Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Perjalanan Yang Menegangkan


__ADS_3

Alam Kalimantan memang memiliki daya tarik yang luar biasa, terutama soal kealamian alamnya yang bahkan tampak seperti belum terjamah, Farhan membayangkan ada lokasi yang begini di Jakarta, tentu akan sangat menyenangkan sekali, sangat indah dan menyejukkan.


Mata Farhan terus menerus menikmati pemandangan yang memang sangat luar biasa itu, pinggiran sungai yang dipenuhi oleh hutan lebat, suara suara binatang terdengar bagai alunan musik yang memanjakan telinga, sangat indah bagi Farhan, satu kolaborasi yang memberikan sentuhan alam yang sempurna.


Farhan juga sedikit mendesah saat menemukan titik yang pohonnya sudah berganti dengan tanaman kelapa sawit, bahkan itu cukup banyak, Farhan jadi teringat pernah membaca berita di koran dan juga beberapa artikel yang mengatakan hutan Kalimantan sudah banyak yang rusak.


Pelaku utama pengrusakan ini menurut para pecinta lingkungan adalah ulah para pemilik perkebunan, sekilas Farhan menatap ke arah Haris, Farhan senyum sendiri, pamannya yang orang perkebunan, mau tidak mau dapat dihitung sebagai salah satu pelaku menghilangnya banyak hutan di Kalimantan ini.


Farhan juga mengakui jika persoalan perkebunan ada plus minusnya, dikatakan plus karena keberadaan perkebunan dapat merubah perekonomian masyarakat, pendapatan dapat menaik membaik, timbulnya ribuan lapangan pekerjaan dan banyak hal yang layak disebut positif lainnya.


Tapi, itu tadi, memang ada minusnya, paling dikhawatirkan banyak pecinta lingkungan adalah kerusakan yang diakibatkan oleh perambahan hutan, apalagi semua juga tahu kalau hutan merupakan  paru paru dunia, saat paru paru rusak, maka akan mengakibatkan kerusakan lainnya. Sulit menjelaskannya, tapi memang itulah fakta yang sesungguhnya.


Tapi, yang saat ini di lihat Farhan masih sangat menyenangkan batinnya, semakin masuk ke dalam, semakin indah pemandangan yang dapat Farhan nikmati, ini yang kemudian membuat Farhan makin nyakin ingin melihat langsung kehidupan mereka yang ada di perbatasan.


Abangnya Asrul memang sudah banyak cerita, begitu juga dengan kakak iparnya Risda, tapi itu hanya cerita, Farhan yakin akan lebih indah jika melihatnya secara langsung, setidaknya untuk saat ini, Farhan mulai mengakui cerita abang dan kakak iparnya tentang indahnya alam Kalimantan.


Tapi sesaat kemudian Farhan melonjak, secepat kilat Farhan mundur dan langsung memegangi tangan Haris dengan wajah yang lumayan pucat, mengapa tidak, di pinggiran sungai, di daerah yang sedikit berpasir ada setidaknya lima ekor buaya besar yang bisa di tangkap mata Farhan, tampak sedang berjemur dengan mulut terbuka.


Dari riakan air di pinggiran sungai, Farhan yakin kalau buaya yang sedang disungai, sedang berada di air juga ada. Tentu membuat Farhan salah tingkah, andai ini sedang didarat, dipastikan Farhan akan berlari sekencang mungkin.


Tomy langsung ngakak, ini tentu saja membuat Farhan jadi kesal, saat rombongan buaya tak terlihat lagi, Farhan kembali ke tempat semula dan meninju pelan bahu Tomy, yang di tinju kembali ngakak, lucu melihat ketegangan Farhan.


“Itu buaya ikan Far, nggak bakal ganggu kalau kita nggak ganggu”.


Farhan menggeleng. “Tapi itu tetap buaya kan ?”.


Tomy kembali tertawa.”Iya sih, itu memang buaya, mau bilang apalagi, namanya memang buaya”.


“Sialan”. Umpat Farhan.


Tomy benar benar mengeluarkan tawa sepuasnya, Tomy terus menggeleng melihat wajah Farhan yang sangat tegang, Tomy yakin kalau Farhan sebelumnya sudah pernah atau bahkan sudah sering melihat buaya, tapi itu mungkin di kebun binatang, bukan di alam liar seperti ini.


Tomy masing menggeleng. “Iya, itu memang buaya Far, komodo nggak ada disini, paling selain buanya adanya Biawak, kalau rezeki ketemu, bisa jadi juga dengan Anaconda, mau ?”.


