
Hampir magrib saat mereka sampai ke pusat Kota Sibolga, Asrul memilih menuju Masjid Agung dan berhenti disana untuk ikut salat magrib berjamaah, Haris dan Risda tentu saja sangat setuju, apalagi Risda, melihat apa venue yang bagus, selera photo photonya langsung menggelora.
Kegiatan pun langsung ke itu, kembali Natalia yang menjadi juru photo untuk putri dan menantunya, karena Farhan dan Faridha memilih agenda sendiri, hanya memilih selfie dan berkeliling masjid, memperhatikan apa saja yang bisa menarik perhatian hingga keduanya berada jauh dari yang lain.
Untung resah Asrul tak lama, karena adzan sudah berkumandang, tanpa komando semua masuk masjid, Natalia tetap memilih tinggal, tapi kali ini tidak di mobil, Natalia mencoba menikmati kue tradisional Sibolga dari penjual yang membuka lapak di sekitaran parkiran masjid.
Keputusannya sekarang balik ke rumah Jamil, awalnya memang mau ke rumah Fadli, tapi kakek baru ini belum beranjak dari rumah Usman, semua tentu saja dapat menerima kenyataan itu, namanya juga kakek dan nenek yang baru dua hari dapat gelar baru, tentu belum siap jauh dari sang cucu.
"Jadi gimana Far keputusannya ?".
Farhan garuk kepala. "Gimana ya Paman. Farhan sih pengen ketemu Tulang Besar dan Tulang Kecil, tapi itu artinya Farhan harus menggagalkan tiket, Faridha memang harus balik Paman, besok ada kegiatan pengenalan siswa baru, Faridha malah ketua Panitianya".
"Nggak apa apa kan Faridha pulang sendiri ?".
Farhan menghela nafas. "Iya sih, tapi nggak enak dong Paman, Farhan bawa dari rumahnya, seharusnya Farhan balikin ke rumahnya juga dong ya. Masa Farhan bawa, pulangnya sendiri. Nggak asyik itu namanya mah".
Haris tertawa kecil dan geleng kepala. "Iya juga memang".
"Sudah, gitu aja deh Paman, Farhan balik sama Faridha lewat Pinangsori saja".
Haris anggukkan kepala, Asrul tak komentar apapun, karena ia sepakat dengan apa yang dikatakan Farhan. Yang membawa Faridha dari rumahnya adalah Farhan, maka Farhan harus mengantarkan Faridha pulang ke rumahnya, itu harus. Asrul tak masalah Farhan tak ikut ke Padangsidimpuan, jika ia mau, masih ada banyak waktu jeda sebelum masuk kuliah, Farhan bisa datang kesana, kenapa tidak.
Pagi begitu cepat menjelang, usai sarapan, semuanya sekarang melalui tahap perpisahan, Jamil, Lena dan Mila sudah tak mampu menahan diri, Lena dan Mila bahkan sudah setengah meraung, Risda, Faridha dan Natalia tentu menjadi ikut ikutan, Asrul, Farhan dan Haris juga tak punya kekuatan untuk melawan, air mata ketiganya sudah sangat deras, mengucur bak air terjun mini membasahi pakaian masing masing.
"Haris janji, Haris akan datang setiap tahun Bi, Insha Allah, selama Haris sehat, Haris akan berkunjung kemari, Haris juga akan bawa Natalia".
Mila semakin mengeratkan pelukannya, sudah berulang kali Haris mencium ubun ubun bibinya, tapi rasanya memang belum puas, sama dengan Lena yang hampir terkulai dalam pelukan Natalia. Setelah puluhan tahun berpisah, ketemu hanya sekian hari, dan sekarang pergi lagi tanpa tahu datangnya kapan lagi, tentu membuat tiga orang tua itu begitu terpukul.
Tapi mau bilang apa, anak anak, cucu dan cucu menantunya punya kesibukan yang tak mungkin di tinggal lama, perpisahan itu memang harus terlaksana, tak akan ada yang bisa menghalanginya lagi, sehingga rasa sedih dan pilu itu menjadi berlipat ganda, ketiganya juga rasa tak bisa meninggalkan Sibolga, semuanya masih disini, sehingga perpisahan adalah pilihan satu satunya.
Mila dan Lena masih berdiri memegangi pagar rumah, masih terus menatap jauh kejalan raya walau mobil yang membawa Haris beserta anak dan menantunya sudah tak terlihat sama sekali, mata keduanya masih berlinang, bibir mereka juga masih bergetar hebat, belum menerima kepergian keponakan dan cucunya.
