Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
S2 : Kenapa Ibu Berbohong ?


__ADS_3

Mendapat photo menantunya yang sedang beli busana muslim dari anak keduanya, Ibu Asrul langsung membereskan meja kerjanya, Ibu Asrul kehilangan gairah kerja, ia langsung menutup laptopnya, langsung beranjak pergi, tujuannya pulang, ya, hanya ingin pulang.


Ingin sekali ia melihat apa yang dibeli oleh Risda, ada semangat yang tiba tiba muncul, bahkan Ibu Asrul langsung memesan beberapa pakaian melalui online yang ditujukan untuk menantunya, karena ia tahu Risda tak punya cukup uang untuk membeli banyak.


Ibu Asrul tersenyum saat memasuki pagar, ia melihat Risda juga sudah ingin masuk halaman rumah, jarak mereka hanya beberapa menit saja, tapi hanya Ibu Asrul yang melihat Risda, sedang Risda tak melihat ibu mertuanya.


Ibu Asrul memilih duduk di ruang depan, begitu Risda masuk dengan kantongan di tangannya, Ibu Asrul menyambut dengan senyuman, Risda juga membalas dengan senyuman yang sama manisnya.


“Sudah makan sayang ?”.


Risda tersenyum, anggukkan kepala dan menyalam serta mencium tangan ibu mertuanya. “Sudah Ma”.


Kening ibu Asrul agak berkerut. “Makan dimana ?”.


Risda kembali tersenyum. “Di Kantin sekolah Ma”.


Kening dokter paruh baya ini makin berkerut. “Di kantin sekolah ?”.


Risda anggukkan kepala. “Iya Ma”.


Ibu Asrul menggeleng. “Makan apa disana ?”.


Risda tersenyum kecut. “Mie, tapi pakai nasi juga Ma”.


Ibu Asrul kembali menggeleng. Ia sama sekali kurang terima menantunya makan siang di kantin sekolah, Ibu Asrul tentu paham bagaimana kualitas makanan di kantin sekolah, namanya juga standar untuk anak anak, pasti target utamanya adalah murah, kualitas kurang di prioritaskan.


Ibu Asrul kembali menggeleng. “Mulai besok bawa bekal ya Ris”.


Risda hanya bisa anggukkan kepala. “Iya Ma”.


Ibu Asrul berdiri. “Jangan iya iya saja Ris, beneran”.


Risda kembali hanya anggukkan kepala. Menatap ibu mertuanya yang menghilang di balik pintu, sejak menikah dan tinggal disini, Risda baru kali ini pulang dengan waktu yang hampir bersamaan dengan ibu mertuanya, biasanya ibu mertuanya pulang hampir maghrib.


Risda akhirnya melangkah juga menuju kamarnya, semua perlakuan mertuanya bagi Risda adalah bentuk rasa sayangnya, Risda malah bahagia sebenarnya mendapat perlakuan seperti itu, dari semua penghuni rumah, memang ibu mertuanya yang paling banyak memperhatikannya.


Saat membuka pintu kamar, Risda menggeleng, untuk yang kesekian kalinya ia menemukan suaminya yang sedang terlelap tidur saat ia pulang dari sekolah, Risda mulai heran dengan semua itu, heran dengan isi pikiran Asrul.

__ADS_1


Pulang kuliah, Asrul bukannya membantu ayahnya, malah enak enakan tidur siang, seakan tak ada pikiran Asrul untuk bekerja, Risda paham jika keluarga Asrul dapat menopang semuanya, tapi sebagai anak tertua dan kini sudah punya istri, cara Asrul kurang tepat menurut Risda.


Tapi, untuk mengatakannya Risda belum bisa mengatakan apapun, belum tahu ingin memulai pembicaraan dari mana. Utamanya takut jika Asrul tersinggung jika Risda salah bicara. Risda kembali hanya bisa geleng kepala, meletakkan tas dan kantongannya dan bergegas mengganti pakaian.


Tapi kegiatan itu jadi masalah, belum lagi Risda berhasil menuntaskan tujuannya, pinggangnya sudah dilingkari lengan kekar Asrul. Entah kapan Asrul terjaga, Risda juga tak tahu, tapi apa mau dikata, Risda justru malah tertawa kecil dan menyambut ulah suaminya, hingga ujung ujungnya sama sama terlihat lelah dan tertidur.


Risda terbangun saat mendengar ada yang mengetuk ngetuk pintu kamarnya, Risda menggeliat, memperbaiki pakaian dan menuju pintu. Saat pintu terbuka, mata Risda terbeliak, ayahnya berdiri dengan senyuman di depannya.


“Bentar Yah”.


“Ayah tunggu di depan”.


Tak ada lagi jawaban, Haris hanya geleng kepala, ia tersenyum kecil saja dan merasa tahu apa yang baru saja terjadi pada putrinya, melihat gayanya yang lumayan acak acakan itu memberi Haris sinyal jika sudah berlangsung kejadian sebelum ia mengetuk pintu kamar putrinya.


Haris kembali kedepan dan kembali duduk di depan Agung. Gelengan kepala Haris membuat Agung dan Ibu Asrul sama menahan senyum, sepertinya mereka juga paham apa yang ada di pikiran Haris.


Asrul dan Risda yang belum genap dua bulan berumah tangga tentu saja mengambil setiap kesempatan yang ada untuk berdua, semua pasangan muda pasti akan melakukan hal yang sama, ini yang membuat ketiga orang tua ini hanya bisa menahan senyum dan geleng kepala.


“Kau dulu begitu Gung ?”.


Agung tepuk jidat. “Macam nggak saja ente ..”.


“Aku kurang pengalaman soal itu Gung, beda kita ..”.