Jantung Farhan masih berdebar kencang. “Emang ada ?”.


Tomy tertawa lagi. “Kalau yang saya tahu Far, Anaconda terbesar di dunia yang pernah di temui manusia, ya .. disini”.

__ADS_1


“Yang benar saja kamu Tom”.


Tomy mengangguk menyakinkan. “Serius, katanya memang begitu”.


Farhan makin ciut. “Sudah ah, ngapaian ngomong itu”.


Haris dan supir perahu yang tak lain adalah Pak Buang hanya saling pandang dan sama sama tersenyum tipis. Haris menambahnya dengan geleng kepala, ia teringat awal awal disini dulu, Haris juga mengalami ketakukan yang sama seperti yang dialami Farhan, tapi itu hanya berlangsung tak lama, hanya sebentar.


Begitu Haris terbiasa, semuanya menjadi biasa saja, sudah terlampau sering melihat buaya ikan seperti itu, sehingga untuk saat ini Haris tak lagi terganggu, semuanya sudah biasa biasa saja, untuk Farhan wajar saja, karena memang baru pertama melihat buaya di alam liar seperti ini.


Hari hampir gelap saat perahu menepi, Farhan dan Tomy menyangka mereka sudah sampai, tapi ternyata dugaan keduanya salah lagi, mereka singgah hanya untuk shalat maghrib, disini ada kedai yang menyediakan musholla, sambil makan malam juga.


“Suasananya sejuk ya Tom ?”.


Tomy tertawa kecil. “Namanya juga pinggiran hutan Far, alami pula, tentu saja sejuk, udaranya juga masih sehat, segar tentunya”.


Farhan anggukkan kepala. “Tanah Perbatasan memang sejuk ya Tom”.


“Sangat”. Jawab Tomy sambil tertawa kecil.


Tapi benar, Farhan mengakui jika udara disini memang sangat sejuk, terasa sangat berbeda dengan udara Jakarta, anginnya betul betul menusuk ke dalam tulang, tapi secara umum bagi Farhan ini sangat menyegarkan, udara yang masih benar benar sehat, udara yang sangat alami.


Farhan agak merinding saat kembali menaiki perahu, Farhan hampir tak percaya jika mereka harus melalui sungai lagi malam malam begini, tapi Farhan mau bilang apa, inilah perjalanan yang harus mereka lalui, mau tak mau Farhan harus ikut, sedang Tomy tampak tak begitu bermasalah.


Baru sepuluh menit perahu berjalan, Farhan benar benar gamang, tak ada yang bisa Farhan nikmati sekarang, melihat kesamping kiri ataupun kanan, yang terlihat hanya gelapnya hutan, memandang kedepan hanya melihat alur sungai yang sepertinya tampak tak berujung.


Farhan melipat tangan sendiri seakan memeluk diri, Farhan mulai merasa dingin, tapi itu bukan perasaan yang paling menguasai Farhan sekarang, tapi rasa takut yang sangat tinggi, sejujurnya, ada rasa penyesalan dalam hati Farhan, jika tahu akan begini, Farhan lebih baik menunggu di afdeling saja.


Bagaimana Farhan tak makin pucat, bahkan saat menoleh kebelakang, tubuh sang pengendali perahu bahkan tampak hanya seperti bayangan, bahkan muka Haris saja tak dapat jelas di pandang Farhan, hanya wajah Tomy yang lumayan jelas, itupun karena Tomy duduk persis di sampingnya.


Bayangan Farhan malah makin seram, yang ada dikepala Farhan sekarang justru film film ular besar yang banyak tayang di televisi, Farhan tahu kalau lokasi shooting film film itu disini, di Kalimantan, jangan jangan ini salah satunya, batin Farhan.


Jantung Farhan sama sekali tak bisa tenang, jika ia melihat ada lampu lampu yang menandakan itu perkampungan, Farhan sedikit senang, tapi Farhan galau lagi saat tahu itu bukan tujuan mereka, bahkan Farhan terus melihat kearah perkampungan itu hingga tak terlihat lagi.


Ingin rasanya Farhan melompat saat perahu benar benar meminggir, tapi tak mungkin, Farhan sekuat tenaga menahan diri agar bisa tenang, kini Farhan malah yang menjadi benar khawatir, kini Farhan memegangi lutut dengan kedua tangannya, begitu berdiri, ternyata Farhan gemetaran.


