Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Terjemahan Hidup Yang Makin Mengerucut


__ADS_3

Pesawat yang membawa Haris menuju Kalimantan sudah terbang tinggi, sudah menjauh dari langit Jakarta, tapi hati Haris sebenarnya masih tinggal disini, Haris masih sangat ingin berlama lama memeluk putrinya, masih ingin lama lama mendengar cerita adiknya.


Tapi, tentu saja Haris tak bisa, ia harus sesegera mungkin kembali ke tempat kerja, apalagi besok Haris ada jadwal peninjauan lahan baru yang dekat dengan desa tempat Risda dan Asrul mengabdi dulu, sehingga mau tidak mau, sore ini juga Haris sudah harus bergerak kesana.


Haris membuang nafas berat dan mencoba memejamkan mata, mungkin Haris harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa benar benar berkumpul dengan keluarga intinya, dengan adik dan putrinya, harus menunggu Haris menyelesaikan masa tugasnya dan menikmati masa pensiun.


Tapi tentunya itu masih cukup lama, masih ada setidaknya lima belas tahun lagi, sekarang Haris hanya bisa berharap waktu itu datang dengan cepat, karena kalau memilih alternatif lain, meninggalkan pekerjaan misalnya, itu bukan perkara yang mudah, nanti Haris mau bekerja dimana.


Sedang jika ingin memboyong orang orang yang ia cintai ke tanah Kalimantan lebih tak mungkin lagi, paling ia hanya mungkin membawa Natalia, sedang Risda tak memiliki kemungkinan sama sekali untuk dibawa bersama.


Asrul tak mungkin siap dan mau tinggal jauh dari keluarga besarnya, tempatnya memang disini, sehingga pilihan menunggu masa purna bakti menjadi pilihan satu satunya yang bisa diterima akal saat ini.


Haris kembali membuang nafas berat, Haris tak menyangka, semakin ia ke dalam, semakin sulit ia keluar, semakin banyak yang ia ketahui tentang putrinya, semakin sulit ia untuk menjauh lebih lama, bahkan video call tidak memberikan jawaban apapun, kerinduan Haris benar benar dalam.


Bahkan apa yang terjadi sekarang, baru beberapa menit yang lalu Haris meninggalkan Jakarta, bahkan masih di atasa pesawat, masih sangat jauh dari kata sampai, tapi Haris sudah kembali rindu lagi, sudah kembali ingin bertemu dan melihat langsung wajah putri dan adiknya.


Haris menghapus wajah dengan kedua tangannya, inilah kebenarannya, Haris merasa tersiksa jauh dari keduanya, amat mudah sekarang menerjemahkan hidup Haris, semuanya sudah begitu mengerucut pada satu tujuan, ingin tetap berada di samping putri dan adiknya.


Tak bisa menahan, Haris buru buru mengambil sapu tangan untuk menghapus air yang keluar dari sudut matanya, Haris kini benar benar resah, ia seakan tak tahu akan bagaimana hari harinya setelah ini, akan bagaimana ia menghadapi waktu demi waktu yang full di penuhi rindu, pada Risda, untuk Natalia.


Begitu Haris keluar dari gerbang bandara, Haris sudah melihat lambaian tangan Linda, ini tentu membuat mata Haris mengecil, kenapa Linda ?. Tapi Haris tetap bergegas mendekat, dan gelengan kepala Haris semakin lebih parah lagi, karena Haris tak menemukan siapapun di mobil perusahaan, kecuali Linda.


"Pak Seno ke rumah mertuanya Pak Ris, katanya kita balik saja, Pak Seno sudah ambil cuti tiga hari, mertuanya sakit parah". Jelas Linda seakan tahu apa yang di resahkan Haris.


"Jadi kamu ?".


Linda tersenyum tipis. "Kemarin saya minta ikut Pak, sekalian singgah di kampung sebentar Pak".


Kening Haris agak berkerut. "Memang kampung kamu dimana ?".


"Tewangrangkang Pak".


Haris menggeleng. "Dan kamu ikut sampai sejauh ini ?. Kenapa nggak nunggu disana saja ?".


Linda senyum kecut. "Kan jalurnya nggak lewat Pak. Kemarin Pak Seno harus mutar juga, nggak mungkin juga saya minta bapak mutar jemput saya". Jawab Linda dengan polosnya.


