
Bingung, sangat bingung. Itu yang dirasakan Risda sekarang, kepalanya benar benar berdenyut sakit. Risda berdiri meninggalkan ibunya, entah apa yang membawa, langkah Risda menuju luar rumah, Natalia hanya bisa menatap, ia sama sekali tak bisa mencegah, walau ada takut yang tiba tiba muncul.
Begitu Risda menghilang, Natalia langsung berlari ke jendela, ingin melihat Risda kemana, Natalia tetap terdiam di jendela saat melihat Risda hanya berdiri di pagar, hampir setengah jam tetap begitu, hingga akhirnya Risda kembali melangkah.
Natalia keluar rumah dan tetap mengintip kemana Risda pergi, Natalia sudah bertekad akan mengikuti kemanapun Risda pergi, tapi kemudian Natalia agak tenang, Natalia menghela nafas lega, saat melihat Risda masuk ke pagar rumah Widya.
Begitu Risda terlihat masuk rumah, cepat cepat Natalia mengambil ponselnya dan mengirim SMS ke Widya menceritakan kalau Risda sedang pusing karena sudah tahu cerita tentang ayahnya. Natalia makin lega, saat menerima balasan SMS dari Widya yang mengatakan akan membantu mengatasi segalanya.
Risda yang mengucap salam tak dapat balasan apapun, tapi langkahnya tetap masuk rumah, karena rumah ini sudah seperti rumah kedua bagi Risda, pemilik rumah seluruhnya memperlakukan Risda bagai keluarga sendiri, Lufti dan Widya sudah bagai orang tua bagi Risda.
Risda melewati saja Lufti yang sedang baca koran diruang tengah, sehingga membuat Lufti agak heran, tak biasanya Risda begitu, sehingga Lufti mengikuti langkah Risda dan langsung menuju dapur.
Lufti tentu heran, selama ini jika Risda datang, ia akan menegur Lufti dengan banyak gurauan, bahkan waktu masih kecil, waktu masih usia lima tahunan, bahkan hingga SD kelas III jika Risda datang, ia malah dengan mudah melompat ke pangkuan Lufti untuk sekedar mencium dan memeluk Lufti.
Inilah yang membuat Lufti heran, dan yakin jika Risda ada masalah, Lufti terus ekori langkah Risda dan kembali nampak heran karena melihat Risda yang tak mengatakan apapun, tak bicara satu hurup pun, Risda hanya duduk di meja makan, bahkan terlihat dikuasai renungan.
Lufti dan Widya saling pandang, Lufti anggukkan kepala, Widya mendekat dan memberikan ponselnya, Lufti membaca SMS dari Natalia dan menghela nafas panjang, pantas saja Risda melewatinya begitu saja, ternyata anak ini sedang dilema, Lufti menghusap dadanya, geleng kepala dan mendekati Risda.
Kini Lufti dan Widya duduk berdampingan di depan Risda, saat Risda menatap keduanya bergantian, Risda tertunduk lagi, tapi kemudian terdengar Risda terisak, keduanya sama iba, tapi sepakat untuk membiarkan saja, membiarkan Risda puas dengan tangisnya.
Sudah nyaris satu jam baru isak tangis Risda tak terdengar lagi, Widya langsung pindah duduk dan merangkul bahu Risda, tak bisa menahan, Risda memeluk Widya erat dan kembali menangis, sekarang malah setengah meraung.
Widya hanya mengelus elus bahu Risda dan ikut meneteskan air mata. Lufti juga jadi bingung sendiri, akhirnya hanya memilih menggigit pelan jarinya, Lufti sangat bingung mau ngapain, jelas tak kuasa menatap Risda seperti itu, tak tahan batinnya.
Lufti tentu saja ikut terluka, ia seakan merasakan apa yang sedang Risda rasakan, tapi Lufti bisa apa, kini hanya berharap Widya dapat menenangkan Risda dengan caranya, Lufti yakin Widya bisa.
