Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Waktu Yang Akan Menjawab Semuanya


__ADS_3

Haris masih terduduk, pikirannya melayang layang entah kemana, tapi fokus tetap pada Natalia dan Risda. Sekarang Risda sudah tahu semuanya, sudah mengetahui dengan jelas siapa ayahnya, sekarang Haris hanya perlu bertatap muka, dalam hal ini, tentu Harislah yang harus menemui Risda.


Haris membuang nafas berat, sangat berat. Bahkan kini, kepala Haris sedikit pusing, sehingga spontan jemari Haris langsung bermain di keningnya, sekarang ada banyak tanya yang muncul, khususnya mengenai Risda.


Apa yang ada di pikiran anak itu setelah tahu semuanya ?. Apakah hatinya hancur mengetahui bagaimana statusnya kini ?. Apa yang membuat ia kemudian lahir kedunia, apakah itu dapat Risda terima ?.


Pertanyaan pertanyaan itu terus saling berkejaran di kepala Haris, akhirnya memilih bersandar dan entah mengapa menjadi begitu lelah. Seluruh badan Haris terasa bagai mau remuk, seakan habis bekerja keras, keringat dingin kini malah ambil bagian, dan kemudian Haris malah menjadi menggigil.


Salah satu Staf Haris Linda, yang dari tadi memperhatikan Haris mengerutkan keningnya, ada yang aneh, karena mata Linda jelas melihat Haris yang menggigil. Ini yang membuat langkah Linda mendekat dan meletakkan punggung tangannya ke kening Haris, staf ini langsung melonjak.


"Pak Haris panas sekali Pak. Bapak sakit ya ?".


Haris membuka matanya. "Kenapa Lin ?".


Linda menggeleng. "Suhu badan Bapak panas sekali, Bapak mungkin demam, ke klinik saja Pak".


Haris anggukkan kepala, ingin berdiri, tapi entah kenapa Haris sama sekali tidak mampu, badannya benar benar lemas. Melihat ini, Linda langsung memanggil satpam untuk membantu Haris menuju klinik.


Dokter yang menangani Haris juga ikut terkejut, panas badan Haris terlampau tinggi, sehingga dengan cepat dokter muda ini langsung memberikan pertolongan pada Haris. Linda sepertinya tak tega meninggalkan Haris, sehingga Linda tetap duduk di samping ranjang Haris, hingga dokter meninggalkan mereka.


Linda terus memperhatikan Haris yang kini sudah tertidur. Linda masih tak habis pikir, bagaimana Senior Manager yang kini sudah berusia nyaris empat puluh lima tahun itu belum juga menikah, padahal dari semua segi, Haris sudah sangat layak untuk itu.


Ini juga sering menjadi perbincangan hampir semua staf yang ada di kantor ini, bahkan banyak yang mengaku bersedia di nikahi Haris, termasuk Linda yang walau usia Linda terpaut dua kali lipat dibanding usia Haris, tapi sepertinya bukan satu masalah, karena ini Senior Manager, tampan pula.


Maghrib sudah tiba, Haris belum bangun juga, Linda tentu tetap tak tega untuk pergi, untung di tasnya ada mukena, Linda langsung bergegas ke kamar mandi dan kemudian melaksanakan shalat di samping ranjang Haris.


Haris terbangun dari tidurnya, matanya mengecil melihat Linda yang masih ada di sampingnya. Haris menggeliat, rasanya sudah lumayan, walau masih terasa ada lemasnya, tapi Haris yakin, kalau ia sudah mampu mengendalikan tubuh untuk sekedar kembali ke rumah dinasnya.


"Kok belum pulang Lin ?".


Linda menatap Haris sesaat. "Nggak apa apa Pak. Bapak sudah mendingan ?, saya panggil dokter ?".


Haris hanya anggukkan kepala. Linda langsung menuju ruang dokter. Linda yakin dokter masih ada, dokter itu tak akan berani pulang, ada Senior Manager yang sedang terbaring, mustahil dokter pergi sebelum Haris terbangun.


Linda langsung menerobos masuk, dua orang yang sedang pangkuan langsung melonjak, perawat yang tadi bertengger di pangkuan sang dokter langsung hilang, Linda nyakin ia pasti menuju kamar mandi, tampak tadi perawat itu memegangi depan bajunya, terbuka mungkin.


Sang dokter senyum nyengir ke arah Linda. "Kenapa Bu Lin ?".


Linda hanya menggeleng. "Kalo sedang ada siaran langsung, kan pintunya bisa di kunci dulu dok".


Dokter kembali senyum nyengir. "Pak Haris bagaimana Bu Lin ?". Langsung mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Sudah bangun dok".


Dokter langsung berdiri. "Ayo kita lihat".


Linda masih berusaha mencari perawat, tapi tak nampak, belum keluar juga, akhirnya Linda mengikuti langkah dokter, persis di sampingnya. Mata Linda kembali terganggu, kini tambah menggelengkan kepala.


"Pintunya belum terkunci dok".


Sang dokter merah padam dan cepat cepat memberesi resleting yang di maksud Linda, dokter mempercepat langkahnya, hingga cukup jauh meninggalkan langkah Linda yang tetap melangkah biasa saja.


Linda kembali hanya bisa geleng kepala, dari semua yang Linda lihat, Linda bisa membayangkan apa yang dilakukan sang dokter dengan asistennya itu. Ini yang membuat Linda kecewa sekaligus kasihan dengan istrinya sang dokter, Linda kenal baik dan sering bercerita juga.


