
Setelah semuanya selesai sarapan pagi. Sebenarnya nggak bisa juga di sebut sarapan, karena menunya nasi dan ikan bakar, makan pagi mungkin lebih tepat, semuanya sudah melakukan chek-out, rutenya dari Pulau Poncan ini rombongan akan beranjak menuju gugusan Mursala, tujuan pertama ada air terjun, kemudian Pulau Kalimantung, baru setelahnya ke Pulau Putri.
“Kira kira berapa jam kesana Pak ?”. Tanya Asrul setelah semuanya naik.
Mudin yang mengemudikan kapal kecil ini tersenyum tipis. “Nggak lama kok Bang, paling sekitar satu jam saja dari sini”.
Asrul anggukkan kepala. “Jauh juga ya Pak ?”.
Mudin kembali tersenyum. “Nggak lah Bang, nggak begitu jauh itu”.
Kemudian tak ada gunanya nanya lagi, suara mesin kapal sudah mendominasi, kalau mau bertanya saja harus mengeluarkan suara dengan volume tinggi, ini yang membuat semuanya lebih memilih diam, hanya Risda dan Faridha yang tampak sibuk photo sana photo sini dengan ponselnya, termasuk selfie dengan pasangan masing masing.
Setengah jam perjalanan Haris baru benar benar tenang, di awal Haris agak takut kalau ada anak dan keponakannya yang mabuk laut, kalau perjalanan kemarin yang hanya 20 menit dan tanpa gelombang Haris tak merasa apa apa, perjalanan yang ini tentu beda, cukup jauh dan penuh gelombang.
Tapi setengah jam berlalu semuanya masih tertawa tawa membuat Haris benar benar tenang sekarang, ia yakin perjalanan akan sangat nyaman dan tidak akan ada yang harus menjadi perhatian, laju kapal yang orang sini nyebutnya stempel juga lebih tiga kali lipat dari yang semalam, Haris juga yakin akan mencapai Mursala dalam waktu tak sampai 60 menit.
Air Terjun Mursala, Tapanuli Tengah
Haris dan Asrul sama geleng kepala, begitu kapal berhenti tepat di depan air terjun mursala, Farhan langsung meloncat, hanya berselang sekian detik, Faridha ikut menyusul. Risda sudah berdiri, sudah hampir buka jilbab, tapi Asrul langsung menariknya duduk kembali.
“Mau ngapain ?”.
Risda langsung manyun. “Mandi”.
Asrul menggeleng. “Mana boleh mandi disini”.
Risda anggukkan kepala kearah Farhan dan Faridha. “Itu kenapa nggak dilarang”.
Asrul kembali menggeleng. “Mereka sudah besar, suka suka merekalah”.
Risda makin merengut. “Jadi adek anak kecil ?”.
Asrul tepuk jidat, nggak tahu mau bilang apa lagi, Asrul hanya bisa geleng kepala, memang sudah tahu kalau sifat istrinya akan merajuk panjang kalau dilarang melakukan sesuatu yang ia inginkan. Untungnya memang, Risda hanya begitu pada Asrul, ibunya Natalia dan ayahnya Haris saja, ke yang lain malah berbanding terbalik sangat jauh, Risda malah jadi tempat bermanja.
“Sudah, kalau mau mandi juga, nggak apa apa, tapi abang nggak ikut ya, abang takut soalnya, lihat airnya ini, pasti ada ikan hiunya ini, iihhhh ..”. Asrul ngomong pelan.
Risda menatap Asrul sekejap, tapi kemudian kembali ke peran merajuknya, duduk menyamping dari Asrul, tapi itu tak lama, Risda sekarang menuju haluan dan terus memandangi Farhan dan Faridha yang masih berenang saling kejar, entah kenapa jantung Risda malah tak enak, bergerak lebih kencang dari biasanya, bahkan ada rasa takut sekarang.
“Far, Dha. Naik gih, ada hiu disini, cepat”.
“Apa Kak ?”. Farhan berenang mendekat.
“Udah ah, naik dong. Disini ada ikan hiu, naik cepat”.
Mendengar itu, Faridha yang buru buru naik, bahkan ikut menarik tangan Farhan untuk segera naik. Asrul senyum senyum sambil menutup mulutnya, jelas jelas Asrul hanya ngarang, tapi ternyata itu membuat Risda takut, Asrul mana tahu kalau Risda malah menakuti Farhan dan Faridha yang langsung naik.
“Memang ada hiu disini Kek ?”. Farhan masih penasaran.
Jamil anggukkan kepala. “Kadang kadang sering ada”.
Farhan mengerutkan keningnya. “Kadang kadang, sering. Maksudnya Kek ?”.
“Ya, sering terlihat memang”.
__ADS_1
Farhan menggeleng. “Ah, si Kakek mah gitu, kalau sering ya sering saja kek, masa kakek masih pake kadang kadang”.