Risda sudah kembali duduk tegak, sesekali sisa sisa isakannya masih terdengar, Widya menghela nafas panjang. Tak tahu juga mau memulai darimana, tapi Widya berjanji akan mencoba memberikan Risda kekuatan.
“Tak ada yang salah diantara mereka. Ayah dan Ibumu memang dalam posisi yang tidak tahu, cinta mereka berjalan normal, sangat normal, hingga adik kakekmu yang dari Sumatera datang, semuanya menjadi tak menentu”.
Risda menatap Lufti sesaat. “Risda paham Paman”.
Lufti kembali menghela nafas panjang. “Mereka juga menderita sepertimu Nak, bahkan lebih terluka. Ayahmu pergi jauh, sangat jauh, bahkan nyaris tak tahu dimana rimbanya, membawa rasa malu dan dukanya. Dia tak tahu jika ternyata kamu bakal ada Nak, ayahmu tak tahu itu, sampai kalian bertemu di upacara 17an itu”.
Risda menutup wajahnya mencoba untuk tenang dari semua ungkapan Lufti. Mau tidak mau Risda harus terima itu, itulah faktanya, jika memang boleh memilih, Risda juga sama sekali tak ingin ini, tapi inilah dia, apa mau dikata.
__ADS_1
“Tapi ayah kenapa nggak bilang apapun Paman ?”.
Widya kembali mengelus bahu Risda. “Apakah ayahmu akan membiarkan kamu seperti kondisimu hari ini tanpa siapapun sayang ?. Nggak kan ?, makanya ayahmu tak mau mengatakan apapun, menunggu hingga kamu kembali kesini”.
“Paman yang meminta itu Nak, Paman yang melarang ayahmu bicara”. Sambung Lufti cukup tegas.
Risda kembali terdiam, kini ia membayangkan banyak hal, pantas saja Pak Nas begitu mati matian mendukungnya, ternyata dia adalah ayahnya. Risda jadi teringat saat ia tertimpa dahan, ayahnya bahkan membawanya ke kota dengan heli, pasti ia keluar puluhan juta, tapi tetap biasa saja.
Belum lagi pengakuan tentang Risda sebagai putrinya saat ikut bersama Asrul berwisata ke Kota Tawau, ternyata itu bukan sebatas pengakuan belaka, Risda baru sadar jika itulah kebenarannya, Pak Nas memang benar ayahnya, si ayah tahu dan enjoy membuat pengakuannya, Risda yang tak tahu apa apa yang bingung sendiri.
“Ibumu wanita yang kuat Nak, dia sangat kuat, bahkan Paman yakin, ibumu lebih kuat dari Paman. Mungkin Paman tak akan bisa menghadapi itu dengan baik, tapi ibumu bisa”.
Kembali Risda hanya menggeleng setelah menatap Lufti sesaat. Tapi, jauh dari lubuk hatinya Risda juga mulai sadar, kedua orang tuanya punya derita yang luar biasa selama ini, derita yang tak akan terhapus kapanpun, apalagi dengan adanya ia dalam kehidupan keduanya.
“Paman punya nomor ayah ?”.
Lufti langsung mengambil ponselnya, membuka nomor Haris dan menyerahkannya ke Risda. “Ini nomornya”.
Risda langsung mencatat ke ponselnya. Lama Risda tampak berpikir, tapi akhirnya mengurungkan niat untuk menghubungi ayahnya. Risda kembali memasukkan ponsel ke saku celananya, kembali buang nafas berat.
Risda melirik Lufti sesaat. “Kenapa Paman ?”.
“Ibumu mungkin kuat karena luka itu miliknya, ia bisa memendamnya dalam, sedalam dalamnya. Tapi, jika luka itu menghampirimu, anaknya, Paman tak yakin ia bisa kuat. Luka terbesar seorang ibu adalah saat anaknya terluka”.
