Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Nyatanya Memang Begitu


__ADS_3

Pesawat sudah mengudara, rasa haru entah kenapa begitu tajam menghujam ke jantung Faridha, bahkan hujaman itu membuat bibir Faridha gemetar, dan bahkan air mata Faridha juga ikut mengalir sangat deras, tapi ia membiarkannya saja, sampai sampai jilbab Faridha bagian depan hampir basah.


Faridha sendiri bahkan tak tahu kenapa ia sampai sesedih ini, belum pernah Faridha mengalami keharuan sebesar ini setelah kepergian ibunya beberapa tahun yang lalu, tapi kenyataannya memang begitu, Faridha begitu merasa ada yang hilang saat pesawat mengudara meninggalkan Jakarta.


Bukan hanya wajah Farhan, semua wajah wajah itu silih berganti membayangi Faridha, Ayah dan Ibu Farhan, Mutia, Reni, Ariana, bahkan Asrul yang sama sekali belum pernah sekedar bicara dengannya tetap ikut melintas di kepala Faridha, dan selain Farhan, yang paling kuat adalah bayangan Risda.


Selama berhubungan dengan keluarga Farhan, Faridha paling banyak komunikasi dengan Risda, seorang yang sangat membuat Faridha kagum, cara bicaranya, caranya memberikan kasih sayang, pengertian dan nasehat nasehatnya, Risda juga yang membuat Faridha merasa punya kekuatan menghadapi cerita hidupnya yang berubah begitu cepat.


Lita yang duduk di samping Faridha juga memilih hanya diam saja, Lita seakan tahu apa yang dirasakan sahabatnya, tentu berpisah dengan jarak yang jauh pasti melahirkan banyak keharuan, itu lumrah lumrah saja, sehingga menurut Lita, membiarkannya akan jauh lebih baik.


Tapi Lita tak tahan juga, Lita mendehem dan mencolek pundak Faridha, yang di colek hanya melirik sebentar dan kemudian kembali tertunduk, mata Faridha justru lekat ke cincin yang melingkar di jari manisnya. Lita agak mengerutkan kening, ini cincin belum pernah Lita lihat sebelumnya.


Lita meraih jemari Faridha. “Cincin tunangan ?”.


Faridha tersenyum kecut. “Mungkin”.


Tentu Lita jadi bertambah kerut keningnya. “Kok mungkin ?”.


“Nggak tahu, ini dipasangin sama Bang Farhan”.


Lita langsung ngakak, sakin kuatnya sampai banyak mata yang langsung mengarah ke Lita. Merasa terlanjur, Lita langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, tapi memang merasa sangat lucu, geli mendengar jawaban Faridha. Lita sudah bisa menebak memang begitu, tentu Lita tak tahu bagaimana jalan ceritanya cincin itu kini melingkar di jari manis Faridha, tapi Lita sangat yakin, kalau memang itu cincin tunangan, Lita sangat menyakini hal itu.


“Seharusnya kamu itu bahagia Dha, punya calon suami seganteng dan sebaik Bang Farhan itu, kalau aku sih, pasti girang aku”.


Faridha tertawa kecil, menggeleng. “Kita masih kelas XI SMA Lit”.


Lita angkat bahu. “Memang kenapa ?”.


Faridha menggeleng. “Terlampau dini ngobrol soal pernikahan”.


Lita buang nafas juga, serasa yang dikatakan Faridha memang benar, terlampau dini bicarakan pernikahan saat masih duduk di kelas XI SMA, belum saatnya memang. Tapi jujur, andai Lita yang berada di posisi Faridha saat ini, Lita tetap akan sangat bahagia, toh kalaupun cerita nikah, itu kan nanti, bukan sekarang juga.


“Kan ceritanya masih panjang Dha, bilang saja nanti nikahnya setelah selesai kuliah, memang kenapa ?”.


Faridha menggeleng. “Andai semudah itu”.


Lita kembali mendelik. “Memang kenapa Dha ?”.


Faridha kembali menggeleng. “Ayah Bang Farhan meminta, kita menikah setelah aku lulus SMA Lit”.


Lita makin mendelik. “What ?, nggak kuliah ?”.


Faridha menghela nafas. “Ayah Agung bilang, kan nggak salah kalau kuliah saat sudah menikah, nggak ada larangannya itu katanya”.


