Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Semangat Tinggi Bersama Meylani


__ADS_3

Udara pagi menyusup masuk hingga ke tulang sumsum. Farhan benar benar merasa kedinginan yang amat sangat, serasa bagai berada di depan kulkas yang sedang terbuka lebar, Farhan meringkuk bagai udang rebus, rasanya tak ingin bergerak, tapi tarikan tangan Tomy memaksa Farhan ikut berdiri.


"Mandi yuk Far ..".


Farhan menghela nafas resah. "Mandi ?".


Tomy tertawa kecil. "Ayolah, nanti segar itu".


Farhan terpaksa ikut juga, walau bayangan Farhan sudah langsung ekstrim, Farhan membayangkan akan membeku jika di guyur air, belum menyentuh air saja Farhan sudah tak tahu menggambarkan rasa dinginnya, apalagi harus mandi.


Tapi, Farhan juga punya pikiran lain, aneh saja kalau nggak mandi. Sehingga Farhan ikut saja langkah yang lainnya yang ternyata menuju sungai, sampai disana, semua langsung buka pakaian dan menceburkan diri, termasuk Haris dan Tomy.


Tapi Farhan masih duduk di pohon tumbang yang ada di pinggir sungai, Farhan tampak ragu, kini ia malah terbayang kumpulan buaya yang ia lihat semalam, ini masih sungai yang sama, jangan jangan mereka ada juga disini, Farhan bergidik membayangkannya, sehingga belum beranjak sama sekali.


"Ayo Far, segar ini". Panggil Tomy.


"Ayo, nggak apa apa, nggak ada buaya disini". Sambung Haris.


Farhan senyum kecut, Farhan agak terkejut, kenapa pamannya Haris seakan tahu isi hatinya, dengan berat hati dan masih takut takut, Farhan akhirnya turun juga, dan benar kata Tomy, airnya memang sejuk, namun begitu, masih rada takut, Farhan tak mau berlama lama, ia hanya mandi sebentar saja.


Acara mandi tak lama, semua kembali ke rumah singgah, sarapan sebentar dan kemudian langsung beranjak ketempat tujuan pertama, menuju basecamp perusahaan tempat Haris bekerja, Farhan dan Tomy hanya saling lirik dan sama geleng kepala, kondisi camp yang cukup memprihatinkan.


"Mereka nginap disini Tom ?'".


Tomy menggeleng. "Tak bisa dibayangkan Far, mereka luar biasa".


Farhan ikut menggeleng. "Cari hidup itu terkadang memang luar biasa Tom".


Tomy buang nafas berat. "Entahlah Far".


Farhan dan Tomy kembali sama sama menggeleng, para pekerja perkebunan yang katanya sedang alih fungsi hutan itu memang diluar kebiasaan, hanya pakai tenda usang yang cukup kecil, yang sama sekali tak sebanding dengan jumlah mereka yang harus di tampung.


Farhan maupun Tomy sama sama yakin kalau tenda tak mampu menampung semuanya, itu artinya ada yang tidur di alam terbuka, satu keadaan yang luar biasa, Farhan terus geleng kepala, ia saja yang tidur dalam rumah masih kedinginan hebat, bagaimana yang tidur di alam terbuka.


Merasa cukup, semuanya kembali bergerak ke Camp yang lain, kondisinya hampir sama, disini baru Farhan dan Tomy tahu, jika mereka para pekerja itu bukan karyawan perusahaan secara utuh, hanya pekerja sambilan yang bahkan banyak di datangkan dari luar pulau.


"Kita kesekolah ya Frans".


Yang dipanggil Frans hanya anggukkan kepala. Farhan yang tanpa sengaja memasang senyum, ia ingin sekali melihat sekolah tempat abang dan kakak iparnya dulu mengabdi, sehingga Farhan tampak begitu senang mendengar akan beranjak kesana, Farhan ingin melihatnya secara langsung, bagaimana keadaan sekolah dan pendidikan di perbatasan ini.


Hanya berjalan sekitar tiga puluh menit lewat sedikit, mereka sudah sampai ke gerbang sekolah, Farhan sudah menghusap air matanya, hatinya begitu sakit melihat gedung sekolah yang sama sekali tak layak itu, Farhan tak menyangka kondisinya sampai seperti ini.


Sedang Tomy dari tadi hanya bisa geleng geleng kepala dan menghempaskan nafas sekuat tenaga berulang kali, rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, batin Tomy cukup sakit karenanya, sangat memilukan sekali.


