
Keputusan sudah diambil, Asrul memilih mendiamkan saja apa yang sekarang begitu mengganggu pikirannya, apa yang sekarang menjadi dugaannya. Entah kenapa Asrul begitu yakin kalau itu bukan sebatas dugaan, karena Asrul bukan baru mengenal Deasy, rasanya Asrul paham sifat Deasy, dan itu tadi bukan aslinya.
Asrul sepakat dengan apa yang dikatakan Haris, apabila cerita ini sampai ke telinga ibunya, akan menimbulkan banyak hal juga, tidak mungkin menyakiti hati Faridha, maka Asrul yakin, ibunya akan memilih menyakiti hatinya sendiri, sehingga memang akan lebih tepat kalau ibunya tak tahu apa apa soal Deasy.
Farhan pun rasanya tidak penting tahu soal itu, cukuplah hanya ia dan Risda saja yang tahu. Untuk hal ini, menurut Asrul, Risda juga harus di wanta wanti agar tak bicara pada ibu mertuanya, Asrul juga harus mengingatkan Risda untuk sama sama diam dan tak menyampaikan apapun pada ibu mertuanya, Risda harus di ingatkan soal itu, jangan sampai keceplosan.
Akhirnya mobil masuk ke pekarangan rumah Sabar, ini juga rumah peninggalan kakek dan nenek Asrul, ibunya lahir dan dibesarkan di rumah ini, semuanya masih belum berubah bentuk walau bahannya sudah banyak yang ganti. Sabar tetap mempertahankan rumah berbahan kayu, sehingga tetap terlihat sama setelah sekian puluh tahun, Asrul termasuk orang yang sangat suka dengan itu.
Memandang rumah ini langsung mengingatkan Asrul pada wajah ramah kakek dan neneknya, dua orang tua yang sama sama tak pandai marah, penyayang dan selalu memberikan perhatian lebih, apalagi tentunya pada cucu cucunya, mereka tak pernah membedakan siapapun, semuanya di pandang sama.
Mata Asrul sudah basah, benar, hanya dengan memandangi rumah ini sudah membuat Asrul menghela nafas panjang, langsung terbayang wajah kakek dan neneknya, waktu keduanya masih hidup, jika Asrul dan keluarganya pulang kesini, sang nenek langsung mengejar meraka, itu saat paling ceria dalam hidup Asrul.
Asrul menyeka sudut matanya, kenangan itu menusuk begitu dalam, Asrul memang tersenyum, senyuman yang mengisyaratkan betapa dalam rindunya pada kakek dan neneknya, selain makam, rumah inilah yang mampu membongkar semua isi hati Asrul hingga ke akar akarnya.
Risda dan Natalia langsung terjaga saat Asrul mematikan mesin kenderaan. Risda turun dan langsung setengah berlari saat melihat Citha, istri Sabar si Tulang Kecil keluar dari pintu rumah. Citha juga menyongsong Risda, sehingga keduanya bagai bertabrakan saja, sudah seperti meloncat loncat malah, Citha dan Risda bagai dua anak kecil yang memenangkan lomba, tertawa tawa dan pelukan berulang kali.
Kemudian Citha juga memeluk Asrul bersamaan dengan Risda, ia mencium pipi keduanya dengan gemas, baru kemudian Sabar muncul dengan menggendong Yulia, Risda dan Asrul datang menyalami, Risda mengambil alih Yulia dari gendongan Sabar, anak kecil yang baru dua tahun itu mau saja, karena memang sudah sering melihat wajah Risda, hampir tiap minggu malah, walau melalui video call.
Sabar dan Citha juga menyalami Haris dan Natalia, mereka memang sudah saling kenal satu sama lainnya, saat resepsi pernikahan Asrul dan Risda, hanya Sabar dan Citha yang pulangnya lama, hingga Sabar dan Citha sempat bincang lama, bahkan ditemani Natalia jalan jalan seputar Jakarta, keduanya juga sudah sampai ke rumah Natalia dan bahkan sudah kenalan dengan Lufti dan Widya.
“Kakak sedikit kurusan lho Kak, kenapa ?”.
Natalia mengamit lengan Citha. “Kakak kena gula Tha”.
“What ?. Kok bisa kak ?”.