Lita tepuk jidat. “Oh, No. Kau bakal jadi istri lepas SMA, Okey .. langsung kuliah. Kalau kau hamil gimana ?, nyaman kuliahnya, punya anak, Oh, Dha, Faridha, kau bisa nyaman dengan itu ?”.


Faridha kembali menggeleng. “Nggak kepikiran sampai disitu aku nya Lit”.


“Lha, lantas. Terima saja ?”.


Faridha angkat bahu. “Apa aku bisa menolaknya ?”.


Lita tak menjawab apapun, Lita tentu tak paham apa yang ada di pikiran temannya kini, namun apapun itu, Lita tetap merasa aneh dengan itu, menikah setelah tamat SMA ?, ah, nggak pernah terlintas di kepala Lita. Sama sekali tak pernah menyentuh pikiran Lita sama sekali, itu tak ada dalam catatan kemungkinan hidupnya.


Tapi selintas, Lita membayangkan keluarga Farhan dengan semua perlakuan mereka pada Faridha, bahkan teman teman Faridha juga ikut ketiban kebaikan itu. Bergabung dengan keluarga itu mungkin akan menjadi pilihan yang super tepat, pilihan yang sangat rasional.


Tapi, apakah harus secapat itu ?. Lita kembali hanya mampu menggeleng. Tapi, ya, itu, tetap saja ada tapi. Bukan sedikit orang yang menikah lepas SMA dengan berbagai alasan, banyak diantara mereka memang yang terhempas dalam duka perpisahan, tapi tidak sedikit yang sekarang dikurung dalam kebahagiaan.


Lita mendesah, sekarang mungkin hanya punya doa dan harapan, agar Faridha menjadi salahsatu dari mereka yang menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan hidupnya kelak, kembali jika melihat apa yang dilakukan keluarga Farhan selama mereka ikut lomba, Lita entah kenapa begitu yakin kalau Faridha masuk dalam lobang yang tepat.


Begitu mendarat di Bandara Internasional Kuala Namu, semua rombongan sudah di tunggu angkutan yang disediakan pihak gubernuran. Setelah acara penyambutan yang tak begitu lama, semua naik ke dalam bus dan langsung berjalan perlahan menuju pusat Kota Medan.

__ADS_1


Faridha mengeluarkan ponselnya, entah kenapa, bukan Farhan yang dihubungi Faridha, tapi Risda. Faridha merasa paling nyaman komunikasi dengan Risda, dengan yang lain ada rasa segan, karena selama bersama dengan keluarga Farhan, hanya dengan Risda Faridha menyampaikan banyak kejujuran hatinya.


“Halo adek Kakak, sudah nyampe Medan ya ?”. Risda ceria diseberang sana.


Faridha ikut tertawa, ia senang dengan keceriaan Risda. “Iya Kak, sudah nyampe, ini sedang di bus mau balik ke rumah”.


Risda balik tertawa renyah. “Iya lah. Sudah telephon Farhan belum ?”.


Faridha tertawa kecil juga. “Belum sih Kak, baru telephon kakak”.


“Nggak boleh gitu sayang, telephon dong, kasi tahu sudah sampai, nanti nggak enak tidur dianya gimana coba ?”.


Faridha masih tertawa kecil. “Ah, kakak ada ada saja, masa gitu ?”.


“Yang namanya kasmaran mah, emang gitu adek sayang, telephon ya”.


Faridha masih tertawa. “Iya Kak, nanti sampai rumah baru”.


“Kenapa nggak sekarang ?”.


Faridha masih tertawa kecil juga. “Masih di jalan, pake video call saja nanti kak”.


Risda jadi tertawa lebar, terang, walau baru saja berpisah sekian jam saja, tapi Risda sudah punya rindu pada Faridha, anak yang cantik dan rendah hati, Risda yakin jika Faridha masih punya pemikiran seperti yang ia ungkapkan kemarin, tapi menurut Risda itu justru baik, itu pertanda kalau Faridha punya sikap yang patut di puji.


“Yang penting adek sehat saja, belajar yang tekun, sabar saja, kan nggak nyampe dua tahun lagi, kita bakal ngumpul lagi, bahagia bahagia saja ya dek ya”.


Faridha agak mendesah. “Semoga begitu kak”.


