Tak Perlu Ada Cinta

Tak Perlu Ada Cinta
Risda Nalia


__ADS_3

Waktu melayang dan terbang begitu cepat, Natalia masih terus membolak balik album photo yang ada di tangannya, ini sudah kali ke 21 Natalia melakukan kegiatan ini dalam kesendirian, itu juga bermakna jika putrinya Risda sudah sampai ke usia yang ke 21 tahun.


Yah… inilah kegiatan Natalia setiap hari ulang tahun putrinya, ia tak pernah membuat perayaan seperti orang orang, Natalia hanya melakukan kegiatan yang sama saat ulang tahun putrinya, menambah koleksi photo terbaru, menuliskan sesuatu dan kembali membolak balik album yang ditangannya, gambaran Risda sejak bayi hingga sebesar ini.


Natalia menamai putrinya Risda Nalia tidak sembarangan, itu adalah kolaborasi nama kedua orang tua bayi mugil yang tak berdosa itu, Risda merupakan adaptasi dari Haris Arianda dan Nalia adaptasi dari namanya. Seluruh hidup Natalia hanya untuk Risda, seluruh kegiatannya semua demi Risda.


“Ma … mama …”.


Natalia menutup albumnya, menyimpan di tempat biasa. “Iya … ada apa Ris”.


Risda menarik tangan ibunya menuju meja makan, duduk bersama dan menyerahkan amplop cokelat yang ada di tangannya, Natalia membuka amplop tersebut dan membacanya perlahan. Natalia meletakkan surat yang tadi di tangannya tanpa memasukkan lagi kedalam amplopnya.


Setelah itu Natalia hanya mampu memandangi wajah anak perempuannya dan memilih diam seribu bahasa mendengar kalimat demi kalimat Risda yang meluncur deras penuh semangat. Natalia merasa tak mampu memberi tanggapan lebih dikarenakan takut kalau semangat muda Risda runtuh jika tahu kalau sebenarnya Natalia belum ingin berpisah dengan Risda, apalagi sejauh itu, itu terlampau jauh bagi Natalia.


“Apa tidak ada yang lebih bagus Ris ?”. Natalia akhirnya mencoba bicara. “Apa itu tidak terlalu jauh ?”.


Risda pindah duduk lebih dekat dengan mamanya. “Apa Risda punya pilihan lain Ma ?, .. atau, Mama punya tawaran ?”.


“Maksudmu ?”.

__ADS_1


Risda angkat bahu. “Apa Mama punya tawaran yang lain yang lebih baik, atau paling tidak dengan motif pertimbangan yang sama ?”.


Natalia tak punya jawaban. Tak ada jawaban yang bagus yang dapat Natalia tawarkan. Apa yang ada dalam pikiran Risda harus diakui banyak yang benar, bukan karena anak muda sekarang punya trend baru untuk mengabdi dan memberikan pengabdian kepada pendidikan warga pedalaman dan perbatasan yang jauh tertinggal, tapi memang ini sebuah konsekuensi logis yang harus ditempuh untuk sebuah pengakuan akan profesi yang akan diambil.


Tidak seperti jamannya dulu, tamat dari FKIP langsung dapat akta, kini semua berubah, tak ada akta lagi. Untuk mendapatkan itu harus terlebih dahulu mengikuti program kegiatan mengajar di daerah tertertinggal, terluar yang memang kualitas pendidikannya cukup memprihatinkan selama tiga tahun. Pulang dari sana baru ikut PPG (Pendidikan Profesi Guru), yang lulus akan dapat Akta sekaligus Sertifikat Pendidik.


“Keadaan hari ini mengharuskan Risda pergi Ma, jika tetap bertahan di Jakarta, lantas nanti Risda mau jadi apa coba ?”.


Kembali Natalia dan Risda saling pandang untuk yang kesekian kalinya, dan tetap dengan hasil yang sama, Natalia memilih lebih dulu mengalihkan pandangam dari sorot mata anak gadisnya.