Natalia menggeleng. “Nggak tahu Tha, tapi kata orang memang begitu, gula itu ada unsur turunan juga, ayah kan ada gula Tha, katanya, sakit ayah akan turun ke anak perempuan, sakit ibu ke anak laki laki”.
Chita anggukkan kepala. “Katanya memang begitu sih Kak, itu juga katanya hasil penelitian dan observasi gitu, mungkin banyak benarnya”.
Natalia ikut angguk kepala. “Bisa jadi sih Tha, kakak buktinya ini”.
Citha hanya menggeleng, ia juga sering mendengar hal tersebut, bahkan itu termasuk satu hal yang sekarang sedang menjadi pertimbangan Chita, karena ayahnya punya darah tinggi yang cukup mengkhawatirkan, Chita cukup takut itu menurun.
Sebelum masuk rumah, semuanya lebih dulu menuju belakang rumah, ke makam kakek dan nenek Asrul, entah apa alasannya, yang jelas kakek dan nenek Asrul di makamkan disini, tidak di pemakaman umum, tapi pilihan itu menurut Asrul tepat.
Hingga kini, rumah ini tetap menjadi tempat berkumpul, walau yang menempatinya anak bungsu, keberadaan makam ini yang membuat hal tersebut menguat, sekarang sudah ada empat makam disini, tidak hanya kakek dan neneknya saja, tapi ada adik Usman dan adik Taufiq yang juga dimakamkan disini.
__ADS_1
Pada saatnya nanti, bisa jadi ini akan menjadi komplek pemakaman keluarga, setuasinya mendukung, karena dibelakang rumah adalah kebun kelapa dan hamparan sawah peninggalan kakek dan nenek Asrul, tentu tidak memberikan efek bagi banyak orang, beda jika seandainya disini ada banyak perumahan penduduk.
Sejak dulu, Asrul memang suka berlama lama duduk di sekitar pemakaman ini, bahkan saat neneknya masih hidup. Asrul bisa berjam jam duduk disini, sambil memandangi kebun kelapa dan hamparan sawah yang memang sangat menyejukkan mata, belum lagi anginnya yang semilir tak mau berhenti, membuat Asrul selalu mampu bertahan lama disini.
Dulu, neneknya juga suka mendampingi, mereka pasti akan bercerita panjang tentang apa saja, paling banyak tentang masa kecil ibunya, masa kecil yang menurut Asrul jauh lebih mengasyikkan ketimbang masa kecilnya. Karena disini objeknya banyak, ibu Asrul yang anak perempuan satu satunya kadang terikut dengan kegemaran saudara saudaranya, termasuk mencari belut di pematang sawah.
Kampung halaman ibu. Kalimat yang mengandung banyak makna bagi Asrul, bahkan saat masih SMP dulu, Asrul pernah berpikir untuk tinggal disini bersama kakek dan neneknya, karena Asrul merasa, seberapa lamapun ia disini, Asrul belum pernah menemukan kata bosan.
Karena tiap hari Asrul menemukan hal baru, hal yang sama sekali ia tak temukan di rumahnya di Jakarta, disana tanah semuanya sudah ditanami gedung, bahkan untuk sekedar main bola saja harus menggunakan badan jalan, sedang disini semuanya masih terhampar luas, mau ngapain saja masih bisa.
Usai shalat dzuhur, Sabar mengajak semuanya jalan jalan, tentu saja semuanya setuju, sebenarnya ada banyak pilihan, tapi semuanya sepakat dengan usul Sabar, jalan jalan ke yang dekat saja, mancari makan siang yang sejuk dengan pemandangan persawahan dan terakhir nanti menuju Benteng Huraba.
Yang manyun dengan keputusan ini hanya Chita, ia merengut karena sudah terlanjur masak banyak, eh, malah mau makan diluar, nanti yang mau makan apa yang sudah dimaksaknya siapa ?, tapi Chita kalah suara, walau ada kesalnya, Chita tetap ikut melangkah keluar, kecutnya hanya sampai pintu, baru selangkah keluar pintu, Chita sudah cekikikan bersama Risda dan Natalia.
Makan bersama keluarga dengan pemandangan yang menyejukkan memang lahirkan kesan yang sangat menggembirakan, inilah yang sedang terjadi dalam hati semuanya, bahkan Chita sudah tak ingat lagi nasi yang banyak di rumahnya nanti mau dibawa kemana, yang ada sekarang hanya tawa dan canda.