Batin Mila maupun Lena berharap mobil itu datang lagi, sehingga masih punya kesempatan untuk memeluk keponakan dan cucunya kembali, tapi tak ada, sudah lebih 30 menit, tak jua kembali, keduanya mengalah, melangkah masuk, duduk tanpa suara sedikitpun, masih ada sisa sisa sesunggukan hingga keduanya tertidur di kursi lusuh di ruang tamu.
Haris dan rombongan sudah sampai di rumah Usman, tapi tak bisa lama lama disini, penerbangan Farhan dan Faridha tidak lama lagi, satu setengah jam setelah ini keduanya harus sudah berada di bandara dr. F.L. Tobing Pinangsori, sedang waktu tempuh kesana bisa mencapai satu jam juga.
“Buka bagasi Bang”.
Asrul melirik Lukman. “Ngapaian Man ?”.
“Buka sajalah”.
Asrul tertawa dan menyerahkan kunci ke Lukman, Farhan yang maju ikut membantu, ternyata Fadli sudah menyiapkan banyak paket ikan asin yang terbungkus rapi, Haris juga jadi ikut senyum, karena ia juga suka ikan asin asal Sibolga ini, jumlahnhya yang cukup banyak memungkinkan masing masing membawa lebih dari satu.
Saatnya untuk pergi. Risna sudah sesunggukan saat memeluk dan mencium pipi Farhan berulang kali, jika di rumah Jamil tadi Farhan masih bisa senyum, kali ini Farhan KO, ia juga menangis dan memeluk kuat Nantulangnya itu, begitu juga dengan Fadli, Nadia juga, Usman dan Lukman masih senyum walau mata masing masing sudah tampak berubah.
__ADS_1
Risda, Natalia, Faridha dan Haris juga mendapatkan perlakuan yang sama, semua larut dalam kesedihan, bayangan tetap sama, kapan bisa bertemu langsung tak ada yang tahu jawabannya, jarak yang memang jauh tentu membuat semuanya tidak terlampau mudah untuk bertemu.
Farhan cukup terpikir melihat sikap Deasy yang sangat berbeda padanya, Deasy dengan mudah memeluk dan mencium Asrul dan Risda, bahkan Natalia dan Haris juga sama, tapi padanya Deasy hanya menyalami dengan senyum tipis terpaksa, Faridha juga hanya dapat pelukan tipis, jauh dari kata hangat seperti yang didapatkan Risda, Asrul dan Natalia.
Ada apa dengan Deasy ?, kenapa dingin ?, itu menjadi pertanyaan Farhan sekarang, walau akhirnya hanya menggeleng dan kembali memeluk Feby. Farhan angguk kepala saat Feby memintanya sering sering datang, dari semuanya, hanya Feby yang masih punya banyak senyuman, bahkan tampak ceria, Feby tak sedikitpun terpengaruh dengan aroma sedih yang dilahirkan orang di sekelilingnya.
Perjalanan dimulai, kali ini Farhan yang menjalankan kenderaan, mobil berjalan begitu santai, Faridha jadi teringat apa yang pernah di katakan Risda kalau Farhan orang yang santai, tapi Faridha suka itu, Faridha memang kurang tertarik naik kenderaan dengan kecepatan yang tinggi.
Tak ada waktu bicara banyak, saat mereka sampai ke bandara dr. F.L. Tobing Pinangsori, Farhan dan Faridha harus langsung chek-in, hanya salaman dan pelukan sedikit antara Risda dan Faridha, keduanya langsung masuk bandara, sedang yang lain hanya bisa menunggu di luar.
Semuanya sepakat menunggu pesawat terbang dulu baru meninggalkan bandara, semuanya duduk di café bandara sambil memesan minuman botol saja, walau disana juga ada kopi atau teh, tapi tampaknya tak ada yang selera untuk memesan itu, karena yakin tak akan lama duduk disini.
“Abang lihat tidak ekspresi Deasy ke Farhan dan Faridha ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Lihat Dek, heran juga memang, seperti ada sesuatu yang mengganjal Deasy, tapi tak tahu juga kenapa”.
Risda menggeleng. “Apa Deasy suka ke Farhan Bang ?”.
Asrul agak mendelik, Apa ?. Tapi kemudian Asrul mendesah dan menggeleng, jadi kepikiran juga sekarang, Asrul kembali mendesah, tapi campurannya sudah angguk kepala, sejak awal mereka sampai, ekspresi Deasy memang beda kepada Farhan dan ke yang lainnya, Asrul akhirnya menangkap sesuatu.