“Ya, harus dong adek sayang. Faridha harus percaya diri, hidup ini kita yang nentuin dek, bagaimana kita mengambil kesimpulan yang terbaik, isi saja hidup kita dengan hal hal yang positif, Tuhan akan bantu kita bahagia”.


Faridha masih mendesah. “Iya Kak, Faridha akan selalu dengar nasehat kakak”.


“Yang penting komunikasinya baik, ya dek ya”.


“Okey.. jangan lupa dek, khabari Farhan, Okey ?”.


“Okey Kak”.


Telephon terputus. Entah mengapa, mata Faridha justru berkaca kaca, ia langsung membayangkan wajah manis Risda, senyumannya, perkataannya, semua membuat Faridha sangat terharu, jika semuanya benar benar seperti itu, Faridha tak bisa membayangkan ia akan sama dengan Risda, sama sama menjadi menantu disana.


Menjadi menantu di keluarga super kaya yang sifat dan karakter orang orangnya jauh dari bayangan Faridha, semuanya selalu terlihat ceria, memandang orang dengan tanpa melihat status atau apapun itu yang berhubungan dengan kemampuan dan keuangan, semuanya begitu terbuka, Faridha memang takluk oleh semua itu.


Faridha membandingkan dengan beberapa tetanggnya, padahal tak seberapa kaya, baru saja sebagai pekerja, tapi kata katanya sering begitu pedas membakar telinga, menghormati saja begitu sulit bagi mereka, bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan kalau orang miskin itu sampah masyarakat.


Berbeda jauh dengan Farhan dan keluarganya, mulai dari ayah hingga si bungsu Ariana, semuanya tak menempatkan kemampuan keuangan sebagai ukuran. Terhadap Faridha, ibu Farhan bahkan malah membuat perubahan besar, dengan jumlah uang di rekeningnya, Faridha sekarang sudah jadi jutawan, faktanya memang begitu, pengghuni rekening Faridha kini lebih dari setengah milyar rupiah.


Faridha sudah sampai dirumah, tak lupa ia masih mengirim WA ke Risda yang mengatakan kalau ia sudah dirumah, Risda membalas dengan ungkapan yang sama, jangan lupa khabari Farhan. Faridha hanya senyum saja, dan sedikit lupa saat ayahnya muncul dari masjid dan langsung memeluknya.


Perbincangan terus berkembang, Faridha menjawab semua pertanyaan ayahnya, hingga tangan Husain memegangi jemari Faridha dengan fokus pada jari manis Faridha yang dilingkari cincin dengan mata berlian, minimalis tapi berkelas.


"Ini dari Farhan ?".


Faridha anggukkan kepala. "Iya Yah, Faridha ...".


Husain tertawa kecil sambil menghempaskan nafas kuat. "Ayah nggak ngerti bagaimana Dha, yang ayah takutkan, bagaimana kita bisa mengimbangi mereka yang kehidupannya jauh beda dengan kita".


Faridha ikut menghela nafas panjang. "Faridha juga mikiritu Yah ..".


Husain menatap langit langit rumahnya. "Entah apa isi pikiran Bou mu Dha, ayah nggak bisa mengelak, ayah nggak sanggup mengatakan tidak, walau sebenarnya ayah juga takut". Air mata Husain malah jatuh.


Faridha menatap ayahnya cukup lama. "Kenapa ayah menangis ?".

__ADS_1


Husain menggeleng. "Ayah terlalu takut, ayah khawatir ketidakberdayaan ayah itu membawamu ke keadaan yang sulit Dha, ayah takut itu".


Faridha kembali hela nafas panjang. "Entahlah Yah, tapi seisi rumah itu sangat baik, dari yang besar hingga yang kecil semua menunjukkan rasa sayang, Faridha mau tidak mau harus mengakui kalau itu keluarga kaya yang beda dengan yang lain".


Husain hanya geleng kepala, bagaimana ia bisa menerima semua ungkapan itu, karena ia sendiri berlum tahu dan belum melihat apapun tentang keluarga Farhan, walau dalam hati Husain sangat berharap apa yang dikatakan putrinya sepenuhnya benar, dengan begitu ia tidak salah dalam mengambil keputusan untuk putrinya.


Husain bukan orang yang gila harta, kalau seandainya diminta memilih, Husain lebih memilih putrinya berjodoh dengan orang yang sederhana saja, kalaupun beda, sebaiknya tidak terlampau jauh, cukup setingkat lebih baik dari kehidupannya, dengan begitu tak akan ada kekhawatiran, itu menurut Husain.


