Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
4 Sehat 5 Lumayan


__ADS_3

Inilah kehidupan baru Risda sekarang, usai audiensi dengan pihak Dinas Pendidikan, mereka di sebar diberbagai SMP dan SMA yang tak jauh dari lokasi rumah masing masing, ada juga yang tidak ambil, karena mau melanjutkan pendidikan atau alasan lain yang bisa di terima, termasuk Asrul.


Risda tahu siapa Asrul, tahu latar belakang keluarga Asrul, bahkan Risda termasuk orang yang heran, kenapa Asrul ikut. Bahkan mereka yang tidak sekaya Asrul saja sudah keluar kalimat sombongnya, tapi Asrul tidak, hebatnya lagi, kedua orang tua Asrul setuju dan mendukung keputusan anak tertua mereka itu.


"Kenapa nggak ambil Rul ?".


Asrul melirik Risda sesaat dan senyum manis. "Gua mau kuliah lagi Ris".


Risda tertawa kecil. "Gua tahu tu mah. Maksudnya, kan bagus juga tuh, sambil kuliah sambil kerja gitu, apa salahnya ?".


Asrul menggeleng. "Gua mau mikirin dua hal saja, nggak lebih".


Risda agak mengerutkan kening. "Iya, kan pas tuh. Kuliah ama ngajar, dua".


Asrul kembali menggeleng. "Bukan itu".


"Apalagi dong ?".


Asrul geleng kepala lagi. "Gua cuma mau mikiri dua hal, kuliah gua dan elu".


Kening Risda balik berkerut. "Gua ?. Sakit lu".


Asrul menggeleng lagi, ekspresinya malah tampak sangat serius. "Separuh pikiran gua itu sudah sama lu Ris".


Risda hanya geleng kepala, nggak tahu mau ngomong apa, heran, kesal, dan banyak rasa lain mengumpul menjadi satu. Kalau ini bukan halaman kantor dinas, mungkin Risda sudah melayangkan tinjunya, tapi banyak orang, nggak mungkin juga.


Risda akhirnya memilih berdiri dan meninggalkan Asrul yang mengerut keningnya yang sebenarnya tak sakit. Asrul juga membiarkan Risda pergi, karena melihat ibunya Risda sudah datang menjemput anaknya.


Asrul memilih mau melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, Asrul merasa lebih tertarik menjadi dosen, ikut dalam program mengajar di daerah tiga T itu, untuk mengasah diri, mencari pengalaman dan ingin melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat perbatasan.


Risda kebagian SMP yang berdekatan dengan SMP tempat ibunya mengajar, hanya berjarak beberapa puluh meter saja, jalan kaki juga hanya tinggal beberapa langkah lagi, sangat dekat. Risda mengajar di tempat dulu ayahnya Haris menjadi guru, tapi Risda tidak tahu.

__ADS_1


Dari sekian banyak guru, hanya dua orang saja yang tahu sejarah itu, awalnya keduanya tak begitu pasti juga, karena tidak begitu ingat dengan wajah Natalia, tapi saat menurunkan Risda di gerbang, Natalia menegur keduanya, terjadilah dialog, sehingga keduanya angguk angguk kepala.


Karena memang dekatan, maka Risda selalu menumpang ikut ibunya, baik pergi maupun pulang sekolah, jika Natalia yang duluan, maka ia akan menunggu di depan pagar sekolah tempat Risda mengajar, jika Risda yang duluan, ia lebih memilih mendatangi tempat ibunya mengajar.


Seminggu ini baru Risda merasa kalau ada perbedaan pada ibunya, khususnya masalah makanan, semuanya begitu berbeda, banyak sayuran. Bahkan di belakang rumah ada tanaman sayuran dari berbagai jenis.


Ini tentu membuat Risda sengat heran, tapi yang namanya Risda, ya tetap saja Risda, yang selalu melihat dari banyak sisi baru mengambil keputusan, terutama masalah ibunya, dimata Risda, ibunya orang paling ahli dalam mengambil keputusan, sehingga selalu yakin apapun perkataan dan tindakan ibunya.


Tapi, untuk makan malam kali ini, penasaran Risda sudah diambang batas, masa makan siang dan makan malam menunya nyaris sama, yang nambah cuma sambalnya doang, tadi siang sambal ini nggak ada, sekarang ada, itu saja.


“Mama berhemat karena mau bayar kredit mobil baru mama ya ma ?”.


Natalia sempat menghentikan suapannya, cukup terkejut juga dengan apa yang menjadi pertanyaan Risda. Mau jawab yang sebenarnya masih ada takut takutnya, tapi seperti jadi inspirasi juga, Natalia menangkap tanya Risda dengan baik.


Natali geleng kepala, senyum kecil saja. “Nggak gitu juga, tapi iya juga”.


Risda tertawa. "Mama ada saja. Nggak tapi iya. Maksudnya apa ma ?".


Natalia masih geleng kepala saja. "Ya, gitu".