Jamil tertawa kecil sambil menggaruk dagunya. “Ya, memang begitu”.
Jadi Asrul yang terkejut, ternyata karangannya ada benarnya, Risda sudah senyum senyum dan bergelanyut manja di lengan Asrul, tapi hanya sekian detik saja, Asrul sudah harus berdiri mengikuti tarikan tangan Risda menuju haluan kapal, apalagi kalau bukan untuk photo photo.
Ternyata bukan hanya Asrul dan Risda, Farhan dan Faridha juga melakukan hal yang sama, bahkan Haris dan Natalia juga, photo dengan latar belakang air terjun yang langsung ke laut memang tampak indah, Asrul bahkan memandangi hasil photo di ponsel Risda cukup lama, sangat bagus memang.
Sekarang semua jadi termangu mendengar penjelasan Mudin, bukan hanya soal ikan hiu, tapi nelayan disini memang selalu melarang orang untuk berenang di sekitar kawasan air terjun, hiu memang salah satu alasannya, tapi yang paling banyak tentang hal hal yang berbau mistis.
“Tapi, biasanya kami melarang jika di tanya. Kalau nggak di tanya kita diam saja, berharap tidak terjadi apa apa, biasanya yang terkena itu adalah orang yang sudah tahu tapi tetap nekat, kalau yang belum tahu, biasanya nggak apa apa”. Jelas Mudin yang membuat semuanya angguk angguk kepala.
Mudin memulai cerita. Di sekitar Pulau Mursala juga terdapat pulau pulau lain yang juga mempesona, di antaranya Pulau Putri, Pulau Silabu, Pulau Kalimantung, Pulau Jambe, dan masih banyak pulau yang lainnya. Pulau pulau tersebut juga memiliki keindahan yang tak kalah dari Pulau Mursala.
Laguna dengan pantai pasir putih yang menyatu antara Pulau Silabu dengan Pulau Kalimantung, serta perairan dangkal dengan aneka terumbu karang dan ikan hias yang indah di sekitar Pulau Jambe.
Air terjun Pulau Mursala rasanya tawar. Ada yang misterius soal asal muasal sumber air terjun ini. Sebagian warga setempat menduga, sumber airnya berasal dari Danau Toba, yang mengalir lewat bawah tanah. Hal ini diyakini, terkadang ditemukan jerami di aliran air terjun saat musim panen padi di kawasan danau Toba. Tapi ada juga yang menyebut, airnya berasal dari sebuah sungai yang membelah Pulau Mursala. Mana yang benar, belum ada penelitian yang membuktikannya.
Keunikan lain yang dimiliki air terjun pulau mursala ini adalah bahwa air terjun ini berasal dari aliran sungai terpendek didunia. Memiliki lebar 400 meter dengan panjang hanya sekitar 700 meter. Mungkinkah ini berarti ada mata air yang begitu besar di pinggir laut ?, itu tetap menjadi pertanyaan banyak orang.
Air terjun setinggi 35 meter ini langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Hasilnya, sekitar 100 meter air laut di sekitar air terjun rasanya tawar. Percampuran ini menghasilkan terumbu karang yang unik dan indah.
Kisah tentang Putri Runduk sangat dikenal oleh masyarakat di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara, mulai dari Barus sampai ke Natal, meski dengan versi masing masing, cerita ini ada kaitannya dengan gugusan Pulau Mursala.
Patung Putri Runduk di Jalan Ade Irma Suryani Nasution Kota Sibolga
Menurut cerita, Putri Runduk adalah permaisuri Raja Jayadana yang memerintah Kota Kerajaan Barus Raya, sebuah kerajaan Islam di wilayah Sumatera Utara abad ke 7 Masehi. Dengan parasnya yang sangat cantik, Putri Runduk dikagumi oleh Raja Mataram Sanjaya dan Raja Janggi dari India. Karena sang putri menolak, ia pun melarikan diri ke Pulau Mursala yang sudah porak poranda akibat diserang dan dikuasai oleh Raja Sanjaya, yang kemudian direbut oleh Raja Janggi.
Ketika kerajaan Mongol mengirimkan utusannya kepada Kerajaan Majapahit, dengan membawa banyak pasukan agar kerajaan mojopahit bersedia tunduk kepada kerajaan Mongol. Para utusan dan pasukan kerajaan Mongol singgah di Kerajaan Barus yang merupakan kota niaga, lalu salah satu jendral Mongol menyukai Putri Runduk yang merupakan putri Kerajaan Barus, tetapi Putri Runduk tidak bersedia untuk dinikahi.