Tapi, hari ini, putrinya yang berangkat ikut Lomba Debat tingkat Nasional, pulang tidak hanya membawa hadiah peringkat pertama, tapi ada cerita lain juga, pertemuan singkat Faridha dengan Farhan membuat semuanya jadi berubah total, entah apa yang membuat keluarga Farhan, terutama ibunya langsung meminta Faridha menjadi menantu di rumah mereka.


Mungkin satu sisi Husain juga pantas senang, atau mungkin bisa juga merasa bahagia dengan semua itu, tapi tetap saja semuanya terlalu prematur bagi Husain, terlalu cepat dan terkesan terburu buru, ini pula yang membuat Husain punya ketakutan, jangan sampai semua bermuara kurang bagus, Husain takut jika semuanya dapat melukai putrinya.


“Ini juga buat Faridha agak pusing Yah”.


Husain agak mengerutkan keningnya. “Kenapa ?”.


“Ayah lihat saja sendiri, pusing Faridha lihatnya”.


Kening Husain makin berkerut. “Memang kenapa ?”.


Husain agak bingung menerima buku tabungan putrinya, mata Husain langsung terbeliak saat membuka lembaran buku tabungan itu, angka saldonya melambung jauh dari yang Husain tahu, berulang kali Husain bergantian menatap buku tabungan dan wajah putrinya.


“Hadiahnya sampai segini Dha ?”.


Faridha tertawa tertahan. “Hadiah apa ?, Ayah ada saja”.


“Ini apa kalo gitu ?”. Husain jadi makin bingung.


Faridha geleng kepala. “Itu dari Bou”.


“What ?”. Husain mendelik. “Bou ?, Kak Meeta maksudmu ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Sejauh ini, baru itu yang Faridha panggil Bou Yah”.


Husain makin mendelik, debur jantungnya makin tak karuan, angka ini teramat besar bagi Husain, mungkin seumur hidup ia tak akan dapat mengumpulkan uang sebanyak ini, bagaimana Meeta dengan begitu mudah memberikannya, Husain jadi termenung, terus menggeleng panjang, sebegitu percayakah mereka pada Faridha.


Husain masih menggeleng. “Farhan tahu ini ?”.


Faridha menggeleng. “Kurang tahu Yah. Yang ke Bank Cuma Faridha dan Bou saja, entah kalau Bou cerita ke Bang Farhan atau lainnya, Faridha nggak tahu”.


“Nggak Faridha kasih tahu ?”.


Faridha menggeleng lagi. “Nggak Yah, tapi sama Kak Risda, Faridha kasih tahu semuanya, lengkap”.


“Risda ?”.


Faridha anggukkan kepala. “Kakak Ipar Bang Farhan, istrinya Bang Asrul, yang paling besar”.


Husain ikut anggukkan kepala. “Jawabannya ?”.


Faridha menggeleng. “Kak Risda Cuma ketawa saja, dia bilang nggak apa apa”.


Husain kembali menghela nafas panjang. “Mungkin dia juga dibuat begitu”.


Faridha ikut menghela nafas. “Nggak tahu juga Yah, mungkin”.


Husain menggeleng, kurang tahu apakah harus gembira atau bagaimana. Lama Husain menatap putrinya, pada akhirnya, kini yang ada dibenak Husain adalah bagaimana caranya agar Faridha bisa mensepadankan diri dengan Farhan, tapi lelah berpikir, Husain tak menemukan jawaban apa apa, karena itu terlampau jauh sepertinya.


Husain kembali menghela nafas panjang. “Sudahlah Dha, istirahat saja, sudah cukup malam ini, kamu juga pasti capek, Ayah juga mau istirahat”.


Faridha anggukkan kepala. “Iya Yah, besok juga masih banyak agenda di sekolah”.

__ADS_1


Husain dan Faridha sama sama berdiri, Husain terus memandangi Faridha yang masuk kamarnya, kembali Husain hela nafas panjang, sekarang hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik baik saja, semoga Faridha mampu menjadi yang terbaik bagi keluarga Farhan, terutama untuk Farhan tentunya, Husain hanya berharap, putrinya tidak berubah karena semua hubungan ini.


…. Bersambung …


__ADS_2