“Entahlah Dek, tapi rasanya lucu saja, masa anak SMP sudah punya pikiran seperti itu, abang rasa aneh saja, masa anak SMP mendam perasaan gitu, bisa ya ?”. Asrul malah jadi heran.
Risda tertawa kecil. “Kalo data bandingnya Ariana, iya, emang lucu sih. Tapi, adek lihat, Deasy itu cara pikirnya jauh lebih dewasa dari Ariana, walau usia mereka sama, bahkan gaya Ariana malah lebih cocok ke Feby”.
Asrul ikut tertawa, tapi memang ia menemukan ada keganjilan dalam sikap Deasy, kalau ternyata benar apa yang menjadi dugaan Asrul, kasihan Deasy, secara umur ia memang cocok dengan Farhan, nggak usahlah cerita cantik yang memang kalah jauh dari Faridha, tapi Deasy pantas mendapat kesempatan.
Risda langsung meninju bahu Asrul. “Asal abang”.
Asrul menggeleng, tidak ada niat untuk menjawab lagi, kini malah membayangkan wajah Deasy dengan segala ekspresi dinginnya ke Farhan, walau sebenarnya Asrul nggak habis pikir, masa mungkin anak SMP sudah begitu isi kepalanya, tapi kalau bukan karena itu, apalagi ?, apa alasan yang membuat Deasy begitu kecuali karena keberadaan Faridha, Asrul jadi pusing sendiri.
Saat melihat pesawat yang membawa Farhan dan Faridha sudah mengudara, Haris dan yang lainnya juga beranjak, kemudi kembali dibawah kendali Asrul, jarak Pinang Sori ke Padang Sidimpuan hanya butuh 60 menit lebih sedikit, sehingga saat Asrul mulai menjalankan mobil, ia sudah langsung menghubungi Sabar, Tulang Kecil yang katanya sudah di rumah sejak pagi.
Keputusannya sudah diambil, mereka ke rumah Sabar dulu, karena Rohim Si Tulang Besar baru nyampai ke rumah jelang sore, Asrul menjalankan mobil pelan saja, karena memang tak ada yang diburu, apalagi pembicaraan mengenai Deasy masih belum tuntas, bahkan terlihat semakin memanjang saja.
“Sebetulnya ada salahnya juga, seharusnya Meeta mengarahkan Farhan ke Deasy, itu lumrah, karena memang hanya Farhan yang punya peluang paling besar, sesuai dan memungkinkan untuk menikahi paribannya”. Tutur Haris.
“Apa sepenting itu Bang ngambil pariban ?”. Natalia yang nanya.
Haris tertawa kecil. “Bukan soal penting tak penting, ini lebih mengarah kepada penguat hubungan keluarga, dengan menikahi pariban, maka secara tekhnis kita mengembalikan kisah ayah dan ibu kita, dan itu akan memperpanjang usia kekeluargaan hingga beberapa keturunan”.
Risda agak mengerutkan keningnya. “Memperpanjang usia kekeluargaan, maksudnya Yah ?”.
“Ada peluang, kalau masing masing seluruhnya menikah dengan orang lain, maka pada masa cucu kelak, pada saat kakek dan ayah ayah sekarang sudah tak ada lagi, hubungan itu sudah sedemikian hambar, hanya ada bahasa, oh, itu keluarga dari kakek, kakek saya dengan kakeknya, terasa jadi jauh, begitu”.
“Kalau nikah dengan pariban sendiri untungnya apa memang Yah“. Masih Risda.
__ADS_1
“Kalau nikah dengan pariban, maka semuanya masih sama, tidak ada keluarga baru yang bisa menimpa hubungan dengan keluarga yang lama, kakeknya masih itu juga, paman dan yang lain masih itu juga. Tidak ada kalimat, itu kakek dari pihak ayah, ini kakek dari pihak ibu, karena kakek ayah dan ibunya, ya, itu juga, jadi tetap fokus”.
Risda angguk angguk kepala, mulai paham pentingnya menikah dengan pariban sendiri, ternyata Asrul juga menangkap hal yang sama, jika menyesal boleh atau pantas dilakukan, Asrul sudah akan mengakui sesalnya atas apa yang dilakukan ibunya pada Farhan tentang Faridha.
Tapi, Asrul merasa itu sudah garis yang akan dijalani Farhan. Semuanya tidak lagi mungkin dimundurkan kebelakang, rasanya tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, karena Asrul juga yakin kalau semua menganggap Deasy masih anak kecil, dan tak pernah terpikir oleh siapapun jika Deasy berpikiran begitu.