Putri Runduk melarikan diri ke Pulau Mursala, mendengar keberadaan Putri Runduk yang telah melarikan diri dengan menaiki sampan atau kapal kecil pasukan Mongol berserta jendralnya mencoba mengejarnya, tetapi sayang mereka kehilangan jejak Putri Runduk sehingga pasukan Mongol sampai ke Pulau Nias, sebagian dari mereka menetap dan mempunyai keturunan disana dan sebagian lagi pulang ke Mongol.
“Sampai saat ini saya sangat meyakini cerita tersebut melihat suku dan ras Nias sangat berbeda jauh dengan suku suku Batak yang ada di Sumatera Utara ini, raut wajah suku Nias tidak berbeda jauh dengan raut wajah bangsa Mongol”. Terang Mudin.
Keterangan ini kata Mudin dikuatkan dengan informasi pelaut yang sering melihat keberadaan dua orang wanita yang mana salah satunya memakai pakai merah dan sering memanggil kapal kapal yang melintasi Pulau Mursala yang mereka yakini itu adalah Putri Runduk.
“Masih sering terlihat gitu Pak ?”. Risda yang penasaran.
Mudin anggukkan kepala. “Katanya begitu, tapi saya hanya dengar pengakuan kawan kawan, kalau saya sendiri belum pernah lihat”.
Asrul tampak senyum lebar. “Sejarah resminya ada Pak ?, dari pemerintah misalnya, atau mungkin dari organisasi resmi”.
Mudin anggukkan kepala. “Kalau dari sisi sejarah tertulis, tidak banyak, tapi ada satu buku yang paling dipegang banyak orang, judul bukunya Bunga Rampai Tapian Nauli, pengarangnya ada dua itu, terbitan tahun 1995”.
“Disitu di catat bagaimana Pak ?”. Kejar Risda.
Mudin mulai mengingat ingat, dalam catatan sejarah di katakan, sekitar abad ke 7 di kota Kerajaan Barus Raya, memerintah seorang raja yang cukup ternama. Raja Jayadana, tidak disebutkan keturunan dari mana ataupun berasal dari negeri mana.
Wilayah kerajaan ini membawahi daerah yang sudah memasuki era Islam, disebutkan Kota Guguk dan Kota Beriang, di dekat Kade Gadang, Barus sekarang ini. Pada masa itu Barus telah menjadi bandar niaga rempah dan kapur Barus yang terkenal itu.
Raja Jayadana beristerikan Permaisuri yang bernama Putri Runduk, ini juga tidak tertulis asal dari mana dan keturunan dari siapa. Kecantikan sang permaisuri sampai ke luar wilayah kerajaan. Dan Barus sebagai bandar niaga antar wilayah dan kerajaan, ikut menyebarluaskan perihal kecantikan luar biasa dari sang ratu, Putri Runduk.
Disebutkan, beberapa raja di luar wilayah Barus, akhirnya berspekulasi merebut Putri Runduk dari kerajaan Jayadana. Tercatat Raja Janggi dari Sudan-Afrika, dan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram. Bahkan seorang Raja dari Cina datang melamar dengan baik baik.
__ADS_1
Selanjutnya ditulis, Raja Janggi dan Raja Sanjaya ingin menguasai Barus sebagai bandar perdagangan dunia pada masa itu, melalui peperangan sekaligus ingin memiliki sang ratu Putri Runduk.
“Dalam catatan itu, Raja Sanjaya berhasil menewaskan Raja Jayadana dan isterinya Putri Runduk ditawan, karena menolak lamaran Raja Sanjaya. Masalahnya Raja Sanjaya beragama Hindu, sedangkan sang putri beragama Islam”. Tutup Mudin.
Semuanya sama anggukkan kepala, walau sebetulnya Asrul dan yang lain tak begitu tertarik dengan cerita yang punya aroma mistis, tapi semua juga mengakui kalau ada banyak hal yang membuat seseorang harus menerima fakta kalau mistisme itu memang ada, para nelayan yang dekat dengan laut, tentu punya keyakinan sendiri soal itu, menurut Asrul hal itu harus di hormati, tak boleh memandang aneh kepercayaan orang lain.
Perjalanan lanjut, Asrul tampak berpikir panjang, yang dikatakan Mudin memang begitu, ternyata banyak pulau, Asrul mengira jarak antara pulau yang satu ke pulau yang lain begitu dekat, ternyata tidak, Mursala itu sekumpulan pulau dengan jarak yang lumayan, dari jauh tampak seperti satu, begitu kita sampai, ternyata pulaunya sangat banyak.
“Ini Pulau Kalimantung itu kan Pak ?”. Farhan bertanya saat kapal mulai menepi dan berjalan pelan.
“Iya, kita kesini dulu, nanti siang baru ke Pulau Putri”. Mudin anggukkan kepala.
Belum usai anggukan itu, Farhan sudah meloncat, Faridha juga langsung menyusul ikut. Asrul kembali geleng kepala, tak menyangka Farhan dan Faridha jadi begini modelnya, sudah sangat rapat, sudah hampir tak punya jarak, ternyata airnya cukup rendah, terlihat Farhan sedang menggendong belakang Faridha menuju pantai.