"Nggak lah, ngapaian. Mama masih cukup kok".


Risda kembali tertawa kecil lagi. "Risda serius kok ma, tenang saja".


Natalia ikut tertawa kecil, ia tahu jika putrinya punya rasa peduli yang tinggi padanya, sejak masih SD dulu, Risda sepertinya tahu kalau ibunya orang yang sederhana, sehingga tak banyak pinta, bahkan beberapa teman Haris yang selalu memperhatikannya juga Risda selalu bersikap sama.


Bahkan mereka harus setengah memaksa, baru Risda mau dibelikan sesuatu, itupun banyak di simpan, bahkan utuh hingga sekian tahun, mainan yang Risda punya, kemudian ia bagikan ke Panti Asuhan, pakaian pakaiannya yang tidak muat lagi, semuanya juga di serahkan ke panti asuhan.


"Mama hanya mau sedikit merobah menu".


Risda mengerutkan keningnya. "Merobah menu ?, untuk apa ?".

__ADS_1


Natalia anggukkan kepala. "Supaya kita sehat. Gitu saja".


"Empat Sehat, Lima Lumayan".


Kini Natalia yang mengerutkan keningnya. "Bukannya Empat Sehat, Lima Sempurna Ris, kok beda ?".


Risda senyum menahan tawa. "Itu kan kalo ada susunya ma. Inikan nggak ada".


Natalia jadi tertawa juga. "Oh, iya. Besok kita beli susu juga ya".


Risda jadi geleng geleng kepala, lama lama jadi lucu melihat ibunya. Risda sangat yakin, semua ini adalah tindakan penghematan yang super dari sang ibu. Dugaan Risda tetap sama seperti yang diawal, ibunya beli mobil baru, untuk bayar kreditnya sang ibu harus berhemat, karena pendapatan memang tak banyak.


Natalia hanya senyum tipis. Ngapain pula berhemat, uang kiriman Haris bahkan tak mungkin Natalia bisa habiskan, berfoya foya sesekali bahkan tak akan habis juga, mobil baru sudah lunas seutuhnya, surat suratnya sudah lengkap di tangan Natalia, itu dari uang bonus Haris di perusahaan, itu beli tunai, tak ada kredit kreditan.


Makanan ini hanya upaya Natalia untuk tidak memicu jantung Risda, ini upaya nyata agar bisa menjamin putrinya bisa tetap sehat dan hidup dalam waktu yang lebih lama, tidak menderita lebih jauh lagi karena jantungnya.


Natalia sudah paham banyak hal, tidak hanya dengan Haris, Natalia bahkan sudah bicara banyak dengan dokter Hasan yang kemarin menangani Risda, Natalia juga berjanji mengikuti semuanya, tentu dengan harapan, jantung Risda tidak terganggu.


Ini bahkan menjadi ketakutan terbesar Natalia saat ini, ia tak mau jantung putrinya terpicu karena ketidakmampuannya menjaga makanan Risda. Walau sebenarnya Natalia sangat sedih melihat menu demi menu ini, yang ia yakin tak memuaskan putrinya, pasti tak akan membuat Risda enak makannya.


Tapi, apapun itu, Natalia lebih takut jika jantung Risda terpicu, biarlah ikut makan makanan yang tidak memuaskan lidah, tapi membuat tubuh lebih sehat. Natalia yakin, lama lama, Risda akan terbiasa juga.


Natalia belum berani mengatakannya, karena melihat Risda dengan semangat besar sekarang. Maklum saja guru baru, semangatnya masih berkobar kobar sangat besar, jangan sampai kobaran itu meredup meninggalkan arang jika Risda tahu, ada apa dengan jantung miliknya.


Sama dengan Natalia, Haris juga sebenarnya sangat sedih mendengar semua cerita Natalia, Haris sedih karena Risda kehilangan banyak kegemaran makannya, akan ada banyak makanan yang selama ini Risda suka akan menghilang dari meja makan.


Tapi Haris mau bilang apa, ini adalah buah dari apa yang telah mereka lakukan sebelum ini, ketidaktahuan yang kemudian melahirkan banyak kisah pedih. Dan yang paling pedih tentunya, mengetahui anak yang terlahir dari hubungan tak seharusnya itu membawa efek yang tidak ringan.


Haris ikut tersenyum juga melihat senyuman Natalia di layar ponselnya. "Risda mana dek, nggak di rumah ?".


"Bentar ya Bang". Natalia mengarahkan camera ponsel ke Risda yang sedang tidur. "Lagi tidur dia Bang". Natalia memelankan suaranya, bahkan nyaris tak terdengar oleh Haris.

__ADS_1


Mata Haris langsung berkaca melihat wajah polos Risda yang sedang tidur di layar ponselnya, Haris hanya bisa menyentuh layar ponsel miliknya seakan sedang membelai wajah putrinya. Cukup lama juga, baru kemudian Natalia kembali keluar kamar dan melanjutkan perbincangannya dengan Haris.


... Bersambung ....


__ADS_2