Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Mencoba Menjadi Ayah Yang Baik


__ADS_3

Haris sudah berulang kali membolak balik tubuhnya, tapi tetap juga tidak menemukan posisi yang tepat, tetap tak bisa tidur juga. Akhirnya Haris kembali terduduk, kembali berulang kali menghela nafas panjang, bahkan kurang tahu kenapa ia malah sulit tidur, pikirannya kacau.


Haris menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil duduk di atas tempat tidur, pikiran tentang Asrul yang belum kepikiran untuk bekerja ternyata benar benar mengganggu pikiran Haris, ia dengan jelas menemukan keresahan dalam diri putrinya Risda, itu pula yang melahirkan resah panjang Haris.


Haris memijit keningnya yang mulai terasa pusing. Ingin sekali Haris mengajak Asrul atau Agung membicarakan ini, tapi itu tadi, Haris takut ini malah melahirkan jarak diantara mereka, jangan jangan Agung bahagia dengan itu, jangan jangan Agung yang meminta Asrul begitu.


Soal urusan rumah tangga, Haris selalu kecut, Haris minder jika membicarakan membina rumah tangga yang bahagia, bagaimana Haris memberikan nasehat soal itu, sedang ia sendiri tak pernah mengalaminya dengan benar, bahkan Haris punya pengalaman buruk soal itu.


Haris melirik jam yang ada di tangannya, kemudian mata Haris juga mengarah ke jam yang tergantung di dinding, sama, sama sama menunjukkan pukul 22.00 WIB. Pikiran Haris melayang jauh, Haris meraih ponselnya, walau tampak agak ragu, akhirnya Haris tekan juga nomor Lufti.


“Ngapain Lu, ganggu orang saja ?”.


Haris tertawa. “Sudah selesai berenangnya ?”.


Lufti ikut tertawa. “Sialan Lu. Ada apa ?”.


Haris terlebih dulu mendesah baru kemudian menceritakan semua yang dikatakan Risda soal Asrul padanya tadi. Haris menceritakan semuanya dengan lengkap, tanpa ada satupun yang dilewatkan, Haris merasa, untuk saat ini hanya Lufti yang paling tepat untuk diajak bicara.


Lufti jadi mendesah. “Kita lihat sisi positifnya saja Bro”.


“Iya, aku paham. Tapi ..”.


Lufti berdecak. “Ris. Ada jarak yang perlu kita pahami, kita diposisi mertua, kita juga belum tahu apa yang ada di pikiran Agung, atau jangan jangan Agung yang meminta begitu”.


Haris kembali mendesah, ia juga punya dugaan begitu, tapi tetap saja Haris merasa kurang tepat jika laki laki yang sudah beristri belum berpikir soal pekerjaan, apapun alasannya, menurut Haris itu kurang tepat.


“Kok diam Lu ?”.


Haris kembali mendesah. “Nggak tahu Luf, nggak tahu mau ngomong apa”.


Lufti ikut mendesah. “Iya juga memang”.


“Iya apanya ?”.


Lufti tertawa kecil. “Sikap Asrul itu kurang tepat. Tapi Ris, maaf ya, perasaan gua, menantu Lu itu anak baik, nggak aneh. Kalaupun ada yang aneh, mungkin ini Ris”.


“Entahlah Luf”.


Haris dan Lufti sama sama terdiam, Lufti juga kurang yakin mau mengatakan apa, ini kasus baru bagi Lufti, karena ia memang belum pernah mengalami, atau bahkan mendengar saja baru kali ini, sehingga Lufti ikut bingung.


Widya mengambil alih ponsel Lufti. “Bang …”.


“Iya Wid, kenapa ?”.


“Abang jangan mikirnya terlampau panjang gitu, belum tentu isi kepala abang sama dengan apa yang terjadi sebenarnya. Jangan sampai, akibat keresahan abang, malah membuka masalah, yang seharusnya tak ada masalah, jadi bermasalah”.