Farhan sekuat tenaga menguasai diri, sangat sulit, Farhan bahkan hanya bisa melangkah satu satu, dan akhirnya menjadi orang terakhir yang meninggalkan perahu. Entah bagaimana perasaan Farhan saat berhasil mencapai daratan, Farhan berdiri sambil memegangi pohon untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Untung ada cukup banyak barang bawaan Haris yang harus di turunkan, sehingga Farhan punya banyak waktu untuk menetralkan tubuhnya yang gemetaran sambil menunggu penduduk setempat menurunkan bawaan Haris.


Untungnya lagi, saat semua barang sudah naik ke daratan, Farhan sudah sepenuhnya dapat menguasai diri, sehingga sudah bisa tersenyum manis dan ikut melangkah bersama yang lainnya meninggalkan tempat persinggahan.


Bayangan Farhan tetap saja tak sama dengan keadaan yang dihadapi, bayangan Farhan tadi, tujuan mereka tak jauh dari tempat berhenti, ternyata tidak sama sekali, masih harus menjalankan misi berjalan kaki, bahkan Farhan belum tahu akan sejauh mana lagi perjalanan ini.


Farhan tetap hanya diam, baru kali ini juga berjalan di tengah hutan hanya dengan satu obor penerang, yang pegang obor juga jalan di depan, bahkan Farhan tak tahu ia sedang menginjak apa, suara kresek kresek akibat langkah kaki mereka juga membuat jantung Farhan kembali dag dig dug.


Yang membuat Farhan kuat hanya keyakinan jika semua ini bukan hal aneh untuk di hadapi, lagi pula Farhan tidak sendirian, ada banyak orang yang berjalan bersama sama dengannya, ada pamannya Haris, ada juga temannya Tomy, kemudian jiwa Pramuka yang ada di kepala Farhan membantu perasaannya.


Tapi, rasa takut tetap ada, rasa was was Farhan sudah diatas rata rata, sudah di stadium tertinggi sejak mereka memasuki hutan, pandangan yang sama sekali hanya mampu menemukan gelapnya hutan, menjadi pengalaman pertama dalam hidup Farhan, dan itulah yang membuatnya gelisah sepanjang jalan.


Suara sekecil apapun yang berasal dari hutan selalu membuat Farhan ingin melonjak, tapi Farhan berhasil menahan diri, paling hanya mengusap dadanya berulang kali, tentu dengan harapan dapat menetralisir detak jantungnya yang terus meningkat.


Sialnya lagi, walau sedekat ini, Farhan sama sekali tak melihat keberadaan Haris maupun Tomy, hanya suara Haris yang sesekali terdengar saat ngobrol dengan teman temannya, sedangkan Tomy yang sama diam membuat Farhan sama sekali tak mengetahui posisinya dimana.


Farhan menghela nafas panjang saat melihat perkampungan, Farhan begitu lega, serasa bagai lepas jeratan tali yang mengikat kuat seluruh tubuhnya. Berulang kali Farhan menghela nafas, tapi itu semua dilakukan Farhan dengan perlahan, khawatir juga kembali jadi bahan tertawaan Tomy.


Farhan makin lega, tak jauh memasuki kampung yang serasa tak berpenghuni itu, rombongan sudah masuk rumah, sudah duduk bersama dengan gelaran tikar, dan bahkan tak lama berselang sudah ada tersedia beberapa bentuk minuman, Farhan memilih kopi.


Farhan meminum kopinya perlahan, menatap satu demi satu wajah yang sedang bersamanya, Farhan tak menemukan satu wajah pun yang tampak tegang, termasuk Tomy yang tampak santai bersandar ke dinding, malah tampak senyum senyum berbincang dengan yang disebelahnya dengan menggunakan bahasa daerah mereka.


Farhan akhirnya anggukkan kepala dan senyum juga saat mengetahui, teman berbincang Tomy adalah karyawan perkebunan yang berasal dari kampung yang sama dengan Tomy, tentu mereka bicara enak.


“Ini kampung tempat Abangmu Asrul dan Kakak Risda mengabdi Far”.


Farhan mendelik ke arah Haris. “Di kampung ini Paman ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, mereka dulu mengabdinya disini. Besok kita ke sekolahan itu, Paman ada juga bawa beberapa buku untuk mereka”.


Farhan tersenyum lebar. “Sip Paman”.


“Okey .. kita tidur saja ya, capek, sudah larut juga ini”.


Farhan dan Tomy sama anggukkan kepala, keduanya tentu mengakui apa yang dikatakan Haris benar, badan mereka memang lumayan capek dan sangat penat, sehingga pilihan untuk istirahat tidur merupakan pilihan yang paling tepat saat ini, pilihan yang tak akan ada seorangpun yang mampu menolaknya.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2