
Risda menegakkan tubuhnya saat mendengar dering ponselnya berbunyi, Risda tampak terkejut, karena yang menghubunginya adalah ibunya. Risda yakin ibunya pasti cemas, karena sudah pukul 15.00 WIB, Risda belum sampai di rumah.
“Halo Ma ..”.
“Kamu dimana Ris, kok belum pulang”.
“Ini Ma, Risda sedang …”.
Risda tak selesaikan ucapannya karena Asrul dengan sengaja merampas ponsel yang sedang di tempelkan di kupingnya. Risda bahkan menjadi mendelik saat Asrul malah menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo Tante …”.
“Kamu Rul ?”.
Asrul tertawa kecil. “Iya Tan, Risda sama saya ini”.
Natalia ikut tertawa kecil. “Tante kira kenapa, heran saja lihat Risda belum pulang, lagian kenapa nggak permisi kalau mau ketemuan”.
“Iya Tan, maaf ya Tan, Asrul lupa tadi, maaf ya Tan”.
Natalia terdengar tertawa kecil lagi. “Nggak apa apa. Sudahlah, titip salam Tante sama Ayah dan ibu kamu ya Rul”.
“Iya Tan”.
Telephon terputus, Astul mengembalikan ponsel Risda, tapi mata Risda masih terus menerus memandangi Asrul dengan lekat, baru tahu kalau ibunya bahkan kenal suara Asrul, pake titip salam ke orang tuanya lagi, Risda jadi terheran sendiri.
Kening Risda kali ini benar benar berkerut sangat dalam, ada banyak pertanyaan yang kini mengisi kepalanya, terus terang, setahu Risda selama ini Asrul tak pernah komunikasi dengan ibunya, Asrul setahu Risda juga baru sekali datang ke rumahnya, saat itu ibunya lagi tak ada, masih mengajar di bimbel.
Inilah yang membuat Risda sangat heran, bagaimana Asrul begitu tampak dekat dengan ibunya, kini Risda malah curiga, jangan jangan Asrul yang ia kenal selama ini berbeda dengan Asrul yang sebenarnya, jangan jangan, selama ini ada banyak yang Asrul tutupi.
“Abang sebenarnya siapa ?”.
Asrul jadi mendelik, matanya begitu membulat. “What ?, maksudnya ?”.
Risda menggelengkan kepala berulang kali. “Abang sepertinya begitu dekat dengan mama, pake acara titip salam segala, kok jadi aku yang bingung Bang ?”.
Asrul jadi tertawa lebar sambil geleng geleng kepala. Asrul menatap wajah Risda cukup lama, kembali menggelengkan kepala berulang kali, Asrul juga ikut heran, dan bahkan merasa ada yang salah dari pemikiran Risda.
“Sebuta itukah calon istriku ini tentang sejarah hidupnya ?”.
Risda gantian mendelik. “Maksud Abang ?”.
Asrul kembali menggeleng. “Coba ingat ingat, kapan pertama kali kamu datang ke rumah ini dan siapa yang membawamu kemari”.
__ADS_1
Kening Risda kembali berkerut dalam, Risda mencoba mengingat ingat, khususnya yang berhubungan dengan Asrul, sangat lama, tapi tak ada yang aneh sama sekali, semua ingatan Risda biasa biasa saja rasanya.
Karena yang Risda tahu, mereka saling kenal baru pada saat sama sama berada di bangku kuliah, saat keduanya berada di ruangan yang sama, sering komunikasi dan kemudian membuat mereka menjadi teman dekat lebih karena terlampau sering berada dalam satu kelompok tugas.
Asrul masih terus menggeleng, kali ini benar benar cukup bingung dengan pikiran Risda, Asrul sama sekali tak menyangka jika Risda tak ingat apapun tentang mereka, tapi akhirnya Asrul angguk kepala juga, Asrul yakin itu semua karena Risda sebelum ini tak tahu tentang ayahnya.
“Mungkin kamu lebih ingat dengan Om Firman, Om Lufti, Tante Widya, dan kamu sering lupa dengan satu orang lagi yang juga sering kamu panggil Paman”.
Kening Risda makin berkerut. “Siapa Bang ?”.
Asrul Angkat bahu. “Ayahku”.
Risda kembali mengerutkan keningnya, tapi kemudian langsung tepuk jidat, Risda baru ingat, saat ia ikut diskusi kelompok ke rumah Asrul, Risda merasa jika sudah pernah ke rumah ini sebelumnya, saat itu Risda malah ditanyai oleh ayah Asrul tentang khabar ibunya.
Risda sekarang menatap Asrul lama, benar, Risda juga memanggil ayah Asrul dengan panggilan Paman, tapi Risda juga baru tahu kalau ayah Asrul dekat dengan Pamannya Lufti dan Bibinya Widya, dan berarti juga, Ayah Asrul teman dekat juga dengan ayahnya.
“Sudah ingat Ris ?”.
Risda anggukkan kepala. “Paman Agung”.
“Hus .. Ayah Mertua”.
Risda jadi tertawa. “Masih calon”.
Keduanya sama tertawa, Risda sekarang benar benar paham, ayah Asrul termasuk barisan teman teman ayahnya Haris yang selalu memberikan support pada ibunya, walau sebelum sebelumnya yang Risda tahu itu teman teman ibunya, Risda baru tahu ternyata yang teman ibunya hanya Tante Widya, yang lain adalah teman ayahnya.
Risda anggukkan kepala. “Aku baru tahu kalau itu Bang”.