Agung kembali tertawa tertahan. “Iya juga ya .. lupa gua”.


“Ini bapak bapak kok nyeritain anak sendiri, aneh”. Ibu Asrul protes, tapi masih kembali menutup mulut menahan tawa.


“Entah … ini nih, ngapaian pula”. Sambar Haris.


Agung mendelik. “Yang ngomong duluan siapa ?”.


Ketiganya kembali tertawa, tapi tawanya langsung tertahan dan menghilang saat Risda dan Asrul mucul, semuanya membalas senyum tipis Asrul dan Risda yang tampak malu malu, keduanya kemudian memilih duduk mengapit Haris.


Risda langsung memeluk lengan ayahnya. “Ayah kapan datang ?”.


“Semalam”.

__ADS_1


“Kok baru sekarang kemari ?”.


“Semalam ayah di tempat mamamu”.


Risda menggeleng, pantas saja tadi ibunya tampak terkejut saat Risda bertanya soal ayahnya, ibunya bohong ternyata. Tapi, pertanyaan menjadi berganda, mengapa ibunya bohong, dan pasti ada sesuatu yang disembunyikan sehingga ibunya bohong soal ayahnya yang ternyata sedang berada di Jakarta.


Tapi, untuk apa ibunya bohong ?, Risda melirik ayahnya cukup lama, Risda yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan darinya, apa yang menjadi tujuan ayahnya datang, ini yang menjadi pertanyaan sekarang.


“Ayah kemarin di tempat Mama ?, nginap di rumah ?”.


Haris anggukkan kepala. “Iya, ayah mau kemana lagi coba ?”.


Risda menggeleng, benar benar ibunya bohong. Kenapa ?, tapi kemudian Risda memperbaiki duduknya, Risda menatap semua orang yang matanya mengarah ke Risda, ini membuat Risda jadi terdiam, benar, mungkin ada salahnya juga, malah bicara enak saja dengan ayahnya, seakan hanya ada mereka berdua, jadi seperti mengacuhkan yang lainnya.


Risda akhirnya memilih senyum kecut dan sedikit menundukkan kepala, merasa agak malu dengan kelakuannya pada ayahnya, Risda kemudian benar benar tertunduk, karena sepertinya semua mata masih berfokus padanya.


Agung dan Ibu Asrul hanya senyum melihat Risda yang langsung berubah manja saat bertemu ayahnya, apalagi ini kunjungan pertama Haris sejak Risda dan Asrul menikah. Bahkan Ibu Asrul sedikit paham sekarang, kalau ternyata menantunya itu lumayan manja.


Padahal setahu Ibu Asrul, apa yang ia lihat selama ini, Risda itu sama sekali tidak memiliki nilai manja, tampak bagai wanita mandiri yang sangat kuat, tapi faktanya berbeda sekarang, di depan ayahnya, Risda ternyata bagai anak kecil yang ingin terus berlindung dipundak ayahnya.


Ternyata sifat Risda tak jauh beda dengan Mutia dan Reni, bahkan hampir sama dengan gaya Ariana yang selalu saja bermanja ria mengganggu ayahnya. Ibu Asrul jadi terbayang orang tuanya, waktu kecil dulu, ia juga cukup manja pada ayahnya.


Terutama saat ayahnya yang bekerja di PLN pindah tugas ke Langga Payung, Labuhanbatu Selatan, sedang ibunya yang guru masih di Padangsidimpuan, praktis mereka hanya ketemu ayahnya di akhir pekan.


Semuanya pasti berlomba mengejar ayahnya jika tiba, dan sebagai anak perempuan satu satunya, ia selalu menjadi pemenangnya, ia memang dekat, bahkan sangat dekat dengan ayahnya, bahkan hingga kuliah, ia masih terus mencium pipi ayahnya yang dibalas dengan perlakuan yang sama.


Padahal budaya di sana kurang mendukung yang begituan, sangat terlihat aneh, ada ayah yang mencium pipi anak gadisnya yang sudah dewasa, tapi karena memang sudah biasa sejak kecil, ia tak pernah melewatkan itu, walau banyak orang yang mengatai mereka keluarga aneh.


Ibu Asrul menghela nafas cukup dalam, ingatan pada kampung halaman selalu menimbulkan kerinduan, kedua orang tuanya memang tak ada lagi, tapi disana masih ada abang dan adik adiknya, sehingga kesempatan untuk sekedar mudik selalu mereka incar setiap tahunnya.


Ibu Asrul terus mengembangkan senyumnya, setidaknya hari ini ia tahu, kalau menantunya juga punya sifat yang hampir sama dengannnya, juga dengan anak anak perempuannya, mereka semua adalah wanita yang sangat dekat dengan ayahnya.


Ibu Asrul terus menatap Risda, tentu untuk menantunya ini ceritanya lumayan berbeda, Risda baru kenal ayahnya bahkan saat sudah menjadi sarjana, beda dengan mereka yang sejak lahir tumbuh bersama ayah mereka. Sekilas Ibu Asrul jadi merasa iba, pasti dulu saat masih kecil sangat merindukan dan menginginkan keberadaan ayah di sampingnya.


Pembicaraan sekarang terus melebar ke banyak hal, mulai dari keadaan, kesehatan, hingga pekerjaan. Yang banyak dicecar tanya adalah Asrul, terutama soal kuliahnya yang baru dimulai, baru memasuki semester awal.


Tapi di kepala Risda tetap yang ada tetap hanya satu pertanyaan, kenapa ibu bohong ?, kenapa ibu mengatakan sudah lama tak komunikasi dengan ayahnya, padahal malamnya, sang ayah bahkan sudah menginap di rumah, kenapa ?.

__ADS_1


…. Bersambung …


__ADS_2