Pada dasarnya, keduanya sama sama, Farhan dan Tomy sama sama tidak sanggup melihat pemandangan didepan mereka, rasanya tak terima, bagaimana kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung dengan kondisi yang sedemikian rupa, bagaimana pendidikan berjalan dengan fasilitas utama model begini.


Anak anak berlarian melihat Haris yang datang, bahkan anak anak itu tanpa segan memegang tangan, bahkan celana Haris, mereka tampak begitu riang, laki laki dan perempuan sama saja, pemandangan ini makin membuat Farhan dan Tomy sama sama mewek, bahkan Tomy tak kuat.


Tomy terpaku di tempatnya berdiri, memalingkan wajah, memandang ke arah lain, kemudian sesekali menengadah kelangit, Tomy sama sekali tak sanggup melihat anak anak itu berlama lama, Tomy begitu terpukul, ternyata begini keadaan sekolah disini, di pulau yang sama dengan pulau yang ia tempati.


Ternyata anak anak itu memang sudah terbiasa melihat Haris, setiap Haris datang, mereka tahu kalau akan ada hadiah buat mereka, sehingga mereka tanpa komando langsung berhamburan saat melihat Haris memasuki komplek sekolah mereka, wajah wajah lugu nan gembira yang siapapun melihatnya akan termakan haru.


Farhan dan Tomy yang sempat terdiam karena pemandangan yang membuat keduanya tak sanggup menahan haru itu akhirnya kembali melangkah mengikuti langkah Haris yang masih dierumuni anak anak lebih dekat ke gedung sekolah.

__ADS_1


Setelah berbincang dengan Haris, pandangan Kepala Sekolah melekat ke Farhan, cukup lama, ia bahkan menggeleng dan memainkan telunjuknya, kemudian sang Kepala Sekolah mendekat ke Farhan dan Tomy.


“Wajahmu seperti tak asing bagi Ibu”.


Farhan tersenyum. "Maksudnya Bu ?".


Kepala sekolah tampak sedang berpikir. "Seperti sudah sering melihat sebelumnya".


Farhan tertawa kecil. “Mungkin Bu Kepala Sekolah teringat abang saya, Bang Asrul”.


Bu Kepala Sekolah langsung membulatkan mulutnya, tepuk jidat dan tertawa kecil dan makin mendekati Farhan. “Kamu adiknya Pak Guru Asrul ?”.


Farhan anggukkan kepala. “Benar Bu. Saya Farhan, Farhan Syaukani, saya adiknya Pak Guru Asrul, adik iparnya Bu Guru Risda”.


“What ?”. Bu Kepala Sekolah makin melongo. “Pak Guru Asrul dan Bu Guru Risda sudah ..”.


Farhan anggukkan kepala. “Benar Bu, Mereka sudah menikah”.


Bu Kepala sekolah tampak sangat girang, mungkin kalau ia anak kecil, sudah melompat lompat sakin gembiranya, ia terus tersenyum lebar dan geleng kepala, seakan baru saja mendapatkan hadiah besar yang tak disangka sangka.


"Ibu juga sudah yakin kalau Pak Guru Asrul dengan Bu Guru Risda itu punya hubungan, mereka akrab dan saling mendukung".


Farhan kembali senyum tipis. "Mudah mudahan Bu".


Perbincangan berkembang, Farhan menjawab semua pertanyaan Bu Kepala Sekolah, semuanya tentu tentang Asrul dan Risda. Kali ini Farhan yakin, kalau abang dan kakak iparnya diterima dengan baik disini, mereka juga memberikan yang terbaik juga, buktinya sang Kepala Sekolah tak bosan bosannya memuji keduanya.


"Mana ponselmu Far, saya yang juru photo, mana".


Farhan tersenyum dan menyerahkan ponselnya. "Kau tahu yang ku mau".


Farhan langsung berpose dengan Sang Kepala Sekolah dengan berbagai gaya, sesekali Tomy juga ambil selfie yang menampakkan dirinya. Hingga masuk ruang kelas dan bagi bagi buku, Tomy tetap setia menjadi juru kamera untuk Farhan, tanpa sadar, sudah puluhan photo yang tersimpan.


"Ada yang mau nyanyi ?". Farhan angkat tangan.


"Saya Pak Guru".


Farhan walau geli di panggil Pak Guru, menatap sang anak. "Siapa namanya ?".


"Saya Meylani Pak Guru".


"Ayo Maju ..".


Meylani maju kedepan dan berdiri di samping Farhan. Untuk mensejajarkan, Farhan harus jongkok. "Mau nyanyi apa anak manis ?".