Haris kembali hanya bisa menggeleng, mengambil kunci kontak mobil dari tangan Linda, masuk mobil dan meletakkan tas ke kursi belakang, setelah Linda selesai memasang sabuk pengaman, Haris langsung menjalankan mobil, tentu menuju perkebunan, ini akan memakan waktu tempuh hampir lima jam setengah juga.


Sesekali Haris melirik ke arah Linda yang tampak enak saja santai memainkan ponselnya, melirik Linda begitu, Haris jadi terbanyang Risda, dari sisi umur, Risda masih lebih tua dua tahun dari Linda, tapi memang ada kesamaan antara keduanya, sikap yang sering tampak manja.

__ADS_1


"Umurmu berapa Lin ?".


Linda menoleh sesaat. "Masih 23 tahun, kenapa Pak ?".


Haris menggeleng. "Kamu sudah cukup dewasa, kenapa belum menikah ?".


Linda malah tertawa. "Menikah ?, bapak ada ada saja".


Kening Haris jadi agak berkerut. "Lho ?, kenapa memang, umur kamu sudah cukup".


Haris melirik ke arah Linda saat Linda juga sedang melirik, hingga mata mereka bertemu, walau hanya beberapa detik saja, tapi Haris melihat ada yang aneh dari cara Linda memandangnya, tapi Haris menggeleng dan menepis kemungkinan anggapan yang kini mengisi pikirannya.


"Memang bapak mau menikah dengan saya ?".


Haris sangat terkejut, bahkan mobil yang dibawanya hampir berhenti, Haris melirik lagi sebentar, menggelengkan kepala. Satu pertanyaan yang sama sekali tidak masuk dalam pikiran Haris, rasa terkejutnya tentu besar, Haris sama sekali tak habis pikir kenapa Linda bicaranya begitu.


"Saya serius kok Pak. Kalau bapak mau menikahi saya, saya mau kok Pak".


Haris benar benar menggeleng. "Apa sih Lin ?".


Linda anggukkan kepala. "Saya serius Pak".


Linda anggukkan kepala. "O.. putri bapak namanya Risda ?".


Haris hanya anggukkan kepala, masih begitu bingung dengan isi kepala Linda, bagaimana anak ini begitu berani mengatakan hal itu, tanpa ragu, tanpa malu sama sekali, seakan sedang membincangkan menu makanan saja, rasanya menurut Haris, terlampau aneh jika ia menikah dengan stafnya ini.


Pikiran Haris benar benar melayang, masa harus menikah lagi di usia yang begini, tahun ini Haris sudah genap berusia 49 tahun, dan memang tak ada lagi pikiran apapun tentang pernikahan, itu sudah menjadi keputusan Haris sejak 25 tahun yang lalu, sampai kini pikiran itu masih belum berganti.


Tiba tiba Haris terbayang Olivia, mungkin jika memang menikah itu mungkin terjadi, maka Olivia mungkin wanita yang paling tepat, bukan hanya dari sisi usia, tapi juga pengetahuannya tentang hidup Haris, pengetahuannya tentang Natalia dan Risda, bukan wanita yang malah lebih muda dari putrinya.


Haris kembali mendesah, menggaruk keningnya, kenapa pula jadi kepikiran menikah, Haris memperbaiki cara duduknya agar lebih nyaman memegang stir, Haris merasa salah jika malah memikirkan itu, tak penting, sama sekali tidak ada penting pentingnya, yang terpenting sekarang, bagaimana dua wanita yang ada dalam hidupnya, putri dan adiknya terus hidup bahagia.


"Pak. Coba bapak lihat Ahmad Albar, sudah tua lho Pak, tapi dia nikah juga itu, jarak usia dengan istrinya itu 37 tahun. Istrinya lebih muda dari Fahri Akbar".


Haris benar benar bingung, tak ada kata kata apapun yang bisa di katakan Haris, ia kini bahkan menjadi gemas melihat Linda, bisa bisanya malah cerita soal Ahmad Albar, Haris menggeleng terus, kenapa nggak sekalian ngomongin Mark Sungkar, itu malah lebih hebat, beda usia 45 tahun dengan istrinya.


"Lin ...".


Linda menoleh sesaat. "Iya Pak".

__ADS_1


"Kalau kamu masih ngomong kawin juga, nanti kamu turun saja di Teliankering, kamu naik angkot ke Tewangrangkang, bapak langsung ke Afdeling".