Risda dan Asrul yang mengapit Yulia sekarang sudah seperti ayah dan ibu yang merayu anak perempuannya, Yulia hanya mau makan jika di suapi, biasanya kan yang menyuapi cukup satu saja, tapi yang ini beda, Yulia disuapi oleh dua orang sekaligus, wajar saja kalau Yulia kenyang dalam waktu sekejap.
“Udah Bang Ul, Uli sudah kenyang”. Yulia menepuk nepuk pelan perutnya.
“Lha, ini siapa yang makan dong ?”. Protes Asrul.
Asrul dan Risda saling pandang, sudah selesai untuk Yulia. Sekarang keduanya fokus untuk mengisi perut sendiri, sedang Yulia sudah menguasai ponsel Risda, mainkan games yang biasa dimainkan Ariana.
Asrul menggeleng. “Anak kecil sama saja sekarang ya, main games saja”.
Risda tertawa kecil. “Emang udah jamannya Abang sayang, mau bilang apa”.
Asrul kembali menggeleng, sekarang gelengannya karena heran, heran melihat Yulia yang masih dua tahun, ngomong saja belum lurus, tapi begitu cekatan dalam bermain games, bahkan sekarang melirik saja tidak, ia tak peduli dengan Asrul dan Risda yang terus menatapnya, Yulia benar benar 100% untuk games yang dimainkannya.
Farhan video call, Risda langsung angkat, Risda melambai, karena yang terlihat di layar ponsel Farhan bukan hanya dirinya, tapi juga Meeta dan Ariana. Farhan sudah tiba di rumah, tadi hanya sebentar di rumah Faridha, Farhan balik lagi ke bandara, bahkan tak sempat ketemu dengan Husain, calon ayah mertuanya, hanya ada Irham, Hasan juga terbang bermain entah kemana.
“Tulang … Nantulang …”. Ariana langsung setengah menjerit saat layar ponsel mengarah ke Sabar dan Chita.
“Hai .. Cantik. Apa khabar ?”. Chita yang bicara.
“Sehat Nantulang”.
Perbincangan langsung panjang, Chita kembali cekikikan mendengar cerita Ariana tentang Farhan yang sekarang tiap malam Cuma mandangi photo Faridha. Ini membuat Chita semakin kecewa kenapa Farhan tidak menyempatkan diri ikut kesini membawa Faridha, kan dengan begitu, Chita bisa melihat Faridha secara langsung, apalagi dengan Farhan sudah lebih dua tahun juga tak bertemu.
__ADS_1
“Nantulang tenang saja, nanti kalau ada waktu Farhan datang, khusus untuk ketemu Nantulang saja”.
Chita jadi ngakak. “Kalo gitu, tulangmu mau di kemanain, di suruh ngumpet ?”.
Farhan acungkan jempolnya. “Cocok juga Nantulang, suruh tulang gali gua yang dibelakang itu dulu, siapa tahu ada artefak disana”.
Chita makin tertawa, Farhan, Meeta dan Ariana juga tertawa lebar saat Sabar mengacungkan tinjunya ke arah kamera. Ariana bahkan sampai batuk batuk menahan tawa, ia sudah cekikikan dari tadi mendengar obrolan Farhan dan Citha, makin ketawa saat melihat tinju Sabar.
Haris dan Natalia hanya ikut ikutan senyum kecil, ini yang juga membuat Haris dan Natalia tampak semakin bahagia, Risda tidak hanya dekat dengan keluarga kandung Asrul saja, tapi juga sangat dekat dengan seluruh keluarga besar Meeta, keduanya juga salut dengan kedekatan keluarga Meeta, mereka tampak selalu hangat, itu sangat menyejukkan hati.
Begitu menyudahi makanannya, Sabar mengambil alih ponsel dan menjauh, Sabar hanya bicara dengan kakaknya Meeta sekarang, Farhan dan Ariana juga hanya sebagai pendengar budiman saja, Meeta tampak terus anggukkan kepala dan menyetujui semua permintaan Sabar, tak satupun yang di edit, semua di telan sesuai aslinya, lengkap dengan titik komanya.
Ditingkat ini, Sabar memang punya posisi paling menyenangkan, tak ada yang bisa menolak permintaannya, tidak hanya kakak dan abang kandungnya saja, Agung juga tak pernah menolak apapun yang diminta Sabar, sama dengan Fauziah, Risna dan Saniah, ketiganya akan marah besar pada suami masing masing kalau tidak meluluskan permintaan Sabar.