Asrul melirik ke sebelah, Asrul senyum tipis melihat Risda belum menunjukkan respon ingin menyusul Farhan dan Faridha, Risda masih asyik memandangi layar ponselnya, Asrul melirik dan tersenyum lagi, ternyata Risda sedang browsing cerita tentang Putri Runduk, tapi agak lamban, sinyalnya cukup lemah.
Asrul berjalan santai diatas pasir, menyandang tas dan angkat beberapa bawaan menuju pondok yang memang disewakan, sampai pondok dan duduk baru Asrul sadar tak ada Risda, sang istri tak mengekor seperti biasanya, Asrul sudah melirik sana sini, tetap tak ada terlihat.
Akhirnya Asrul berdiri lagi, baru tiga langkah kepala Asrul langsung menggeleng, jelas sekali, yang ada di tangan Haris itu adalah milik Risda, sama seperti di Poncan semalam, ada jilbab, rok, dompet, jam tangan dan ponsel. Asrul menerima dari tangan Haris, meletakkan dengan rapi, dan kembali ke pantai mencari Risda.
Benar saja, begitu Asrul sampai ke bibir pantai, suara teriakan Risda memanggil namanya jelas terdengar, apa boleh buat, walau belum tertarik untuk mandi, Asrul turun juga, ia tak mungkin membiarkan sang istri mandi sendiri, kejar kejaran pun terjadi, baru berakhir saat Asrul berhasil memeluk Risda dari belakang, sama sama terjatuh ke dalam air.
Asrul memandang ke semua sudut pulau, memang sangat indah. Yang kurang hanya fasilitasnya saja, semua masih tampak alami, belum ada sentuhan pembangunan sedikit saja, Asrul jadi terpikir, jika fasilitas disini dibangun dengan baik, maka ini akan sangat menarik minat banyak orang, bahkan bisa laku hingga ke manca negara, Asrul sangat optimis dengan itu, di daerah lain, tak sampai sebagus ini bisa sangat maju dengan ribuan pengunjung setiap harinya.
Asrul sudah duduk di atas pasir, hanya menonton Risda yang masih terus asyik menenggelamkan diri, Asrul tahu jika Risda memang hobby mandi mandi, tidak di laut, di sungai, di danau, bahkan di kamar mandi saja bisa makan waktu lama karena asyik berendam, sehingga Asrul membiarkan dan memilih menonton saja.
Risda akhirnya mendekat, masih posisi telungkup, seluruh badan masih dalam air hanya kepala dan tangan saja yang di darat, memeluk betis Asrul yang duduk selonjoran. Bisa melakukan hal ini karena memang disini tak ada ombak sedikitpun, airnya bening dengan pasir yang putih jernih.
“Dek ..”.
Risda angkat kepala. “Napa Bang ?”.
Asrul tertawa kecil. “Lama lama mau jadi Putri Duyung adek, dari semalam mandi saja terus”.
Risda merengut. “Mana ada orang mandi berubah jadi putri duyung, abang ada saja”.
Asrul senyum kecut. "Bisa jadi Dek".
Risda meronta. "Mana ada".
Asrul hanya tertawa, menjadi geli melihat istrinya yang meronta protes di bilang bisa jadi ikan duyung, mana mungkin. Asrul akhirnya menarik tangan Risda, ini membuat Risda berbalik, sekarang tiduran di paha Asrul, kakinya hingga pinggang masih dalam air, Asrul terus membelai kepala sang istri yang terus menendang nendangkan kaki bermain di air.
Mata Risda melirik ke atas saat tangan Asrul mulai nakal mengincar sasaran lain, Risda mencubit paha Asrul yang sengaja menoleh ke arah lain, Asrul jadi meringis, tapi juga menghentikan penjelajahan tangannya. Risda bukan apa, disini banyak orang, walau itu suaminya, tapi Risda merasa nggak cocok ada tangan yang menjelajah, tempatnya sama sekali tidak tepat.
"Kakak ...".
Mata Risda dan Asrul sama sama mencari suara, Risda tersenyum lebar, Asrul geleng kepala, keduanya punya ekspresi berbeda saat menemukan Farhan dan Faridha melambaikan tangan dari atas gundukan batu yang lumayan tinggi, Asrul hanya takut mereka tergelincir, itu akan berbahaya, di bawah batu semua.
Asrul mendesah saja, bersyukur Risda tidak mengajaknya kesana, tapi pikiran Asrul terus bergerak lurus menuju Farhan dan Faridha, anak muda yang sedang di mabuk asmara, Asrul masih punya rasa khawatir, Farhan dan Faridha sudah teramat lengket.
Pulau Kalimantung, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
…. Bersambung ….
__ADS_1