__ADS_1


Haris agak merenung mendengar ucapan Widya. “Abang cuma nerusin keresahan Risda saja Wid, nggak lebih”.


“Widya paham Bang, paham betul. Tapi, masalah yang seperti ini sensitif Bang, ini masalah kecil, yang Widya minta, jangan malah kita yang membuatnya besar”.


“Maksudnya gimana Wid, abang jadi pusing”.


“Bang .. Bang. Apa memang abang sudah tahu isi pikiran Bang Agung sama Kak Meeta, belum kan ?. Kita sama sama belum tahu isi pikiran mereka, kenapa kita malah membahasnya jauh”.


Haris mendesah lagi. “Iya juga Wid”.


“Atau, apa susahnya kalau nyerahin semuanya ke Risda, biar dia yang nanya tuh suaminya, kok belum kepikiran kerja, kenapa harus melibatkan kita dulu. Risda itu bukan sekedar putri kita sekarang bang, dia juga menantu orang, istri orang”.


“Iya, iya. Abang tahu Wid”. Haris mendesah lagi. “Masalahnya Risda mengaku nggak berani nanya Wid, segan katanya”.


“Widya sih terserah Bang, mau abang omongin atau nggak Widya abstein. Yang Widya harap hanya itu, jangan kita malah membuat masalah pada rumah tangga putri kita yang sebenarnya tak punya masalah, itu saja Bang”.


Haris tambah bingung. Tapi, apa yang dikatakan Widya banyak benarnya, mungkin bagi Agung itu bukan masalah, apa saat nanti ia menanyakannya, bukan malah jadi masalah, seperti kata Widya, malah membuka masalah. Haris mengurut keningnya, apa yang dikatakan Widya benar ?.


“Gua pikir, kita tenang saja dulu Bro, Lu nggak usah kasak kusuk dulu, biar gua yang ngomong dulu ke Asrul, gimana ?”. Lufti sudah kembali yang memegang ponselnya.


Haris kembali mendesah. “Maksudku juga begitu Luf”.


“Okey, nanti gua yang ngomong, Lu diam saja dulu”.


Lufti tertawa kecil. “Besok ?, yang benar aja, emang Lu dimana ?”.


Haris ikut tertawa kecil. “Di rumah Agung”.


“Sialan, kapan Lu datangnya ?”.


Haris kembali tertawa kecil. “Kemarin malam aku tidurnya di rumah tetanggamu”.


“Sialan”. Lufti kembali mengumpat. “Kemarin Lu di rumah Lia, kok bisa ?”.


Haris tertawa kecil lagi. “Masa nggak bisa ?”.


“Iyah Sih”.


Lufti kembali tertawa, baru ingat kalau ia dan Widya baru pulang sore ini, wajar saja kalau ia tidak tahu Haris kemarin disini, tapi tadi lama cerita dengan Natalia, dia sama sekali tak singgung soal Haris.


“Besok ketemu dimana Ris ?”.


Haris agak lama menjawab, masih agak bingung. “Dimana kira kira ?”.


“Lu nggak kemari lagi memang Ris ?”.

__ADS_1


Haris kembali tertawa kecil. “Iya memang. Tapi aku kesana kan pagi, kau sudah ke sekolah, mana ketemu kita”.


“Siangnya kan bisa Bro ?”.


Haris tertawa kecil lagi. “Penerbanganku jam sebelas Luf”.


“Balik besok maksudnya ?”.


“Iya”.


Lufti yang gantian mendesah. “Besok pagi gua telephon, Lu tunggu saja di rumah Agung”.


“Kau kesini maksudnya Luf ?”.


“Iya, tunggu saja besok”.


“Okey”.


Telephon tertutup, Haris kembali membaringkan tubuhnya, akan sangat baik jika Lufti bersedia yang menanyakannya pada Asrul, namun begitu Haris tetap was was, berharap Lufti menyampaikannya dengan baik tanpa membawa bawa namanya dan nama Risda tentunya.