Citha kadang yang kesal melihat suaminya, menurut Chita, terkadang Sabar itu berlebihan, dia mampu sebenarnya untuk mendapatkan yang sederhana, tapi ia mau yang lebih wah, sehingga dananya tak cukup, kemudian Sabar dengan mudah akan meminta ke abang dan kakaknya, padahal menurut Chita apa yang ada sudah lebih dari cukup untuk mereka pakai.
Chita tentu tak bisa begitu karena ia lahir dari keluarga yang sederhana, keluarga menengah yang tak terbiasa hidup mewah, sehingga sudah bahagia dengan fasilitas yang sederhana saja, ini yang membuat keduanya sering berdebat, tapi Chita tak pernah menang, karena ipar iparnya malah mendukung.
Tapi, lama kelamaan Chita yang awalnya malu pada saudara iparnya kini tak lagi merasakan apa apa, Chita sudah cuek dengan semua ulah Sabar, tapi Chita juga bertahan dengan komitmennya, Chita bisa saja ikut ikutan ulah suaminya, khususnya pada Meeta, tapi Chita tetaplah Chita yang cukup mandiri, berbanding terbalik dengan suaminya Sabar yang cenderung manja.
Sama seperti yang saat ini sedang berlangsung, Sabar sedang merayu Meeta untuk menambah dananya yang belum cukup untuk ganti mobil, padahal mobil yang ia punya sekarang sudah jauh di atas lumayan, tapi Sabar tertarik ke satu merek, persoalannya uangnya tak cukup.
Ini sudah juga di ingatkan Chita agar Sabar menahan diri, karena apa yang ada sekarang sudah cukup dan kondisinya juga masih sangat stabil, Chita meminta suaminya sedikit bersabar, mereka juga bisa mengumpulkan tabungan untuk itu, paling dua atau tiga tahun lagi, pasti akan tercapai.
Tapi Sabar kurang memiliki sikap sesuai namanya, ia mau cepat cepat saja. Anehnya bagi Chita, sang Kakak Meeta mengiyakan permintaan adik bungsunya dengan begitu mudah, tampa jeda sama sekali.
Seperti yang sedang berlangsung sekarang ini, Chita kembali hanya bisa menggeleng, belum lagi Sabar sampai ke meja semula, belum sempat lagi mengembalikan ponsel Risda, ponsel Chita sudah berdering, SMS Banking, Meeta memang begitu, yang minta Sabar, tapi ia selalu mengirimkannya ke rekening Chita.
“Udah Dek ?”. Sabar langsung nanya, berdiri di belakang Chita, dua tangannya ada di bahu sang Istri. “Udah ?”.
Chita menunjukkan ponselnya. “Nggak capek capek abang. Belum setahun ganti, mau ganti lagi, Kak Meeta juga yang abang kerjai”.
Sabar hanya senyum saja, meletakkan kembali ponsel Chita dan kembali ke tempat duduknya. Asrul juga sudah kembali dari meja kasir, sehingga semuanya sama berdiri, masuk mobil dan sekarang menuju satu tempat yang sekarang makin ramai di kunjungi orang, Benteng Huraba.
Yang punya selera sejarah memang hanya Sabar, Asrul dan Risda, kalau yang lain hanya duduk dan melihat sekilas saja, beda dengan Asrul dan Risda, keduanya tampak serius dan mengitari setiap sudut benteng, semua ornamen dilihat secara seksama, semua tulisan dibaca dengan teliti.
Sabar terus mendampingi keduanya sambil sedikit sedikit menjelaskan apa yang mereka lihat, Sabar memang guru mata pelajaran sejarah, sehingga ketertarikan Sabar terhadap sejarah punya dasar yang cukup, sehingga ia bisa memberikan penjelasan yang dapat memuaskan Asrul maupun Risda.
Sampai akhirnya ketiganya sama sama letih, mereka memilih duduk saling berhadapan dan masih membahas apa yang pernah terjadi di benteng ini, tentu berkaitan dengan perjuangan melawan penjajahan Belanda di tanah Tapanuli Selatan ini, sebuah sejarah heroik yang sejarahnya tak akan lekang dimakan jaman.
__ADS_1
…. Bersambung ….