya punya rumah sakit, sedangkan aku ?, apa yang aku banggakan coba, apa aku pantas untuk keluarga itu ?”.
Parulian malah tertawa. “Lebay kau Makcik”.
Faridha jadi mendelik. “Lebay apanya Pakcik ?”.
Parulian menggeleng. “Seharusnya kau bersyukur Makcik, dijodohkan dengan anak orang kaya. Makcik, Kau itu cantik, jangankan sama orang yang sekedar kaya, sama Pangeran Brunai juga Makcik cocok”.
Faridha senyum kecut dan kembali menggeleng. “Kau ada saja Li”.
Parulian angkat bahu. “Makcik saja yang berlebihan. Lagi pula, kulihat si Farhan itu nggak sombong, kita minta minuman, dia ambilkan, bukan hanya ke kita, ke tim lain juga gitu, dia itu Low Profile. Harusnya Makcik senang. Aku sudah sejak awal tahu kalau dia anak orang kaya”.
Faridha agak mendelik. “Tahu darimana ?”.
Parulian menunjuk jam tangannya. “Aku tahu jam tangan yang dipakai tunanganmu itu, itu jam tangan mahal, harganya lebih dari seratus juta”.
Faridha mendelik lagi. “Masa ?, asal saja kau Li”.
Parulian tertawa tertahan dan angkat bahu. “Begini begini, aku lumayan tahu soal barang kawan, aku tahu persis soal itu”.
Faridha hanya menggeleng, tak bisa menjawab apapun, semua yang dikatakan Parulian sangat masuk akal. Dan sekarang semua anggota Tim Faridha sama sedikit mengangkat kepala, Faridha senyum lebar saat menerima minuman botol dari tangan Risda, tidak hanya satu, minuman yang dibawa Risda bahkan lebih banyak dari anggota Tim Faridha.
“Kakak nggak pulang ?, nanti Bou pulang naik apa Kak ?”.
Risda menggeleng. “Nanti di jemput Papa”.
Faridha hanya angguk kepala, dan kemudian bersama yang lain kembali angguk kepala saat Risda permisi untuk kembali ke luar ruangan, Risda merasa kurang cocok juga lama lama berada di lokasi yang diperuntukkan untuk peserta, lagi pula Risda merasa tidak memiliki akses banyak disana.
“Itu tadi siapa Dha ?”. Tanya Lita.
“Kak Risda, Kakak Iparnya Bang Farhan”.
“Istrinya Abangnya Tunanganmu itu maksudnya Dha ?”.
Faridha anggukkan kepala. “Iya Lit. mereka itu ada lima kakak adik, laki laki Cuma dua, Bang Asrul anak pertama, Bang Farhan anak keempat”.
Hanya Lita dan Parulian yang banyak omong, ketiga temannya yang lain hanya diam saja, tapi dalam hati mereka punya rasa cemburu yang besar juga, cukup cemburu dengan kenyataan Faridha yang ternyata sudah dijodohkan dengan laki laki kaya dan tampan pula, jika mereka di posisi Faridha, mungkin mereka sudah melonjak lonjak entah kemana.
__ADS_1
…. Bersambung …