Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Sampai Di Perkebunan


__ADS_3

Bus kembali bergerak perlahan, dan kemudian melaju kencang saat sudah meninggalkan perkampungan, Farhan teringat apa yang dikatakan Tomy soal pemandangan indah yang bakal mereka lalui sesaat lagi, tapi semilir angin mengelus mata Farhan hingga tertidur kembali.


Saat Farhan terbangun dan menatap keluar jendela, yang ada hanya gelap. Ternyata sudah malam, Farhan melirik ke arah Tomy, teman perjalanannya itu sudah benar benar terlelap, lampu dalam bus juga mati, tampaknya hanya segelintir penumpang yang masih terbangun.


Farhan akhirnya mencoba memejamkan matanya kembali, mencoba untuk tidur kembali, tapi sudah lama, tak bisa, akhirnya Farhan mengalah, ia dengan terpaksa kembali mengalihkan pandangan keluar jendela bus, mencoba melihat apa yang bisa di lihat dalam pekatnya hutan.


Farhan sedikit bersemangat saat melihat ada banyak lampu jalan, Farhan nyakin kalau sesaat lagi akan kembali memasuki perkampungan, mata Farhan makin terbuka dan ada sedikit senyuman saat membaca gapura yang baru mereka lewati, disana jelas tertulis “Selamat Datang Di Kabupaten Kotawaringin Timur”.


Farhan melirik jam di tangannya, sudah pukul 05.30 WIB, Farhan malah menjadi heran, selama itukah ia tertidur ?. Farhan ingat, kemarin ia mulai tertidur hari masih petang, ternyata sekarang sudah shubuh. Yang menjadi pertanyaan Farhan, masa setelah singgah di Delang kemarin, tak ada singgah singgah lagi.


Hari sudah mulai remang remang saat Tomy terbangun, Tomy menghadiahi Farhan senyuman pagi, Farhan tentu membalasnya dengan senyuman yang sama, Tomy menggeliat dan melurus luruskan badannya.


“Tidurmu enak kemarin Far”. Tomy tertawa kecil.


Farhan mengecilkan matanya. “Enak gimana Tom ?”.


Tomy menggeleng. “Bahkan saat bus berhenti kau tak bangun juga”.


“Berhenti dimana kemarin Tom ?”.


“Di Pangkalan Bun”.


Farhan geleng kepala. “Kok nggak bangunin aku Tom ?”.


Tomy tertawa kecil. “Kamu itu tidurnya kelewat enak Far. Awalnya memang mau dibangunin, tapi pihak bus bilang langsung ke sini, saya nggak jadi bangunin kamu Far, toh kita mau jalan lagi, berhentinya juga nggak sampai setengah jam”.


Farhan menjadi tertawa, kecurigaannya benar, nggak mungkin bus terus jalan hingga shubuh, pasti ada singgahnya, persoalannya sekarang itu, Farhan yang memang tertidur lelap dan sama sekali tidak terbangun, hingga rehat keluar dari bus tidak Farhan sadari.


Bus sudah benar benar berhenti di pool Kotawaringin Timur, Farhan ikut langkah Tomy keluar bus, ikut juga saat Tomy menuju jalan raya dan kembali naik angkutan, kali ini angkot, tapi hanya beberapa menit saja, keduanya kembali turun, berjalan masuk gang dan sampai di depan rumah keluarga Tomy.


“Ini teman Tomy dari Jakarta, namanya Farhan. Dia mau ke Afdeling, ada pamannya disana, mau kunjungan gitu”.


Ayah Tomy tampak tersenyum. “Kerja di kebun itu Nak Farhan ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Iya Paman, namanya Paman Haris. Haris Arianda”.


Ayah Tomy langsung agak mendelik. “Pak Haris yang orang Sumatera itu ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Paman Kenal ?”.


Ayah Tomy tertawa kecil. “Siapa yang nggak kenal Nak, pamanmu itu Senior Manager, hampir tiap tahun sampaikan bantuan ke daerah sini”.


Farhan tersenyum lebar, ia tahu kalau Haris punya jabatan bagus di perkebunan, tapi Farhan baru tahu kalau Ayah Mertua abangnya itu seorang Senior Manager, Farhan menggeleng juga, ternyata kakak iparnya yang sederhana itu putri seorang senior manager.