Asrul hanya senyum saja. Tapi Risda belum juga menemukan jawaban yang valid tentang kapan pertama kali ia datang ke rumah Asrul dan siapa yang membawanya, itu tadi pertanyaan Asrul, sehingga Risda masih kepikiran soal itu.
“Bang. Memangnya aku kapan pertama kali ke rumah ini dan siapa yang bawa ?”.
Asrul menjadi tertawa. “Benar benar lupa ?”.
Risda anggukkan kepala. “Memang lupa”.
Asrul mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri photo, kemudian Asrul menunjukkan ke Risda, photo itu membuat mata Risda terbeliak, itu photonya waktu masih kecil, sekitar usia enam tahun, belum masuk SD jelasnya.
Di photo itu ada Ibunya dan ibunya Asrul yang mengapit dua anak kecil, yang perempuan jelas adalah Risda, yang laki laki pakai topi ulang tahun ?. Risda menatap Asrul lama dan tersenyum, itu pasti Asrul. Artinya, Risda pertama kali datang ke rumah ini saat ulang tahun Asrul yang ke tujuh, bersama ibunya.
“Sudah ingatkah kau sayangku, cintaku, calon istriku yang cantik jelita ?”.
Risda tersenyum malu malu. “Sudah Bang. Abang imut imut juga ya waktu kecil”.
__ADS_1
“Sekarang ?”.
“Amit Amit”.
Asrul hanya tertawa terpaksa, tapi ada rasa bahagia juga, Risda sudah ingat kalau waktu kecil mereka sudah pernah ketemu. Risda sudah pernah ke rumah ini saat masih berusia enam jelang tujuh tahun.
“Kamu juga nggak tahu kan, kalau Abang alumni SMP tempat kamu mengajar sekarang”.
Risda mendelik lagi. “Abang SMP nya disitu ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Ya, Abang SMP disitu, saat itu disana ada tiga guru Bahasa Indonesia, salah satunya bernama Haris Arianda, tapi dia hanya mengajar sebentar dan tak pernah masuk kelas abang, sehingga kurang kenal waktu itu”.
Risda sangat terkejut dan makin mendelik. “Ayah pernah mengajar disana Bang ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Ya, pernah. Sekitar dua tahun, sebelum dia memutuskan menghilang ke Kalimantan”.
Risda tertegun. Ia baru tahu soal itu, ini benar benar cerita baru bagi Risda, ibunya saja tidak pernah cerita itu, sehingga Risda baru tahu kalau SMP tempatnya mengajar sekarang pernah juga menjadi tempat mengajar ayahnya, Risda benar benar baru tahu soal itu sekarang.
Risda jadi sedikit takut sekarang, pertanyaannya sekarang, apakah guru guru yang ada disana masih ingat dengan ayahnya, dan apa tanggapan mereka jika tahu bahwa Risda adalah putrinya dari pernikahan tak seharusnya itu ?.
Risda mengurut keningnya perlahan, heran juga dengan ibunya, kenapa tak pernah sama sekali menceritakan itu. Dada Risda semakin berdebar, rasa takut sekarang malah muncul, takut jika semua guru tahu, kemudian mereka melihat Risda dari sisi yang berbeda dan jadi banyak bertanya.
“Sejauh mana Abang sebenarnya tahu tentang ayah dan mama Bang ?”.
Asrul menggeleng, cukup heran juga mendengar pertanyaan itu, Asrul sekarang malah jadi merasa kasihan dengan Risda, semua cerita hidupnya selama ini begitu di tutup rapat, sehingga Risda benar benar buta soal kisah hidupnya sendiri.
Asrul kembali hanya menggeleng, kurang tahu mau memulai cerita darimana, apakah tentang ibunya Risda yang merupakan guru bimbelnya Asrul sejak SMP sampai SMA, atau tentang pertemanan ayahnya dan ayah Risda. Yang jelas, semua cerita itu tak satupun yang Risda tahu sebelumnya.
“Pertama, Tante Lia itu adalah guru bimbel abang, Tante Lia juga sering ke rumah sakit Mama, sering ketemu dengan ayah, karena mereka sudah saling kenal jauh sebelumnya. Apalagi ya ..”. Asrul malah bingung.
Risda buang nafas berat. “Itu sudah cukup Bang”.
Kening Asrul agak berkerut. “Cukup ?, maksudnya ?”.
Risda tertawa kecil. “Itu sudah cukup menjelaskan kenapa Mama bahkan mengenal suara Abang”.
“Tante Lia, calon mama mertua juga tahu kok kalau Abang suka kamu Ris”.
Risda kembali mendelik. “Apa sih Bang ?”.
Asrul anggukkan kepala. “Sama dengan Pak Nas, Tante Lia juga bilang begitu ke Abang, perjuangkanlah, begitu”.
Risda kembali hanya menggelengkan kepala, Risda sama sekali tak tahu apapun, Risda tak tahu bagaimana komunikasi Asrul dengan ibunya, Risda hanya bisa terkejut saat mengetahui ibunya juga tahu tentang perasaan Asrul padanya, hebatnya memang, ibunya malah tak pernah mengungkit Asrul di depannya.
__ADS_1
Risda tak tahu, apakah ini pantas untuk membuatnya bahagia atau bagaimana, Risda juga masih belum memastikannya dengan benar. Apakah Risda patut gembira karena menjalin hubungan dengan laki laki yang tahu persis tentang hidupnya, atau malah patut khawatir karena Asrul mengetahui semua titik lemahnya.
…. Bersambung ….