Meylani tampak senyum malu malu. "Mau nyanyi Mari Semangat".


Kening Farhan agak berkerut, ia sama sekali belum pernah mendengar lagu dengan judul itu, sehingga jadi penasaran. "Mari Semangat ?, siapa penciptanya ?".


Meylani masih senyum malu malu. "Bu Guru Risda".


Dada Farhan langsung berdebar, jantungnya berdetak lebih kuat. Farhan hanya anggukkan kepala, Meylani langsung menyanyi, nyanyian itu langsung di ikuti oleh anak anak yang lainnya, mereka jadi nyanyi ramai ramai


__ADS_1


 dengan penuh semangat.


Semangat, kita harus semangat ...


Semangat, tidak boleh menyerah ..


Hadapi semua dengan penuh semangat


Jangan Gentar, Jangan Takut ... Mari Semangat.


Jangan Lemah, Tetap Kuat ... Mari Semangat.


Semangat, Kita harus semangat ..


Meraih cita cita mulia


Semangat, Kita harus semangat ..


Meraih masa depan yang baik.


Belajar, belajar, terus belajar ... Mari Semangat.


Belajar, belajar, terus belajar ... Ayo Semangat.


Air mata Farhan benar benar runtuh, refleks Farhan berdiri bertumpu dengan lutut dan memeluk Meylani begitu erat, Meylani juga memeluk Farhan sama erat, Tomy yang memvidiokan moment ini juga menghapus aliran air yang cukup deras dari sudut matanya, Tomy terus membuang nafas berat guna meredakan gemuruh jantungnya.


Setelah Meylani kembali duduk, Bu Kepala sekolah maju kedepan. "Anak anak sekalian, ini Pak Guru Farhan, ini adik kandung Pak Guru Asrul, masih ingat dengan Pak Guru Asrul kan ?".


Farhan menunduk mengurangi air matanya, jantung Farhan makin berdegup saat mendengar semua berteriak mengatakan iya. Masih belum lama, tentu saja anak anak ini masih ingat betul dengan Asrul dan kakak iparnya Risda, Farhan benar benar ciut, semangat anak anak ini betul betul membuat Farhan terpukul.


Hampir setengah hari mereka disana, Farhan dan Tomy menjadi guru Matematika dadakan, anak anak juga tampak sangat antusias mengikuti pelajaran yang diberikan Farhan dan Tomy, apalagi Farhan dan Tomy tidak hanya berdiri di depan, mereka juga mendatangi anak satu persatu dan mengajarinya langsung di meja masing masing hingga benar benar paham.


Waktunya harus pergi, anak anak juga harus kembali ke rumah masing masing, jam belajar sudah usai. Farhan dan Tomy saling pandang, sama sama tersenyum dan sama sama geleng kepala, serasa tak percaya apa yang sudah mereka lewati hari ini, satu kejadian yang sangat luar biasa, sangat mengesankan.


"Saya jadi malu Far".


Farhan agak mendelik. "Kenapa Tom ?".


Tomy menggeleng. "Saya termasuk orang yang sering protes di sekolah karena anggap fasilitas tidak memadai. Lihat mereka Far .. semangat mereka". Tomy kembali menghusap air matanya yang kembali mengalir.


Farhan merangkul bahu Tomy. "Apa yang bisa kita buat Tom. Kita bersyukur lahir dan besar di kota, masalahnya kita bukan orang yang punya kemampuan untuk merobahnya teman, kita mau bilang apa".


Tomy anggukkan kepala. "Entahlah Far, tapi hatiku sakit melihatnya".


Farhan buang nafas berat dan sama menganguk. "Benar Tom, itu menyakitkan".


"Saya jadi berpikir untuk menggalang dana untuk memperbaiki fasilitas disini, mungkin bisa, walau hanya kecil".


Farhan mengacungkan jempolnya. "Khabari saya nanti Tom, saya akan ikut bantu".


Tomy tersenyum dan ikut mengacungkan jempolnya, kemudian keduanya kembali melangkah, kini keduanya sama saling merangkul bahu, berjalan pelan sambil berbincang mengenai upaya yang bisa dilakukan untuk membantu anak anak di perbatasan, khususnya fasilitas pendidikan.


Haris dan kawan kawan yang mendengar omongan Farhan dan Tomy ikut menggeleng dan sama sama buang nafas berat. Dalam hati Haris merasa bangga, ia bahagia punya keponakan yang punya rasa peduli yang tinggi seperti Farhan, Haris hanya berharap, kedepan Farhan bisa menjadi orang yang berhasil sukses.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2