Asrul jadi sedikit mendesah, faktanya, Deasy ternyata tak sekecil yang ia duga, bahkan dengan terbuka menunjukkan sikap dingin pada Farhan, terlihat memaksakan senyum pada Faridha, Asrul yakin, tidak ia saja yang berhasil menangkap itu, terbukti Risda juga melihat itu dengan jelas, jangan jangan ayah dan ibu Deasy juga menangkapnya, bagaimana kalau keduanya ikut kecewa ?.
“Apa mungkin Tulang sama Nantulang juga punya pikiran begitu Yah ?”.
Haris angkat bahu. “Entahlah Rul, tapi peluangnya pasti ada, Cuma seberapa besar dan bagaimana mereka menanggapinya, itu yang kita tidak tahu”.
Asrul menggeleng. “Kok Asrul jadi kepikiran gitu ya Yah ?”.
Haris ikut mendesah. “Itu lumrah saja Rul, wajar saja, kita tentu tak ingin ada keluarga kita yang kecewa dengan langkah yang kita ambil. Tapi ibumu mungkin tak kepikiran kesana, kita juga nggak tahu itu Rul”.
“Apa perlu di sampaikan ke Mama juga Yah ?”.
Haris menggeleng. “Kalau menurut ayah sih, nggak usah juga Rul”.
“Kenapa Yah ?”.
“Entahlah Rul. Tapi menurut Ayah, sebaiknya Meeta tak perlu tahu sikap dingin Deasy ke Farhan dan ke Farida. Yang pertama, itu kan baru dugaan kita, belum tentu juga itulah isi pikiran Deasy yang sebenarnya. Kemudian, Asrul juga harus paham, Tulang Sibolga itu adik kandung ibumu Rul, adik kandung. Bagaimana perasaanmu ke Mutia, Reni atau Ariana”.
“Asrul tak akan biarkan mereka bersedih”. Asrul sudah menangkap tujuan Haris.
“Nah, itu dia. Apakah menurut Asrul tidak lebih baik mendiamkannya saja, anggap saja itu hanya anggapan saja, hanya dugaan, dan tentu, dugaan tak penting kita sampaikan pada Meeta, itu bisa merusak moodnya”.
“Iya sih Yah. Mama pasti sedih, bahaya itu”.
Haris tertawa kecil. “Makanya Rul, sudahlah. Berharap saja kalau itu bukan akibat dari rasa kecewa Deasy pada Farhan, mudah mudahan bukan itu, ini hanya dugaan kita saja, isi pikiran Deasy bukan begitu, semoga saja”.
Asrul kembali mendesah dan geleng kepala. Faktanya, itu bukan Deasy yang Asrul kenal, setahu Asrul, Deasy adalah anak yang periang, setali tiga uang dengan Feby atau juga Ariana, tapi sekarang Asrul menangkap setuasi yang berbeda, Deasy sama sekali tak lagi sama dengan Deasy yang ia kenal sebelumnya, Deasy yang ini berbeda, sangat berbeda.
“Tapi, ada juga pernikahan dengan pariban yang membuat hubungan menjadi retak”.
Asrul melirik Haris sebentar. “Retak ?, maksudnya Yah ?”.
“Andaikan pariban itu lebih dari satu dan tidak berasal dari satu keluarga. Misalnya, Tulang Besarmu ada anak gadisnya, Tulang Sibolga juga ada, Tulang Medan juga sama. Ternyata, tiga tiganya pingin Farhan jadi mantu mereka, misalkan Farhan memilih anak gadisnya Tulang Sibolga, maka Tulang Besar dan Tulang Medan kecewa dan tak ramah lagi, bisa begitu juga”.
Asrul jadi tertawa kecil. “Ribet itu mah, pusing pala kalo gitu Yah”.
Haris tertawa kecil. “Itu juga yang membuat banyak orang jadi mikir ambil pariban, kecuali kalau memang yang di jodohkan oleh kesepakatan kesemuanya”.
Asrul menggeleng saja, mengintip dari kaca di atas kepalanya, pantas saja dari tadi yang ngobrol hanya mereka berdua, ternyata Risda dan Natalia sudah dibuai mimpi masing masing, Asrul kembali menggeleng, rasanya tadi Risda baru saja terus bertanya, sekarang sudah begitu lelap tidurnya.
__ADS_1
Kadang kadang Asrul juga bingung melihat istrinya yang mudah berubah, dari marah bisa langsung tertawa, dari senyum manis bisa tiba tiba kecut tak karuan, ini juga salah satunya, belum lama bicara, sekarang sudah tidur seenaknya. Di sangka masih mendengarkan cerita, ternyata sudah mimpi entah kemana.
…. Bersambung ….