Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Tidak Ada Yang Sempurna


__ADS_3

Asrul mengerti lirikan dan anggukan ayahnya, sehingga Asrul langsung ikut melangkah meninggalkan ayah dan anak yang masih terus saling memeluk satu sama lain. Ya, sudah lebih lima belas menit, pelukan itu belum lepas juga, bahkan terlihat semakin erat saja.


Agung menarik tangan Asrul dan memintanya duduk di meja makan. Asrul ikut saja dan membalas balik senyuman ayahnya, Asrul yakin, kalau sudah begini, ayahnya pasti ingin bertanya atau menyampaikan sesuatu.


“Kamu beneran pacaran Rul ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Benaran Pa, kenapa Pa ?”.


Agung menggeleng. “Nggak apa apa sih, Papa kan cuma nanya doang”.


Asrul tertawa kecil. “Kalau Asrul mau nikah gimana Pa ?”.


Agung mendelik. “Menikah ?, beneran Lu ?”.


Asrul kembali tertawa kecil. “Kok Papa malah terkejut gitu sih Pa ?”.


Agung akhirnya ikut tertawa kecil juga, juga geleng kepala. “Menikah ama Risda ?”.


Asrul anggukkan kepala. “Papa malah nanya, sama siapa lagi emang ?”.


Agung mendehem. “Tapi kan Rul”.


Asrul menangkap keraguan ayahnya. Asrul menggeleng. “Risda siap ikut dengan keyakinan kita Pa, kami sudah obrolkan itu, Papa tak usah ragu begitu”.


Agung tampak sedikit terkejut, tapi yang lebih terkejut justru ibunya Asrul yang baru nyampe dan mendengar apa yang dikatakan Asrul, dokter paruh baya itu menggeser kursi dan duduk di samping putra tertuanya, melihat langsung wajah Asrul plus dengan kerut keningnya.


“Bilang apa tadi kamu Rul ?”.


Asrul tertawa kecil lagi, bahkan memegangi dan mencium wajah ibunya. “Itu beneran Ma, Asrul serius”.


“Serius ?”. Ibu Asrul masih tampak ragu.


“Mama nggak yakin, tanya sendiri, tuh orangnya masih ada”.


Ibu Asrul agak mendelik. “Risda disini ?, dimana ?”.


Agung membalas anggukan istrinya dan memberi kode dengan lirikan matanya, Ibu Asrul anggukkan kepala, berdiri dan menuju pintu, tapi kemudian mundur lagi saat melihat Risda yang sekarang sudah duduk sambil memeluk lengan Haris yang juga duduk disampingnya.


“Apa Natalia setuju Rul ?”.


Asrul angkat bahu. “Itu biar menjadi urusan Risda saja Ma, kita nggak usah ikut ikutan, kecuali nanti Risda minta tolong”.

__ADS_1


Ibu Asrul anggukkan kepala. “Iya juga sih”.


Tapi, pikiran dokter paruh baya ini masih mengambang, ada juga rasa khawatir jika ternyata Natalia tak setuju dengan niatan Risda. Tapi, apapun itu, ia berharap semua dapat berjalan dengan baik, sejak Asrul pulang dari Kalimantan, isi kepala dokter paruh baya ini memang hanya menantu.


Ia sangat berkeinginan agar Asrul cepat cepat mencari jodoh dan menikah, karena usianya juga sudah sangat matang untuk itu, sebagai ibu, ia tentu tak ingin anaknya berlama lama melajang, karena hanya laki laki yang sudah beristri yang akan punya nilai fokus yang tinggi.


“Mama hanya berharap tak ada masalah Rul, Mama juga bersyukur jika itu memang benar terjadi, bahkan Mama memang berharap itu akhirnya”.


Asrul kembali tertawa kecil. “Mama akan segera punya menantu”.


Ibu Asrul ikut tertawa kecil. “Mudah mudahan, Mama sudah terlalu tua untuk tidak segera punya cucu”.


Asrul hanya geleng kepala, heran kenapa semua orang tua selalu cerita tentang cucu, tapi ayah Asrul sebaliknya, tak ada keheranan sedikitpun yang menguasai kepalanya, bahkan apa yang dikatakan istrinya itulah yang menguasai kepalanya.


Agung juga sudah sangat ingin seperti teman temannya, jalan jalan ke kedai kopi sambil membawa cucu, tampaknya sangat indah dan membahagiakan, ini pula yang membuat Agung begitu antusias mendengar Asrul akan menikah.


Pikiran Agung juga sama, ia merasa sudah terlampau tua untuk tidak menimang cucu, lagi pula Agung baru akan sangat yakin menyerahkan semua urusan bisnisnya pada Asrul jika Asrul sudah punya istri, jika masih lajang seperti ini, Agung masih sangat ragu, takut Asrul kurang fokus.


Risda akan jadi menantunya juga punya nilai tersendiri bagi Agung, bukan hanya sekedar karena Risda putri dari sahabat kentalnya, akan tetapi memang lebih dari itu, Agung sudah kenal Risda sejak kecil, ia tahu bagaimana karakter Risda, sehingga sangat nyakin dapat menjadi pendorong besar bagi Asrul.


Tak beda dengan ibunya Asrul, memilih Risda menjadi menantu menurutnya adalah pilihan yang paling tepat. Wanita paruh baya ini dulu bahkan kesal dengan Asrul yang pacaran dengan Wiwik, ia kurang sreg dengan sikap dan cara bicara Wiwik yang suka keceplosan, kurang baik menurutnya.


Ketiganya saling pandang satu sama lainnya, sama sama tersenyum dengan isi pikiran masing masing. Ibu Asrul akhirnya memilih berdiri, masuk kamar untuk mengganti pakaiannya yang masih pakaian kerja. Agung tampak masih menghayal, sedang Asrul sekarang penasaran, apa yang dibincangkan Risda dengan ayahnya.