Linda mendelik. "Kok gitu Pak ?".


Haris angkat bahu. "Ya, memang gitu, sekarang begitu dulu".


Linda masih bisa senyum. "Sekarang saja kan Pak".


Haris agak mengerutkan keningnya. "Maksudnya apa ?".


"Bapak bilang kan sekarang, berarti besok nggak lagi begitu kan ?".


Haris menghela nafas panjang. "Terserah kamu lah".


Haris menggelengkan kepala untuk yang kesekian ratus kalinya. Haris memilih diam saja, benar kata orang banyak, Haris tak pernah bisa menang jika berdebat dengan wanita, bahkan dengan Linda yang seusia dengan anaknya saja Haris sudah seperti kalah, ini yang membuat Haris tak lagi bicara dan memfokuskan pandangan ke jalan raya yang makin jauh makin sunyi saja.


Sudah hampir sore baru Haris mencapai perkebunan, lebih dulu ia mengantar Linda yang sudah sejak dari Teliankering tak lagi mau bicara, ternyata Linda termakan ancaman Haris juga, tentu Linda tak mau di tinggal disana, nanti balik ke perkebunan akan terasa sulit.


Haris membuka pintu kamarnya, meletakkan tas dengan sembarang dan mencoba merebahkan tubuhnya, walau sebenarnya masih sangat letih, tapi ternyata itu belum berlaku pada mata Haris, mata itu sama sekali tidak mau terpejam, tetap saja terbuka, sehingga Haris kembali mendesah dan duduk di tepi ranjang.


Pikiran Haris benar benar jauh melayang, sekarang otak Haris malah mengarah ke hal kotor, Haris tersenyum sendiri membayangkan menikah dan tidur bersama Linda, tentu akan terasa lucu, bagaimana Haris bisa punya istri yang super muda, tapi tak lama Haris menepisnya.


Bahkan Haris tidak yakin jika Natalia dan Risda bisa menerimanya, apalagi Risda. Bagaimana ia bisa memanggil ibu pada wanita yang usianya berada di bawahnya, belum lagi keluarga Linda, apakah mereka siap punya menantu setua Haris, kalau Linda anak pertama, jangan jangan usia orang tuanya bisa jadi berada di bawah Haris.


Haris tertawa sendiri dan menepis bayangannya, bayangan yang aneh yang seharusnya tak penting untuk dibayangkan, Haris malah heran kenapa malah menjadi larut dengan pikiran yang seperti itu, kalaupun menikah, dapat di pastikan Linda bukan wanita yang tepat.


Menikah dengan Olivia ?, ada banyak kemungkinannya, yang pertama Olivia memang belum juga menikah hingga kini, sehingga akan terlampau aneh jika ia menolak lamaran Haris, apalagi Haris tahu, sejak awal bertemu, Olivia memang punya rasa suka padanya.


Haris malah berharap, Olivia tidak menikah hingga kini bukan karena kecewa soal kemungkinan hubungan mereka. Haris menepuk jidat, betul betul bingung sekarang, bingung akan dirinya sendiri, kok malah semakin panjang memikirkan pernikahan, batin Haris mengatakan itu salah.


Ini jelas dipicu oleh omongan Linda yang malah menantang Haris untuk menikah dengannya, sehingga Haris menjadi selarut ini memikirkan hal yang selama ini sama sekali tak pernah disentuh pikirannya, tak pernah singgah di otaknya.


Tapi, entah kenapa, hari ini Haris menjadi bertanya kepada dirinya sendiri, apakah mungkin menikah lagi, apapun keadaannya, Haris juga merasakan gejolak itu, apapun itu, faktanya Haris adalah laki laki normal, sangat normal.


Olivia belum tentu begitu ceritanya, dan belum tentu juga mau menerima Haris, dia seorang PNS, mana mungkin juga meninggalkan Jakarta, tentu kariernya akan lebih baik disana, sedangkan Haris mungkin sampai usia pensiun akan terkurung dalam perkebunan ini, jarak dan masa untuk itu sudah tak mendukung lagi.


Haris merebahkan tubuhnya dan memaksakan diri untuk beristirahat, badan Haris sejujurnya lumayan penat, dengan usianya yang sekarang, menempuh perjalanan sejauh ini bukan lagi masalah yang ringan. Sudah tak sekuat dulu lagi, sekarang Haris sudah membutuhkan banyak waktu untuk rehat.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2