Masih terngiang di telinga Linda apa yang di klaim si Istri tentang suaminya, dokter yang setia dan mencintainya sedalam samudera. Ini yang membuat Linda kasihan, ternyata selama ini wanita itu tertipu dengan sikap suaminya, buktinya, pantang ada kesempatan, sang dokter main sikat saja.


Linda tak jadi masuk, karena Haris dan dokter sudah menuju ke arah pintu, Linda hanya berdiri menunggu dan mendengar pembicaraan mereka, Linda tak begitu respon, pikirannya masih membayangkan apa yang barusan dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Belum makan kan Lin ?".


Linda menatap Haris sesaat dan menggeleng. "Memang belum Pak".


"Ayo, kita cari makanan".


Dugaan Linda benar, keduanya turun, pesan makanan dan duduk saling berhadapan. Linda terus memperhatikan wajah Haris, karena baru kali ini Linda melihat wajah Senior Managernya sedekat ini, sebelum ini belum sama sekali. Linda mengakui, benar, sangat benar, Senior Managernya memang tampan.


Tapi kemudian mata Linda mengecil saat melihat layar ponsel Haris, ada photo perempuan muda dan cantik disana. Yang Linda lihat adalah photo Risda, Haris memang membuat Photo Risda sebagai latar layar ponselnya.


"Itu siapa Pak ?". Linda tak bisa menahan diri.


Haris melihat layar ponselnya dan tersenyum. "Putri saya Lin".


Kening Linda langsung berkerut. "Putri Bapak ?".


Haris kembali anggukkan kepala. "Iya, itu Putri saya, namanya Risda Nalia, sekarang sudah jadi guru SMP di Jakarta".


Linda tampak senyum. "Berarti seusia dengan saya ya Pak ?".


Haris ikut senyum juga. "Usia berapa sekarang memang Lin ?".


"Saya sudah dua puluh dua tahun Pak".


Haris kembali senyum dan geleng kepala. "Tua Putri saya kalo gitu, Risda maret lalu genap dua puluh tiga tahun, sekarang berarti sudah jalan dua puluh empat".

__ADS_1


Linda anggukkan kepala. Tapi masih tetap heran, semenjak Linda bekerja disini, yang ia tahu Haris baru sekali ambil cuti, bahkan lebaran juga tetap disini, sekarang ia bilang punya putri, bagaimana ceritanya ?. Ini tentu menimbulkan tanya, karena selama ini yang Linda tahu, Haris belum menikah.


Ingin sekali Linda bertanya lagi, tapi rasanya tidak mungkin. Linda mana berani tanya soal pribadi ke atasannya, jauh di atasnya malah. Sehingga Linda lebih memilih bungkam dan bertanya dalam hati. Lebih memilih fokus pada hidangan, sama seperti yang sedang di lakukan Haris.


"Istri Bapak di Jakarta ?". Akhirnya Linda tak tahan juga.


Haris anggukkan kepala. "Ya, mereka di Jakarta".


"Kok jarang pulang Pak ?".


Dada Linda langsung berdegub saat Haris menatapnya cukup lekat, Linda jadi merasa bersalah, nyakin kalau sudah terlampau lancang. Tapi, tak lama, dada Linda kembali agar tenang saat melihat senyum Haris mengembang walau cukup tipis.


"Kami sudah berpisah".


Linda agak mendelik. "Maksud Bapak, cerai Pak ?".


Haris anggukkan kepala. "Begitu Lin, kami sudah bercerai cukup lama".


Linda hanya angguk angguk kepala, masih ada banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya, tapi Linda sama sekali tak berani bertanya lagi. Linda juga hanya angguk kepala, saat Haris mengajak pulang setelah membayar apa yang mereka makan.


Sepanjang jalan Linda juga tak bicara sepatah pun, Linda tak berani bertanya lagi, takut nanti kembali mendapat tatapan tajam dari Haris, dada Linda sangat tidak tenang tadi, tak mau lagi mengulangnya, hingga Linda sampai dan turun, tetap hanya anggukan yang bisa Linda lakukan.


Haris kembali menjalankan mobilnya, berdusta pada Linda akan lebih baik menurut Haris, sudah sejauh ini Haris menyembunyikan kisahnya, masa bisa takluk pada staf nya sendiri, kan tidak mungkin. Sangat tidak mungkin Haris terbuka pada Linda soal Risda dan ibunya, tak mungkin sama sekali.


Rencana awal mau langsung pulang ke rumah nyatanya berubah, Haris malah memilih berhenti di taman pabrik, disana banyak pasangan yang sedang berduaan, baik yang masih pacaran, begitu juga dengan yang sudah berkeluarga, termasuk yang membawa anak anaknya yang masih kecil.


Mata Haris mau tidak mau harus menyaksikan semuanya, terlihat begitu gembira dan menyenangkan, apalagi tawa anak kecil itu, Haris mengurut keningnya, jika dulu ia tak pergi, mungkin ia juga akan menikmati tawa riang Risda yang seperti itu, tapi semuanya sudah usai, Haris sudah melewatkan masa itu dalam posisi tidak tahu.


Haris menengadah ke langit, memandangi bintang bintang yang bertaburan, tampak indah sekali. Kini Haris hanya punya harapan, semoga kedepannya semua bisa berubah membaik, utamanya kehidupan Risda. Haris yakin, sangat yakin, nanti waktu yang akan menjawab semuanya, semuanya akan indah pada waktunya.


… Bersambung …


Keluarga


Syamsuddahri Pulungan


Kota Sibolga, Sumatera Utara


Mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin


Mohon Maaf Lahir dan Bathin

__ADS_1


__ADS_2