“Kenapa ayah tak bicara sebelumnya ?, kenapa ayah diam saja selama ini ?”.


Haris mendesah. “Ayah tak berani”.


Risda tertawa kecil. “Kenapa ayah tak berani ?”.


Haris kembali mencium kepala Risda. “Ayah khawatir kamu terkejut dan sedih, sementara disana kamu tak punya tempat mengadu, kamu jauh dari ibumu”.


Risda tersenyum, sudah mampu tertawa kecil, Risda hanya mengeratkan pelukannya ke lengan sang ayah. Risda juga merasa apa yang dikatakan ayahnya banyak benar dan di terima akal sehat, dan hal itu juga sudah sering Risda dengar, terutama dari Pamannya Lufti dan Bibinya Widya.


“Kita ke tempat Mama kenapa Yah ?”.


Haris tersenyum dan anggukkan kepala. “Ayah memang mau kesana”.


Risda melepas pelukannya. “Kita pulang Yah”.


Haris anggukkan kepala dan sama sama berdiri, tapi langkah keduanya terhenti saat masuk ruangan, disana ada Agung, Istrinya dan Asrul tentunya. Dengan begitu, Haris dan Risda sama sama memilih duduk kembali. Haris duduk di samping Agung, sedang Risda duduk diantara Asrul dan Ibunya.

__ADS_1


Ibu Asrul mengelus bahu Risda perlahan. “Risda serius dengan keputusan Risda kan sayang ?”.


Risda melirik sesaat dan membalas senyum ibu Asrul. “Iya Bu, Risda serius”.


Ibu Asrul langsung meraih tubuh Risda, mencium pipi dan memeluknya. “Terima Kasih Sayang, Ibu senang sekali”.


Risda senyum lagi. “Sama sama Bu. Risda juga senang kok”.


Semuanya sama tertawa bahagia. Ibu Asrul yang paling tampak sumringah, ia memang sudah sangat ingin punya menantu perempuan, ia ingin seperti banyak temannya yang kemana mana selalu bersama dengan menantu masing masing, apalagi nanti menantunya Risda, tentu Ibu Asrul akan bangga mengenalkannya pada teman temannya, karena menantunya sangat cantik dan bicaranya lembut.


“Jadi nggak lama lagi kan ?”.


“Mudah mudahan Bu”.


Kembali Ibu Asrul memeluk Risda cukup erat, Asrul hanya senyum senyum saja, ia tahu kalau ibunya memang suka pada Risda, rasa khawatirnya hanya soal yang satu itu saja, dan kini persoalan itu tak ada lagi, tentu membuat Ibu Asrul sangat lega.


Sedang Haris dan Agung hanya saling pandang dan sama melempar senyum, Agung tentu sangat senang akan punya hubungan baru dengan Haris, jika semuanya lancar, maka pertemanan mereka akan naik kelas menjadi keluarga, Agung tentu sangat senang hal itu dapat terjadi.


Haris juga punya pikiran yang sama, ia mengenal Agung sejak lama, mereka berteman sangat akrab saat masih kuliah dulu, sehingga Haris sama sekali tak ragu dengan sikap dan kepribadian Agung, ia sangat yakin dengan semua kebaikan yang Agung miliki.


Ketenangan itu bertambah saat melihat prilaku Ibunya Agung pada putrinya Risda, kini Haris jadi tahu selintas bagaimana sifat dan prilaku ibunya Asrul, Haris memang tak begitu mengenalnya, tapi dari apa yang ia lihat hari ini, Haris sangat yakin jika Risda akan memiliki pasangan mertua yang akan menyayanginya sepenuhnya.


Mengenai keputusan Risda untuk ikut dengan keyakinannya, Haris mendukung itu, jika ada penolakan dari Natalia, Haris memang tak yakin jika itu ada. Dan kalaupun ada, Haris siap memberikan pengertian kepada Natalia soal itu, Haris yakin bisa melakukannya dengan baik.


Tinggal satu kekhawatiran Haris sekarang, kondisi jantung Risda. Asrul memang sudah tahu soal itu, tapi bagaimana dengan orang tuanya ?. kemudian, apakah Natalia selama ini berhasil menjauhkan Risda dari makanan yang dapat memicu jantungnya, Haris merasa, ia perlu jujur soal ini.


“Tapi, ada satu hal yang belum Agung dan Bu Lubis ketahui”.


Ibu Asrul sedikit mendelik. “Apa Bang ?”.


Haris mendesah cukup panjang. “Sejarah Risda memberikan dampak pada jantungnya. Risda punya gejala penyakit jantung”.


Agung dan Ibu Asrul tampak terkejut, tapi yang paling terkejut justru Risda. Ia sama sekali tak tahu soal itu, sehingga membuat Risda malah menjadi was was, mata Risda langsung mengarah pada ibu Asrul, Risda sedikit agak tenang, karena melihat Ibu Asrul tampak tersenyum.


Ibu Asrul angkat bahu. “Itu lumrah Bang, dan itu adalah resiko yang paling kecil, tak ada masalah jika masih berstatus gejala, yang penting Risda bisa mengatur pola makannya, tak masalah”.


Haris kembali menghela nafas, cukup lega. “Mudah mudahan begitu”.


Ibu Risda kini tertawa kecil. “Tak ada orang yang sempurna Bang, semua orang punya kelebihan, tapi disaat yang sama, semua orang juga punya kekurangan. Hal itu tak terlalu penting untuk di bahas”.


Haris kali ini benar benar lega. Ia tak menyangka akan mendapat jawaban yang seperti itu. Haris kembali mengembangkan senyumnya, apalagi Agung kini ikut menepuk nepuk pelan punggungnya.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2