“Tomy juga ikut kesana Yah, kami naik motor saja”.


Ayah Tomy anggukkan kepala. “Supaya murah ya begitu Tom. Antarlah Nak Farhan sampai kesana, sudah jauh jauh dari Jakarta kesini”.


Farhan tersenyum lebar. “Jauh juga memang ya Paman”.


Ayah Tomy tertawa kecil. “Bukan jauh lagi Nak Farhan, sangat jauh sekali”.

__ADS_1


Farhan menemukan keramahan yang benar benar alami, ini termasuk hal yang sangat Farhan sukai, keakraban yang lahir dari hati yang paling dalam, mulai dari senyuman yang luar biasa memikat, hingga tawa renyah yang tak dibuat buat.


“Inilah keluarga Tomy Nak Farhan, kami hanya bertiga, Paman, Tomy dan adiknya Rahmad. Ibu mereka sudah lama pergi, bahkan saat Tomy masih SMP”.


Farhan terdiam, ia baru tahu jika Tomy ternyata tak punya ibu lagi, bahkan sejak masih SMP. Farhan memandangi Tomy cukup lama, ada rasa kasihan juga, tak menyangka Tomy hanya dirawat dan dibesarkan seorang ayah.


Obrolan tak begitu lama, mengingat waktu, Tomy dan Farhan kembali permisi, Tomy lebih dulu menyelipkan satu stel pakaiannya ke tas Farhan dan kemudian menggunakan motor keduanya langsung bergerak menuju perkebunan, ini kata Tomy akan menjadi perjalanan yang cukup melelahkan.


“Adikmu dimana Tom, kok nggak kelihatan ?”.


Tomy tertawa kecil. “Biasanya dia jam begini pasti mancing dengan teman temannya, jarang absen mereka itu”.


“Mancing ?, kamu hobby mancing juga ?”.


Tomy kembali tertawa. “Kalau sempat ada orang sini yang nggak suka mancing, itu cukup mengherankan teman, rasanya semuanya sama saja”.


Farhan kembali tertawa, bisa jadi apa yang dikatakan Tomy benar, tapi Farhan tidak juga yakin kalau sampai 100%, pasti ada saja yang kesukaannya bertolak belakang dengan kebanyakan, itu bukan cerita aneh, sehingga Farhan yakin, dari sekian ribu orang, pasti ada yang tak hobby memancing.


Jalanan yang awalnya sangat bagus langsung beralih ke kurang bagus begitu mulai masuk area perkebunan, kali ini Farhan benar benar menggeleng, ia tak menyangka jalanan perkebunan seperti ini, bahkan tak beraspal sama sekali, jika berpapasan dengan mobil, debu begitu mengganggu.


Pinggang Farhan sudah mulai penat saat mereka berhasil melihat kepulan asap yang keluar dari corong pabrik, aromanya juga sudah mulai mengganggu penciuman, tapi ada bahagia di hati Farhan, karena itu pertanda, mereka tak lama lagi akan sampai ke tempat Haris.


Begitu sampai di gerbang pabrik, Tomy menghentikan motornya tepat di depan pos satpam, Farhan sepakat dan ikut turun, ini tentunya menjadi pilihan terbaik untuk mengetahui keberadaan Haris, walau tampaknya Tomy bukan pertama kali kemari, tapi ia tak tahu banyak soal Haris.


“Permisi Bang…”.


Satpam yang bernama Baim itu anggukkan kepala. “Iya Dek, ada apa ?”.


Baim mengerutkan keningnya. “Mau cari kerja ?”.


Farhan tertawa kecil, menggeleng. “Bukan Bang, dia itu Paman saya”.


Baim memandang Farhan penuh selidik. “Darimana ?”.


Farhan senyum tipis saja.”Saya dari Jakarta Bang”.


Baim kembali sedikit melotot, tapi ia ambil ponselnya, Baim malah sekarang agak takut takut, kalau nanti benaran ini keponakan Senior Managernya, bisa kena semprot dia karena mempersulit, Baim tetap khawatir, walau yakin, Haris tak akan melakukan hal yang begituan.


“Namanya siapa dek ?”.


“Farhan Bang. Farhan Syaukani”.


Baim tampak menghubungi seseorang, dibuat speaker malah, tak lama telephon diangkat, Tomy dan Farhan saling pandang, karena yang mengangkat telephon Baim jelas jelas suara perempuan, bukan suara Haris seperti yang diharapkan Farhan.