Natalia buang nafas berat. “Mama tak bisa apa Ris”.


Risda tak kuasa juga memandang wajah mamanya lama lama, untuk yang pertama kalinya Risda kalah dan memalingkan wajah kearah langit langit rumah peninggalan neneknya yang sudah mulai rapuh, disana sini banyak terdapat titik titik lusuh.


Tapi rumah ini istimewa, Risda lahir dan besar disini, bersama mama dan neneknya. Hari hari yang sangat membahagiakan jika dikenang. Risda jadi menerawang sendiri, tapi Risda sudah punya tekat yang kuat untuk tetap pada kesimpulan yang ia bangun dengan kawan-kawannya, bergerak mengikuti program mengajar diwilayah terpencil, terluar dan terbelakang.


Risda kembali menatap mamanya dan mengelus bahunya lagi, sangat perlahan. “Mama adalah mama terbaik di dunia. Risda bangga punya Mama”.


Natalia hanya menggelengkan kepala saja. Sekuat tenaga ia menahan dorongan air mata yang menyeruak mencoba menerobos dinding pinggir matanya. Yang terbayang kini dibenak Natalia saat Risda duduk di kelas XII SMA.

__ADS_1


Risda ngotot mau kuliah, Natalia juga memiliki keinginan yang sama, karena keterbatasan ekonomi Natalia tak berani mengungkapkan keinginannya yang sesungguhnya dan membiarkan saja Risda yang menentukan apa yang ingin ditujunya, hingga Natalia juga tak punya komentar apa apa saat melihat formulir yang dibawa Risda yang menjelaskan kalau Risda akan sama dengannya dikemudian hari, Guru.


Selama Risda kuliah Natalia selalu berusaha tidak membuat Risda menunggak apapun, semua ia usahakan dengan cara apapun, dan tak pernah Natalia berkeluh kesah atau mengeluh didepan Risda, Natalia tak pernah memberi tahu Risda kalau terkadang ia harus berhutang sana sini untuk membayar uang kuliah anaknya.


Natalia merasa tak ada yang perlu Risda ketahui, semua berjalan dengan baik, berjalan dengan cukup sempurna hingga Risda selesai kuliah. Natalia awalnya sangat merasa lega waktu Risda selesai sidang skripsi, itu artinya Natalia sudah sarjana, sudah dewasa, mungkin juga sudah dapat membantunya. Tapi yang terjadi begini lagi, Risda justru harus pergi lagi, jauh sekali malah.


“Ma… kekurangan dan atau apapun itu yang sekarang nempel dalam hidup kita tetaplah sebuah hal yang harus kita sukuri. Selama Tuhan Yang Maha Esa masih ada, nggak ada yang perlu ditakutkan. Okey Ma”.


Natalia agak mendelik. “Apa tadi Ris ?”.


Kini Risda yang mengerutkan kening. “Maksud Mama ?”.


Cukup lama Natalia dan Risda saling pandang, Risda yang lebih dulu mengalihkan pandangan, ia tak kuat melihat wajah Mamanya sedemikian dekat dan lekat. Risda menemukan banyak hal yang tergambar diwajah itu, wajah yang tampak lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.


Dimata Risda, raut wajah mamanya jauh lebih tua dari usianya, Risda menyadari dan merasa kalau itu terjadi karena kehidupan mamanya yang cukup jauh dari kata bahagia. Risda sesungguhnya merasa kalau mamanya banyak memiliki cerita atau semacamnya yang ia pendam sendiri, tapi sampai hari ini Risda masih tak punya keberanian yang cukup untuk mencoba sekedar untuk menanyanya.


Dalam hati Risda terus punya janji akan memberikan yang terbaik kepada mamanya, Risda punya harapan besar kalau suatu hari kelak ia akan memberikan kebahagiaan yang besar buat mamanya.


.... BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2