“Jadilah penguat ibumu sayang, kamu pasti bisa”. Sambung Widya.
Risda menatap keduanya secara bergantian, kemudian Risda tunduk lagi, kali ini tampak menggigit bibirnya, air matanya kembali jatuh, Risda belum sepenuhnya bisa menguasai jantungnya yang terus berdebar sangat kencang.
Tapi apa yang dikatakan Lufti sangat masuk ke akal Risda, seharusnya Risda sebagai anak wajib membuat ibunya bahagia dan melupakan luka, bukan malah membuatnya makin terluka, ibunya pasti membutuhkan banyak kekuatan, apa yang sudah dicapainya selama ini, sebaiknya jangan runtuh karena anaknya sendiri.
“Risda paham Paman”.
Lufti menghela nafas panjang, ada rasa lega sedikit, Lufti senang karena yakin Risda punya kemampuan yang baik untuk menahan diri, ia juga mewarisi sikap tangguh ibunya, Lufti yakin soal itu.
“Kembalilah ke rumah dengan tenang, seakan tak ada apa apa, jangan biarkan ibumu menunggu lama, saat ini ibumu pasti bingung dan sedih menunggumu, jangan sampai dia sakit karena memikirkanmu Nak”.
__ADS_1
Risda paham apa yang dimaksud Lufti, Risda anggukkan kepala, menuju wastafel untuk mencuci muka, melap mukanya kering kering, tapi bekas sembab itu memang tak hilang, tapi Risda yakin, wajahnya sudah cukup segar.
Lufti dan Widya sama anggukkan kepala saat Risda beranjak, keduanya kembali menghela nafas panjang saat mendengar pintu depan di tutup kembali, Lufti bahkan menutup muka dan terus menggeleng, tapi setidaknya hari ini, menurutnya ia bersama Widya bisa menenangkan Risda.
Lufti ambil ponsel dan menghubungi Haris, tak diangkat, Lufti coba lagi, tidak juga, akhirnya Lufti kembali menggeleng dan hela nafas lagi setelah meletakkan ponsel nya begitu saja diatas meja.
“Nggak diangkat Bang ?”.
Lufti anggukkan kepala. “Mungkin Haris lagi ada kerja”.
Widya ikut anggukkan kepala, rasanya mungkin juga, apalagi melihat jam masih dalam jam kerja, mungkin Haris punya kesibukan sehingga tak mendengar panggilan ke ponselnya. Tapi, tak sampai dua menit ponsel berdering, Haris memanggil.
“Kok dihubungi nggak angkat lu bro ?”.
Haris terdengar tertawa. “Aku lagi meeting tadi Bro, maaf ya”.
“Ris. Risda sudah tahu lu siapa, sekarang tinggal lu, mau menunggu lagi, atau sesegera mungkin menemui anak lu”.
Haris sampai tersedak. “Benar begitu Luf ?”.
“Risda baru balik dari rumah gua, ia meraung disini, dia meraung raung di depan gua dan Widya, tapi Insha Allah dia sudah bisa tenang Ris, Insha Allah”.
“Terima kasih kawan”. Haris nyaris terbata.
“Okeylah, mau ashar ini, sudah ya, pikirin pelan pelan, jangan main lama juga lu”.
“Siap kawan, Siap. Terima kasih, titip salam sama Widya”.
“Okey”.
Telephon terputus. Haris merunduk, saat ini sedang ada masalah di perusahaan, persoalan lahan kian runcing, Haris tak bisa meninggalkan lokasi dalam waktu dekat, semua ini harus diselesaikan dulu dengan baik, apa boleh buat.
Haris berdiri dan membuang nafas berat. Tapi, begitu urusan lahan ini tuntas, Haris akan langsung terbang ke Jakarta, ia tak akan menunda lagi, tidak akan menunggu lebih lama lagi, Haris harus bertemu putrinya, bertemu adiknya, bertemu belahan jiwanya.
… Bersambung …
__ADS_1