“Ada apa Bang Baim ?”.


“Ini Bu Lin, Pak Haris ada ?”.


“Pak Haris ?”.


“Iya Bu Lin, ada Bu ?”.

__ADS_1


“Ada Bang ?, kenapa ?”.


“Ini, ada tamu di pos, ngakunya ponakan Pak Haris, namanya Farhan, dari Jakarta katanya, kasi tahu Pak Haris ya”.


“Okey Bang”.


Telephon putus, belum lagi sempat Baim menjelaskan apa apa, Haris sudah tampak keluar dari kantor dan bahkan setengah berlari menuju pos satpam. Haris tentu terkejut mendengar nama itu, sehingga ia memilih langsung mendatanginya. Melihat yang datang memang Farhan, Haris mempercepat langkahnya.


“Paman …”.


Haris senyum sangat lebar. “Benaran kamu Far ?”.


Farhan jadi tertawa kecil. “Emang siapa lagi Paman ?”.


“Sampai kamu kesini ?”.


Farhan tertawa. “Lha, ini sudah sampai Paman”.


Haris ikut tertawa, ia tentu tak menyangka Farhan bisa sampai kesini, Haris hanya ingat minggu kemarin Farhan menanyakan tempatnya karena ada perkemahan di Kalimantan Barat, tapi Haris pikir karena jauh sekali, Farhan mustahil datang ke tempatnya.


Tapi, Haris senyum lebar dan geleng kepala, faktanya sekarang Farhan ada di depan matanya. Haris tak tahu mau bilang apa lagi, bibir Haris terus mengembangkan senyum, sama sekali tak menyangka jika Farhan bisa sampai sejauh ini ketempatnya.


Setelah ucapkan terima kasih ke Baim dan kenalan dengan Tomy, Haris langsung membawa keduanya menuju rumah tinggalnya yang hanya beberapa meter saja dari pos satpam, Tomy hanya lebih meminggirkan motornya saja, sepertinya tidak masalah jika di parkir disini.


“Nanti sore Paman mau ke pedalaman, ke tempat Abang sama kakakmu ngabdi dulu Far, tapi nggak apa apa, besok paman sudah pulang kok”.


Farhan malah jadi tertarik. “Farhan boleh ikut Paman ?, gimana Tom ?”.


Haris mendelik. “Mau ikut ke pedalaman ?, yang benar saja Far”.


Farhan tertawa. “Emang kenapa Paman ?”.


Haris menggeleng. “Itu jauh Far, jalannya parah lagi”.


“Farhan pengen saja Paman”.


Haris menggelengkan kepala, gantian menatap Tomy. “Kamu Tom ?”.


Tomy anggukkan kepala. “Pengen juga Paman, soalnya belum pernah juga kesana”.


Haris kembali geleng kepala, membuka pintu rumhanya. “Okeylah, kalau kalian mau ikut, ya, nggak apa apa juga. Istirahat saja dulu, nanti agak siang paman balik. Paman ke kantor dulu, masih ada kerjaan”.


Farhan dan Tomy mengangguk bersamaan. “Baik Paman”.


Haris berbalik dan kembali menuju kantornya, Haris masih geleng kepala, rasa tak percaya Farhan bisa mencapai tempatnya belum juga hilang, Haris masih bingung bagaimana Farhan bisa sampai kemari, tapi faktanya memang sekarang sudah ada, ada di depannya.


Bahkan mau ikut ke pedalaman, Haris mau bilang apa, jadwalnya memang ke pedalaman akhir pekan ini, mau di tinggal disini, nanti Farhan dan Tomy mau ngapain, disuruh pulang, sepertinya nggak bagus juga. Haris mendesah saja, sudahlah, biar mereka bisa melihat pedalaman secara langsung, apa salahnya.


Setelah Haris menghilang, Tomy dan Farhan tak mengeluarkan kata kata apapun, keduanya seperti sepakat untuk melanjutkan istirahat, Farhan yang membuka kamar yang ditunjuk Haris, keduanya masuk dan langsung ambil posisi, mungkin memang karena sama sama letih, tak butuh waktu lama, baik Tomy maupun Farhan sudah sama sama melambung menggapai impian.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2