Haris merasa, apapun itu, Asrul memang harus mendapat nasehat, atau paling tidak Haris bisa tahu apa yang menjadi alasan Asrul belum memikirkan pekerjaan, atau kenapa Asrul lebih memilih tidur ketimbang membantu usaha ayahnya, Haris merasa harus ada yang menasehati atau membimbingnya.


Masalahnya Haris merasa, ia sama sekali tak pantas menasehati atau memberikan bimbingan siapa saja soal urusan berumah tangga, karena memang Haris yakin, ia sama sekali tak layak untuk itu, rumah tangga yang pernah Haris bina, yang membawa Risda padanya adalah sebuah kesalahan.


Bahkan hingga hari ini Haris masih menyeselasinya, hanya saja tidak mungkin terus menerus bertahan dalam kekesalan, apalagi saat ini ada Risda, setidaknya Haris harus memahami satu hal penting, Risda adalah anaknya, darah dagingnya, apapun yang menjadi masalah Risda adalah masalahnya.


Kembali Haris memijit keningnya, ia terduduk kembali, kini baru tersadar apa yang menjadi tujuannya sampai ke sini, Haris melirik jam di tangannya, sudah pukul setengah dua belas malam, bahkan sudah lewat beberapa menit.


Sekarang rencananya akan bertambah, Haris mengingat ingat jumlah tabungan yang ada di rekeningnya, rasanya masih cukup banyak, akan lebih baik memindahkan uang itu ke rekening Risda, cukup meninggalkan beberapa saja untuk kepentingan bulan ini, toh bulan depan kan gajian lagi.


Saat ini, yang ada dikepala Haris bagaimana caranya menjadi ayah yang baik, bagaimana caranya memberikan kekuatan pada putrinya, walaupun seperti kata Widya, Risda sekarang bukan sekedar putrinya, tapi tetap saja Risda adalah hidupnya, sampai kapanpun akan mengisi detak nadinya.


Haris ingin Risda bahagia, sebahagia bahagianya bahagia. Apapun Haris akan lakukan untuk mewujudkan hal itu, Haris yakin Asrul dan seluruh keluarganya akan sangat mampu mewujudkannya, tapi begitupun, Haris harus ambil bagian,  harus terlibat langsung, karena Risda adalah nafasnya.


Tapi tak lama kemudian Haris tersentak dan langsung tepuk jidat, kenapa ia menjadi lupa, Haris benar benar melupakan rencana membuat kejutan ulang tahun Risda yang ke dua puluh lima tahun, Haris kembali buang nafas berat, sepertinya semua akan gagal total.


Bagaimana tidak, sama sekali tak ada persiapan apapun yang jadi di lakukan oleh Haris sejak siang tadi, Haris malah ikut larut berbincang dengan Risda, padahal sama yang lain, Haris belum sama sekali menyampaikan rencananya, sehingga dapat dipastikan jika tak ada seorangpun yang tahu.


Haris tertawa tertahan, menertawakan dirinya sendiri, padahal ia sudah meminta Natalia menutupi kedatangannya, eh .. Haris malah nongol di rumah Agung, tentu saja ketemu dengan Risda, mereka malah bicara panjang, dan inilah hasilnya, Haris lupa dengan apa yang ia rencanakan sebelumnya.


Semua rencana yang di impikan Haris sama sekali tak tergubris. Haris kembali buang nafas berat untuk yang kesekian kalinya, ada rasa penyesalan sekarang, kenapa malah berbincang dengan Risda begitu lama, kenapa ?. sehingga tak ada satupun yang disiapkan Haris untuk kejutan pada putrinya, Haris menggeleng sendiri dan senyum kecut sendiri.


Haris kembali berulang kali menghela nafas panjang, kembali berusaha untuk memejamkan mata, kali ini Haris berhasil juga, mungkin karena sudah letih atau memang malam sudah sangat larut, pada akhirnya Haris berhasil juga masuk ke dalam alam mimpinya.


…. Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2